
Ehem...
"Apa peringatan ku tadi siang tidak membuat mu jera!" Ucap Enrico yang menatap Xavier dengan tajam penuh intimidasi.
Elga yang melihat kakaknya berdiri dengan Exel di belakangnya, itu berarti Enrico belum pulang kerumah.
Xavier menatap pria yang tentu saja dirinya ingat, pria yang memberikan luka sobekan di sudut bibirnya.
"Kenapa selalu ada kau di mana-mana? apa kau seekor lalat yang menempel pada Elga heh." Nada bicara Xavier seperti meledek Enrico yang selalu datang tiba-tiba saat dirinya sedang berdua saja. Dan Xavier sangat terganggu dengan hal itu.
Enrico semakin menajamkan tatapan matanya. "Mau kau bawa dia kelubang semut pun, aku pasti akan tau, dan kau hanya seekor kecoak yang tidak tahu malu."
Srett
Enrico menarik tangan Elga, membuat gadis itu langsung berdiri.
"Lepas kak..!" Elga mencoba melepaskan tangan Enrico dari tangannya.
"Hey bung, dia kekasihku. Kau tidak dengar dia minta di lepaskan." Xavier ikut menarik tangan Elga, tapi tidak dilepaskan Enrico begitu saja.
"Dengar! Jika kau masih berani mendekatinya maka kau siap untuk hidup tidak akan tenang." Enrico menujuk Xavier dengan jari telunjuknya, tatapan matanya menyiratkan tidak ada kebohongan, yang ada hanya ancaman yang sesungguhnya.
"Kak, apa yang kau katakan? aku bukan tawanan aku ingin bebas merasakan dimana masa remaja ku." Ucap Elga dengan tatapan tidak suka.
Sedangkan Xavier hanya diam menatap kedua orang yang sejak tadi di panggil kak oleh Elga.
"Sekarang kau berani bicara?" Enrico menatap Elga tajam. "Kau pasti ingat kenapa kami selalu melakukan ini padamu, apa kau sudah lupa Elga!" Enrico semakin mengeraskan suaranya. "Jika kau lupa, baiklah aku ingatkan."
"Stop, hentikan!!" Elga menjerit saat Enrico ingin mengatakan sesuatu.
"Jika kau ingin seperti dulu, Fine, I won't stop you."
Enrico melepaskan cekalan tanganya pada Elga, dan pria itu pun pergi tanpa sepatah kata.
Elga terdiam dengan dada naik turun, napasnya terlihat memburu seperti habis berlari puluhan meter.
__ADS_1
"El, Are you ok."
Xavier menyentuh bahu Elga, tapi dengan cepat Elga menepisnya.
"I'm leaving, sorry."
Elga langsung berlari keluar kafe mengejar Enrico, sedangkan Xavier mengepalkan tangannya saat lagi-lagi rencananya gagal.
Brak
Elga duduk di kursi penumpang di samping Enrico yang menatap lurus kedepan, mobil yang mereka tumpangi perlahan berjalan dengan Axel yang mengemudi.
"I'm Sorry." Elga langsung memeluk tubuh Enrico dari samping. "Aku hanya ingin bermain, merasakan masa remaja ku." Katanya lagi dengan tangis terisak.
Enrico yang mendengar Elga menangis, tangannya langsung mendekap sang adik.
"It's oke, I know." Enrico mengecup pucuk kepala Elga.
Saat usia Elga 13 tahun, sekolah Elga mengadakan kemping di musim dingin. Elga dan beberapa temannya melakukan perjalanan yang cukup menyenangkan, hingga di malam terakhir, Elga yang sedang berada di penginapan bersama dua temanya didatangi oleh seorang pemuda kakak tingkat dari sekolahnya.
"Not all men are good, but the good ones aren't necessarily bad either."
"Tidak semua laki-laki itu jahat, tapi yang baik juga belum tentu tidak jahat."
.
.
.
Inggris..
Di sebuah perusahaan seorang pria baru saja keluar dari ruang rapat, pria itu berjalan menuju ruanganya dengan tatapan lurus kedepan.
Semua tahu siapa pria yang memiliki tatapan tajam bagai elang itu, tidak semua orang akan mampu menatap balik tatapan tajam matanya.
__ADS_1
"Kosongkan jadwal setelah ini." Suara beratnya membuat siapa saja akan menciut, tapi tidak dengan asistennya yang bernama Louis.
"Baik sir."
Setelah membuka pintu, pria itu disuguhkan dengan pemandangan yang selalu membuatnya geram.
"Baby, I brought lunch." Kata seorang wanita yang tersenyum senang melihat suaminya datang.
"Get out of here." Pria itu menatap tajam wanita yang selalu datang tanpa bisa dirinya tolak.
"Ohh, ayolah. Aku sudah membawakan makanan ini untukmu." Wanita itu terus mencoba merayu suaminya agar mau makan bersamanya.
"No, I don't want to." Tolak pria itu tegas.
"Ck, kau selalu menolak masakan yang aku bawa." Chelsea merajuk dengan mengerucutkan bibirnya.
"Terserah, karena aku tidak akan mau menyentuh makanan mu, apalagi tubuhmu." Desis seorang pria yang sudah duduk di kursi kerjanya.
"Kau jahat sekali Edgar, kalau seperti ini kenapa kau menikahi ku." Chelsea sudah berlinang air mata. Ucapan Edgar membuat hatinya sakit.
"Jika kau lupa, maka akan aku ingatkan kembali. Aku menerima pernikahan itu karena kalian memanfaatkan hilangnya ingatanku, dan aku tidak akan mau menikahi wanita seperti. Lebih baik keluar dan bawa makanan mu." Tegas Edgar dengan tatapan tidak suka.
Chelsea yang selalu mendengar penolakan Edgar semakin membuat hatinya sakit, dan dirinya memilih pergi dari pada harus menghadapi suami yang tidak bisa menerimanya.
Arrghh..
Brak
Prang
Edgar melepar telepon dan sebuah asbak kaca kesembarang arah, pria yang berusia 30 tahun itu mengusap rambutnya kasar dengan kedua mata memerah menahan amarah.
Edgar menatap layar persegi di atas mejanya, sudah lima bulan dirinya tidak bisa menemukan titik dimana sebuah alat kecil dia taruh di boneka milik seorang bayi wanita yang menyita perhatiannya.
Saat Edgar berusia 19 tahun, pemuda itu mengalami kecelakaan tunggal dan mengakibatkan kepalanya cidera dan amnesia, ingatanya yang bermasalah Edgar sama sekali tidak ingat apapun, hingga saat usianya sudah memasuki 28 tahun Edgar dijodohkan dengan anak rekan orang tuanya. Mereka melangsungkan pertunangan karena Edgar menolak untuk segera menikah. Edgar selalu mengulur waktu dan mencari alasan agar pernikahannya tidak berlangsung, karena hatinya tidak menginginkan hal itu. Dan tepatnya setelah dirinya menikah, ingatanya tiba-tiba kembali pulih ketika dirinya berada di suatu kota. Dimana Edgar sedang berada di pusat belanja dan disana seorang bayi menangis histeris, dan Edgar tanpa berfikir panjang memberikan sebuah boneka kepada bayi itu. Seperti d'javu, Edgar mengingat masa remajanya yang melakukan hal sama, dan saat itu dirinya terpesona dengan bayi perempuan cantik yang memiliki bola mata bulat dan besar. Edgar menyukai bayi perempuan itu untuk pertama kali saat dirinya berkunjung di Zurich. Dan kedua kalinya Edgar mengingat pertemuan mereka di halte, tapi saat itu ingatanya sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Louis, aku ingin ke Zurich." Katanya dari sambungan telepon. "Sekarang..!"