
Acara yang seharusnya berlangsung dengan romantis dan bahagia, itulah yang di harapkan Edgar. Tapi siapa sangka malah sebaliknya, gadis yang seharusnya menyambutnya dengan senyum kini malah jatuh pingsan tak sadarkan diri. Edgar ingin sekali tertawa tapi juga merutuki kebodohannya sendiri yang membuat Elga sampai tak sadarkan diri mungkin karena syok.
Edgar duduk bersama dengan Mario dan juga dua kembar yang sejak tadi menatapnya tidak senang, sedangkan dikamar Elga di temani oleh Mommy-nya, ingin sekali Edgar masuk dan ikut menunggu gadisnya, tapi melihat dua wajah tak bersahabat kembar membuatnya memilih untuk diam dari pada kehilangan restu yang sudah di genggam.
Sedangkan di dalam kamar Elga tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Mommy-nya, Elga tidak menyangka jika Edgar akan melakukan apa yang Daddy-nya janjikan, 6 bulan bukanlah waktu yang lama untuk mengembalikan kejayaan perusahaan yang hampir gulung tikar. Dan sekarang pria itu tiba-tiba muncul dan membuatnya sampai syok.
"Jadi bagaimana? apa kamu menerima permintaan Daddy? kalau tidak juga tidak apa-apa, karena memang kamu masih sangat muda." Hawa menatap putrinya dengan penuh kasih sayang.
Hawa mengingat dirinya sendiri yang menikah muda, bahkan umurnya lebih muda dari umur Elga yang sekarang. Hanya saja dulu mereka sama-sama saling menginginkan berbeda dengan keadaan putrinya yang sekarang, apalagi Edgar adalah pria yang berstatus duda.
Elga tampak mengerjap bingung, dirinya tidak pernah berfikir untuk mengalami hal seperti ini, setelah satu tahun dirinya mencoba mengenyahkan nama dan juga bayangan wajah Edgar hingga dirinya merasa sudah baik-baik saja saat ini, tapi pria itu malah datang dengan memberinya kejutan yang memang benar-benar membuatnya terkejut.
Tok..tok..tok..
"Masuk, tidak dikunci!" Seru Hawa pada seseorang yang mengetuk pintu.
Ceklek
Suara pintu terbuka, Elga dan Hawa menatap seseorang yang muncul dari balik pintu. Jantung Elga sudah berdebar tak karuan melihat Edgar yang berdiri di depan pintu.
"Mommy tinggal dulu, pilihlah apa yang menjadi pilihanmu. Karena keputusan ada di tangan kamu, jangan takut kami tetap menyayangimu." Tangan Hawa mengusap kepala putrinya, dan kecupan di kening Hawa tinggalkan.
__ADS_1
"Bicaralah, mungkin dia masih syok." Hawa tersenyum setelah mengatakan itu pada Edgar di pintu, setelah itu Hawa benar-benar meninggalkan mereka berdua.
Elga merapatkan selimut yang membungkus kakinya, menariknya hingga sampai perut.
Edgar menutup pintu dan meninggalkan celah sedikit agar tidak di anggap macam-macam, pria itu berjalan mendekati Elga yang tampak gusar.
"Bagiamana, sudah lebih baik?" Tanya Edgar saat sudah duduk di samping kaki Elga. Edgar duduk ditepi ranjang.
Elga hanya mengaguk tanpa bisa menjawab, lidahnya terasa kelu hanya untuk menjawab.
Edgar hanya tersenyum, matanya tak lepas menatap wajah Elga yang semakin cantik dikedua matanya. Rasanya tidak percaya kini dirinya kembali melihat wajah pujaan hatinya begitu dekat setelah satu tahun hanya bisa menguntit tanpa bisa mendekat.
Sadar akan tatapan Edgar, Elga buru-buru menunduk dengan wajah merona, karena Elga kembali melihat tatapan penuh cinta yang pernah Edgar perlihatkan. Elga baru sadar jika selama ini perasaan yang dia hidangkan tidak berhasil, kantungnya kembali berdebar dengan rasa gugup terus melanda.
Melihat Elga yang menunduk, Edgar mengulurkan tangannya untuk menyentuh dagu Elga hingga gadis itu menatapnya.
"Kenapa menunduk hm." Tanya Edgar dengan masih menyentuh dagu Elga. "Selamat untuk kelulusanmu." Katanya lagi dengan senyum tampan yang terlihat begitu manis di mata Elga. "Momen seperti ini yang aku tunggu-tunggu selama satu tahun ini, menahan perasaan tidak mudah Elga." Ucap Edgar diiringi kekehan kecil. "Dan aku begitu bahagia berada di detik yang aku tunggu-tunggu."
Elga menatap wajah Edgar yang terpancar rasa bahagia, Elga bisa melihatnya.
"Kenapa?" satu kata yang muncul dari bibir Elga membuat Edgar menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
"Kenapa Uncle baru muncul, aku pikir uncle marah dan tidak mengingat ku lagi. Apalagi setelah semua yang di lakukan Daddy aku pikir-"
"Tidak usah pikir." Celetuk Edgar. "Karena kalau dipikir pasti akan pusing, dan aku mengalaminya. Semakin memikirkan kamu semakin pusing juga aku merasakan rindu yang tidak kesampaian."
Kedua mata Elga membulat sempurna, tiba-tiba Hawa panas menghampiri wajahnya. Elga tersipu mendengar ucapan Edgar.
"Dih, gombal!" Elga mencebik, demi mengurangi rasa salting-nya.
Edgar malah tertawa, " Satu tahun membuat kamu banyak berubah, semakin cantik." Ucapnya lagi dengan jujur akan sebuah pujian.
Lagi-lagi ucapan Edgar membuat dada Elga meletup-letup seperti banyak kembang api yang meletus.
Melihat itu Edgar mengulum senyum, tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu.
"Elga Maurer."
Elga yang melihat mendadak mematung, tubuhnya terasa kaku dengan kedua mata yang terbuka lebar.
Edgar mengeluarkan kotak berwarna hitam dengan cincin berlian yang cantik di dalamnya.
"Aku tidak tahu jika takdirku akan mencintai gadis belia seperti kamu yang cocok menjadi adikku." Edgar sedikit menelan ludah mengatakan kalimat terakhirnya. "Tapi percayalah jika aku mencintai kamu selayaknya seorang wanita, bahkan aku sudah jatuh cinta padamu sejak masih bayi, katakanlah aku gila, gila karena mencintai dirimu." Edgar menjada ucapanya.
__ADS_1
"Elga, Will you marry me?"
.........END........