My Husband Om-Om SEASON 2

My Husband Om-Om SEASON 2
Elga dan Edgar


__ADS_3

"Maksud anda apa?" Elga menatap Edgar bingung.


"Boneka, saat kau masih bayi datang ke supermarket dengan ibumu, dan saat itu aku sedang berada di sana untuk membelikan kado adikku, tapi kau menangis begitu kencang hingga membuatku memberikan boneka yang aku dapatkan kepadamu." Jelas Edgar sambil menatap lekat wajah Elga yang begitu cantik dan menggemaskan. Mata bulat bibir kecil, serta hidung yang juga kecil, kulit putih seputih kapas membuat Elga menjadi gadis cantik yang nyaris sempurna.


Elga mencerna ucapan Edgar, dirinya mengingat cerita ibunya tentang bubu, boneka kesayangannya.


"Kau ingat saat kita bertemu di halte, dan kau menangis." Kata Edgar.


Elga kembali menatap wajah Edgar. "Saat itu aku datang karena ingin menemui pemilik boneka yang aku temukan di halte itu. Dan kebetulan kamu ada disana sedang menangis kehilangan boneka."


Elga kembali mengingat kejadian saat dirinya masih duduk sekolah dasar. Dirinya ingat saat seorang pemuda memeberikan boneka miliknya, dan ternyata pemuda itu adalah pria yang ada didepannya.


"Jadi kau-"


Edgar tersenyum dan mengaguk. "Ya, aku pemuda itu."


Elga menutup mulutnya rapat, dirinya tidak percaya jika pemuda yang pernah menemuinya sekarang kembali di hadapannya.


"Elga, aku-"


Ceklek


"Elga ponselmu berdering terus." Tiba-tiba Emeli datang, menyodorkan ponsel Elga.


Teett...

__ADS_1


Tett...


Bel sekolah berbunyi, Elga menatap Edgar sekilas dan berlalu untuk menghampiri Emeli dan pergi dari sana.


Edgar menarik napas kasar. "Elga, aku menyukaimu sejak kecil." Gumam Edgar melanjutkan ucapannya.


"Ya Daddy.." Elga menerima panggilan dari Mario.


"No, dad. Aku sedang di kelas." Jawab Elga dari pertanyaan Mario.


"Hm, bye Dad."


Huh


Sedangkan di kantor Mario tampak kesal, sebagai seorang ayah dirinya tidak suka jika melihat putrinya di dekati oleh pria beristri.


"Kirim undangan untuk Edgar Aldofo." Titahnya pada Robert asistennya.


"Baik sir."


Mario memejamkan mata dengan tubuh bersandar di kursi. "Apa maksudnya menaruh alat pelacak di boneka itu." Ucapnya mengingat alat pelacak yang dia temukan di boneka Elga.


"Tidak mungkin jika pria itu menyukai Elga sejak bayi. Ohh tidak akan mungkin." Rasanya Mario sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pria yang bernama Edgar itu. Ada rasa yang tidak bisa dia gambarkan jika putrinya dekat dengan pria kecuali anak-anaknya.


"Dad.." Enzio membuka pintu ruangan Mario. "Daddy apa terjadi sesuatu dengan Elga?" Tanya Enzio yang sudah duduk di kursi depan Mario.

__ADS_1


"Ada apa dengan Elga?" tanya Mario menatap Enzio.


"Jejak Elga tidak bisa di lacak, ponselnya mati dan jaringannya tiba-tiba melemahkan alat yang di dekat Elga." Kata Enzio dengan wajah khawatir.


"What!"


Sedangkan di tempat lain, Elga sedang berada di sebuah taman sekolah saat jam istirahat. Gadis itu duduk di bangku yang disebelahnya ada Edgar.


"Jadi uncle yang memberikan ku boneka." Elga bertanya pada Edgar.


"Hm, karena kau menangis begitu kencang. Dan ibumu tidak bisa membuatnya tenang." Edgar mengingat saat pertemuan mereka pertama kali.


"Em, aku tahu. Karena Mommy juga menceritakan, tapi Mommy tidak tahu siapa pemuda yang memberikan boneka itu." Elga tersenyum sambil melirik Edgar.


"Yeah, karena saat itu aku langsung pergi saat kamu sudah tenang."


Elga mengaguk. "Ngomong-ngomong Uncle tinggal di sini?" Tanyanya untuk memecahkan keheningan beberapa menit yang lalu.


"Tidak, aku sengaja datang ke kota ini untuk menemui mu." Edgar menatap wajah Elga.


"Why?"


Edgar tersenyum. "Karena-"


"Elga..!!"

__ADS_1


__ADS_2