My Husband Om-Om SEASON 2

My Husband Om-Om SEASON 2
Rencana ke Jakarta


__ADS_3

Satu Minggu dua Minggu...


Kehidupan Elga kembali berjalan seperti sedia kala, tidak ada lagi perdebatan ataupun membahas tentang Edgar tentunya.


Bagi mereka Edgar adalah masalah yang sudah berlalu, tapi tidak dengan hati yang sebenarnya merasa penasaran.


"El, liburan sekolah papa Adam menyuruhmu untuk datang ke Indonesia." Tutur Hawa pada putrinya.


"Mom, El kan belum setuju untuk-"


"Sudah lama kamu tidak mengunjungi makam Oma buyut dan Opa buyut, lagi pula kau tidak akan lama tinggal di sana kecuali jika kau menginginkan untuk pindah kesana." Mario ikut menimpali.


Elga memang susah untuk di ajak pergi ketanah kelahiran sang Mommy, terakhir Elga datang saat pernikahan Daniel adik ibunya.


Elga mengehela napas. "Jika aku tidak banyak pekerjaan pasti aku akan pulang, karena aku ingin kembali berlibur ke Bali." Seru Enzio yang lebih ingin pergi ketanah air.


"Ck, itu sih karena kakak ada maunya." Gerutu Elga yang didengar Enzio membuatnya tertawa.


"Lagi pula Oma dan Opa kan bisa datang kesini." Elga menatap kedua orang tuanya.


"Ya, tapi Mom kasihan jika Oma dan Opa melakukan perjalanan jauh. Setelah kau sampai Mommy dan Daddy akan menyusul. Oke." Hawa membujuk putrinya.


Elga hanya menghela napas. "Memangnya kenapa sih, kalian ingin sekali aku pulang ke Jakarta?" Elga tampak mencurigai sesuatu.


"Memangnya ada apa? tentu saja karena Oma dan Opa." Mario menimpali.


"Terserah saja." Elga berdiri dan pamit untuk berangkat sekolah ketika melihat Enrico sudah menyelesaikan makanannya lebih dulu.


"Mom, Dad. Elga sekolah dulu." Gadis itu mencium kedua pipi orang tuanya, sedangkan Enrico hanya mencium pipi Ibunya itupun dengan cara cepat agar tidak kena omel Daddy-nya.


"Ish, anak itu kebiasaan." Kesal Mario melihat Enrico mencium pipi ibunya.


"Dad, itu anak mu loh." Peringat Hawa.

__ADS_1


"Ya, tapi dia sudah 25 tahun." Mario berdecak kesal.


Hawa hanya geleng kepala, dengan anaknya sendiri saja Mario begitu pencemburu apalagi jika Hawa didekati pria lain, pasti Mario akan menghajarnya habis-habisan.


"Mom, aku pergi." Lagi-lagi Enzio sengaja mencium kedua pipi Hawa di tambah dengan kening ibunya, membuat Mario semakin mendelikkan kesal.


"Dasar setan kecil." Umpat Mario melihat Enzio yang sengaja membuatnya kesal.


Enzio tertawa keras mendengar umpatan Daddy-nya yang selalu seperti itu jika wanitanya ada yang menyentuh.


"Dari kecil mereka sudah mencuri perhatian dan cintamu, dan sekarang mereka masih ingin merebut mu dariku lagi." Kesalnya tanpa alasan.


"Ish kamu berlebihan By, mereka anak-anak kamu, tidak sepantasnya kamu cemburu." Hawa terkekeh pelan.


Mario memang seperti itu, membuat Hawa terkadang kuwalahan.


"Hari ini aku tidak sibuk, jadi nyonya Maurer igin pergi kemana?" Mario mengalihkan topik yang akan membuat moodnya selalu buruk jika diteruskan.


"Oke, kita kunjungi mereka." Mario tersenyum tipis.


Inilah jika yang disukai Mario, jika dirinya tidak sibuk maka Hawa akan mengajaknya untuk mendatangi makam Daddy dan juga Mommy-nya yang sudah tiada.


.


.


"El, kenapa kamu selalu menolak untuk pulang ke Jakarta?" Enrico menatap Elga sekilas. Adiknya itu memang sedikit aneh karena tidak pernah mau pulang ke Jakarta jika tidak dengan terpaksa.


"Entahlah, rasanya aku tidak betah saja." Elga memeluk bubu, dan memainkan telinganya.


"Alasan macam apa itu."


Elga hanya mengangkat kedua bahunya acuh.

__ADS_1


Hening untuk beberapa saat, membuat Elga mengingat kejadian tempo lalu dirumah sakit.


"Apa dia baik-baik saja." Batinnya dalam hati.


Tapi Elga juga berpikir mungkin saja Edgar juga sedang bersenang-senang mengingat berita yang dia lihat jika sang Istri akan mengajaknya pergi berlibur, dan Elga merasakan dadanya sedikit sesak jika mengingat hal itu.


Tidak ada yang bisa Elga lakukan untuk mencari tahu, karena semua aksesnya ditutup oleh Mario.


"Ck, kenapa harus dia." Elga kembali kesal jika pikiranya mengingat pria beristri itu, pada kenyataannya kedatangan Edgar mempengaruhi dirinya.


"Edgar!! apa-apaan kamu." Chelsea tampak meronta ketika Edgar menarik tangannya kasar.


"Keluar! kau tidak aku ijinkan masuk, apa kau tuli!!"


Suara rendah Edgar menggelegar hingga penjuru lantai kantornya menatap keduanya yang sedang bertengkar.


Chelsea sudah menangis terisak. "Edgar aku tidak mau tanda tangani ini, aku tidak mau!!"


Srek


Srek


Chelsea merobek kembali surat perceraiannya dengan Edgar, ini sudah banyak kali Chelsea melakukan hal itu. Dan Edgar yang melihatnya semakin geram.


"Kau sengaja melakukanya hah..!!" Edgar mencekram lengan Chelsea kuat, membuat Chelsea meringis. "Kau hanya buang-buang waktuku Chelsea, jika dengan cara baik-baik kau tidak menurut, maka bersiaplah dengan apa yang akan aku lakukan." Edgar tersenyum miring dengan tatapan seperti iblis.


Chelsea yang melihatnya menjadi takut melihat sisi suaminya yang tidak pernah dia lihat.


Chelsea mengusap air matanya. "baiklah aku akan tanda tangani surat itu, tapi dengan satu syarat." Chelsea menatap Edgar dengan bibir terangkat sedikit. Rasa sakitnya berubah menjadi rasa dendamnya untuk mendapatkan Edgar.


"Edgar Aldofo, aku hanya ingin bercinta denganmu."


Plak

__ADS_1


__ADS_2