My Husband Om-Om SEASON 2

My Husband Om-Om SEASON 2
Ciuman


__ADS_3

"Mom, bagaimana?" Chelsea menutup pintu kamarnya rapat ketika Alice masuk.


Setelah Andres pergi, keduanya langsung ikut pergi ke kamar Chelsea.


"Mommy mendapat laporan jika Edgar ke Indonesia, entah apa yang Edgar lakukan." Alice tampak berpikir dengan bergerak mondar mandir.


Sedangkan Chelsea malah bingung melihat tingkah Alice. "Mom selama menikah, Edgar sama sekali tidak menyentuh ku, bahkan aku diusir dari kamar dan harus tidur di kamar lain. Edgar sama sekali tidak tertarik padaku." Ucap Chelsea dengan wajah sedih.


Alice menatap Chelsea kesal. "Seharusnya kau bisa menggoda Edgar dengan cara apapun, karena dia suamimu tanpa rasa takut. Ikatan pernikahan kalian lebih kuat dari apapun, gunakan cara agar Edgar mau menyentuhmu." Tutur Alice dengan nada kesal.


"Mom kau tidak tahu rasanya di tolak, seperti tidak ada harga dirinya sama sekali, bahkan sekalipun aku bertela*njang di depannya dia tidak akan melirik ku." Chelsea sudah menjatuhkan air matanya.


"Dan jangan bilang kau melampiaskan hal itu dengan pria lain." Tuding Alice menatap Chelsea tajam.


"Jika itu terjadi, maka bersiaplah untuk kehilangan semua yang sudah kau miliki."


Alice langsung keluar meninggalkan Chelsea yang terduduk dengan lesu. Wanita itu menutup wajahnya dengan perasaan gelisah.


"Maher kau mau kemana?" Elga yang menuruni tangga melihat Maher putra Adam yang ingin keluar.


"Biasa malam mingguan." Jawab Maher sambil tersenyum jenaka.


"Boleh aku ikut?" Tanya Elga dengan antusias.


"Eh, nanti papa ngamuk." kata Maher yang tidak ingin di marahi Adam.


"Tidak akan, nanti aku yang akan bilang sama papa Adam." ucap Elga meyakinkan.


"Tapi kau yang tangung jika papa marah." Ucap Maher lagi.


"Iya bawel." Elga terseyum dan mengandeng lengan Maher yang lebih tinggi darinya.


Meskipun usia Maher lebih muda, tapi postur tubuh Maher seperti Adam.


Maher membawa saudarinya ke tempat yang biasa dia datangi di sana ada teman-teman sekolahnya yang juga ikut berkumpul.


Tidak di tempat yang aneh-aneh, mereka menghabiskan waktu malam di akhir weekend di kafe ataupun tempat tongkrongan anak muda.


Setelah mengendari motornya hampir 30 menit, Maher sampai ditempat tujuan.


"Waah, si Maher Udah berani bawa cewek..!" Teriak teman Maher meledek.


"Sorry El, temen-temen gue emang rese. Tapi mereka baik kok." Ucap Maher pada Elga agar tidak risih.


"Iya, gue tau. Kalian masih bocah ingusan." Bisik Elga dengan sedikit tawa.


"Sama kek elu." Balas Maher sambil mengusap kepala Elga.


Keduanya seperti sepasang kekasih jika dilihat, dan Elga tidak keberatan dengan perlakuan Maher yang lebih muda darinya, itu berarti keduanya tidak memiliki jarak sebagai saudara.


"Her, kenapa lu ngak bawa adek lu?" Tanya teman Maher yang lain.

__ADS_1


"Tau nih, kesini malah bawa cewek sendiri, kita-kita dianggap nyamuk kali ah." Tukas teman yang lain.


"Sorry bro, doi yang minta ikut." Maher memberi tos satu persatu pada teman-temannya.


"Btw, cewek lu cakep amat Her. dapet bidadari dari mana?"


Mereka semua mengiyakan ucapan temanya itu.


"Kalian boleh kenalan kok." Maher menyuruh Elga untuk berkenalan.


"Asekk.." Mereka semua maju satu persatu untuk berkenalan, dan tingkah absur mereka membuat Elga tertawa.


"Duh udah cantik, tawanya tambah bikin candu neng."


Huuu


Semua bersorak mendengar ucapan salah satu dari mereka.


"Mau minum apa, gue pesenin." Kata Maher pada Elga.


"Samain aja, tapi gue ke toilet dulu ya." Ijin Elga.


"Hm, mau gue temenin?" Maher menawari.


"No Her, I'm not a child" Tukas Elga.


Maher tertawa. "I know."


Elga pun meninggalkan kumpulan pria remaja seumuran Maher, Elga menuju toilet kafe. dirinya ingin menuntaskan hajatnya.


Elga berjalan kearah toilet yang ada di bagian belakang.


"Maaf." Ucapnya ketika akan menabrak wanita yang keluar dari dalam.


Tak berapa lama Elga membasuh tanganya dan melihat penampilannya di depan cermin besar.


Elga tersenyum kala melihat dirinya sendiri. "Ternyata memang cantik, duh jadi memuji diri sendiri." Ucapnya sambil tersenyum.


Saat dirinya keluar dari toilet tiba-tiba mulutnya dibekap dari belakang.


Emphh...


Elga memukul lengan seseorang yang membekap mulutnya, dan tubuhnya di seret ke belakang toilet.


"Emph..lepas..!!"


Napas Elga memburu dengan jantung yang berdebar kencang. Matanya melotot melihat seseorang yang membekap mulutnya.


"Kau..!" Elga menatap tajam Edgar dengan wajah menahan marah. "Kau seperti penculik yang membuatku takut." Deru napas Elga masih memburu, meskipun sudah tahu siapa yang melakukan.


"Kau takut." Tangan Edgar ingin menyentuh wajah Elga tapi langsung ditepis oleh gadis itu.

__ADS_1


"Menyebalkan." Elga mendorong dada Edgar agar menyingkir, tapi pria itu bergeming. "Minggir Uncle aku ingin pergi." Katanya dengan kesal.


Grep


Punggung Elga merapat pada Diding ketika Edgar mendekatkan wajahnya dan tangannya mengunci di samping wajah Elga.


"U-uncle mau apa." Suara Elga tercekat saat wajah Edgar begitu dekat dengannya. Bahkan hidung Edgar hampir menempel pada hidungnya.


Jantung keduanya saling berdetak cepat, keduanya sama-sama merasakan gejolak dalam diri masing-masing.


Edgar semakin mendekatkan wajahnya, Elga yang tahu apa yang akan Edgar lalukan tiba-tiba menutup mulutnya.


Cup


Punggung tangan Elga menjadi sasaran bibir Edgar.


Edgar tersenyum melihat reaksi gadisnya. "Bagus, jika ada yang menciummu maka kau harus melindungi diri sendiri." Katanya sambil menoel hidung Elga.


Edgar mengusap kepala Elga, dan pria itu mundur satu langkah.


Elga menyingkirkan tanganya dan bernapas lega. "Kenapa Uncle bisa ada di sini?" Tanya Elga dengan tangan bersedakep dan tubuhnya yang bersandar di dinding.


"Kamu, apa lagi."


Elga mengerutkan keningnya. "Aku?" Katanya sambil menunjuk diri sendiri.


"Ya, karena kamu seperti magnet untuk diriku. Rasanya aku tidak ingin jauh darimu, apalagi melihat mu di kerumuni banyak pria ingusan membuatku rasanya ingin mencolok kedua mata mereka." Tutur Edgar dengan nada geram.


Elga berdecak mendengar apa yang Edgar katakan. "Memangnya kenapa? aku tidak memiliki ikatan pada siapapun dan aku bebas. Lain dengan Uncle yang seharusnya ingat jika sudah menikah dan punya istri, seharunya Uncle tidak ada di sini." Elga menatap Edgar dengan senyum culas.


"Elga kau-"


"Seharusnya yang sadar itu Uncle, sadar jika sudah menikah. Dan aku tidak mau menjadi orang ketiga yang akan disalahkan karena merusak rumah tangga orang. Jadi aku harap Uncle tidak menemui ku lagi, karena aku tidak mau disebut pelakor ataupun gadis gatal."


Elga menatap Edgar dengan tatapan yang susah di artikan. "Aku harap Uncle tidak akan menemui ku, selama Uncle masih memiliki keluarga." Elga tersenyum.


Gadis itu berjinjit dan memajukan wajahnya pada Edgar yang berdiri diam didepan wajahnya.


Cup


Elga megencup pipi Edgar dengan lembut, membuat Edgar diam mematung.


"Terima kasih Uncle sudah menemani perjalanan ku, aku senang." Katanya dengan senyum manis.


Dan Elga meninggalkan Edgar yang masih diam mematung menatap kepergian Elga.


Tanganya terangkat untuk menyentuh pipinya yang mendapat ciuman dari Elga, meskipun kata-kata Elga di awal membuatnya merasa kesal. Tapi tindakan terakhir Elga membuat Edgar berbunga.


"Aku pastikan kau hanya mencium ku, little lady." Katanya dengan bibir tersenyum bahagia.


.

__ADS_1


.


LIKE, KOMEN JANGAN LUPA SAYANG 😘😘😘


__ADS_2