
Perintah Edgar adalah perintah mutlak, Louis segera mengatur keberangkatan Edgar ke Zurich.
Tanpa menunggu lama, Louis sudah menyiapkan segala sesuatunya. Edgar adalah pria yang suka kesempurnaan. Kesempurnaan dalam bentuk tidak ada kendala ataupun sesuatu hal yang akan membuatnya gagal.
Pria berusia 30 tahun yang memiliki perusahaan terbesar di Inggris, pria yang sudah menikah beberapa bulan lalu lantaran perjodohan dan hilangnya ingatan membuat Edgar terpaksa menerima. Alhasil setelah resepsi Edgar kembali mengingat semua setelah dirinya kelahan dan jatuh pingsan, dan Edgar merasa bersyukur dengan hal itu, karena dirinya bisa mengingat kembali apa yang terjadi.
"Louis kau tangani saja semua selama aku pergi, ingat jangan katakan pada siapapun jika aku pergi ke Zurich." Edgar menatap asisten sekaligus tangan kanannya itu tajam.
Tatapan Edgar memang selalu tajam dan dingin, pada siapapun, sehingga membuat para wanita yang melihatnya menjadi penasaran dan ingin memiliki Edgar. Pesona Edgar tidak bisa diabaikan begitu saja, rasanya begitu mempesona.
"Baik sir." Louis mengaguk patuh.
Louis segera menutup pintu kabin jet yang Edgar tumpangi. Seperti biasa Edgar akan menggunakan jet pribadi saat dirinya membutuhkan untuk hal tertentu, karena dengan begini Edgar akan cepat sampai di Zurich lebih cepat.
Sedangkan di mansion Maurer, Elga menunduk sedih, didepannya duduk ketiga pria yang sangat dia cintai dan sayangi, dan di sampingnya ada Mommy yang selalu merangkulnya.
__ADS_1
"Jadi apa yang kau inginkan Elga?" Suara berat Mario begitu menusuk relung hati Elga. Baru kali ini dirinya mendengar suara Daddy-nya yang menyayat hati.
"Katakan sayang jangan takut." Ucap Hawa sambil mengusap lengan putrinya.
Setalah sampai rumah, ternyata Daddy dan juga Enzio serta Mommy Hawa sudah duduk diruang keluarga. Mereka menunggu kedatangan Elga yang tidak ada di rumah.
Sempat panik saat Hawa datang ke kamar putrinya untuk memberikan tiket liburan Hawa ke Indonesia, karena Oma dan opanya ingin Elga liburan ke Indonesia.
Tapi siapa sangka jika jika putrinya yang tidak pernah keluar rumah saat malam hari tidak ada di kamar. Karena jika Elga pergi pasti diantara dua kakak kembarnya akan menemani, dan saat itu Enzio yang menemui rekanya, sedangkan Enrico belum pulang karena masih ada pekerjaan.
"Elga tidak mau apa-apa dad." Katanya sambil menunduk. Elga menahan air matanya.
Tapi dirinya sadar jika sudah membuat semua panik, dan sempat berpikir jika dirinya tidak bisa hidup bebas. Elga lupa jika diluar sana banyak orang jahat yang menyamar menjadi baik karena ada maksud tertentu.
"Daddy akan mengirim mu ke rumah Oma dan Opa."
__ADS_1
Seketika Elga mengangkat wajahnya menatap Mario.
"No Dad, Elga tidak mau." Katanya dengan penuh harap.
Mario menaikan satu alisnya. "Bukan kah kamu merasa terkekang dan tidak bebas, maka di sana kamu akan mendapat kebebasan." Kata Mario dengan nada pelan tapi penuh dengan peringatan.
Elga menggeleng. "Elga tidak mau, lebih baik Elga tetap disini, walupun tidak bisa bebas." Jawabnya sambil menatap keluarganya satu persatu. "Maafkan Elga Dad, Elga hanya kesal karena tidak boleh memiliki teman laki-laki." Tuturnya sambil menunduk.
Hawa menatap suaminya, dan Mario bisa mengerti perasaan putrinya mengatakan hal itu. 17 tahun masa remaja yang indah dan penuh petualangan, tapi bagi Mario masa muda putrinya adalah sebuah hal yang harus di jaga. Karena sedikit salah pergaulan Elga bisa menjadi perempuan kebanyakan di negara bebas ini.
"Lebih baik kamu menikah, dari pada harus pacaran."
Hah
.
__ADS_1
.
Alhamdulillah bisa update lagi 😌