
Ketika nama bersemayam dalam hati, cukup simpan dalam diam. Tak harus mengumbar harapan kepada manusia. Karena hanya Allah yang memutuskan.
Lina, Moza, dan Fu'ad sudah berada di ruangan 6A. Mereka masuk ke sana setelah Lina berbincang sebentar dengan Mahmudah dan Rabi'a. Meski sebentar, Lina bisa melihat mata Fu'ad yang berbeda. Sebagai seorang ibu, dia tahu ada yang tidak biasa dengan putra tunggalnya. Pandangan mata yang menyimpan banyak hal, menutupi berbagai perasaan. Mungkinkah Fu'ad memang sudah merasakan perasaan itu? Usianya baru menginjak delapan belas tahun, bagaimana mungkin? Meski kedewasaan memang tak harus sesuai umur.
"Mbak, ada pesan dari Syam? Atau, Arif?" Lina membuka obrolan setelah masuk ke ruangan.
"Iya, Abla. Mereka akan menunggu kita di rumah. Mereka sedang pulang dari bepergian. Insyaallah setengah jam lagi mereka sudah berada di rumah."
~Tanpa diketahui Lina, Syam baru saja mengantarkan Harika dari rumah sakit. Harika baru saja menjalani CT scan~
"Ya sudah, sampaikan bahwa kita akan datang empat puluh lima menit lagi."
"Baik, Abla."
"Fu'ady," Lina menepuk pundak anaknya.
"Eh, iya, Ma?" Fu'ad berusaha menutupi kekagetannya.
"Kenapa? Ada gadis yang sedang dipikirkan?" goda Lina.
"Mama!" Fu'ad menunduk. "Fu'ad sedang memikirkan undangan kajian di Mesir beberapa bulan lagi."
"Hehehe," Lina tertawa renyah, "rupanya ada yang berusaha mengelak."
"Ayolah, Fu'ad. Jujur saja pada Mama. Jangan biarkan mamamu penasaran." Moza ikut menggoda.
"Jangan-jangan, salah satu dari dua gadis tadi, Mbak? Rabi'a atau Mahmudah? Mereka sama-sama cantik dan pintar lho," Lina tertawa.
Moza ikut tertawa, sementara Fu'ad semakin menunduk. Dia tak pernah mengalami saat seperti ini. Mama dan Hala-nya tetap asyik menggoda meski pesanan telah tiba. Untunglah, semuanya berakhir dengan kedatangan Pak Fajar.
Di hati Fu'ad, memang telah ada nama yang bersemayam. Sayang, semua yang akan terjadi tak sesuai dengan perkiraan. Karena kehidupan ini memang penuh misteri.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=\=...
Malam sudah tiba. Rembulan sudah terlihat di angkasa, bersama beberapa gemintang indah. Menerangi bumi, juga angkasa. Dipandang banyak manusia, mengingatkan akan kebesaran Sang Pencipta. Salah satu pemandang berada di halaman rumah. Tempat favoritnya untuk menatap malam.
"Subhanallah. Masyallah. Betapa indah malam ini. Hanya saja, sedikit manusia yang mau menyadari kebesaran Allah."
Lina Mawaddah berdiri, kedua tangannya bertautan di belakang punggung. Bintang, bulan, dan langit malam adalah pemandangan kesukaannya. Selalu bisa membuat nafas semakin lega. Melonggarkan kesempitan di dada. Meringankan beban yang bergelayut di pikiran dan hati.
Siang tadi, selepas dari restoran, dia memang pergi ke rumah Syam. Niatnya adalah untuk mengunjungi Harika Gül, istri Syam. Namun, tak seperti yang dikehendaki. Lina, Moza, dan Fu'ad sudah duduk menunggu di ruang tamu. Syam turun dari lantai dua, mengatakan bahwa istrinya akan turun sebentar lagi. Tak lama, seorang wanita bercadar terlihat di anak tangga teratas. Perlahan, menuruni tangga. Dan, keadaan berubah total.
Tiba-tiba Harika terpeleset di tangga. Tubuhnya terguling di anak tangga. Syam segera berlari, berusaha meraih tubuh istrinya. Dari lantai atas, Arif dan seorang pelayan juga berlari. Lina dan Moza berdiri dari duduknya. Fu'ad ikut berlari, mengikuti Syam. Bersama, keduanya berhasil menahan tubuh Harika yang sudah tak sadarkan diri.
Dokter keluarga dihubungi, sementara Syam membawa istrinya ke kamar. Lina dan Moza ikut membantu menyadarkan. Sedangkan Syam dan pelayan khusus Harika mengobati luka. Setelah dokter memeriksa, dia menyarankan agar Harika beristirahat dan tidak diganggu. Dan, kunjungan itu pun berakhir.
Wajah Harika kembali melintas di benak. Saat di kamar, Syam memang membuka cadar dan jilbab istrinya untuk mengobati luka. Tak ada laki-laki di sana kecuali Syam. Pelayan khusus yang membantu mereka, adalah perempuan.
"Wajah itu sangat familiar. Seperti aku kenal. Tapi, siapa? Bentuk rambut dan wajahnya tak asing." Lina menghembuskan nafas panjang. "Sayang, matanya terpejam. Andai aku bisa menatap mata atau bertanya padanya. Mungkin, aku akan mendapat jawaban."
"Sungguh, kau begitu beruntung. Suamimu begitu sayang. Mencemaskan kondisimu, mengobati lukamu."
"Astagfirullah," helaan nafas kembali terdengar panjang. "Betapa buruknya diriku. Menyimpan rasa pada suami orang lain. Aku sendiri yang menutup pintu hati selama ini. Membuat semua terlambat. Benarlah nasehat itu. Tak ada solusi bagi dua orang yang saling mencintai, selain menikah."
Semilir angin malam berhembus. Selalu menyenangkan bagi Lina, menikmati malam tenang di antara kesibukan dunia. Apalagi, jika langit purnama yang cerah tanpa mendung. Menampilkan rembulan dan bintang, meski tak sebanyak di villa.
"Abla." Panggilan khas terdengar dari arah rumah.
"Mbak Moza," jawab Lina sambil menoleh. Fu'ad sedang berada di rumah Ustadz Hadi, sehingga Moza menginap di rumah Lina. "Ada kabar penting?"
"Iya, Abla. Kabar tentang Kenish dari Fathina." Moza mendekat. "Perempuan itu benar-benar Kenish, Abla."
Mata Lina membulat, menandakan kekagetan dan rasa tidak percaya. Bertanya lewat ekspresi wajah, benarkah?
__ADS_1
"Semua informasi ada pada Fathina, Abla. Dia sudah mengirim beberapa di antaranya."
"Ya sudah, saya akan memeriksanya malam ini. Tolong tanyakan pada Fathina, kapan kita bisa bertemu untuk membahasnya."
"Baik, Abla."
Masalah Kenish segera mengalihkan perhatian Lina. Dari semua informasi yang dikirim oleh Fathina, memang menunjukkan bahwa dia benar-benar Kenish. Video saat dia masuk ke rumah yang dulu terbakar. Kedatangannya ke rumah Ustadz Hadi untuk bertanya masalah agama. Kehadirannya di kajian Fu'ad. Namun yang paling menarik adalah sebuah video. Sebuah kamera kecil yang sengaja diletakkan di dekat makam Vasfi beberapa saat sebelum kedatangan Kenish.
"Kakak, semoga kakak tenang di sana. Semoga semua dosa kakak diampuni oleh Allah." Kenish mengusap nisan, lantas meletakkan sebatang mawar putih di sampingnya.
"Aku tahu semua dari suster yang pernah merawat kakak. Kakak belum sempat bertemu dengan Lina, bukan? Aku tak tahu, apakah bisa aku menemuinya?!" Kenish merapikan rambutnya. Lalu terdiam agak lama.
"Kakak, anak kakak, Fu'ady sudah menjadi seorang da'i. Aku belum berani datang pada mereka. Terakhir, maafkan diri ini. Aku belum siap berhijab. Sampai jumpa lagi, Kakak." Setelah merapikan mawar dan bajunya, Kenish beranjak pergi.
Dua kata cukup menjelaskan. Saat memanggil Vasfi sebagai kakak. Dan saat menyebut namanya sendiri. Kenish. Pertanyaan besar berikutnya, siapa yang meninggal saat kebakaran dulu? Lalu, apa tujuan Kenish kembali ke sini? Lina dan Moza belum mendapatkan jawaban. Harus ada penyelidikan lagi.
"Tapi, Mbak. Bagaimana dengan proyek perusahaan? Saya harus pergi ke beberapa negara."
"Saya yakin, Alam bisa menghandle banyak hal. Lagi pula, Abla bisa mengontrol penyelidikan meski di luar negeri."
Lina mengangguk setelah menghembuskan nafas berat. Sekarang, dia harus fokus pada dua hal tadi. Biarlah urusan hati dengan Syam tersingkirkan. Lagi pula, Lina memang harus segera menata hati. Sangat tidak baik untuk memiliki rasa pada lelaki yang sudah beristri.
"Ohya, bagaimana dengan Fu'ad, Abla?"
"Dia diundang oleh kawan Ustadz Hadi untuk ikut mengisi sebuah kajian di sana. Ada juga saran untuk meneruskan kuliah di universitas sana atau di Lebanon. Tapi, Fu'ady belum memutuskan."
"Abla sendiri menginginkan Fu'ad kuliah di mana?"
"Saya tak tahu banyak hal tentang universitas Islam, Mbak. Saya akan mendukung di mana pun Fu'ady memilih, selagi dia bersungguh-sunggub belajar dan mendalami ilmu agama."
Jauh di sana, akan ada kisah yang menanti Lina dan Fu'ad. Di negeri yang budaya dan alam yang berbeda. Sejenak, mereka akan menapakkan kaki di tanah asing. Tanah yang belum pernah mereka kunjungi. Meski sejenak, kesan dan peristiwa di sana akan membekas. Dan juga, mengambil andil dalam langkah selanjutnya.
__ADS_1
Jauh di sana, akan ada orang-orang baru. Orang-orang yang belum dikenal oleh Lina dan Fu'ad. Orang-orang yang bertemu dengan cara yang unik. Petemuan yang akan diingat dan sulit dilupakan.