My Love My Heart

My Love My Heart
Anak Haram??


__ADS_3

..."Maaf kan saya, ustadz...


...Saya minta tolong dengan sangat. Dengan nama Allah. Tolong rawat dan didik putra saya seperti Ustadz merawat putra Ustadz. Agar dia menjadi anak sholeh. Saya tidak mampu membesarkan anak hasil kesalahan saya. Saya tidak bisa melihat wajah yang mirip dengan ayahnya. Saya tidak mampu....


^^^Terima kasih Ustadz,^^^


^^^Ibu bayi ini"^^^


Tulisan itu masih jelas terbaca meski garis-garis lipatan kertasnya sangat jelas. Tulisan yang menjelaskan banyak hal.


Seorang pemuda tampan kembali menatap kertas itu. Membaca lagi. Lalu menghela nafas berat. Semuanya jelas!Jadi, inikah alasan semua ini? Alasan dia sangat berbeda. Alasan Buya dan Ummah tak mampu menjawab banyak pertanyaannya. Alasan Ummah selalu menyebut nya hadiah dari-Nya.


Tidak! Bukan berarti dia baru tahu bahwa dia bukan putra kandung Buya dan Ummah. Dia sudah mengetahuinya sejak kecil. Karena sedari kecil, ditanamkan padanya pengertian itu. Bahwa dia bukan putra kandung Buya dan Ummah. Dia putra mereka dari susuan. Bahwa ikatan persaudaraan antara dia dengan kakak-adiknya, bersebab susuan. Dia sudah mengetahuinya.


Hanya saja, ada banyak pertanyaan. Siapa ayah dan ibu kandungnya?! Mengapa dia bisa dirawat oleh Buya dan Ummah?! Mengapa ibunya tak pernah datang?! Tak pernah menjenguknya?! Apakah ibunya membencinya sehingga tak pernah menjenguknya?! Mengapa.... Apakah.... Dan banyak pertanyaan lain yang tak bisa dijawab oleh Buya dan Ummah.


"Ibumu belum bisa kemari, Fu'ad. Ibumu menitipkanmu pada kami, Nak. Insyaallah kalian akan bertemu." Itulah jawaban Ummah. Selalu seperti itu. Mungkin, kadang berbeda beberapa kata. Tapi intinya sama.


"Allah menghendaki kita bersama, Bunayya..." Jawaban simpel itu selalu dilontarkan Buya.


Dia mengusap sudut matanya yang basah. Tidak! Dia tak boleh menangis! Buya dan Ummah selalu bilang dia anak yang kuat! Dua kakaknya selalu mengatakan dia anak yang tegar. Dia tak boleh menangis!


Pandangannya beralih pada empat orang di dalam ruangan. Empat wajah yang sangat dia sayangi. Dua laki-laki, Buya dan kakak kedua. Dua perempuan, Ummah dan kakak sulung.


"Jadi, Fu'ad adalah anak yang tak diinginkan?" Pertanyaan berat itu pun keluar. Memecah kesunyian.


"Kami menyayangimu, Fu'ad," jawab Ummah, matanya berkaca-kaca, "Kau putra kami. Putra ketiga Buya dan Ummah. Putra yang kami cintai."


Pemuda itu, Fu'ad, menatap mata bening Ummah. Wanita yang telah menyusuinya. Juga mendidiknya hingga dia tumbuh besar. Mata Ummah berkaca-kaca.


"Ummah benar, Bunayya (anak ku sayang)," Buya tersenyum. "Meski bukan putra kandung, Fu'ad tetap putra kami. Darah kami telah mengalir ditubuhmu karena persusuan. Buya sangat sayang Fu'ad. Juga Ummah, kakak, dan adik."


Fu'ad menoleh pada Buya. Lelaki yang menempati posisi sebagai ayah baginya selama ini. Lelaki yang mengajarinya banyak hal. Ketulusan menghias wajah teduhnya.


"Iya, Fu'ad. Kau tetap adik yang kami sayangi. Adik terkuat..." Ridlwan, kakak keduanya, menambahi. Disusul anggukan Hanin, kakak sulungnya.


Fu'ad tersenyum. Kebahagiaan menyelimuti hatinya.


"Buya, Ummah, ceritakan awal pertemuan Fu'ad dengan keluarga ini..."


"Keluargamu, Fu'ad," tukas Ummah cepat.


Ummah tak pernah menganggap Fu'ad sebagai orang lain. Juga tak pernah ingin seseorang menganggapnya demikian. Fu'ad adalah bagian keluarga tercintanya.

__ADS_1


"Akan kami ceritakan, Bunayya..."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam Hari, Lima Belas Tahun Silam...


Di sebuah rumah yang tak jauh dari masjid, seorang laki-laki bangkit dari tidurnya. Usia lelaki itu berkisar di angka 29-an. Mata hitamnya menatap jam dinding. Pukul 00:30. Dia mempertajam pendengarannya.


Ya! Suara itu ada! Malah, suara itu semakin jelas. Bukan mimpi. Suara tangisan anak kecil. Lelaki tersebut menatap bayi mungil di sampingnya. Hei! Putri bungsunya masih terlelap. Begitu nyenyak.


"Ada apa, Mas?" Wanita ayu yang tidur di samping bayi pun terbangun.


"Adek dengar suara itu?" Tanyanya


Sang istri menajamkan pendengaran. Hei! Suara tangisan anak kecil!


"Sepertinya, itu suara tangisan anak kecil, Mas,"


"Tangisannya sangat dekat, Dek."


"Sepertinya dari depan rumah kita, Mas. Ayo, kita lihat. Siapa anak kecil yang menangis malam-malam begini," usul sang istri.


Lelaki itu mengangguk. Segera bangkit dari tempat tidur. Diikuti istrinya yang menyambar gamis sederhana dan jilbab kaus. Mereka segera pergi ke depan. Asal suara tangisan itu.


Dari jendela depan rumah, pasangan tersebut melihat ke luar. Tepat di depan gerbang, seorang bocah laki-laki menangis. Mengenakan jaket dengan beralaskan selimut kecil tapi tebal. Dia duduk memeluk lututnya. Aneh. Siapa bocah itu?!


Sang suami keluar. Sedangkan istrinya menunggu di dekat pintu utama.


"Dek," panggil sang suami lembut.


Pagar rumahnya memang bukan pagar rapat tanpa celah. Pagar besi biasa dengan celah yang lumayan renggang.


Sang suami membuka gerbang. Bocah kecil itu masih menangis sesegukan. Wajahnya menyiratkan ketakutan.


Tak lama, beberapa tetangga menyusul keluar. Suara tangisan bocah itu mengganggu tidur mereka. Lalu, menyusul peronda yang lewat. Bocah itu merapat ke dinding. Dia masih menangis. Semua warga menatap heran si bocah.


Perlahan, Luthfi Hadi-sang suami- menjelaskan semua. Para tetangga mengangguk-anggukan kepala, mereka percaya. Luthfi Hadi memang orang yang disegani oleh para warga. Dia sosok ramah, dermawan, sopan, pandai, dan sangat rendah hati. Selain itu, Luthfi Hadi adalah seorang ustadz lulusan universitas ternama.


Setelah mendengarkan ustadz Hadi-panggilan Luthfi Hadi, para tetangga diam. Mereka bingung. Haruskah melapor pada polisi?!


"Ustadz! Lihat!" Salah satu tetangga berseru. Tangannya menunjuk ke arah bawah pagar.


Ada sesuatu di sana. Sebuah kertas terlipat yang ditindih sebuah kerikil besar. Juga benda kecil yang berkilau. Sedari tadi, tak ada yang menyadarinya karena fokus pada bocah kecil.

__ADS_1


Setelah membaca isi kertas, Ustadz Hadi ber-istighfar lirih. Menyerahkan surat itu pada salah satu tetangga, Pak Rt. Pak Rt bahkan harus membaca dua kali. Menatap iba si bocah yang mulai lelah menangis. Lalu memperhatikan benda berkilau yang sekarang berada di tangan Ustadz Hadi. Sebuah liontin berbentuk setengah bintang dengan warna hijau indah. Liontin batu zamrud.


"Bagaimana, Ustadz?" Pak Rt bertanya resah.


"Malam ini biar saya dan istri yang membawanya. Besok, kita periksa rekaman cctv. Lalu, melapor pada yang berwajib. Kita cari jalan keluar terbaik."


"Apakah Ustadz akan merawatnya?"


"Kita lihat kondisi terlebih dahulu, Pak. Saya juga harus bermusyawarah dengan istri dan keluarga besar, Pak."


Seluruh tetangga mengangguk tanda setuju. Mereka tak keberatan bila bocah malang itu dirawat oleh seorang ustadz. Dan tentunya, mereka akan tenang.


Setelah membicarakan apa yang harus dilakukan esok, Ustadz Hadi membawa si bocah ke dalam rumah. Meski masih menangis sesegukan, bocah itu tak berontak. Rumaisya Shaliha, sang istri, menunggu di ruang tamu.


"Sini, sayang. Anak manis," Aisy-panggilan Rumaisya Shaliha, mengambil si bocah yang masih menangis dari gendongan suaminya.


"Mas, dia lapar," Aisy menoleh ke arah suaminya.


Ustadz Hadi teringat pisang dari sahabatnya tadi siang, "Dek, kita beri pisang saja, ya. Sepertinya, usianya sudah satu setengah tahun."


Aisy mengangguk, dia sibuk menghibur si bocah.


Sambil menemani istrinya menyuapi si bocah, Ustadz Hadi menjelaskan semua. Termasuk isi surat dan liontin yang sekarang dibawa Pak Rt.


"Jadi, Adek belum bisa menyusuinya ya, Mas?" Aisy membersihkan pisang yang mengotori wajah si bocah.


"Beluk, Dek. Kita lihat kondisi dahulu. Kalau secara hukum boleh kita rawat, kita harus bermusyawarah dengan keluarga kita. Terutama orang tua," jelas Ustadz Hadi.


Aisy mengangguk meski hatinya berat. Entahlah, saat pertama kali melihat wajah bocah itu, hatinya sangat tersentuh. Apalagi, mata hijau indahnya yang mengerjap. Imut sekali. Aisy sangat ingin merawat bocah manis itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Harapan Aisy menjadi kenyataan.


Setelah berbagai pertimbangan, mereka mendapat hak asuh bocah itu hingga dewasa. Keluarga besar langsung menyetujui keinginan Aisy. Mereka bisa menerima bocah manis itu di antara mereka.


Di pagi setelah malam penemuan si bocah, rekaman cctv diperlihatkan. Sebuah mobil berhenti di ujung jalan. Dari pintu penumpang, seorang wanita turun dengan menggendong bocah dalam balutan selimut kecil. Memeriksa keadaan, lantas meletakkan bocah ;yang masih tertidur, di depan gerbang rumah Ustadz Hadi. Meletakkan kertas dan liontin di bawah kerikil besar, lantas bergegas kembali ke mobil. Tanpa menatap lagi bocah yang baru saja dibuang.


Wanita itu berbusana hitam. Jaket, celana, sepatu, sarung tangan, topi, masker, hingga kaca mata-pun bewarna hitam pekat. Hanya rambut panjangnya yang bewarna pirang. Tak ada petunjuk yang didapat. Mobil yang dipakai-pun tanpa plat nomor. Tak ada stiker atau hiasan yang tampak. Lampu dalam mobil-pun tak menyala. Semua kejadian berjalan cepat. Dan semuanya gelap. Tak ada petunjuk apa-pun.


Karena surat yang ditinggalkan si wanita, Ustadz Hadi mendapat hak asuh dengan mudah. Juga karena bantuan teman dan para tetangga. Bocah itu menjadi putra ketiga Ustadz Hadi. Usia yang belum mencapai dua tahun memungkinkan Aisy untuk menyusuinya, bersamaan dengan putri bungsunya yang masih berumur lima bulan.


Dan bocah itu memulai kehidupan indahnya....

__ADS_1


__ADS_2