
Kala sebuah nama telah terukir pada hati, bisakah kau berikan hati itu pada nama yang lain?! Haruskah, bersama mengukir hati baru? Atau, mestikah, sendiri menghapus nama pertama?
Malam telah larut. Tak ada ribuan gemintang di angkasa, terhalang oleh polusi cahaya perkotaan. Hanya ada beberapa kerlip bintang, menemani rembulan. Menemani seorang perempuan di balkon lantai dua rumahnya. Harika Gül.
Selarut ini, suaminya belum juga pulang. Padahal, tadi siang dia hanya berpamitan untuk menemui kolega penting. Setelah Maghrib, dia sudah tak ada di kantor (dirinya mendatangi kantor selepas Maghrib). Ke mana suaminya itu?
Arif juga tak mengetahuinya. Sesudah Isya, dirinya juga menghubungi Arif. Menanyakan keberadaan Syam. Nihil, karyawan kepercayaan suaminya pun tak tahu. Nomornya tak bisa dihubungi, sedang tidak aktif.
Mengapa? Bayangan itu kembali hadir? Bayangan yang mengambil perhatian Syam darinya. Sudah hampir empat bulan dia tinggal di Indonesia. Semenjak pengakuan Syam di taman belakang dulu, perhatian telah tercurahkan padanya. Hadiah, kata romantis, kejutan, dan berbagai hal yang menyenangkan hadir di antara mereka.
Lalu, kenapa selama beberapa hari terakhir, bayangan itu kembali? Perhatian berkurang? Atau, dia yang berlebihan? Syam tak mungkin selalu ada di sisinya. Bukankah perusahaan ini besar? Ada banyak masalah yang harus diselesaikan oleh suaminya. Dia tak bisa egois.
"Rabby, kenapa semua ini berat? Mungkin saja Mas Syam sedang mengurusi perusahaan. Mungkin, ada masalah besar yang harus diselesaikan." Harika menghela nafas berat.
"Tapi, kenapa Arif tak mengetahui di mana Mas Syam? Bukankah dia yang paling tahu? Kenapa Mas Syam tak memberitahukan sesuatu pada Arif? Atau, padaku? Hingga aku tak begitu khawatir."
Dering handphone menyita perhatian. Tertera nama Arif Hassan di layar. Harika segera mengangkat, berharap ada kabar tentang suaminya.
"Maaf, Nyonya. Saya ingin bertanya, apakah Tuan Syam sudah pulang? Saya tak bisa menghubungi beliau."
Harika tercekat. Jadi, Arif juga tak bisa menghubungi Syam?! "Ehm, belum, Arif. Tolong cari tahu Mas Syam ya. Saya khawatir dengan keadaannya."
"Oh," terdengar nada terkejut dari Arif, "baik, Nyonya. Saya akan segera mencari beliau dan memberi kabar."
Harika menutup telepon. Arif Hassan. Dia ingat saat mereka tak sengaja bertemu di lantai dua rumah. Saat itu, kepalanya sakit karena mencoba mengingat masa lalu. Saat hampir terjatuh, Arif menolongnya. Kedua mata mereka bertemu, saling menatap. Sekejap memang. Tapi, Harika tak pernah bisa lupa.
"Mata itu indah sekali..." Harika tersenyum sendiri. Jantungnya berdegup lebih kencang saat mengingat mata Arif. Bukan, ini bukan perasaan itu. Umur Harika sudah tua, bagaimanalah dia akan jatuh cinta pada lelaki selain suaminya. Apalagi, setelah Murad hanya ada Syam di hatinya.
Kepala Harika mulai berdenyut, mata Arif semakin jelas di benaknya. Seperti pernah hadir berkali-kali di depan matanya. Seakan mereka sering saling bersitatap. Denyut di kepala semakin menguat...
Siluet sebuah kenangan kembali hadir. Lagi-lagi, di sebuah ruangan. Ada banyak kursi, juga banyak orang berlalu-lalang. Beberapa panel bewarna ada di langit-langit. Beberapa lelaki berseragam lewat. Dua siluet pria hadir. Tiga siluet perempuan juga muncul.
"Semoga selamat sampai tujuan," ucap siluet perempuan berambut hitam dengan kain tipis melilit leher.
"Aamiin," jawab siluet perempuan di hadapannya. Suara perempuan dewasa.
"Ye, aku pergi dulu ya!" Perempuan terakhir, di samping perempuan dewasa, mengepalkan tangan.
Harika tercekat. Itu dirinya. Perempuan terakhir itu memang dirinya. Harika mengenali tempat ini, tapi sayangnya dia lupa.
"Pergi aja! Aku juga akan cepat menyusul!" seru siluet laki-laki di samping perempuan pertama. Suara pemuda tanggung.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan begitu. Kamu pasti akan segera rindu," siluet lelaki kedua menepuk pundak lelaki pertama. Suara laki-laki dewasa yang begitu teduh.
Perhatian Harika sempurna terarah pada lelaki pertama. Mata mereka bersitatap. Mata yang indah dan menawan. Mata yang menatap penuh kerinduan meski mulutnya selalu mengelak. Mata yang mengkhawatirkan sesuatu, entah apa itu. Mata yang mirip dengan....
"Sudahlah, ayo! Nanti kita terlambat." Suara perempuan dewasa kembali terdengar. Selanjutnya, dia memanggil nama semua orang, kecuali lelaki dewasa. Sayangnya, suara panggilan itu seperti terhalang sesuatu. Tak bisa didengar, tak bisa dipahami.
"Hahhhh" Harika menekan kepala belakang.
Denyutan itu semakin kuat. Kepalanya terasa sangat sakit. Perlahan, Harika berjalan ke kamar. Sebaiknya dia beristirahat.
Namun, kenapa mata pemuda itu semakin membayang? Mata yang indah. Mata yang seperti...Arif! Ya, mata Arif saat menolongnya dulu. Mata indah yang menatap penuh kerinduan. Mata yang mengkhawatirkan sesuatu.
"Apakah Arif sangat berhubungan dengan masa laluku? Apakah kami dulu saling mengenal? Siapa dia? Ahhh!" Harika menekan kepalanya lagi.
Pintu kamar sudah tampak, meski tak begitu jelas. Di lantai dua, tak semua pelayan bisa kemari. Hanya orang-orang tertentu. Dan Harika tak bisa menghubungi seseorang, pandangannya sangat buruk. Mana bisa dia menggunakan handphone?!
Harika membuka pintu dengan susah payah. Berjalan sempoyongan menuju ranjang. Saat tangannya hampir mencapai ranjang, semua menjadi gelap.
...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...
Di tempat lain.
Syam menatap jalanan yang tak juga sepi. Disinilah dia, di taman tengah kota. Tempatnya melamar Lina untuk pertama kali, saat Fu'ad berumur tiga bulan. Disinilah dia, mengingat memori semua lamarannya pada Lina.
Dua kendaraan melaju kencang. Membelah dinginnya malam. Syam hanya tersenyum hambar di tempat. Dia ingin mencintai Harika, istrinya selama hampir sepuluh tahun ini. Tapi, mengapa begitu sulit untuk melupakan perasaannya pada Lina?! Seakan nama Lina sudah terpahat di hati, begitu sukar menghapusnya.
"Ah!" Syam meremas rambutnya. "Kenapa aku seperti ABG? Usiaku sudah empat puluh tahun, tapi masih juga memikirkan perasaanku pada Lina!" dengusnya pada diri sendiri.
Sebuah mobil berhenti di depannya. Syam mengernyitkan dahi, siapa? Pintu pengemudi terbuka, Arif turun dengan sebuah senyuman di wajahnya.
"Assalamu'alaikum, Tuan Syam."
"Wa'alaikumussalam. Arif?!"
"Sudah saya duga Tuan ada di taman ini. Apakah Tuan tak hendak pulang?"
"Kenapa kau tahu aku tak ada di rumah, Arif? Bukankah kau sedang bersama anak-anakmu?"
Arif tersenyum sambil mengeluarkan handphone dari saku, "Saya berkali-kali menelpon Tuan, tapi nomor Tuan tak bisa dihubungi. Saat saya bertanya pad Nyonya Harika, beliau mengatakan Tuan belum juga pulang. Saat saya pergi ke kantor, Tuan sudah kembali. Tempat ini langsung terpikirkan oleh saya begitu saja." Arif duduk di dekat Syam.
"Bintang yang indah, Syam. Meski hanya sedikit yang bisa kita nikmati di sini. Terlalu banyak polusi cahaya."
__ADS_1
Syam diam, Arif sudah memanggilnya dengan nama. Itu artinya, dia sedang mengatakan hal yang sangat penting.
Memang, Arif lebih tua dari Syam dan sering kali, lebih bijak. Hanya saat mereka berdua sajalah, Arif tak memanggil dengan Tuan. Arif sendiri yang mendesak untuk memanggilnya "Tuan". Hanya saat berdua dan sedang membicarakan hal yang serius, Arif akan memanggilnya dengan nama. Seperti malam ini.
"Mungkin, kau harus menjadikan Nyonya Harika seperti bintang. Saat ada banyak cahaya lampu di bumi, keindahannya sangat terbatas. Untuk menyaksikan keindahannya yang paling hebat, matikan semua cahaya. Hilangkan polusi cahaya itu, Syam." Arif tersenyum tipis.
"Dan mungkin, ada baiknya Lina bagai cahaya lampu. Bila kau terlalu banyak menyalakannya, bintang Harika akan semakin lenyap. Syam, kita bukan lagi ABG, kita sudah tua. Sudah sepatutnya kita lebih dewasa menghadapi masalah hati."
"Bagaimana bisa kita tanpa lampu, Arif?"
"Tak harus menghilangkan lampunya, Lina, Syam. Tapi, kita harus mengontrol cahyanya, perasaan hati kita, agar cahaya bintang tak hilang. Lagi pula, Syam, ini hanya perumpamaan. Kau bisa memilih siapa pun untuk jadi lampu. Dan siapa pula yang jadi bintang. Ingatlah, salah satu akan mendominasi, dan yang lain akan tak seterang yang pertama."
"Apa harus aku jujur pada Harika? Perasaan ini?"
"Kau tahu, Syam. Ada kebohongan yang diperbolehkan dalam Islam. Salah satunya adalah kebohongan untuk menjaga perasaan kekasih hidup. Tapi, pilihlah kejujuran. Karena apapun itu, kejujuran tetaplah baik."
"Kau tak harus bohong tentang perasaan itu. Tapi, kau bisa menutup semuanya, agar hati Harika tak semakin terluka. Cukuplah dia mengalami semuanya, kehilangan memori masa lalu, kehilangan keluarga, kehilangan Murad, dan kehilangan perhatianmu. Cukup perbaiki semua tanpa harus membuka luka masa lalu." Arif kembali menghela nafas.
"Meski aku yakin, tak semua orang bisa dan boleh melakukannya. Tiap pasangan itu berbeda, bukan?! Ingat satu hal lagi, Syam. Jika Harika bisa menerimamu seperti dia menerima taqdir Murad, kenapa kau tak bisa menerima dirinya dan taqdir Lina?"
"Baiklah, sepertinya aku harus mengurangi interaksi dengan Lina. Tapi, Arif, dia ingin mengunjungi Harika dan rumah besok."
"Dia akan mengunjungi Harika Gül. Bukan dirimu, Syam." Arif tertawa, "Kau bisa meminta para pelayan menemani, bukan?!"
Syam menggaruk rambutnya, "Baiklah. Itu artinya, kau harus ke rumahku besok!"
Arif mengangguk sambil tertawa renyah. "Aye-aye, Kapten!"
Syam tertawa, suasana hatinya sudah membaik. "Arif, antar aku ke rumah, ya?"
"Kau tidak bawa mobil, Syam?" Arif menyelidik.
Syam menggeleng, "Aku meninggalkannya di kantor dan naik taksi kemari."
"Hahahhahahaha" Arif tertawa hingga ada air mata yang keluar. "Bos besar perusahaan naik taksi ke taman? Benar-benar hot news untuk surat kabar atau majalah bisnis. Untungnya, aku bukan wartawan."
"Sudahlah, Arif. Ayo antar aku pulang."
"Aye-aye, Kapten!" Arif bangkit, "Jangan lupa aktifkan handphone. Mungkin Harika menghubungi lagi."
"Oke!" Syam menghidupkan handphone sambil berjalan ke dalam mobil. Syam kaget, ada beberapa miss call dari pelayan kepercayaannya di rumah. Hanya urusan super penting yang membuatnya menelpon Syam, apalagi di malam hari seperti ini. Tanpa pikir panjang, Syam menghubungi pelayan itu. Wajahnya langsung memucat saat mendengar kabar dari seberang.
__ADS_1
"Arif, kita harus lebih cepat. Harika tak sadarkan diri dari tadi! Dokter sedang memeriksanya!"
"Baik, Tuan." Arif segera menambah kecepatan.