
Setelah jam sekolah selesai, kembali mengemudikan mobilnya menuju butik langganan Maurer. Elga mengemudikan dengan kecepatan sedang karena jalanan siang ini cukup ramai.
Mekipun pertama kali mengemudi, tapi Elga tidak takut jika terjadi sesuatu padanya, dia yakin jika sang Daddy selalu memiliki bawahan yang mengikutinya kemanapun dia pergi, meskipun Elga tidak tahu dimana keberadaan mereka.
Elga menyentuh lehernya yang terasa haus, gadis itu meraih tasnya untuk mengambil tumbler miliknya.
"Ck, habis." Katanya yang melihat botol tumbler nya kosong.
Melihat kedepan, Elga berniat untuk mampir ke supermarket hanya sekedar untuk membeli minum.
"Mommy, tunggu sebentar ya." Katanya pada dirinya sendiri.
Elga tahu jika Mommy-nya pasti sudah menunggu di butik, dan Elga akan telat pasti mendapat Omelan.
"Sorry sir." Elga mundur dua langkah saat tubuhnya menabrak seseorang ketika dirinya berbalik saat mengambil minuman.
It's oke, don worry." Pria itu tidak masalah.
Elga sedikit menunduk. "Sekali lagi maaf Sir." Dan Elga pun segera pergi untuk menuju kasir.
Karena buru-buru Elga mencari dompet di dalam tas ranselnya, dan malah bonekanya yang jatuh dari dalam tas.
"Oh my bubu." Katanya sambil berjongkok untuk mengambil bonekanya.
Tapi belum sempat megambil, seseorang sudah lebih dulu mengambilnya.
"Maaf." Elga langsung merebut bonekanya dari tangan pria itu.
Setelah selesai Elga segera berlalu untuk kembali ke mobilnya, tapi belum sempat Elga masuk, pria itu kembali memanggilnya.
__ADS_1
"Wait.!!"
Elga yang ingin masuk tertahan, dan kembali menoleh kepada pria yang berjalan mendekatinya.
"Why sir?" Tanya Elga dengan alis bertaut.
"I just want to know your name?" (aku hanya ingin tahu namamu)?
"Edgar.." Pria itu mengulurkan tangannya untuk Elga.
"Sorry, sir." Elga langsung masuk kedalam mobil tanpa mau membalas nama pria itu, hanya saja Elga merasa pernah mendengar nama itu, tapi tidak tahu dimana atau hanya kebetulan saja.
Edgar hanya tersenyum melihat mobil yang Elga Kendari, melihat bagian plat mobil yang memiliki huruf dan angka jika di satukan menjadi El94.
Edgar mengembangkan senyum. "Aku yakin itu kau little Lady." Gumamnya saat mengingat panggilan dirinya pada bayi perempuan yang dia beri boneka.
.
.
"Elga, kamu dari mana saja." Hawa langsung memberondong pertanyaan untuk putrinya, saat Elga berjalan mendekatinya.
"I'm sorry Mommy, I'm a little late." Katanya sambil tersenyum dan memeluk sang Mommy.
"Sejak tadi Mommy menunggumu, lihat Daddy mu sampai marah-marah sama Mommy." Tutur Hawa pada putrinya.
Mario datang dari arah lain, sejak tadi pria itu sibuk menghubungi anak buahnya karena Elga tidak kunjung datang. Elga telat 15 menit dan itu cukup membuat mereka khawatir.
"Have you met a man recently?" (apa kau baru saja bertemu dengan seorang pria)?
__ADS_1
Tanya Mario langsung saat sudah sampai didepan putrinya.
"Tidak Dad, tadi hanya kebetulan. Dan aku tidak mengenalnya." Jawab Elga jujur.
Dirinya memang tidak pernah berbohong, karena Elga tahu betapa ketat Daddy-nya menjaganya dan banyak mata-mata yang mengintai dirinya yaitu suruhan Daddy-nya.
"Siapa By?" Tanya Hawa pada suaminya.
"Bukan siapa-siapa, hanya saja dia pria sudah beristri." Kata Mario cukup didengar oleh Elga.
Elga mengernyit bingung, bagaimana Daddy-nya bisa tahu jika pria tadi sudah beristri, ya meskipun wajahnya terlihat dewasa, tapi Elga cukup mengagumi wajah pria tadi.
"Oh, mungkin hanya kebetulan sayang." Kata Hawa sambil tersenyum.
Mario hanya mengaguk saja, meskipun dirinya merasa penasaran dengan pria yang menemui putrinya tadi. Penasaran lantaran pria itu begitu intens menatap boneka dan juga Elga.
Dengan hitungan detik, Mario sudah tahu latar belakang pria tadi, yang ternyata pemimpin perusahaan terbesar di Inggris, dan belum lama menikah.
"Ayo kita lihat baju yang akan kita pakai." Ajak Hawa pada putrinya.
Mario memilih menghubungi seseorang. "Awasi pria itu, dan kirimkan data paling lengkap." Katanya dari sambungan telepon.
.
.
.
Duh si Daddy benar-benar posesif...
__ADS_1