My Love My Heart

My Love My Heart
Kerinduan


__ADS_3

Kembali ke masa sekarang...


Dua belas tahun setelah meninggalnya Vasfi,


Kajian di Masjid Azhar menjadi awal terbukanya berbagai tabir dalam kehidupan Fu'ad. Tentang Mama. Tentang Papa. Kenyataan bahwa dia tak pernah dibuang, tapi diculik. Kasih sayang sang mama yang begitu besar.


Sekarang, tiga mobil sudah melaju jalan lintas pulau, Sumatera. Mobil yang menjemput rombongan Moza dari bandara. Menuju tempat yang tak pernah diduga oleh Moza dan Fathina, bahwa Lina berada di sana.


"Bang, Abla sudah lama di sana?" Moza menanyai pengemudi mobil.


"Sudah, Mbak. Sekitar satu bulan lebih," jawab Bang Mamad. "Nona Lina tinggal di rumah bersama beberapa penduduk, Mbak. Kami senang sekali bisa bertemu, bahkan berada dekat Nona."


Moza tersenyum, dia mengerti sebab kegembiraan itu. "Abla tidak merepotkan?"


"Tentu tidak, Mbak. Malahan, kami sangat senang bisa membantu Nona."


Mobil sudah tak lagi di jalan lintas pulau. Sudah berbelok ke jalan lain, tetap luas meski tak semulus sebelumnya. Pemandangan berganti. Rimbun pepohonan dengan beberapa rumah di sela-selanya. Perkampungan.


"Mama tinggal di desa?" Fu'ad bergumam pelan.


Dia tak semobil dengan Moza maupun Fathina. Namun bersama Buya, Ummah dan dua adik kecilnya. Ulin dan Alfi. Mobil lain berpenumpang dua kakak Fu'ad. Ridlwan, Hanin, Ibrahim suami Hanin dan Zahra, keponakan tunggal Fu'ad. Dua adik yang lain, Haniifah dan Hilmi, tak ikut karena saat ini bukan waktu liburan pesantren mereka.


"Wahhh, pemandangannya bagus banget, Ummah!" seru Alfi kegirangan.


"Bunayyati, apa yang harus diucapkan bila melihat sesuatu yang bagus?" Buya menyahut.


"Eh, iya. Alfi lupa, Buya," Alfi nyengir. "Subhanallah. Masyaallah."


"Yeee.. Dek Alfi lupa," Ulin, yang duduk di samping Buya, menjulurkan lidah.


"Kak Ulin nakal!!!" Alfi melotot, menambah imut parasnya. "Ummah! Kak Ulin nakal banget!"


"Dek Alfi sukanya ngadu terus!"


"Sudah, Alfi lihat pemandangan lagi. Lihat! Ada anak kecil!" Ummah menunjuk ke depan.


"Mana?!" perhatian Alfi sempurna teralihkan. Dua anak kecil berjalan sambil memanggul keranjang rotan.


"Huh!" Ulin mendengus kesal. Ummah sukses mematahkan kejahilan Ulin.


"Masih jauh, ya Bang?" Fu'ad memilih bertanya pada pengemudi di sampingnya.


"Lumayan. Mungkin akan sampai selepas waktu Ashar. Desa kami dekat dengan hutan, Mas."


"Hutan?! Apakah mobil bisa masuk ke sana?"


"Tidak, Mas. Jalanan muat yang untuk mobil, hanya sampai pinggir desa. Untuk masuk ke pemukiman, harus jalan kaki."


Fu'ad mengangguk, benaknya membayangkan sosok Lina. Perempuan di usia mendekati empat puluh. Cantik, seperti saat pertama kali bertemu di rumah dulu. Mata yang teduh, seperti yang dilihatnya dari berbagai foto.


Setelah cukup lama, mobil berhenti di depan rumah yang sederhana. Tanah di sekitar rumah tampak kosong, khas rumah pedesaan.


"Mari, Mas," pengemudi mematikan mesin, lantas turun.


Fu'ad menghela nafas, dan membuka pintu mobil. Juga Buya dan Ummah. Sementara Moza dan Fathina sudah turun dari mobil pertama. Diikuti Hanin dan Ridlwan dari mobil kedua.


"Wah-wah, Mbak Moza sudah sampai," sesosok perempuan keluar dari rumah. Diikuti dua pria dan satu perempuan.


"Iya, Mak Nur. Bagaimana kabar keluarga?" Moza tersenyum ramah.


"Alhamdulillah, baik, Mbak," Mak Nur mengangguk.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Bang Mamad, Mbak? Dia ugal-ugalan tidak?"


"Oi! Aku tak mungkin ugal-ugalan!" Bang Mamad menyahut cepat. Tangannya terhenti dari menurunkan barang dari bagasi.


"Tidak, Mak Nur. Jangan khawatir." Fathina yang menyahut.


Mak Nur tertawa, lantas menyuruh dua anak lelakinya agar membantu para sopir, menurunkan barang bawaan.


"Abla ada di rumah, Mak?"


"Ada, Mbak. Barusan, Lia dari sana," sahut anak perempuan Mak Nur.


Setelah mengobrol beberapa saat, Moza memutuskan untuk pergi ke rumah Lina. Hanya Fathina, Fu'ad, Ummah dan Buya yang ikut. Yang lain akan menunggu di rumah Mak Nur terlebih dulu. Rumah paling luar dari desa.


Rumah panggung itu tak mewah, tapi luas. Terbuat dari kayu yang tampak sederhana. Halamannya tampak seperti kebun mini, menyisakan sepetak tanah kosong depan tangga rumah. Tanaman rempah, obat, dan sayur mayur yang tumbuh rendah di atas tanah. Tiga pohon buah tumbuh rindang di pinggir halaman. Serta dua pohon kelapa yang menjulang di sudut halaman.


"Nona ada di halaman belakang, Mbak. Sedang melihat-lihat bunga," seorang perempuan menyambut di depan rumah.


Rombongan Moza segera memutar ke samping rumah. Menuju halaman belakang dengan melalui samping rumah.


Lina berada di sana. Sedang menyiram tanaman bunga. Seorang perempuan paruh baya menemani di sampingnya. Mereka bercerita, posisi mereka membelakangi arah Fu'ad. Membuat keduanya tak menyadari kehadiran Fu'ad.


Apa yang akan dirasakan hati, saat mata menatap orang yang paling dirindu? Saat mata melihat senyum orang yang sangat mencintai tapi pernah disakiti?


Pandangan Fu'ad mengabur. Air mata mengalir, membasahi pipi. Tersedu pelan. Isakan tertahan.


Moza dan Fathina memilih diam. Berhenti di samping sudut rumah. Mereka memutuskan tak memanggil Lina. Memberikan kesempatan pada Fu'ad.


Dalam gerakan yang cepat, kaki Fu'ad melangkah. Berlari menuju sang mama. Saat kian dekat, bibir Fu'ad bergerak. Memanggil dengan sepenuh kerinduan.


"Mama...."


Lina menoleh. Kaget melihat seorang pria memburunya. Pemuda bermata hijau yang menawan. Wajah yang takkan dia lupa meski sekejap. Fu'ad, putra tunggalnya. Matanya berkaca-kaca. Sebulir air mata jatuh.


"Mama!" Fu'ad bersimpuh. Tangannya memeluk erat kaki Lina. Wajah yang basah oleh air mata mencium telapak kaki.


"Maafkan Fu'ad, Mama." Dalam sedu sedan, ucapan sepenuh hati terucap. Permintaan dari lubuk hatinya.


"Bangun, Fu'ad. Bangun, Putraku." Lina menarik tubuh putranya.


Begitu Fu'ad berdiri, Lina langsung merengkuhnya. Melepas kerinduan setelah lebih dari lima belas tahun tak pernah bertemu. Lebih dari seratus bulan berpisah.


Kerinduan seorang ibu pada buah hatinya yang pergi. Hilang tanpa kabar. Tanpa diketahui keadaannya. Juga kerinduan seorang anak pada ibu kandungnya yang tak pernah diketahuinya. Ibu kandung yang selalu menjadi misteri untuknya.


"Jangan pergi lagi, Fu'ad. Jangan pergi lagi," Lina tersedu dalam pelukannya


"Tidak, Mama. Fu'ad tak kan pergi. Fu'ad sayang Mama. Selamanya..." Fu'ad tergugu.


Ucapan Lina benar. Bukan mama yang membuangnya. Tapi, dia lah yang pergi. Meninggalkan mamanya dengan sejuta kepedihan. Menjauh dari ibu kandungnya dengan membawa serta gairah hidup. Dia yang pergi.


Hampir lima belas menit Lina menangis sambil merengkuh putranya. Sementara Fu'ad bermandikan air mata dalam pelukan Lina. Selama itu pula, lima orang yang lain juga tak kuasa membendung air mata. Moza, Fathina, Buya, Ummah, dan perempuan paruh baya yang membersamai Lina sebelumnya.


"Mbak Moza," sambut Lina lirih sambil melepas pelukan.


"Abla," Moza mendekat sambil mengusap air mata.


Dia faham, kini mereka sudah lumayan lega. Fathina, Buya, dan Ummah mengikuti langkah Moza.


"Mbak, maafin saya ya," Lina merengkuh Moza. "Saya sudah membuat Mbak Moza khawatir."


"Tak ada yang perlu dimaafkan, Abla. Semua bukan kesalahan Abla."

__ADS_1


Lina melepas pelukan, lalu menatap Fathina. "Maafkan saya, Fathina. Saya meninggalkan perusahaan. Pasti repot untuk mengurus semua sendirian."


Fathina tersenyum. Menatap lembut majikannya, "Nona tidak bersalah. Ini semua memang kewajiban saya."


"Suami mana?"


"Dia sedang di rumah Mak Nur, Nona."


Lina mengalihkan pandangannya pada Ustadz Hadi (Buya) dan Aisy (Ummah)


"Ustadz," sapanya hormat. "Jazakumullahu khairann, sudah merawat Fu'ad dengan baik selama ini."


"Semua adalah kewajiban kami sebagai muslim, Bu. Malah, Fu'ad adalah karunia besar bagi kami," jawab Aisy disusul senyuman indah.


Setelah berbincang sebentar, Moza memberitahukan bahwa keluarga Ustadz Hadi masih di rumah Mak Nur. Segera, Lina memerintahkan agar semua segera diajak kemari. Tak lupa, meminta beberapa pekerja di rumah agar menyiapkan hidangan istimewa. Putra kandungnya sudah kembali.


Malam datang di bumi pedesaan yang masih sangat asri. Maghrib ini menjadi begitu spesial. Ini adalah sholat pertama, Lina bisa kembali menatap buah hatinya. Setelah lebih dari lima belas tahun tak bertemu, bahkan hampir enam belas tahun setelah kejadian di rumah Ustadz Hadi dulu.


...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=...


Di tempat yang begitu jauh...


"Fu'ad sudah kembali, Arif. Mereka telah berkumpul kembali," Syam tersenyum. Raut wajah pria yang baru saja menginjak umur empat puluh tahun itu sangat cerah.


"Alhamdulillah, Tuan. Apakah Tuan berkenan kembali ke Indonesia?"


Syam menghela nafas pelan. Diambilnya sebuah foto di dalam dompet. Foto perempuan dalam balutan hijab. Tak ada raut wajah yang tergambar jelas karena tertutup cadar. Hanya mata sangat indah yang tampak berseri.


"Entahlah, Arif. Saya belum siap bertemu Lina kembali."


"Karena semua luka itu, Tuan?"


Syam mengangguk. Desahan nafasnya terdengar begitu jelas. "Sulit sekali saya melupakannya, Arif. Saya akui, saya terlalu cengeng. Lemah."


Arif menggeleng. "Tapi Tuan mencintai Nyonya Harika, bukan?"


"Saya mencintainya. Tapi, kenapa saya begitu sulit melupakannya? Apakah saya berdosa, Arif?"


"Saya tak mengetahui masalah dosa, Tuan. Saya juga tak mengerti semua rasa itu." Arif menghela nafas dalam, "Tapi saya mengerti sakit hati yang Nyonya rasakan atas semua ini."


Syam menunduk. Semua terkait Lina selalu membuatnya menangis. Apalagi bila bersanding dengan perihal Harika. Membuatnya ingat semua kepedihan yang sangat mendalam di hatinya. Suara telpon ruangan tak mampu mengalihkan perhatian Syam. Arif akhirnya mengambil alih, mengangkat telpon.


"Tuan," Arif menyentuh lembut pundak Syam.


Syam mendongak, bertanya dengan raut wajah.


"Lebih baik Tuan membasuh wajah. Nyonya Harika akan ke ruangan ini, Tuan."


Syam menahan nafas. Harika ada di kantor? Dia kemari? Kenapa? Selama ini perempuan itu tak pernah menginjakkan kaki di kantor tempat Syam bekerja. Meski dia sangat berhak untuk kemari. Bahkan meski setiap hari.


"Harika?!"


Arif mengangguk pasti, "Iya, Tuan. Nyonya Harika. Beliau sudah ada di kantor. Saya sudah mempersilahkan beliau untuk menuju ruangan ini."


Pintu diketuk pelan. Disusul suara salam yang lembut. Harika telah sampai...


\=\=\=\=\=\=\=~~~~\=\=\=\=\=\=\=\=


Hayo, pada pensaran kan, siapa Harika?


Kenapa Arif memanggilnya dengan Nyonya?!

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya... Terus dukung saya ya....


Daghhh


__ADS_2