
"Daddy.. Mommy..."
Chelsea tersenyum menghampiri kedua mertuanya yang sedang berada di halaman belakang.
"Apa kabar." Chelsea memeluk dan mencium pipi Alice Ibunya Edgar.
"Baik menantuku, kamu apa kabar?" Alice balik bertanya.
"Em, seperti yang Mommy lihat." Chelsea tersenyum dan menyapa Andres Aldofo.
"Daddy, How are you ?"
"Fine." Andres tersenyum sekilas.
"Ada apa kau datang kemari pagi-pagi, apa Edgar tidak ikut?" Tanya Alice sambil menyeruput teh hijau miliknya.
"Daddy, kemana perginya Edgar?" Chelsea langsung bertanya.
"Maksud kamu apa Chelsea." Tanya balik Andres.
"Aku ke kantor Edgar, dan dia tidak ada. sudah dua hari Edgar tidak pulang apa dia pulang kesini?" tanyanya lagi.
Andres dan Alice saling tatap. "Edgar tidak pulang kemari, mungkin dia ada perjalanan bisnis." Alice menimpali.
"No, Mom. Louis ada di kantor." Bantah Chelsea.
Andres hanya mengusap dagunya yang ditumbuhi rambut. "Seharusnya kau bisa mengendalikan suamimu, sudah lama kalian menikah tapi kalian tidak juga memiliki anak." Ucap Andres menatap Chelsea.
"Daddy." Alice menggelengkan kepala, agar suaminya tidak jauh berbicara.
__ADS_1
"Memang benarkan, jika saja kau hamil mungkin Edgar akan perhatian sama kamu." Andres menyeruput kopinya.
Wajah Chelsea tertunduk, tubuhnya terasa menegang dengan hati teriris. Bagaimana bisa dirinya hamil jika Edgar saja tidak mau menyentuhnya sama sekali, bahkan mereka tidur terpisah.
"Jangan terlalu dipikirkan, nanti juga tiba saatnya." Alice menyentuh lengan Chelsea dan mengisapnya.
"Mungkin saja suami mu memiliki-"
"Stop dad!" Alice menatap Andres tajam.
Andres hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali menyesap kopinya.
Chelsea sudah menjatuhkan air mata, tujuannya ingin meminta bantuan pada ayah mertuanya, tapi dirinya malah mendapat kata-kata yang membuatnya terluka.
"Sudah, jangan di dengarkan. Lebih baik kita masuk." Ajak Alice pada menantunya.
"Mom, sepertinya Edgar benar-benar tidak ingin menerima pernikahan ini." Chelsea menatap sendu Alice.
"Apapun yang terjadi, kalian tidak boleh berpisah. Mommy akan bicara pada Edgar."
Sedangkan di tempat lain, Edgar menatap sebuah kartu undangan di tangannya, pria itu baru saja selesai membersihkan diri.
"Mario Maurer." Gumamnya membaca nama seseorang yang mengundang dirinya. "Kenapa dia memberi undangan makan malam." Katanya lagi.
Karena merasa penasaran, siapa itu Mario Maurer. Edgar memutuskan untuk bersiap hadir.
Setelah hampir tiga puluh menit, Edgar sampai di ditempat yang tertera, sampainya di restoran Edgar sudah di sambut oleh pelayan dan menunjukan tempat dimana Mario sudah menunggu.
"Silahkan Sir "
__ADS_1
Edgar hanya mengagguk dan masuk keruangan yang sudah di pesan, dan di sana sudah ada seseorang yang Edgar yakin adalah pria bernama Mario Maurer.
"Selamat malam Sir." Edgar menyapa lebih dulu, karena dirinya merasa lebih muda.
"Malam, Sir Edgar Aldofo." Jawab Mario. "Silahkan duduk."
Edgar pun duduk dan melepaskan kancing jasnya agar lebih leluasa.
"Saya pikir Sir Edgar tidak akan datang untuk memenuhi undangan saya." Mario menuangkan minuman dari botol ke dalam gelasnya dan Edgar juga.
"Em, tidak ada alasan untuk saya tidak datang Sir Mario." Edgar tersenyum tipis. "Terima kasih." Ucapnya setelah Mario memberikan gelas berisi minuman.
Mario tersenyum dan mengaguk. Edgar menyesap minumannya, setelah itu dirinya bertanya.
"Ada urusan apa, sehingga membuat anda mengundang saya datang kemari." Tanya Edgar dengan tubuh ia sandarkan di bahu kursi.
Mario menyuapkan daging potong kedalam mulutnya dan mengunyahnya sebentar. "Nikmatin dulu hidangannya, anda terlalu buru-buru Sir Edgar." Ucap Mario mengunyah sambil tersenyum.
Edgar membuang wajah dengan hembusan napas kasar.
Mario yang melihatnya hanya tersenyum sarkastik. "Baiklah, sepetinya kamu tidak sabaran." Mario mengusap bibirnya menggunakan tisu.
Edgar menatap Mario. "Lebih cepat lebih baik Sir, karena saya juga ada kesibu-"
"Kesibukan memata-matai anak gadis orang." Mario terseyum remeh.
Edgar memicingkan mata. "I mean sir?" Edgar kembali duduk dengan tegak.
"Elga, Elga Maurer."
__ADS_1
Deg