My Husband Om-Om SEASON 2

My Husband Om-Om SEASON 2
Janji yang membuat syok


__ADS_3

Satu tahun kemudian...


Di sebuah sekolah internasional, seorang gadis dengan senyum bahagianya saling berpelukan. Dia gadis yang beriman sejak lama kini saling memeluk haru.


Elga Maurer tersenyum manis dengan raut wajah bahagia terlihat jelas di wajahnya. Keduanya saling melempar senyum saat seseorang membidik pose mereka yang tersenyum manis.


"Duh, lama-lama diabetes kalau liat begini." Enzio terseyum cerah mendekati adiknya dengan ucapan menggoda untuk kedua gadis cantik itu.


"Dih, kak Zio keliatan modus pura-pura banget." Ucap Emeli sambil melihat hasil beberapa jepretan yang di ambil tadi.


"Kak Daddy dan Mommy mana?" Tanya Elga pada Enzio, Enrico juga belum nampak padahal ini adalah hari yang begitu penting baginya.


"Sebentar lagi mereka sampai, selamat ya El." Enzio memeluk adiknya dengan sayang mengecup kening Elga beberapa kali.


Suasana tampak ramai dengan acara kelulusan yang mereka alami. Ya satu tahun berlaku dan kini Elga dan juga Emeli sudah lulus sekolah. Keduanya sedang merayakan kelulusan mereka di depan halaman sekolah.


Keluarga Emeli yang sedang tidak ada, membuat gadis itu sedikit minder karena tidak ada yang memberinya selamat secara langsung.


"Kenapa mereka telat." Elga tampak kesal. "Padahal ini hari penting bagiku." Keluhnya lagi dengan wajah masam.


"Hey.. Jangan merajuk." Enzio merangkul bahu adiknya. "Mungkin mereka mempersiapkan sesuatu yang spesial untuk mu." Enzio mencubit hidung Elga gemes.


"Ish, gak lucu." Elga mengerucutkan bibirnya.


"Hm, yang lucu itu badut." Ledek Enzio tak mampu membuat bibir manyun Elga tersenyum.


Emeli memilih untuk bergabung dengan yang lain saat matanya melihat kelurga Elga datang, dirinya memilih berbaur di bersama teman yang lain.


"Nah itu mereka." Enzio menunjuk mobil yang baru saja datang. Dan sudah sangat di kenal jika itu adalah mobil keluarga mereka.


Elga masih memasang wajah masam, gadis itu kesal karena mereka telat datang.


"Ohh sayang, selamat." Hawa sedikit berlari untuk segera memeluk putrinya, wanita itu tersenyum bahagia melihat Elga yang sekarang sudah lulus sekolah.


"Mom, kenapa datang telat." Elga langsung memprotes Mommy nya.


"Maaf sayang, tadi ada sesuatu -"

__ADS_1


"Ah, gak asik princess Daddy sudah dewasa." Mario mendekat membuat Hawa melonggarkan posisinya agar suaminya bisa memeluk sang putri.


Elga semakin mengerucut kan bibirnya melihat senyum Daddy-nya yang terasa menyebalkan.


"Daddy menyebalkan." tak ayal gadis itu masuk kedalam pelukan Mario dengan rasa sayang.


"Sorry, Daddy datang telat." Mario mengecup kening Elga. "Tapi tetap saja princess daddy yang terbaik, selamat sayang setelah ini kamu akan menjadi mahasiswi." Mario tertawa ketika mengatakan hal itu, entah kenapa tatapannya kini beruban sendu. "Jadinya putri Daddy selamanya, jangan pernah berubah. Karena bagi Daddy kamu adalah princess Daddy sampai kapan pun." Mario menangkup kedua pipi putrinya, tatapannya beruban menjadi melow, membuat Elga merasa terharu.


"Aku tidak akan berubah Dad, aku akan menjadi princess Daddy sampai kapanpun, meskipun nanti jika aku sudah menikah ataupun punya anak, bagiku Daddy adalah cinta pertamaku yang terbaik."


Tidak di sangka ucapan keduanya mengandung bawang untuk kedua putra dan juga istrinya, Enzio dan Enrico memeluk Hawa dengan penuh kasih sayang.


"Lihatlah sejak tadi aku pegal bawa ini." Enrico mengintrupsi, pria itu tidak suka jika lama-lama di posisi melow seperti ini.


Elga menoleh pada kakaknya, dan melihat ditangan Enrico ada buket bunga besar untuk nya.


Senyum Elga kembali terlihat merekah saat melihat buket bunga yang begitu indah.


"Terima kasih kak." Elga memeluk Enrico dan memberikan kecupan di pipi kakak nya. Enrico membalasnya dengan mengecup kening Elga.


"Semoga kau selalu bahagia." Ucap Enrico dengan tulus.


Enrico dan Enzio saling tatap dengan wajah pasrah. "Sudah banyak duit, masih saja malak." Ucap Enzio membuat Elga tertawa.


Mereka saling melempar tawa, waktu begitu cepat berlalu, mereka melihat Elga putri kecil yang begitu di manjakan sudah memasuki usianya yang 18 tahun. Tapi bagi seorang ayah Elga tetaplah putri kecilnya yang sangat dia cintai.


Elga Maurer adalah anugrah Tuhan yang begitu berharga, seorang putri yang mereka sayangi dan cintai sepenuh hati.


Malam hari....


Elga tampak cantik dengan dres yang dia kenakan malam ini, kulitnya yang putih sangat kontras dengan dress berwarna maroon yang dia pakai, rambut coklatnya yang di gerai dengan sentuhan Curly membuat gadis 18 tahun itu semakin cantik mempesona.


Malam ini mereka akan merayakan kelulusan Elga, Mario sudah memboking tempat khusus untuk keluarga mereka. Baginya masa seperti ini tidak akan terulang kembali apalagi melihat putrinya yang begitu membanggakan.


"Mom, kenapa aku harus dandan seperti ini." Ucap Elga yang merasa berlebihan dengan penampilannya sendiri.


"Kamu semakin cantik sayang." Puji Hawa yang terus mengulas senyum.

__ADS_1


"Mom, jangan terus memujiku." Elga tersenyum malu, mendengar pujian sang Mommy yang entah sudah berapa kali.


Keduanya sedang berjalan menuju tempat yang Mario pesan, di mana malam ini akan menjadi momen yang tidak pernah terulang kembali.


"Tapi memang cantik kan." Ucap Hawa lagi dengan nada menggoda sang putri.


Elga hanya tersenyum lebar menanggapi ucapan sang Mommy, entah kenapa rasanya dia sangat bersyukur dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang begitu mencintainya.


Elga tampak terpana dengan tempat yang mereka datangi, tempat yang begitu indah seperti akan ada acara yang akan di gelar.


"Dad, Mom. bukankah ini terlalu berlebihan? kita hanya makan malam loh, kok kayak mau ada acara lamaran aja." Crocos Elga yang tidak tahan untuk mengomentari pemandangan di sekitar.


"Eh, masa sih." Hawa tampak menatap kesekiling. "Iya, mungkin kamu salah reservasi tempat by? atau mereka yang salah menunjukan tempatnya?" Ucap Hawa pada suaminya.


Mario hanya mecebikkan bibirnya dan menggeleng. "Aku tidak salah sayang, aku juga tidak tahu kenapa mereka mendekorasi tempatnya seperti ini." Jawab Mario santai.


"Ya sudah Mom, lebih baik kita duduk di sana." Elga mengajak Mommy-nya untuk duduk di kursi dan meja panjang yang sudah disiapkan.


"Kau tahu, pasti pria tua itu yang melakukan semua ini." Ucap Enzio berbisik padanya kakaknya Enrico.


Enrico hanya mengangkat kedua bahunya untuk menanggapi ucapan Enzio.


"Hiss, dia itu kaku sekali. Mana tau soal romantis- romantis begini."Gerutu Enzio yang mengekor di belakang kakaknya.


Tak lama hidangan makan malam datang, mereka berlima duduk dengan sambil berbincang-bincang ringan, hingga pertanyaan Mario membuat Elga terdiam mematung.


"Elga, bagaimana jika ada seseorang yang melamar mu dan memintamu untuk menjadi istrinya?" Tanya Mario dengan nada tinggi ringan, tapi terselip rasa kahawatir dan tidak rela.


Elga mengerjapkan kedua matanya beberapa kali untuk mencerna ucapan Daddynya.


"Maksud Daddy apa?" tanya Elga dengan wajah bingung. "Menikah? yang benar saja Dad, bahkan aku tidak punya teman dekat laki-laki Sama sekali." Jawab Elga dengan nada sumbang.


Ada perasaan sesak di dadanya ketika mengatakan hal itu. "Lagi pula aku baru lulus sekolah, aku baru 18 tahun Dad." Katanya lagi diiringi senyum tipis.


"By." Hawa menyentuh tangan suaminya. "Ada apa?" Tanya Hawa yang tidak mengerti dengan ucapan suaminya barusan.


Mario menghela napas dalam sebelum mengatakan sesuatu yang membuat kedua wanita itu syok.

__ADS_1


"Maaf Elga, Daddy sudah berjanji dengan seseorang, jika setelah kamu lulus sekolah maka. Dia boleh melamar dan menikahi mu."


Jederrrr


__ADS_2