My Love My Heart

My Love My Heart
Air Mata


__ADS_3

Desau angin malam berhembus di antara cahaya lampu. Rembulan sabit masih bersinar di angkasa. Seakan melukiskan senyum menawan sang langit. Sayangnya, tak mewakili senyum di wajah beberapa manusia. Salah satunya, pemuda bermata hijau yang sedang berada di kamar. Menatap laptop di depannya dengan pandangan sayu.


"Bunayya," seseorang menepuk pundaknya dengan lembut


Pemuda itu menoleh, "Buya, Ummah..."


"Kemarilah, Fu'ad..." Ummah merenggangkan tangannya


"Ummah...." Fu'ad berhambur di pelukan Ummah.


Buya membelai lembut kepala putra ketiganya. Putranya yang selalu tegar, kini sedang rapuh. Entah berapa kali remaja itu menangis. Senyum sudah lama tak terulas dengan indah.


"Apakah Fu'ad menjadi lemah karena menangis, Ummah?"


"Tidak, Nak. Terkadang, air mata menunjukkan ketegaran seseorang. Air mata yang berasal dari hati. Menangislah, semoga itu bisa melapangkan hatimu," Ummah tak merenggangkan dekapannya.


"Tapi jangan terlarut dalam jurang kesedihan, Bunayya... Kita harus bangkit. Kita harus berusaha..." Buya menambahkan.


Fu'ad melepaskan pelukannya, menatap wajah teduh Buya. Buya tersenyum, menguatkan anaknya yang sedang begitu lemah. Fu'ad menarik nafas berat.


"Fu'ad sangat menyesal, Buya. Fu'ad rindu Mama. Di mana Mama sekarang?"


"Apakah Fu'ad akan menerima Mama? Mau mendengarkan alasan Mama?" Ummah membelai lembut pipi Fu'ad.


Fu'ad mengangguk cepat, "Insyaallah, Ummah. Fu'ad akan menerima alasan Mama. Fu'ad tetap akan mencintai Mama. Fu'ad sudah sangat berdosa mengucapkan kata-kata kasar pada Mama. Fu'ad... Fu'ad tidak benci Mama. Fu'ad sayang Mama..." Lagi-lagi, air mata menetes.


"Mamamu pasti mengerti, Bunayya. Bunayya tahu, karena kejadian itu, Buya dan Ummah bisa melihat air matamu lagi. Bisa melihatmu kembali seperti saat kecil dulu. Menangis dan merajuk..." Buya tersenyum, bercanda dan berkelakar.


Akhirnya, seulas senyum hadir di wajah Fu'ad. Meski air matanya tak juga berhenti. Saat-saat terakhir ini, Fu'ad memang mudah menangis, menjadi sosok yang sangat rapuh hatinya.


"Siap-siap, besok Mbak Moza akan kemari," Buya akhirnya menyampaikan hal penting itu.


"Mbak Moza?" Fu'ad menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Dia salah satu karyawan mamamu. Dia yang dulu mengantar mamamu ke sini," jelas Ummah.


"Bersama Mama?"


Buya dan Ummah menggeleng, "Mbak Moza tak memberi tahu hal itu, Bunayya. Dia hanya ingin bertemu kita besok." Buya menjelaskan dengan lirih.


Fu'ad menghembuskan nafas kasar. Buya dan Ummah hanya diam, mengerti perasaan putra mereka.


Kedatangan Mama -ibu kandung Fu'ad, sudah lewat beberapa hari yang lalu. Hampir dua minggu yang lalu...


Hari itu, kemarahan mengungkung hati Fu'ad. Dia tak bisa menahan diri. Kelebat kata-kata si surat lusuh, rekaman cctv, lebih dahulu memenuhi benaknya. Tak hirau lagi bahwa wanita di hadapannya adalah ibunya. Tak peduli lagi ada Buya dan Ummah.


Setelah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, Fu'ad berlari masuk ke kamar. Meninggalkan ruang tamu begitu saja. Buya dan Ridlwan menyusulnya


"Bunayya..." lembut, Buya menepuk pundak Fu'ad yang duduk di tepi ranjang. Lantas duduk di sampingnya.


"Benarkah ini Fu'ad putra Buya?! Kenapa Buya tak mengenalinya?!"


Fu'ad ingin membalas, tapi raut wajah Buya membuatnya menunduk. Wajah Buya tak lagi ramah. Wajah itu memerah meski suara Buya tetap lembut.


Hening. Fu'ad hanya diam. Buya juga diam. Pun Ridlwan yang sedari tadi berdiri di pintu kamar.


Benak Fu'ad tetap membantah tiap ucapan Buya. Ah, memang selalu saja demikian. Orang yang sedang diliputi amarah akan sangat sulit menerima nasehat, amarah telah menutup pikiran dan hati.


Buya menghela nafas, melihat Fu'ad yang tak kunjung berbicara. Bahkan wajah yang menunduk itu masih memerah. Ridlwan mendekat, lantas duduk di samping Fu'ad. Jadilah Fu'ad diapit oleh Buya dan kakaknya.


"Astagfirullah..." Ridlwan melantunkan dzikir pelan.


Buya ikut melantunkan dzikir. Lembut.


Maha Suci Allah! Tiada yang salah dari satu pun huruf dalam kalamNya. Bukankah Dia telah menyampaikan; dengan dzikir, hati akan tenang. Dengan mengingat-Nya, hati yang gundah akan tentram.


Bagaimana tidak tenang?! Hati ingat Yang Maha Kuasa, mampu melakukan apa pun. Yang Maha Tahu, mengetahui apa pun yang terbaik untuk tiap makhluq Nya. Yang Maha Pengasih nan Penyayang, tak kan membebani satu pun makhluq melebihi kemampuannya. Yang Maha Cinta, takkan meninggalkan hamba yang mendekat padaNya. Maka, hati pun tenang saat mengingat-Nya....

__ADS_1


Perlahan, isakan terdengar. Fu'ad menangis! Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Bahu Fu'ad berguncang, menahan luapan emosi dari hati. Marah, kecewa, rindu, menyesal, dan entah apa lagi yang dirasakan hatinya.


Buya menepuk lembut bahu Fu'ad. Berbisik menenangkan, "Bunayya, dia orang yang mengandungmu dengan penuh perjuangan lebih dari sembilan bulan. Dia orang yang mempertaruhkan nyawa agar dirimu bisa menghirup udara. Sampai kapan pun, dia tetap ibumu. Tak ada mantan ibu dalam kehidupan ini,"


Fu'ad mengangkat wajahnya. Menatap wajah Buya yang kembali teduh. Wajah yang kini berhiaskan senyuman. Fu'ad mengusap ujung matanya, lantas menganguk pelan.


Fu'ad telah mengerti! Dia tak pantas melakukan hal itu. Sebenci apa pun, perempuan itu tetaplah ibunya. Keberadaan dirinya di dunia ini lebih dari cukup menjadi alasan untuk kewajiban berbakti pada orang tua, terutama ibunya. Fu'ad telah faham! Ibu tetaplah ibu.


Dan Fu'ad kembali ingat. Bukankah selama ini dia bertanya tentang orang tuanya?! Bukankah selama ini dia merindu akan sosok ayah dan ibu?! Dan sekarang, ibunya telah datang! Mamanya telah hadir di depan matanya. Nyatanya, apa yang dia lakukan?! Menolak pelukan. Mengucapkan kata-kata kasar. Memotong ucapan mamanya sendiri. Ah, dia telah melukai hati ibunya.


Sayang sekali, Fu'ad terlambat. Beberapa saat setelah Fu'ad mengangguk, Ummah dan Hanin telah berada di pintu kamar. Wajah mereka tak dihiasi senyuman sama sekali.


"Dia sudah pergi, Dek Fu'ad," pelan, Hanin sampaikan kabar itu


"Pergi?!" tanya Fu'ad, bibirnya bergetar menyebut kata itu.


"Iya, Fu'ad," kini, Ummah yang berkata, "beberapa saat tadi, dia tiba-tiba pergi tanpa bisa kami cegah. Pergi dengan mobilnya. Ummah dan Kak Hanin tak sempat bertanya alamat rumah. Kami tak tahu kemana dia pergi, Fu'ad." Ummah menjelaskan semua.


Fu'ad menunduk. Air mata mengalir. Fu'ad kembali terisak, kini lebih keras. Rasa sedih dan menyesal menggantikan amarah di hati. Fu'ad tidak lagi marah. Bahkan, kini dia sangat menyesal. Apalagi saat Ummah menyampaikan pesan mama. Pesan ibunya.


"Mama..." lirihnya pelan.


Buya merengkuh pundak anaknya. Fu'ad menjadi rapuh, membutuhkan semangat dari orang-orang terkasih. Buya mengerti hal itu.


Tak ada informasi apa pun yang bisa mereka dapatkan. Meski plat nomor mobil bisa dilihat di cctv, mereka tak bisa melacak. Mereka bukan intel, kan?! Tak ada petunjuk.


Hingga dua minggu lamanya. Lalu, tadi pagi, seseorang menemui Buya selepas kajian. Dia mengaku sebagai Moza Almira, salah satu karyawan mama Fu'ad. Lantas menyatakan ingin bertamu dan menemui Fu'ad. Untuk menyakinkan Buya, wanita itu memberikan beberapa foto. Foto dia dengan mama Fu'ad. Foto mereka dengan bayi mungil berliontin setengah bintang.


"Saya ingin bertamu besok, Ustadz. Saya ingin menyampaikan banyak hal pada Fu'ad, putra majikan saya. Bisakah?"


Dan Buya mengangguk pelan, "Insyaallah, bisa, Mbak."


"Semoga, Mbak Moza bisa membantu kita, Nak," ucapan Ummah membuyarkan slide masa lalu itu.

__ADS_1


"Amin, Ummah...." Fu'ad tersenyum lagi. Senyuman yang hampir hilang dua minggu terakhir.


__ADS_2