My Love My Heart

My Love My Heart
Kebetulan yang Indah


__ADS_3

... Sesungguhnya, tak ada kebetulan dalam hidup. Segala yang terjadi, hingga sehelai daun jatuh di hutan belantara, atas kehendak dan izin Nya. Juga atas pengetahuan-Nya. Maka semua kebetulan, sebenarnya adalah skenario dari Nya. Dan kehendak Nya adalah yang terbaik....


"Kau hebat, Fu'ad," Ridlwan menepuk pundak adiknya setelah kajian selesai.



"Saya sebenarnya sangat canggung dan grogi, Kak. Bukan hanya Buya yang melihat langsung, tapi banyak ulama' yang lain," Fu'ad merendah.



Mereka masih berada di masjid. Membicarakan kajian tadi. Terutama saat Fu'ad menyampaikan sedikit nasehat. Gaya bicaranya lugas, penuh percaya diri, dan lembut. Nasehat yang tak menggurui. Wajah yang dihiasi senyum membuat garis canggung tak terlihat. Dan seluruh ulama' tersenyum saat Fu'ad selesai.



Sedangkan Buya dan ulama' sedang beristirahat di ruangan takmir masjid. Sebenarnya Buya sudah mengajak mereka untuk ikut serta, tapi mereka menolak dengan halus. Tak ingin mengganggu ulama'; itulah alasan mereka.



Tanpa mereka sadari, seorang perempuan memperhatikan mereka dengan seksama. Menatap dengan berjuta rasa di hati. Matanya berkaca-kaca, menahan segumpal perasaan yang berat. Sendirian dia di sudut masjid itu. Tak ada seorang-pun yang menemani.



Cukup lama dia memperhatikan dua bersaudara yang masih bercengkrama. Hingga seseorang datang, menyampaikan sesuatu. Dia mengangguk-angguk saat mendengarnya, lantas pergi meninggalkan masjid.



"Assalamu'alaikum," seseorang menyapa Ridlwan dan Fu'ad.



"Wa'alaikumussalam," dua bersaudara menoleh.



"Masyaallah! Mas Mujahid!" Fu'ad segera menyalami pria yang menyapa mereka.



"Ternyata masih kenal dengan *ana*, Fu'ad," Mujahid merangkul Fu'ad.



"Kak Ridlwan, ini Mas Mujahid. Kakak kelas saya di pesantren dulu."



"Ridlwan, Tholib Ridlwanah" Ridlwan mengulurkan tangannya.



"Mujahid, Mujahid Fillah" Mujahid menyambut uluran tangan Ridlwan.



Mereka kembali mengobrol. Membicarakan kesibukan masing-masing setelah lulus dari pesantren. Mujahid bukan sebatas kakak kelas Fu'ad, tapi juga sahabatnya. Mujahid berasal dari kota gudeg, Jogjakarta.



Saat dua sahabat lama sedang melepas rindu, dua sahabat lain sedang bercanda di halaman masjid Azhar.



"Lihat, ini kebetulan yang indah. Ternyata, Fu'ad tampil di kajian itu. Bagaimana, kagumnya sudah berubah belum?!" Rabi'a memainkan alisnya.



"Rabi'a!" Mahmudah melotot, "kau lupa? Tadi, kita bertemu Mas Mujahid lho..." Mahmudah mengganti topik. Dia mulai bosan Rabi'a menggodanya terus.



Kali ini, Rabi'a tersenyum masam. Sejak di pesantren, Rabi'a sering terlibat berbagai urusan dengan Mujahid. Mereka sama-sama jajaran *mas-ul* {santri senior yang membantu para ustadz dalam mengurus pesantren}. Sering kali, tugas Rabi'a berkaitan dengan tugas Mujahid.

__ADS_1



Mahmudah tertawa melihat muka masam Rabi'a. Setelah kajian tadi, mereka sengaja hendak beristirahat di dekat taman kecil masjid. Siapa sangka, mereka bertemu Mujahid saat keluar dari area utama masjid. Dan, Mujahid langsung menyapa mereka. Mujahid ternyata masih mengenali Rabi'a.



Sebuah sedan melaju meninggalkan kompleks masjid Azhar. Mahmudah sempat melihatnya. Itu sedan yang parkir di samping mobilnya.



"*Abla* akan menginap di hotel atau di salah satu apartemen?"



"Di hotel saja, Mbak. Fathina akan langsung kembali atau ikut saya menginap di hotel?"



"Jika diizinkan, saya akan langsung memeriksa apartemen, Nona. Juga dua restoran cabang daerah ini."



"Baiklah," Lina mengangguk. Dia faham, Fathina selalu sibuk di akhir bulan. "Nanti perlu diantar Mbak Moza?"



Fathina menggeleng, "Tidak perlu, Nona. Saya sudah menyiapkan transportasi."



"Maaf, Fathina. Tiba-tiba ada urusan penting, saya tak bisa menemani memeriksa apartemen."



Fathina mengangguk santai, "Bukan masalah, Nona. Nanti saya kirimkan kabar dengan segera."



"Oh ya, sampaikan salamku pada keluarga Pak Hendra di kamar nomor 32. Maaf, saya belum bisa menjenguk bayinya."




Nona nya memang sangat perhatian pada penyewa apartemen dan para karyawan. Selalu sempat menanyakan kabar, mengunjungi yang sakit, menghibur yang terkena musibah, bahkan mengunjungi bayi baru dalam keluarga mereka. Jangan tanya soal keuangan, Nona Lina selalu memperhatikan keuangan mereka. Selalu sedia membantu dan meringankan beban keuangan.



"Mbak Moza, mungkin setelah ini kita akan sedikit mengurangi perhatian pada karyawan. Perhatian kita akan lebih tercurah pada masalah baru ini."



"Tak perlu khawatir, *Abla*. Saya sudah meminta tolong beberapa orang untuk menyelesaikan hal-hal penting terkait mereka. *Abla* tenang saja."



Lina menghembuskan nafas lega. Sahabatnya selalu tahu apa yang harus dikerjakan. Bahkan tanpa diminta.



"Fathina, bagaiman dengan Adi Satya?" Lina teringat karyawan di restonya.



"Dia sudah melunasi hutang, Nona. Dia memilih membatalkan rencana lamarannya. Calon istrinya ternyata hanya memanfaatkannya untuk mencari uang. Dia sangat berterima kasih, Nona."



Lina tersenyum lega. Beberapa hari yang lalu, ada masalah keuangan di salah satu resto. Adi meminjam uang ke restoran. Masalah yang tak sepele hingga membuat Lina mengadakan rapat mendadak di hari sesudahnya.


__ADS_1


"Saya tak pernah mengatakan, saya tidak peduli dengan karyawan. Saya sangat peduli. Tapi, tak boleh ada peminjaman ke dana perusahaan tanpa izin dari saya. Dana perusahaan adalah dana bersama. Dana untuk operasional, untuk gaji, dan untuk zakat. Peminjaman pada dana perusahaan akan mengganggu semuanya, terlebih perhitungan zakat.



Bila ada karyawan yang membutuhkan dana, biaya, atau hutang, bisa langsung meminta pada saya. Atau, melalui atasannya. Saya akan berusaha membantu dengan dana pribadi, sehingga operasional perusahaan terjaga!"



Kata-kata penuh penekanan itu disampaikan Lina kepada seluruh karyawan. Tanpa kecuali. Saat rapat dadakan yang mengubah beberapa agenda.



Tak hanya itu, Lina segera menemui Adi dan menanyakan banyak hal. Terutama tentang calon istrinya. Dibantu Moza dan orang-orang kepercayaan, Lina membongkar rahasia calon istri Adi. Wanita itu ternyata sudah menikah. Dia hanya memanfaatkan Adi sebagi pundi rupiahnya.



"Hati-hati, Fathina. Segera hubungi saya bila ada kendala," pesan Lina saat Fathina turun di apartemen yang akan dia periksa.



"Assalamu'alaikum!"



Setelah salam terjawab, mobil sedan kembali melaju. Kali ini menuju sebuah hotel yang lumayan tersohor. Lina sudah mendapatkan kamar di sana melalui reservasi tadi.



"*Abla* yakin dengan hal ini?"



Lina memejamkan mata, membayangkan seseorang. Mendesah pelan. Lantas menggeleng lemah. Dia tak mengerti.



"Nanti akan saya usahakan mencari tahu, *Abla*. Semoga perasaan *Abla* tidak salah."



"Amin, Mbak. Usahakan untuk mendapat semua informasi secepatnya, Mbak. Saya sudah tak sabar."



Moza mengangguk, "Baik, *Abla*."



Dia sangat mengerti perasaan majikannya dengan sangat baik. Bertahun-tahun dia mengenalnya, bekerja padanya. Menjadi satu-satunya orang yang mengetahui detail hidup Lina, majikan sekaligus sahabat terdekatnya. Mengerti perasaan Lina. Memahami keinginan Lina.



Tak jauh beda dengan Lina. Dia sanagt mempercayai Moza. Lebih dari siapapun, bahkan mungkin dari diri sendiri. Seluruh liku hidup tak dia rahasiakan dari Moza. Dan tak perlu menutupi sesuatu dari Moza.



"*Abla*, kita mampir di restoran dahulu, ya. *Abla* belum makan apapun hari ini. Hanya meminum teh tadi pagi."



"Iya, Mbak. Mbak pilihkan restorannya ya" Lina mengangguk. Dia tahu, Moza sedang berusaha menenangkan dirinya.



"Makanan khas Turki sepertinya sesuai, *Abla*. Tapi, masakan Betawi juga menarik. *Abla* hendak yang mana?"



"Turki saja, Mbak," refleks Lina menjawab.


__ADS_1


Moza mengangguk, "Baik, *Abla*..."


"Sepertinya *Abla* benar-benar terbawa suasana hati. Semoga makanan Turki tak mengingatkannya pada kejadian buruk belasan tahun silam. Semoga," harap hati Moza dengan tulus.


__ADS_2