My Husband Om-Om SEASON 2

My Husband Om-Om SEASON 2
First Kiss


__ADS_3

"Mom, Dad. Aku tidak apa-apa." Elga tampak tidak tega melihat Ibunya yang bersedih.


"Tapi kamu hampir celaka nak, Mom tidak bisa -"


"Tidak apa Mom, aku baik-baik saja." Elga memeluk Hawa.


Saat dirinya tersadar, Elga sudah berada di rumah sakit dan Elga melihat kedua orang tuanya, berserta kakaknya sudah ada di sana.


"Meksipun begitu, kami tetap khawatir Elga. Kami tidak bisa melihatmu seperti ini." Enzio mendekati adiknya dan mengusap kepalanya.


"Em, maaf Dad." Elga menatap Mario penuh rasa sedih. Sejak tadi Mario belum bicara padanya, dan Elga tahu setelah ini dirinya tidak bisa lagi membawa mobil.


"It's Oke, tapi kamu tahu apa konsekuensinya." Mario tangan Mario mengusap pipi Elga.


"Hm.." Elga hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


Entah kenapa dirinya bisa mengalami kecelakaan seperti ini, untung saja tidak mengakibatkan hal yang fatal, jika iya Elga tidak tahu apa yang akan dia alami.


Dan Elga ingat, kenapa dirinya bisa seperti itu.


"Sayang kamu belum makan kan?" Hawa menatap putrinya dan tersenyum.


Mendengar kabar jika putrinya mengalami kecelakaan, tentu saja membuat Hawa panik dan syok. Apalagi saat itu dirinya dirumah sendiri karena Mario dan anak-anaknya sedang tidak ada.


"Belum Mom, tapi aku ingin masakan Mommy."


"Eh, tapi Mommy tidak bawa masakan sayang." Hawa menatap Elga bingung.


"Kalau begitu Mommy masak dulu, Elga hanya ingin masakan Mommy." Elga menunjukan wajah melasnya.


"Daddy..." Hawa menatap suaminya.


Mario mengangkat kedua bahunya. "Tidak ada alasan untuk menolaknya." Mario tersenyum dan mencium kening Elga. "Daddy bawa Mommy pulang dulu, kalian jaga princess Daddy." Ucap Mario pada Twins.


"Ck, jangan modus Dad, Elga sedang kelaparan." Ledek Enzio yang mengerti kebiasaan Daddy-nya jika sedang berduaan.


"Kau nanti akan tahu, jika sudah menikah." Mario berkata demikian. "Jika waktu berdua lah yang kau nantikan."


"Daddy..." Hawa mendelik menatap suaminya.


"I love you." Mario mengecup bibir Hawa sekilas, didepan anak-anaknya.


"Daddy keterlaluan..!"


Ketiga anaknya berteriak bersama membuat Mario tertawa.


Elga dengan posisi setengah berbaring, tangannya menatap layar ponselnya yang ternyata memiliki banyak panggilan nomor baru yang tentu dia hafal milik siapa. Dan nomor itu juga mengirimkan pesan.


Elga mengehela napas, dan pandangan teralihkan saat ponsel Enrico berdering.


"Sorry.." Enrico menatap adiknya dengan senyum dan keluar ruangan untuk mengangkat panggilan.


"Dia sok sibuk." Ledek Enzio.

__ADS_1


"Kalian berdua sama, sudah tidak ada waktu untuk mengajakku jalan-jalan." Elga mencebikkan bibirnya.


"Hey, kau jangan merajuk. Kakakmu ini kerja untuk membuatmu kaya." Enzio mengintrupsi.


"Lihat, kau tidak bekerja tapi saldo di rekeningmu bertambah terus." Enzio menatap Elga kesal.


Elga tertawa. "Itu sudah tugas untuk kakak dari yang mulia raja." Elga tersenyum penuh kemenangan.


"Cih, menyebalkan." Enzio duduk dengan kesal.


Tak lama Enrico kembali. "Aku harus pergi, ada Klein penting yang ingin bertemu. Zio kau jaga Elga." Enrico mencium kening dan pipi Elga.


"Sudah kuduga, kau akan menjadi bujang lapuk En." Ledek Enzio.


"Tutup mulutmu, jika kau saja juga berbagi makanan denganku di rahim Mommy." Enrico menatap Enzio dengan kesal.


Sedangkan Elga hanya tertawa. "Yap, dan kalian itu sama saja, sama-sama bujang lapuk. Jadi jangan saling mengolok haha.."


"Sialan kau El."


Enrico pergi meninggalkan Elga dan Enzio, dan tak lama ponsel Enzio juga berdering.


"Halo.."


"...."


Enzio melirik Elga dengan senyum tipis.


"Tapi-"


"Wanita yang keberapa? apa mereka memintamu untuk menghangatkan tubuhnya?" Kata Elga dengan mimik wajah mengintimidasi.


"Hey, jangan kau tatap aku seperti itu." Enzio berdiri dan mendekati Elga. "Boleh..?" Tanyanya dengan menampilkan senyum semanis mungkin.


"Apa?" Elga melipat kedua tangannya di dada.


"Angel berulang tahun, dan aku tidak tahu jadi -"


"Kau harus datang dan memberi selamat juga kado." Potong Elga.


"Ohh came on sayang, kau tau kakakmu ini." Enzio mencubit kedua pipi Elga.


"Ck, menyebalkan." Elga menepis tangan Enzio. "Ingat aku tidak mau memiliki kakak ipar dari deretan wanita mu itu."


"I promise." Enzio terseyum dengan mengangkat kedua jarinya ke atas.


"Kau yang akan menentukan siapa wanita itu, ya aku ingat princess."


Elga mengaguk. "You gotta remember dude."


"Yeah.."


"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran." Elga mengusir Enzio.

__ADS_1


"Em, kau terbaik adikku yang cantik. emuuah.." Enzio mencium pipi Elga berkali-kali.


"Ish, dasar playboy." Elga tertawa saat Enzio sudah keluar dari ruanganya.


Hembusan napas kasar begitu terdengar, Elga merebahkan dirinya untuk beristirahat sebelum ibunya datang.


Tak lama setelah Elga terlelap, pintu ruangannya kembali terbuka, kali ini dengan langkah kaki yang begitu pelan.


Edgar menatap gadis yang terlelap, dengan kening yang dibungkus perban, bisa di pastikan jika kening Elga mengalami luka.


"Elga..." Edgar mengelus kepala Elga lembut, pria itu duduk di sisi rajang Elga yang terbaring.


Elga yang menyadari pergerakan ranjangnya membuka mata, dan Elga terkejut melihat Edgar ada didepan matanya.


"Uncle.." Elga langsung terperanjat hendak duduk, tapi tiba-tiba tubuhnya membeku saat Edgar memeluknya erat.


"Sttt, diamlah." Edgar memeluk Elga dengan erat, memeluk tubuh gadis yang sudah memporak-porandakan hatinya ketika mendengar kabar jika Elga mengalami kecelakaan.


"Uncle-"


"Shut up, you almost made me die." (Diamlah, kau membuat ku hampir mati).


Edgar mengecupi pucuk kepala Elga. "Kau baik-baik saja hm." Tanya Edgar tanpa melepaskan pelukannya.


"Emm." Elga hanya mengagguk saja.


Elga masih tidak percaya dengan apa yang dia rasakan, jantungnya berdetak cepat dengan perasaan yang tiba-tiba membuat dirinya merasa aneh. Bahkan Elga bisa mendengar bagaimana kerasnya detak jantung Edgar.


"Syukurlah, aku begitu khawatir." Edgar tampak mengehela napas.


Pelukan keduanya terurai, Edgar membingkai wajah Elga dengan kedua tangannya.


Pandangan keduanya saling bertemu, menatap satu sama lain.


Edgar meyakinkan dirinya dengan menatap kedua bola mata Elga, dan di saat itu juga Edgar menemukan sesuatu hal yang membuatnya merasakan sesuatu yang membuncah.


Sedangkan Elga seperti ingin tenggelam ke dalam sorot mata tajam Edgar tapi juga meneduhkan, Elga menyukai tatapan mata itu ketika menatapnya seperti ini.


"Elga..." Edgar mendekatkan wajahnya hingga kedua bibir mereka begitu sangat dekat. "I love you."


Cup


Edgar mengecup bibir Elga lembut, memejamkan matanya untuk merasakan sesuatu yang tiba-tiba mengalir kedalam tubuhnya begitu saja.


Sedangkan Elga, tubuhnya semakin membeku dengan rasa dingin menyebar dalam dirinya, Elga diam mematung dengan perasaan yang tidak menentu.


Rasanya begitu lembut dengan rasa aneh yang menjalar begitu tiba-tiba, Elga tidak tahu apa yang sedang dia rasakan.


Edgar sedikit menjauhkan wajahnya dan menatap Elga yang perlahan membuka matanya, bibir Elga yang ranum dan terasa manis membuat hati Edgar semakin membuncah.


"You're my woman, no one else. Sorry if I do something wrong, but I love doing it." Kamu wanitaku, tidak ada orang lain. Maaf jika aku melakukan kesalahan, tapi aku suka melakukannya.


Edgar kembali menyatukan bibinya, kali ini dengan sedikit lumattan yang membuat kedua tangan Elga meremat kemejanya kuat.

__ADS_1


"Emph.."


__ADS_2