
Selalu saja orang berteriak jangan timpakan kesalahan orang lain pada dirinya. Padahal, sering kali dia lemparkan kesalahan seseorang pada yang tak melakukan, menyetujui, atau bahkan bisa jadi membencinya. Berapa kali orang membenci bayi suci tanpa dosa, lantaran disematkan titel anak haram. Oi, bahkan bisa jadi kelak dia sangat membenci perbuatan nista itu.
Mengapa dia harus dibenci atas kesalahan yang tak pernah dilakukan?!
Beruntunglah Fu'ad. Lahir di tengah-tengah orang yang menyambutnya dengan cinta. Melimpahinya kasih dan sayang.
Fu'ad kecil tumbuh dengan sehat. Seminggu setelah kelahiran, Lina mengadakan aqiqah. Dua ekor kambing gemuk dan terbaik disembelih. Dibagikan pada para karyawan dan tetangga dekat -tak ada yang mengetahui siapa ayah Fu'ad.
Lina selalu memiliki waktu untuk Fu'ad meski dia pemilik usaha yang tak bisa dibilang kecil. Rumah lantai dua yang ditempati Lina, memiliki dua ruangan khusus untuk Fu'ad. Kamar bernuansa biru dan ruangan penuh mainan. Di kantor pusat, ruangan Lina pun disulap. Beberapa mainan dan kebutuhan bayi disediakan.
Hanya satu yang tak Lina lakukan. Memperkerjakan seorang baby sitter. Lina memilih mengasuh bayinya bersama Moza. Fathina dan para karyawan juga dengan suka rela akan membantu.
Tak ada hidup tanpa cobaan. Tanpa gangguan. Tanpa luka dan duka. Pun, kehidupan Fu'ad dan Lina. Gangguan terbesar datang dari ayah kandung Fu'ad. Orang yang seharusnya selalu melindungi dan menjaganya. Seperti hari itu...
"Mbak!!!!" Jeritan Lina dari lantai atas mengagetkan seisi rumah. Disusul tangisan Fu'ad.
Moza -yang sedang membantu pelayan membereskan rumah, segera berlari. Apapun yang terjadi, itu pasti bukan hal yang baik.
"Abla," Moza menghampiri Lina di ruangan mainan.
"Lihat..." desis Lina sambil menunjuk ke depan. Tangannya yang lain masih menepuk-nepuk punggung Fu'ad. Menenangkan bayi mungil itu dari tangisan.
Moza menahan nafas. Ruangan bernuansa biru itu tak lagi rapi. Seluruh mainan tersebar tak karuan. Tapi yang menarik perhatian adalah tulisan besar di dinding. Tulisan bewarna merah menyala.
"Hai, Lina. Apa kabar? Jaga anakmu baik-baik. Aku ingin menjenguknya. Vasfi"
"Astagfirullah..." Moza mengelus dada.
"Mbak, segera bawa Fu'ad ke mobil. Saya akan menemui Mbak Sari dahulu."
"Baik, Abla." Moza mengambil Fu'ad dari gendongan Lina.
"Mbak Sari!!" Lina bergegas ke lantai bawah setelah Moza keluar rumah.
"Ya, Nona." Sari, kepala pelayan di rumah sekaligus kepercayaan Moza, segera menghadap. Meski beberapa noda masih menempel di bajunya.
"Siapa saja yang pergi ke lantai dua pagi ini?"
"Akan saya periksa, Nona." Sari bukanlah pelayan biasa. Dia sangat pintar. Seandainya mau, dia bisa memimpin salah satu cabang butik. Hanya saja, dia lebih memilih mengurusi rumah Lina.
Lina mengangguk. Dia percaya pada kemampuan Sari.
Di kantor, seluruh karyawan yang ditemui menyapa ramah Fu'ad kecil. Tak lupa memberi cubitan gemas di pipi.
"Selamat pagi, Mbak" Lina menyapa salah satu karyawan wanita yang hanya berdiri di lorong. Dia karyawan yang baru bekerja sekitar dua bulan.
"Selamat pagi, Nyonya..."
Lina melambaikan tangan, "Jangan panggil Nyonya. Saya Nona,"
"Maaf, Nona."
__ADS_1
Lina tersenyum, "Bagaimana keadaan putra bungsumu setelah dari rumah sakit?"
Karyawan wanita terperangah kaget.
"Apa dia menginginkan sesuatu?" pertanyaan Lina berikutnya membuatnya tersadar.
"Ah, dia... dia semakin sehat, Nona."
"Kalau dia menginginkan sesuatu, jangan sungkan."
"Baik, Nona."
Lina melanjutkan langkahnya. Meninggalkan karyawannya yang masih menatap bingung.
"Jangan kaget!" Temannya menepuk pundaknya. "Nona Lina memang sangat perhatian dengan kita dan keluarga kita. Makanya, bila ada kesulitan segera beritahu Nona. Atau, bisa pada Mbak Moza dan Mbak Fathina."
"Lalu, mengapa kita tidak boleh meminjam uang ke perusahaan?"
"Aku juga tak mengerti. Tapi Nona selalu siap membantu dengan uang pribadi. So, tenang saja.."
...\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=...
"Nona, ada perkembangan tentang Vasfi." Fathina membeberkan beberapa kertas di atas meja.
Lina memeriksanya dengan seksama. Meski sesekali memeriksa Fu'ad yang berada di dekatnya. Begitulah wanita, apalagi seorang ibu. Mampu melakukan pekerjaan sambil mengawasi anak. Multi talenta :)
"Dia juga sudah berani mengganggu di rumah. Sari belum memberitahu perkembangannya." Moza menambahkan.
"Informasi terakhir, dia tinggal di perumahan mewah daerah pinggir kota. Beberapa kali dia menemui Vasfi dan keluarga karyawan kita." Fathina menyerahkan beberapa lembar foto.
"Dari siapa?"
"Dari Tuan Syam, Nona. Beliau mencari tahu semua hal tentang Kenish."
Lina mengangguk. Syam adalah salah satu kolega bisnis Lina. Dia pemilik sebuah perusahaan di bidang pariwisata yang bekerja sama dengan perusahaan Lina di tiga bidang; properti, resto, dan butik. Lelaki yang baik dan sangat sopan.
"Abla, ada kabar dari Sari," Moza mengatakan hal itu sambil meletakkan gagang telepon.
"Pelaku tadi pagi adalah Nola. Sari memergokinya menghapus pesan di dinding. Lalu menulis pesan lain dengan warna yang sama."
"Nola?" Lina segera mengambil salah satu foto. Memeriksanya dengan seksama, lantas menunjukkannya pada Fathina dan Moza. Keduanya saling memandang. Nola adalah salah satu pelayan di rumah. Di foto itu, tampak Nola sedang makan di restoran bersama Kenish.
"Kita akan menanyainya setelah ini. Perintahkan Sari agar menahannya di rumah sampai kita pulang."
"Baik, Abla."
Lina menatap lembut Fu'ad yang kini memainkan jemarinya. Putranya yang semakin menggemaskan. Sudah hampir setahun dia melewati hari-harinya tanpa lepas dari sang mama.
...\=\=\=\=\=\=\=~~~~\=\=\=\=\=\=\=\=...
Malam menyapa. Rembulan bersinar indah di angkasa. Lina masih setia menatap gemintang dari balkon. Memikirkan berbagai hal yang terjadi hari ini.
__ADS_1
Teror dari Vasfi pagi hari. Telepon darinya di siang hari. Mengancam akan menjatuhkan reputasi Lina. Lalu, Nola yang ternyata sudah lama bekerja pada Kenish, sebulan sebelum malam kelam itu. Sore hari, sebuah paket datang. Tanpa alamat pengirim. Berisi boneka rusak berlumuran sesuatu yang bewarna merah pekat. Disertai sebuah pisau kecil dan mawar berduri. Untunglah, Sari yang menerima paket itu dan membuangnya. Hanya menyampaikannya pada Moza.
Selepas Maghrib tadi, sebuah kotak dilemparkan ke dalam halaman rumah. Berisi berbagai barang tak biasa. Potongan kepala barbie. Sepotong kaktus. Tulisan "You Must Die" dengan darah -sepertinya, darah ayam. Dan kepingan-kepingan cermin.
Satpam rumah yang berusaha mengejar, malah dilempari pecahan kaca. Tentu saja, dia bisa menghindar. Dia adalah mantan preman pasar yang diselamatkan Lina dari amukan massa. Hanya saja, dia tak berhasil menangkap dua orang pelaku.
Kotak itu diambil oleh salah satu pelayan. Saat akan diberikan pada Sari, Moza memintanya. Tentu saja, tak kan diberikan pada Lina. Itu akan menambah bebannya. Hanya diberitahukan.
Kini, Lina memandang gemintang. Meraba apa yang sebenarnya diinginkan Vasfi untuk hancur. Dirinya? Perusahaannya? Putranya? Atau, semuanya? Dendam selalu membutakan seseorang. Karena dendam berasal dari iri dan dengki.
Suara kendaraan terdengar. Rumahnya tak jauh dari jalan utama kota. Ah, Lina rindu rumahnya di pedesaan yang dibelinya beberapa bulan yang lalu-Fu'ad masih dalam kandungan.
Saat itu, dia sedang melakukan survei lokasi baru untuk butiknya. Taqdir, rombongannya tersesat di jalan. Masuk ke perkampungan tak dikenal. Ban mobil tertusuk paku di jalan. Beberapa penduduk menolong, mempersilahkan Lina untuk singgah. Mereka sangat ramah, tak sungkan memberikan berbagai jamuan istimewa. Sopir Lina saat itu bisa memperbaiki, dia seorang ahli mesin dan bengkel.
Di desa itulah, Lina mendapati masalah besar penduduknya. Mereka tak mempunyai sertifikat tanah dan bangunan. Itu hanya kampung turun temurun dari para pendahulu. Lantas, seseorang mengklaim sudah membeli seluruh tanah. Bukti surat resmi ada di tangannya. Dengan congkak dan penuh kesombongan, dia mengusir seluruh penduduk. Mengancam akan membawa perkara ini pada pengadilan bila mereka tak segera pergi. Penduduk yang polos dan miskin pun tak bisa berbuat banyak. Mereka harus siap menjadi gelandangan dan kehilangan tanah leluhur
Mendapati masalah besar penduduk yang telah menolongnya, hati Lina tergerak. Moza; yang hampir tak pernah berada jauh dari Lina, segera menyetujui. Fathina dihubungi (dia selalu tahu kebijakan Lina). Mereka bertiga menyusun rencana.
Bersama orang-orang kepercayaan, rencana besar dijalankan. Tanah kampung berhasil dibeli oleh Lina setelah melalui berbagai lobi yang rumit dan berbelit. Tak hanya sampai di situ, Lina memberikan sertifikat rumah secara cuma-cuma pada penduduk. Tentu secara bertahap. Sedangkan untuk tanah perkebunan, penduduk diminta membeli dengan harga yang sangat murah.
Lina hanya meminta sepetak tanah untuk sebuah rumah. Rumah yang direncanakan untuk menjadi villa bersama sang putra kelak.
Tak hanya itu, Lina berhasil membuat hutan di dekat kampung berada di bawah perlindungan negara. Tak ada yang bisa membelinya. Hutan yang menjadi mata pencaharian utama penduduk kampung.
Itulah kampung tempat Lina bertemu Rabi'a dan Mahmudah belasan tahun kemudian. Itu pula sebab hormatnya seluruh penduduk pada Lina, seperti yang dijumpai Mahmudah dan Rabi'a.
"Abla, sudah malam," suara Moza memecah nostalgia Lina.
"Tak apa, Mbak. Saya hanya ingat Vasfi dan Kenish. Apa lagi yang akan mereka lakukan?"
"Abla tenang saja, kami selalu berusaha melindungi Abla dan Fu'ad."
Lina tersenyum, Moza benar. Di sekitarnya banyak orang yang mencintainya. Melindunginya. Pengganti keluarganya yang telah pergi.
Di tempat lain...
"Kamu faham?!" seseorang memandang tajam seorang wanita di depannya.
"Faham, Tuan."
"Bagus, pergilah!"
Tawanya melengking setelah si wanita pergi. Memecah malam yang kian pekat.
"Nikmati hari-hari terakhirmu dengan anak itu, Lina! Sebelum kamu akan menangis darah..."
Di balik dinding, seseorang mengepalkan tangannya. "Tak kan kubiarkan, Vasfi. Tak kan kubiarkan kamu melukai perempuan baik itu lagi!"
\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=
Kira-kira apa yang akan dilakukan Vasfi?
__ADS_1
Siapa orang yang ada di balik dinding?