My Love My Heart

My Love My Heart
Sepenggal Kisah Dari Harika


__ADS_3

Sore yang indah. Awan jingga berarakan di angkasa. Di bawahnya, seorang perempuan menatap langit yang kian memerah. Mengingat beberapa slide masa lalu yang bisa dia ingat. Karena sejatinya, dia telah kehilangan seluruh memori saat berusia muda, di sekitar 20-an.


Saat dia membuka mata, dia berada di sebuah ruangan serba putih. Kepala dan kakinya terasa sangat sakit. Saat dia mencoba mengingat kejadian sebelumnya, seluruh dunia seakan berputar. Kepala bagian belakang terasa begitu berdenyut. Dia tak bisa mengingat apa pun!


Seorang dokter masuk ke ruangannya. Di belakangnya, dua perawat mengikuti. Dokter memeriksa berbagai alat, lantas menyapa lembut, "Adiniz ne, Hanim (Siapa namamu, Nona)?"


"Isim (nama)?!" Ulang Harika bingung. Seketika, dia merasa sangat takut. Harika menggeleng pelan.


Bagaimana tidak takut?! Saat membuka mata, tak ada satu pun memori di kepalanya. Tak ada yang dia tahu tentang dirinya. Bahkan sekedar nama.


'Geçmiş olsun, Hanim (semoga lekas sembuh, Nona)," dokter tersebut tersenyum, "Istirahatlah, Nona."


Selepas dokter dan perawat pergi, Harika hanya bisa menangis. Dia takut, bingung, sedih, penasaran, dan entah apalagi yang dia rasakan.


Pintu terbuka. Seorang perempuan dewasa masuk. Wajah dan senyum teduhnya menenangkan Harika. Lembut, menyapa dan bercerita.


Namanya Esana. Dia sedang berlibur di rumah teman yang berada di tepi pantai saat menemukan seorang perempuan terdampar. Tubuh itu sangat dingin dan pucat. Tapi masih ada nadi kehidupan meski lemah. Tanpa menunggu lama, segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Sudah lima hari dirinya menunggui Harika di rumah sakit. Di ujung hari ke enam, gadis yang ditemukannya akhirnya sadar. Namun, dia telah kehilangan seluruh memori masa lalu. Bahkan namanya sendiri, itu yang dikatakan dokter.


"Şimdi, isminne Harika (sekarang, namamu adalah Harika)."


"Harika?"


"Evet (iya). Sekarang, kau adalah putri kami. Putriku dan Izzet."


Sejak saat itu, dia tinggal bersama Izzet dan Esana, yang dianggapnya sebagai baba dan anne. Namanya adalah Harika. Karena tak memiliki satu pun identitas, dia harus membuatnya di negara tempatnya sekarang. Dan semua identitas diperoleh dengan bantuan keluarga Murad. Tepatnya, sang ayah yang merupakan pengacara handal.


Apakah Harika seorang Turkish asli?! Tak ada yang yakin 100%. Dia mampu berbahasa Turki dengan lancar meski tak mengetahui beberapa istilah gaul dan ilmiah. Dia juga mampu berbahasa Arab, Inggris (British dan Amerika), Melayu, dan Indonesia. Wajah? Hanya Esana, Izzet, dan dokter yang merawatnya yang mengetahui. Harika selalu menutup wajah dengan niqob (cadar).


Apakah dirinya berusaha mengingat masa lalu yang hilang?! Tentu saja. Sering malah. Namun, semua berakhir dengan rasa sakit di kepalanya. Jika dia memaksakan untuk mengingat sesuatu, rasa sakit semakin menjadi. Dan sering kali dia kehilangan kesadaran setelahnya. Dokter dan orang tuanya akhirnya melarangnya memaksakan diri. Biarlah semua berjalan seperti biasa. Semua urusan di dunia ini sudah ada yang mengatur.


Saat itu pasti akan tiba, ketika Harika mengingat semuanya. Kalau pun hingga akhit usia tak ada yang bisa diingat, itulah keputusan terbaik dari Allah untuknya. Karena tak semua hal di dunia diketahui oleh manusia. Ada banyak hal yang tak diketahui.


Sebuah pesan di handphone menyadarkannya dari kisah masa lalu.


"Assalamu'alaikum, sayang. Hari ini aku pulang agak telat, ya. Ada meeting dengan salah satu kolega bisnis. Kau ingin oleh-oleh?"


Senyum indah menghiasi bibir Harika. Itu pesan dari Syam. Ini pertama kalinya Syam mengirimi pesan seperti ini.


"Wa'alaikumussalam. Iya, Syam. Saya tak ingin oleh-oleh, hanya ingin Syam pulang dengan selamat."


Tak lama, pesan itu terbalas


"Oke, Harika sayang. Kenapa masih panggil Syam? Coba panggil Sayang, Love, Cinta atau apa pun yang lebih indah."


Upsss, Harika mengulum senyum. Baiklah, Syam benar-benar menganggapnya sebagai istri.


"Baik, Mas Sayang."


Panggilan itu akhirnya yang dia pilih.


Mas Sayang....


Desisnya lirih, memanggil Syam dalam kesendirian. Kepala Harika berdenyut pelan. Dia sepertinya mengenali panggilan itu. Apakah seseorang di masa lalu? Seseorang yang dikenalinya? Atau malah dekat dengannya? Panggilan itu... Benarkah dia memang bukan orang Turki? Dia orang negeri ini? Indonesia?


Kepala Harika semakin berdenyut. Tangannya memijat kepala bagian belakang. Baiklah, lebih baik dia tak memikirkan hal ini. Harika bergegas ke kamar. Duduk di ranjang dan meminum air putih.


...\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=...

__ADS_1


Di tempat lain, Syam sedang menuju sebuah kantor yang sudah lama tak dia kunjungi. Kali ini, bukan Arif yang menemani. Arif sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor pusat. Sementara Syam akan menemui kolega bisnis istimewanya. Lina Mawaddah.


Saat dia masuk ke bangunan kantor, seorang karyawan segera menyambutnya. Lalu mengantarkannya ke tempat pertemuan. Lina, Moza, Fathina, dan seorang kepercayaan Lina sudah menunggunya. Ini pertemuan pertama setelah sepuluh tahun tak berjumpa. Setelah semua urusan bisnis dengannya di handle oleh tangan kanan Syam.


Lina. Syam masih mengenalinya meski sudah sepuluh tahun tak pernah berjumpa secara langsung. Wajah itu tetap sama. Mata hitam dan lebar yang menawan. Kulit kuning langsat yang seperti tak pernah menjadi hitam. Hidungnya tak pesek atau pun mancung, tapi sangat elok. Yang paling memukau adalah lesung pipi yang terbentuk indah saat tersenyum.


Di sisi lain, Lina harus menahan nafas sebentar. Wajah Syam cukup berubah meski masih dia kenali. Sudah ada kerutan di wajahnya, menandakan usianya tak lagi muda. Mata hitamnya tetap menawan meski ada mendung bergelayut. Dan yang pasti, senyumnya tak berubah.


"Selamat sore. Maaf, telah membuat Anda semua menunggu lama."


"Selamat sore, Tuan Syam," Fathina yang menjawab, "kami juga baru saja sampai, Tuan."


Syam tersenyum canggung, "Baiklah, apakah kita bisa mulai?"


"Tentu. Kami ingin membahas beberapa hal," Fathina mulai mengeluarkan beberapa map.


Suasana rapat berlangsung seperti biasa. Hanya berbincang soal perusahaan dan kontrak kerja sama. Padahal di sana, ada dua hati yang berusaha menahan semua emosi.


Hari sudah malam saat Syam sudah dalam perjalanan pulang. Tak lupa dia mengabari Arif dan memintanya langsung pulang ke rumah.


"Kita mampir di butik dulu," perintah Syam pada sopirnya.


"Baik, Tuan."


Butik yang dimaksud adalah salah satu cabang butik yang besar. Dia akan membelikan gamis dan jilbab, juga cadar, untuk hadiah istrinya. Selama sembilan tahun menikah, dia hanya memberi hadiah tanpa rasa cinta. Ah, cinta Syam pada Harika memang datang terlambat. Tapi itu tetap tak mengurangi cinta Harika untuk Syam. Betapa sabar dan kuat wanita bercadar itu.


Dalam perjalanan dari butik, Syam tak henti-hentinya membayangkan kebahagiaan istrinya. Sebuah pesan masuk ke nomornya. Arif sudah tiba di rumah. Syam tersenyum, karyawan sekaligus kawan terbaiknya selalu saja memberikan laporan. Terkadang, Syam menganggap kelakuannya seperti perempuan, cerewet.


Huffffttttt


Syam mengambil nafas dalam sebelum masuk ke rumah. Seorang pelayan segera menyambut, mengambil tas dan sepatu Syam.


"Nyonya Harika ada di balkon lantai dua, Tuan."


Syam mengangguk. Bergegas kakinya melangkah menuju tangga. Dia akan segera pergi ke balkon yang berada di ujung lantai dua, menghadap halaman belakang. Lantai dua memang lantai khusus, hanya orang tertentu yang bisa di sana sekehendak hati. Di ujung tangga, dilihatnya pemandangan aneh.


Istrinya bersama laki-laki yang sangat dikenalinya. Arif. Tampak, Arif memegang pundak Harika dengan satu tangan. Tangan yang lain memegang salah satu tangan Harika. Tangan Harika yang lain memegang dinding. Mereka menghadap ke arahnya.


"Arif? Harika?" Syam segera mempercepat langkah.


"Tuan Syam?!" Arif tampak terkejut, tapi langsung menguasai diri.


"Ada apa?" Syam memegang tangan Harika, menggantikan tangan Arif.


"Tuan, Nyonya Harika tampaknya sakit. Tadi saya tak sengaja melihat Nyonya hampir jatuh. Maafkan saya, Tuan."


"Harika? Kau tak apa-apa?"


Harika mengangguk lemah. "Hanya pusing, Syam."


"Kita ke kamar saja ya," Syam menoleh ke arah Arif. "Panggil dokter sekarang juga!"


"Baik, Tuan." Arif bergegas turun. Dia tahu siapa yang harus dihubungi.


Di kamar, Syam memabringkan istrinya di ranjang. Tangannya mengusap lembut tangan Harika. "Sayang, apa yang kau rasakan?"


"Tak apa, Syam. Hanya pusing." Harika tersenyum tipis di balik cadarnya.


"Kok panggil aku Syam lagi?!"

__ADS_1


Harika tersipu, "Maaf, Mas Sayang."


Syam tersenyum bahagia, lalu mencium kening Harika. Membuat jantung Harika berdetak kencang. Ciuman ini, begitu lembut. Tak lama , seorang dokter perempuan datang dan memeriksa Harika.


"Nyonya Harika baik-baik saja, Tuan. Nyonya mungkin kelelahan atau memikirkan hal berat. Harus lebih banyak istirahat."


Syam mengangguk. Ucapan dokter membuatnya sedikit tenang. Setelah dokter keluar, Syam mengambil hadiah yang tadi dia tinggalkan di luar.


"Ini apa?"


"Hadiah, Sayang. Untukmu."


Harika tersenyum, cadarnya sudah dibuka semenjak dokter keluar kamar. Perlahan, dia membuka hadiah. Sepasang gamis dan jilbab yang indah.


"Makasih banyak, Mas. Jazakallahu kahirann," bisiknya pelan.


"Amin. Semoga kau bahagia, Sayang," Syam mengusap pipi putih Harika.


Harika memperhatikan gamis barunya. Sebuah logo menarik perhatiannya. Melihat istrinya memperhatikan logo itu, Syam menjelaskan.


"Itu logo butik tempat gamis ini diproduksi dan dijual. LAZ Butique"


"LAZ Butique?!" desis Harika pelan. Kepalanya berdenyut pelan. Nama itu...


...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...


Sebuah ruangan bersih dengan seperangkat sofa empuk dan meja kayu berkualitas tinggi. Dua siluet orang duduk santai di sofa. Siluet satu orang lain di depan mereka. Tampaknya, dia sedang menceritakan gambar di kertas yang dipegangnya.


"Oi! Enak sekali Adek bolak-balikkan urutan nama!" teriak satu bayangan yang baru saja masuk ruangan. Suara lelaki.


"Biarin! Kan, punya Ada sendiri!!" sergah siluet orang yang memegang kertas. Suara seorang perempuan muda.


"Iya tuh!" seorang perempuan lain masuk ke dalam ruangan, "urutan Mbak bukan yang terakhir!"


"Ye... Mbak Ida cemburu, ya? Mbak Ida sih nggak mau beri usul!" Siluet itu semakin jelas. Perempuan berambut sebahu. Sayang, wajahnya tak jelas.


"Kenapa nggak pakai usul dari Mas?" Bayangan itu semakin terlihat. Lelaki berambut lumayan panjang, hampir menyentuh bahu.


"Nama dari Mas nggak asyik. Biasa banget!!!" jawab siluet perempuan berambut sebahu.


"Sudah! Sudah! Biarkan Ada yang menentukan namanya. Lihat, logonya bagus," lerai salah satu siluet yang berada di atas sofa. Suara perempuan dewasa.


"Iya. Ayo, kalian bersiap-siap," sambung siluet di sampingnya. Suara berat khas lelaki.


...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...


"Harika?" Syam menggoyang tangan istrinya. Membuyarkan sepotong bayangan itu.


"Mas, saya pusing banget," Harika memegang kepala bagian belakang. Denyutannya semakin terasa.


"Ya sudah, istirahatlah. Mas mandi dulu." Syam mencium kening istrinya. Lantas turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.


Di bawah sana. Tepatnya di halaman belakang rumah, Arif duduk menatap rembulan. Mengingat mata Harika yang sempat bersitatap dengannya.


Tadi, dia hendak pergi ke kamar kerja Syam untuk meletakkan beberapa map. Sebelum sampai, dilihatnya Harika tengah kembali dari balkon. Tangannya memegang kepala bagian belakang. Saat akan terjatuh, Arif segera menolongnya. Saat itulah, mata mereka bersitatap.


Mata itu. Arif tidak salah lagi. Itu mata seseorang di masa lalunya. Perempuan yang sangat dia sayangi. Jadi, benarlah semua ini. Perempuan itu masih hidup, hanya saja kehilangan memori. Kehilangan semua memori masa lalunya.


Allah, bisakah mereka kembali berkumpul di usia yang tak lagi muda...

__ADS_1


__ADS_2