
Mansion Aldofo...
Suasana meja makan tampak hening seperti tidak ada penghuni. Edgar makan dengan tenang, sedangkan Chelsea saling melirik pada Alice.
Andres seperti biasa, pria paruh baya itu tidak suka banyak bicara ketika sedang di meja makan, kecuali jika dirinya bertanya soal pekerjaan dengan Edgar.
"Ed, Mommy punya sesuatu untuk kamu." Alice tampak tersenyum sambil mengeluarkan sesuatu.
Edgar menyudahi sesi makanya dan menatap Alice.
"Is my birthday?" Ucap Edgar dengan alis terangkat sebelah.
Alice tertawa renyah, sedangkan Chelsea hanya tersenyum simpul.
"Tidak harus ulang tahun, hanya saja Mommy belum memberimu hadiah setelah kau menikah." Alice memberikan dua lembar kertas.
Edgar menerimanya. "Tiket Maldives?" Edgar menatap Alice.
"Yes, Mom I want a honeymoon ." Alice tersenyum lebar sambil menatap Chelsea.
"Ohh Mom, thanks you." Chelsea tampak senang mendapatkan hadiah dari mertuanya.
"No, aku banyak pekerjaan." Tolak Edgar langsung.
"Why..?" Chelsea menatap Edgar tidak suka. "Kenapa kau selalu menolak waktu kebersamaan kita." Chelsea mencela ucapan Edgar.
Edgar menatap Chelsea tajam. "Iya Ed, kalian ini sudah menikah dan sudah saatnya kalian memiliki anak." Alice menimpali.
Andres hanya menjadi pendengar saja, pria itu tidak akan bicara tentang hal sepele.
"Seharusnya Mom tahu apa yang aku tidak suka. Dan dengarkan aku." Edgar menatap Alice dan Chelsea bergantian. "Aku akan menceraikan Chelsea." Setelah mengatakan itu Edgar berlalu dari meja makan yang menyebutnya muak.
"Edgar...!! apa yang kau katakan." Alice terkejut dan berteriak memanggil Edgar.
Sedangkan Chelsea sudah menjatuhkan air matanya, ketika Edgar kembali berniat untuk menceraikan nya.
"Mom, aku tidak mau Edgar menceraikan ku." Chelsea menangis di pelukan Alice.
"Tidak akan nak, Mom pastikan itu." Alice mengusap kepala Chelsea dan menatap suaminya yang hanya diam saja.
Andres yang di tatap istrinya hanya mengangkat kedua bahunya acuh, tanda tidak perduli.
.
.
__ADS_1
"By, kau melupakan sesuatu."
Mario berhenti ketika ingin masuk kedalam mobil.
"Vitamin mu." Hawa menunjukan vitamin Mario yang tertinggal.
Mario tersenyum. "Kau terbaik sayang." Mario merangkul pinggang Hawa membuat dadanya begitu merapat pada Hawa.
"Ish, jangan mulai." Hawa mendorong dada suaminya agar sedikit menjauh.
"Malu di lihat anak-anak, apalagi anak gadis yang sudah banyak yang naksir." Hawa merapikan jas suaminya dan mendongak. "Kamu tahu, melihat Elga aku mengingat bagaimana dulu kita bertemu, hanya saja pria yang mengejar Elga jarak usianya lumayan jauh dan yahh dia sudah menikah." Tutur Hawa mengingat Edgar kemarin.
"Ck, kenapa kamu malah ngomongin pria lain. Kamu tahu aku tidak suka." Mario tampak kesal.
"Hey tuan pencemburu, aku hanya mengingat pria yang menyukai putriku sejak bayi." Hawa tidak terima.
"Omong kosong, pria itu hanya memanfaatkan Elga. Dan aku tidak akan membiarkannya." Mario mengecup kening Hawa. "Masuklah aku akan berangkat, jangan lagi kau berani bahas pria lain di hadapanku."
Hawa mencebikkan bibirnya, melihat wajah suaminya yang tampak kesal.
"Byee." Hawa melambaikan tangan ketika mobil Mario berlalu pergi.
"Kak, apa kakak pernah jatuh cinta." Tiba-tiba Elga melontarkan pertanyaan pada Enrico.
"Seharusnya kau bertanya pada Zio bukan padaku." Enrico terkekeh.
"Hufff.." Elga membuang napas. "Kak Zio jelas banyak memiliki kekasih, tapi dia tidak pernah mencintai para wanitanya itu."
Enrico mengagguk, Enzio memang pria yang banyak bergaul dengan para wanita, berbeda dengan Enrico yang tidak pernah dekat dengan wanita manapun sejak remaja kecuali ibu dan adiknya, berserta keponakannya yang terkadang datang berkunjung.
"Memangnya kenapa? apa kau sudah mulai jatuh cinta?" Tanya Enrico yang penasaran.
Elga menggeleng. "Tidak. Aku sendiri tidak tahu jatuh cinta itu seperti apa?" Katanya yang memang tidak tahu seperti apa rasanya jatuh cinta.
"Biar aku kasih tahu, jatuh cinta terkadang tidak memandang apapun, contohnya Mom dan Daddy, mereka memiliki perbedaan usia yang terbilang sedikit jauh. Tapi karena hati mereka menginginkan dan cinta mereka hadir seiringnya waktu. Daddy dan Mommy akhirnya menikah." Enrico memberikan gambar kedua orang tuanya, karena Enrico tahu bagaimana perjalanan cinta sang ibu yang dinikahi Daddy nya.
"Memiliki perasaan berbeda dengan lawan jenis ketika bertemu, bisa jadi itu tanda awal mula tumbuh rasa suka, terkadang kita merasa kecewa tanpa sebab itu juga bisa jadi perasaan kita sedang mulai tumbuh." Jelas Enrico memberikan alasan klise untuk sang adik.
Dia sendiri tidak tahu apa itu cinta, karena Enrico mengesampingkan urusan wanita, dirinya lebih memilih untuk mengembangkan bisnisnya dari pada mengurusi percintaannya.
"Bye.. hati-hati." Elga mencium pipi kakaknya sebelum keluar dari dalam mobil.
"Have a nice day."
Elga terseyum dan segera keluar dari mobil kakaknya, gadis itu sudah di tunggu Emeli sang sahabat.
__ADS_1
"El, apa kau melihat gosip bisnis pagi ini." Tanya Emeli.
"Em, aku tidak pernah melihat gosip." Kata Elga.
"Lihat.." Emeli menujukan ponselnya pada Elga.
"Hari ini Edgar Aldofo akan melakukan perjalanan bulan madu ke Maldives bersama istirnya. Jadi Uncle tampan sudah punya istri." Emeli tidak percaya dengan adanya berita tersebut.
Elga yang awalnya tidak tertarik kini melihat berita yang tayang secata langung, dan Elga bisa melihat wajah istri Edgar.
"Tapi yang bikin mengklarifikasi berita itu hanya istrinya dan nyonya Aldofo. Lalu dimana Uncle tampan." Kata Emeli lagi dengan wajah penasaran.
"Ck, kenapa kau jadi suka gosip begitu." Elga berjalan lebih dulu meninggalkan Emeli.
"Eh, tadi aku tidak sengaja saat Daddy ku melihat berita di tf, dan aku dengar wartawan itu memanggil nama Edgar." Emeli mengikuti langkah Elga.
"Jadi menurutmu, apakah berita itu benar?" Emeli masih saja bertanya tanpa tahu perasaan Elga.
"Entahlah.." Elga tampak berjalan menatap lurus kedepan, gadis itu tidak perduli pada Emeli yang masih mengoceh.
Flashback
"Mom, apa seseorang yang memberikan bubu laki-laki tampan?" tanya Elga pada ibunya ketika sedang berenang di kolam belakang mansion.
Sore itu Elga yang meminta ditemani ibunya untuk berenang, dan Hawa menceritakan bagaimana Elga mendapatkan boneka itu.
"Ya dia tampan, memilki bola mata yang tajam tapi juga begitu teduh." Kata Hawa pada putrinya.
"Jadi apakah dia pangeran untuk princes Elga." Elga terseyum dengan manis ketika mengingat film yang dia pernah tonton seorang pangeran dan princes.
"Em, bisa jadi. Tapi dia sudah lebih dewasa sayang. Tidak seumuran dengan mu." Hawa mengusap rambut putrinya yang basah.
"Tapi pangeran William juga lebih tua dari princes dan mereka menikah, jadi Elga juga mau menikah dengan orang yang memberi bubu."
Ocehan Elga membuat Hawa tertawa, putrinya yang masih 10 tahun sudah tahu apa itu menikah.
"Ya, terserah putri Elga saja. Asalkan bahagia."
Flashback off
Elga mengingat bagaimana dirinya mengatakan itu pada ibunya, dan entah mengapa Elga seperti menyesal telah mengatakan hal itu.
"Ohh.. Tuhan."
LIke, KOMEN jangan lupa 😘
__ADS_1