My Love My Heart

My Love My Heart
Harika


__ADS_3

Pintu dibuka Arif. Seorang wanita berdiri di depan pintu. Pandangannya tertunduk, menatap ke bawah, meski wajahnya sudah tertutup oleh cadar. Tangannya membawa tas yang lumayan besar.


"Nyonya Harika?"


Perempuan itu mengangguk pelan.


"Silahkan masuk, Nyonya," Arif mempersilahkan.


"Tesyekkur," (terima kasih) ucapnya pelan.


Arif hanya mengangguk samar. Selalu saja begini. Hatinya selalu berdesir mendengar suara Harika. Selalu mengingatkannya akan seseorang di masa lalu. Deheman Syam menyadarkan Arif. Gerakan tangan Arif yang hendak menutup pintu, terhenti.


"Eh... Saya harus di dalam atau di luar, Nyonya?"


"Terserah Tuan Syam, Arif."


"Harika, jangan panggil saya dengan Tuan. Saya bukan tuanmu," Syam menoleh pada Arif. "Di dalam saja, Arif!"


Harika menghela nafas pelan. Begitu pelan hingga hanya dia yang mendengar.


"Baik, ada apa, Harika?" Syam menoleh pada Harika.


"Saya ingin menunaikan tugas saya, Tuan, eh... Syam. Boleh?"


"Tugas?" Syam menatap lekat Harika.


"Saya membawakan makan siang,"


"Oh..." Syam tersenyum. Matanya menatap tas Harika, "Harusnya tak perlu minta izin. Tak akan ada yang melarang, Harika."


Syam bangkit dari kursi kerjanya. Lantas duduk di sebuah sofa dalam ruangan, "Kemarilah."


Harika berjalan menghampiri.


Gerakan itu! Arif segera menoleh. Dirinya menatap ke luar jendela kantor. Cara Harika berjalan, sangat mirip dengan seseorang di masa lalu. Seseorang yang sangat dia rindukan hingga sekarang.


"Jadi, di dalam tas ini adalah makan siang untuk saya?" Syam merengkuh pundak Harika.


Harika tersenyum di balik cadarnya, "Benar, Syam. Sebentar."


Dengan cekatan, Harika mengeluarkan beberapa kotak bekal. Lalu menyisihkan satu kotak, "Syam, boleh saya berikan ini pada Arif?"


"Tentu. Arif, ambillah!"


Senyuman di balik cadar itu memudar. Namun, dengan segera, tangannya membuka kotak bekal lainnya.


"Terima kasih, Nyonya. Saya akan makan di kantin. Saya bisa segera dihubungi bila membutuhkan sesuatu.


"Baiklah." Syam mengerti maksud ucapan Arif. Dia harus menghabiskan waktu bersama Harika.


"Kau menyiapkan dua jenis menu?" Syam kaget melihat dua jenis masakan di depannya. Satunya khas Indonesia. Satunya lagi khas Turki.


"Pilihlah!" Harika masih menata kotak bekal.


"Baik. Asalkan kau buka cadarmu. Tak ada siapa pun lagi di sini. Hanya kita."


Harika menunduk. Perlahan, tangannya membuka kain penutup wajah. Seraut wajah ayu tampak.


"Kau cantik sekali, Harika."


Pipi Harika merona. Senyuman indah terulas di bibirnya. "Sudahlah, Syam. Ingin menu yang mana?"


Syam menatap kedua menu bergantian. Menu Turki, negara itu tempatnya bertemu dengan Harika. Dalam sebuah peristiwa yang tak disangka. Syam yakin, Harika ingin dirinya memilih menu ini.


Menu Indonesia. Negara asalnya. Sekaligus negara tempat tinggal Lina, perempuan pertama yang mampu mencuri hatinya. Membuatnya terpukau atas semua sikap dan sifatnya.


"Syam?!" Harika menepuk lembut tangan pria di sampingnya.


"Eh, Indonesia," seketika, jawaban itu yang dia lontarkan.


Sekejap, ada seraut kekagetan. "Oke, saya ambilkan."

__ADS_1


Meski tetap tersenyum, ada denting kesedihan di sana. Tanpa Harika sadari, Syam melihat matanya. Sorot itu, Syam mengenalinya. Harika tidak


menyukai pilihannya.


"Harika, sudah agak lama saya makan makanan Turki. Saya ingin makan makanan dari negara saya. Saya juga sangat rindu dengan Indonesia."


"Iya, ya. Nanti di rumah, saya akan lebih sering belajar masakan Indonesia. Pasti bosan ya, semua serba Turki." Harika menekankan kata "semua"


Syam menelan ludah. Dia salah ucap. "Kau ingin berkunjung ke negri asal saya?" Entah dari mana, ide tak terduga itu muncul.


"Indonesia?" Harika membelalakkan mata.


Syam mengangguk. "Kau tak pernah menengok negara asal suamimu ini. Kita akan ke sana bersama, bila kau mau. Anggap saja, hadiah dan liburan."


"Tentu saja, kapan?" Kegembiraan jelas tergambar di wajah Harika. Syam mengajaknya mengunjungi Indonesia. Liburan?! Hadiah?!


"Kapan pun kau mau, Harika. Bila kau ingin besok-pun, tak apa." Kepalang basah, dia harus meneruskan ide yang tercetus seketika itu.


"Besok? Benarkah?! Bisa?!" Harika berulah seperti anak kecil, padahal usianya sepantaran dengan Syam. Memasuki gerbang empat puluh.


Syam mengangguk. "Kapan pun, Harika."


"Terima kasih, Syam. Saya ingin secepatnya, boleh?" Di ujung kalimat, Harika menyesali ucapannya. Ah, dia terlalu berharap.


"Tentu. Secepatnya. Saya akan bicarakan dengan Arif." Tak diduga, jawaban itu yang dilontarkan Syam. Membuat Harika kaget luar biasa.


"Kau siap-siap, ya. Jangan lupa, buat rencana dan daftar oleh-oleh yang ingin kau bawa," imbuh Syam.


"Dan semoga, aku bisa segera bertemu Lina. Juga Fu'ad, putranya" benak hati Syam yang tak diketahui Harika.


Siang itu, Harika tersenyum begitu bahagia. Hilang sudah seluruh kesedihannya selama ini. Seluruh kepedihan sejak dia bertemu Syam. Dan bertambah semenjak dia menikah dengan pria asal Indonesia tersebut. Hari ini, Harika seolah lupa atas semua kepedihan tersebut. Harapannya terbang tinggi.


Setelah Harika pulang, Arif kembali ke ruangan. Dia begitu kaget mendengar semua cerita tuannya.


"Kenapa, Arif? Tampaknya kau tak suka?"


"Maaf, Tuan. Boleh saya jujur?"


Syam mengangguk. Dia sangat percaya pada karyawan istimewanya. Karyawan penyelamatnya.


Syam terperangah. Pertanyaan Arif menohok hatinya. Arif benar. Untuk siapa dia pergi ke Indonesia? Harika? Istri sekaligus wanita yang sangat sabar dalam mencintainya. Atau, Lina? Cinta pertama sekaligus perempuan yang begitu kuat dan hebat di matanya.


"Saya tak mungkin menghapus kebahagiaan Harika, Arif. Dia sangat bahagia mendengar kabar ini," jawab Syam lirih.


"Apapun itu, ingat selalu hal ini" Arif menatap lekat Syam. "Sampai kapan pun, jangan pernah lupa. Harika bukanlah wanita yang pantas kau lukai. Dia wanita yang baik untuk kau hancurkan!"


Syam menunduk. Saat Arif tak lagi memakai kata "Tuan", itu berarti hal yang diucapkan adalah serius sekali. Arif memang lebih tua dari Syam. Lebih memiliki banyak pengalaman. Dan, berkali-kali menyelamatkannya. Hanya saja, Arif-lah yang bersikeras memanggil dengan sebutan "Tuan".


...\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...


Kadang, hujan terasa lebih menawan selepas kemarau panjang. Cahaya terlihat lebih terang setelah kegelapan yang buram.


Fu'ad memandang halaman belakang. Di sana, dua wanita tengah bercerita sambil memetik buah berry. Dua wanita terhebat yang pernah dia jumpai. Lina dan Aisy, dua ibunya. Mama dan Ummah. Di sekitar mereka, dua adiknya asyik membandingkan buah yang mereka petik. Tak jauh, kakaknya sedang sibuk menuntun putri kecilnya berjalan di antara bunga.


"Fu'ad," seseorang menepuk pundaknya.


"Eh, Kak Ibrahim. Ada apa?"


"Ndak turun?"


Fu'ad menggeleng, "Pengen liat Mama sama Ummah dari sini aja."


"Ya sudah, Kakak turun dulu. Mau nemani Zahra."


Fu'ad mengangguk. Ibrahim menuruni tangga rumah dan bergabung dengan Hanin dan Zahra.


"Bunayya," Ustadz Hadi berdiri di samping Fu'ad.


"Buya," Fu'ad sontak menoleh.


"Bersyukurlah, memiliki ibu yang begitu sayang dan hebat,"

__ADS_1


Fu'ad mengangguk. Dalam samar, diucapnya hamdalah.


"Bunayya sangat beruntung. Memiliki waktu untuk berbakti pada Mama," Ustadz Hadi menghela nafas, "Dulu, Buya tak memiliki kesempatan besar itu."


Fu'ad ikut menghela nafas. Ibu kandung Ustadz Hadi meninggal saat melahirkan anak bungsu. Saat itu, usia Ustadz Hadi masih empat tahun. Belum mengerti arti taat dan berbakti. Bahkan untuk mengingat wajah sang ibu, beliau tak bisa. Tak ada memori kecuali hanya gurat samar.


"Fu'ady! Kenapa hanya di sana?" Lina berseru dari bawah. "Kemarilah!"


Fu'ad mengangguk, "Iya, Mama."


Ustadz Hadi mengikuti langkah Fu'ad. Mendekat pada Lina dan Aisy. Namun, Ulin dan Alfi langsung menghadang langkah. Meminta agar menjadi wasit abal-abal dalam perseteruan mereka.


"Lihat, buah berry ini sangat subur, bukan?" Lina tersenyum hangat.


"Iya, Mama. Mama sendiri yang merawat?"


Lina tertawa, "Bukan. Hanya sekedar menanam. Mama saja sangat jarang berada di sini. Ini dirawat orang lain. Fu'ad, kau seperti buah berry ini."


Fu'ad mengerutkan dahi. Berry, kenapa?!


"Mama yang melahirkanmu. Tapi Ummah yang merawatmu. Saat kau sudah besar dan pandai, Allah pertemukan kita kembali. Betapa beruntungnya, Mama. Tak pernah merasakan susah saat merawatmu, tapi kau tumbuh menjadi sedemikian baik."


Aisy tersenyum, pipinya merona. "Saya yang beruntung, Mbak. Tak pernah melahirkan, tapi memiliki putra sehebat Fu'ad."


"Bukan," sahut Fu'ad cepat, "Fu'ad yang beruntung. Memiliki dua ibu yang hebat. Mama dan Ummah,"


"Salah!!!!" Teriakan Ulin menggema kencang. "Punya Ulin yang lebih bagus!! Bukan punya Dek Alfi! Buya salah!!"


Sontak, semua orang tertawa. Kebahagiaan mengisi halaman belakang. Tak lama, salah satu pelayan Lina muncul dari samping rumah.


"Nona, sarapan sudah siap."


"Baiklah," Lina mengangguk. "Ulin, mau sarapan? Ada menu spesial lho..."


"Benarkah? Apa-an, Tante?" perhatian Ulin langsung beralih.


"Udang sungai. Ingat?"


Ulin mengangguk kencang. Itu lauk yang dihidangkan tadi malam. Lauk yang menjadi rebutan dirinya dan Alfi.


"Yuk, masuk. Kali ini, ada lebih banyak udang."


"Yea!!!" Ulin langsung berlari menuju tangga.


"Kak Ulin jangan curang!!" Alfi sudah mengejar.


Moza dan Fathina sudah menunggu di ruang tengah yang disulap menjadi ruang makan. Saat mereka sudah duduk, terdengar salam dari luar. Salah satu pelayan segera keluar, lalu masuk bersama Lia, putri Mak Nur.


"Lia? Ada apa?" Lina menatap heran.


"Eh, itu Nona. Ada tamu yang ingin bertemu Nona."


"Tamu? Siapa?"


"Harun, Faishal, Rabi'a dan Mahmudah, Nona."


Lina terkesiap. Empat anak muda yang dulu pernah tersesat ke desa ini. Bergegas, Lina keluar. Meninggalkan Moza dan Fathina yang saling menatap dengan bingung.


"Assalamu'alaikum," salam dari seorang pemuda membuat seluruh orang di ruang tengah menoleh.


"Wa'alaikumussalam," jawab semuanya serempak. Kecuali Ulin dan Alfi yang asyik menatap udang bakar di atas piring.


Seketika, pandangan Fu'ad terpaku. Juga dua pemudi yang baru saja muncul. Sesaat, pandangan Fu'ad menangkap seraut wajah ayu. Dan mereka berdua menatap kaget pemuda yang mereka kenali.


"Fu'ad?!" hati keduanya berseru kaget sekaligus gembira.


Di saat yang sama, Fu'ad menyebut nama salah satu di antara mereka.


\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=


Hai readers, tolong bantu share ya... View nya masih sangat sedikit...

__ADS_1


Kadang sedih, pengen udahan aja nulisnya. Tapi, nulis sudah menjadi bagian dari hidup saya nih... (ealah :p)...


Jangan lupa like dan simak terus ya....


__ADS_2