
"Jadi kenapa kau memblokir semua kartu ku!" Ucap Chelsea dengan kesal.
Kini keduanya hanya berdua diruangan Edgar, beruntung saat Chelsea masuk Edgar selesai meeting dengan klien, dan oleh karena itu mereka sekarang hanya berdua.
Tidak tahukah Edgar jika dirinya menanggung malu dengan apa yang Edgar lakukan, mukanya sudah sangat malu jika bertemu dengan mereka lagi.
"Lalu kau mau apa?" Tanya Edgar santai, dengan kedua tangan terlipat di dada.
Chelsea mengerutkan keningnya, apa suaminya ini pura-pura tidak tahu apa memang tidak tahu, jelas saja dirinya ingin fasilitas kembali seperti semula.
"Memang aku yang melakukanya, terus kenapa?" Ulang Edgar karena Chelsea hanya diam saja.
Chelsea menghela napas. "Setidaknya jika aku tidak dianggap sebagai istri, jangan kamu batasi apa yang aku inginkan, fasilitas semua kamu tarik. Istri pun kamu tidak menganggap ku." Ucap Chelsea dengan nada getir.
Edgar tersenyum miring. "Jika kamu seorang Istri, apa kamu siap hidup serba kekurangan denganku." Tanya Edgar dengan tatapan memindai wajah Chelsea.
Chelsea tidak mengerti apa yang dikatakan suaminya, hidup kekurangan? yang benar saja, bahkan harta keluarga suaminya tidak akan habis tujuh turunan. Lalu kenapa Edgar berkata seperti itu.
__ADS_1
"Heh." Chelsea tersenyum sinis. "Apa kau ingin menguji kesetiaan istrimu ini." Chelsea berdiri dan mendekati Edgar yang duduk di kursi kebesarannya.
Wanita itu langsung duduk di pangkuan Edgar dengan santainya. Tangan Chelsea mengusap pipi Edgar.
"Jangan bergurau sayang, aku tidak yakin jika kamu akan hidup serba kekurangan." Chelsea terkekeh pelan. "A poor Edgar Aldofo, like only a dream." Ucap Chelsea dengan lirih didepan wajah Edgar.
Edgar hanya tersenyum miring, pria itu menaikkan tangannya dan menyentuh dagu Chelsea. Keduanya saling bertatapan.
"Mimpi buruk bagimu, sayangnya Edgar Aldofo menjadi pria miskin saat ini." Desis Edgar dengan suara terdengar tegas.
"Jadi bersiaplah untuk mendampingi suami mu yang miskin ini, karena setelah ini suamimu yang miskin tidak bisa lagi memberikan tas mahal, baju branded, perhiasan limited edition, dan sebagainnya. Jadi-"
"Tidak! pasti kamu bohong. Itu tidak mungkin!!"
Edgar tersenyum sinis, lihatnya baru begitu saja wanita itu sudah frustasi.
"Kamu pasti bohong kan." Chelsea menatap wajah Edgar seksama, dan reaksi Edgar membuat Chelsea semakin frustasi.
__ADS_1
"Mungkin kamu butuh sesuatu untuk meyakinkannya." Edgar membuka laptop miliknya, dan menunjukan sesuatu pada Chelsea.
Chelsea melihat apa yang Edgar tunjukkan, wanita itu menggeleng tidak percaya melihat sesuatu yang membuatnya begitu syok.
"Ja-jadi kau-" Chelsea menatap Edgar yang hanya mengagguk lemah.
"Perusahaan sebentar lagi kolaps, dan masih banyak hutang yang belum terselesaikan. Jadi-"
"Tidak, ini tidak mungkin." Chelsea menggelengkan kepalanya dengan wajah panik.
Ini semua jauh dari bayangan, bahkan untuk membayangkan saja Chelsea tidak pernah, apalagi harus hidup serba kekurangan, dan sepertinya sekarang lebih buruk dari yang pernah dia alami.
Dengan perasaan gusar dan frustasi Chelsea meninggalkan ruangan Edgar yang terasa sesak untuknya bernapas.
Melihat wanita itu pergi, Edgar tersenyum miring. "Wanita sepertimu tidak akan bisa hidup tanpa uang." Ucapanya dengan seringainya.
Setelah ini Edgar tidak perlu repot-repot untuk membuat Chelsea tanda tangan surat perceraian, karena dengan sendirinya pasti wanita itu akan meminta cerai. Siapa yang akan tahan hidup kekurangan, jika sebelumnya hidup bergelimang harta berkecukupan.
__ADS_1