
Hasil yang manis dan indah, selalu membutuhkan perjalanan yang sulit dan rumit. Kupu-kupu indah berawal dari ulat yang hanya makan. Namun, ada satu proses yang sering dilupakan. Ialah kepompong, perubahan dari ulat menuju kupu-kupu. Ialah proses perpindahan dari awal menuju hasil.
"Sebelum ke tempat Abla, ada baiknya kita mengunjungi suatu tempat terlebih dahulu. Juga bertemu seseorang."
Itu ucapan Moza sebelum keluarga Buya pulang dari rumah Lina
Tadi pagi, Moza datang ke rumah. Menjemput Fu'ad dan keluarga. Kali ini, yang menemani adalah Ummah, Hanin, Ridlwan, dan Zahra. Buya harus menghadiri kajian di luar kota. Ibrahim, suami Hanin, harus kembali bekerja. Hilmi dan Hanifah sudah kembali ke pesantren. Alfi dan Ulin bersekolah, berkenan ditinggal oleh Ummah.
Moza membawa mereka ke sebuah bangunan berlantai puluhan di pusat kota. Satpam bangunan menyambut dengan sangat ramah dan hormat.
"Ini kantor pusat Abla, Fu'ad." Moza menjelaskan saat mereka memasuki teras bangunan.
Selepas melewati pintu utama, ada banyak orang berlalu-lalang. Mereka menyapa hormat Moza. Beberapa menanyakan Lina. Moza hanya menjawab sedang pergi untuk urusan penting. Moza menuju meja resepsionis.
"Fathina ada di ruangannya?"
"Iya, Mbak. Tapi sepuluh menit lagi Ibu Fathina harus menghadiri meeting."
"Baiklah, Jazakumullahu khairann. Saya akan ke ruangan Abla Lian. Kabari beliau untuk menemui saya setelah meeting.
"Baik, Mbak."
"Mari, kita pergi ke ruangan Abla." Moza menoleh ke arah keluarga Fu'ad. Lalu berjalan menuju lift.
Ruangan itu cukup besar. Beberapa lemari dan rak mengelilingi sebuah meja kerja. Di depan meja, dua sofa berderet menghadap sebuah meja. Di balik lemari dan rak, ada ruangan cukup luas. Karpet yang terhampar dengan beberapa bantal di atasnya. Dua lemari kecil berjajar di sudut ruangan.
"Inilah kantor tempat Abla mengurusi semua usaha. Lihat ini," Moza mengambil sebuah miniatur bangunan, "Ini hotel yang memiliki banyak kenangan untuk Abla. Di sanalah, Vasfi pernah menduduki kursi direktur."
"Vasfi? Papa?"
Moza mengangguk, "Bagaimanapun, sepertinya saya harus menceritakan tentangnya padamu. Dia tetaplah ayahmu..."
...\=\=\=\=\=\=\=~~~~\=\=\=\=\=\=\=...
Semua berawal delapan belas tahun silam. Seseorang berwarga negara asing menjalin hubungan kerja dengan restoran Lina; Lina meneruskan usaha Azzam sang kakak. Dia direktur sebuah hotel bintang lima yang terkenal. Awalnya, hubungan diantara mereka hanya sebatas rekan kerja. Namun perlahan, Vasfi mendekati Lina dengan lembut. Perhatian, hadiah, kejutan, dan kata-kata indah meluncur deras darinya.
Saat itu, hubungan antara Moza dan Lina sudah cukup dekat. Meski bekerja sebagai pelayan di rumah, Moza selalu dianggap sebagai sahabat bahkan kakak. Sedangkan Fathina adalah tangan kanan di usaha butik dan restoran -saat itu Lina belum memulai usaha properti.
"Abla hendak menemui Pak Vasfi lagi?" Moza menghidupkan mesin mobil.
"Iya, Mbak. Dia mengajak saya dinner di rumah makan baru dekat hotel," Lina merapikan rambut hitamnya di kursi belakang.
"Pak Vasfi sering sekali mengajak Abla makan bersama," komentar Moza sambil menjalankan mobil.
Lina tertawa lirih, "Iya, Mbak. Kak Vasfi sangat baik. Dia sangat perhatian."
Moza tersenyum melihat kebahagiaan Lina. Sudah lama senyum itu menghilang, sejak kecelakaan Azzam. Satu harapannya, semoga Vasfi bisa menjaga senyuman itu. -Sayang sekali, Moza tak mengetahui, Vasfi tak menjaga. Melainkan menghancurkannya.
Vasfi tampil begitu menawan. Kemeja biru gelap berpadu dengan celana hitam. Rambut yang klimis dengan belahan di tengah. Menyambut ramah dan hormat Lina dan Moza. Sayangnya, Moza harus pergi, menemui Fathina. Vasfi berjanji untuk mengantarkan Lina.
Makan malam berjalan dengan baik. Menu khas Eropa yang memanjakan lidah. Selepas makan, Vasfi mengajak Lina ke hotel yang dipimpinnya, dekat rumah makan. "Kejutan indah dan spesial" adalah dalih yang tak bisa ditolak Lina.
Di depan sebuah kamar hotel, Vasfi menutup mata Lina. Lantas, bersama masuk ke dalam kamar. Setelah Lina masuk, Vasfi mengunci kamar hotel. Dan melakukan kejahatan besar. Lina sempat memberontak, tapi kalah kuat oleh Vasfi. Tas dan handphone Lina berhasil direnggut. Teriakan Lina berhasil ditutup oleh tangan kekar Vasfi.
__ADS_1
Itulah awal senandung kepedihan paling menyakitkan dalam hidup Lina. Mahkota terindahnya direnggut paksa oleh lelaki yang dianggap sebagai teman terbaik. Itu malam terkelam dalam kehidupan Lina Mawaddah.
Selesai melakukan semua, Vasfi pergi meninggalkan Lina sendirian. Tanpa sehelai benang pun. Lina yang masih kelelahan dan takut hanya bisa menangis. Beberapa saat kemudian, kesadaran Lina kembali. Segera, ditutupinya tubuhnya. Dan menghubungi Moza dengan nomor privasi.
Tangisan Lina kembali pecah saat dia berada di kamar. Moza terperangah. Segera, Moza berlari ke kamar atas. Membuka kamar majikannya dan mendapati Lina menangis histeris di samping ranjang. Beruntung, saat itu adalah malam hari. Hanya Moza yang menginap di rumah Lina. Pelayan lain baru akan tiba menjelang subuh.
"Tenang, Abla. Saya akan segera membuat perhitungan dengan lelaki itu. Abla tenang, ya... Saya selalu bersama Abla..."
Moza memeluk Lina setelah terbata-bata Lina menceritakan segalanya.
Esok hari, seluruh pelayan dilarang masuk. Fathina segera dipanggil ke rumah. Juga beberapa orang yang paling dipercaya oleh Lina dan Moza.
"Apapun perintah Mbak Moza, itu adalah perintah saya. Apapun kata Mbak Moza, itu kata saya. Jadi, taati seperti kalian mentaati saya. Faham?!"
"Faham, Nona."
Selepas mendengar jawaban Fathina dan orang-orang kepercayaan, Lina kembali ke kamar atas.
"Ini tugas dadakan. Dan harus secepatnya selesai." Moza mengeluarkan beberapa kertas di atas meja. "Kalian mengenal hotel ini, bukan?!"
Seluruh karyawan mengangguk.
"Tugas penting kita adalah mengambil banyak keuntungan darinya. Kita tak lagi bekerja sama. Kita akan membuatnya bertekuk lutut di depan kita."
Seluruh karyawan kaget bukan main. Itu bukan cara main perusahaan mereka selama ini. Tapi, Moza mengingatkan ucapan Lina sebelumnya.
"Ada banyak hal yang harus kita lakukan. Nanti, saat tiba pada waktunya, semua permainan ini akan selesai." Moza lantas memaparkan beberapa rencana secara global.
"Saya sudah menduga, Mbak. Saya sangat mengenal Nona Lina. Beliau tak pernah bermain licik."
"Kau sangat benar, Fathina. Target kita adalah Vasfi si direktur hotel. Membuatnya tak betah."
"Dia melakukan kesalahan besar pada Nona?"
Moza mengangguk.
"Maaf, tentang kehormatan Nona?"
Moza menatap lekat Fathina.
"Jangan khawatir, Mbak. Saya kawan sekelas Nona sejak SMP. Nona takkan marah."
"Bagaimana kau tahu?!"
Fathina menghela nafas, "Dua hari lalu saya baru saja memastikan informasi tentang pengusaha bule itu. Dia sering menjatuhkan lawan dan menelikung kawan dengan cara yang sama. Kehormatan perempuan paling berpengaruh mereka."
Fathina menatap lembut Moza, "Saya akan melakukan hal yang semestinya. Lelaki itu akan menyesali semua perbuatannya. Mbak Moza tak perlu risau. Yang paling penting sekarang, Mbak harus mendampingi Nona. Beliau sangat butuh sahabat."
"Kau benar. Abla pasti sangat sedih dan kecewa. Tapi, kau yakin akan melakukannya sendiri?"
"Mbak tak perlu khawatir." Fathina tersenyum, "saya memiliki banyak rencana. Saya bisa mengendalikan perusahaan, tapi saya tak bisa menemani Nona. Mbak Moza lah yang mampu."
Ucapan Fathina bukanlah kebohongan. Sebulan setelahnya, restoran Lina berhasil membuat hotel itu semakin menurun. Kerugian hotel membuat kerja sama di antara keduanya harus berakhir, tanpa kerugian yang diderita restoran. Tiga minggu kemudian, Vasfi harus mundur dari kursi direktur karena tak bisa lagi mengembalikan nama hotel. Fathina membuktikan kata-katanya.
__ADS_1
Sebulan setelah Vasfi mundur, restoran Lina kembali menawarkan kerja sama yang saling menguntungkan. Nama besar hotel kembali mengharum. Tak berhenti, Fathina bahkan meluaskan perusahaan dengan masuk ke bisnis properti. Membuat nama perusahaan Lina semakin harum dan tinggi. Dan Vasfi hanya bisa menahan amarah atas kegagalannya.
"Fathina, terima kasih atas semua bantuan dan kebaikanmu." Lina menatap bahagia kabar di koran. Putra Vasfi, pengusaha asal negri seberang telah mengalami kebangkrutan.
"Tak perlu berterima kasih, Nona. Itu semua sudah kewajiban saya. Saya bahagia asal Nona bahagia."
"Fathina, Mbak Moza, bagaimana dengan anakku? Dia juga anak lelaki bej** itu." Lina mengusap perutnya.
"Nona, dia anak suci. Tak ada dosa yang ditanggungnya. Tetap rawat dia, Nona. Lagi pula, kepribadiannya dibentuk oleh lingkungan. Selagi Nona mengusahakan lingkungan yang baik, dia akan tumbuh menjadi anak sholeh, Insyaallah."
"Benar, Abla. Saya rasa, ucapan Fathina tak salah. Dia bayi suci." Moza menggenggam jemari Lina.
"Terima kasih, kalian benar-benar sahabat terbaik saya." Lina tersenyum, "Fathina, ajari kami menjadi lebih baik. Saya ingin berjilbab."
Itu karunia dan kebahagiaan besar di antara luka. Semenjak itu, Moza dan Lina memakai jilbab -Fathina sudah berjilbab sejak kecil. Meski bukan sosok yang begitu religius, mereka menjalani hidup dengan lebih baik.
...\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=\=...
"Itu awal kehadiranmu, Fu'ad. Kalau bukan karena Fathina, mungkin Abla akan memilih menggugurkan kandungannya."
Tok...Tok..
Moza segera membuka pintu. Seseorang masuk bersamanya. Perempuan berkaca mata dengan senyum ramah.
"Akhirnya, saya bertemu dengan Tuan Muda kembali. Saya sangat merindukan Tuan Muda," ucapnya setelah salamnya dijawab.
"Beliau Fathina, Fu'ad. Orang yang sangat membantu Abla selama ini."
"Mbak Moza terlalu berlebihan." Fathina tertawa riang.
Mereka terlibat obrolan yang hangat. Fathina sosok yang sangat ramah dan menyenangkan. Dia lah yang mengenalkan kajian Ustadz Ali pada Lina dan Moza. Dan dia lah yang menjaga kestabilan perusahaan meski Lina berulang kali mengalami kesedihan.
"Mbak Moza akan mengajak mereka ke tempat terakhir itu terlebih dahulu?"
"Iya. Mungkin sebelum pergi menemui Abla."
"Sebaiknya seperti itu. Tapi, Mbak. Ada sesuatu yang mengusik saya. Tentang Kenish."
Moza menatap heran. Kenish?! Ada apa lagi?!
"Saya ragu dia telah meninggal dalam kebakaran. Saya menemukan beberapa jejak tentangnya. Nanti akan saya jelaskan lebih detail. Bila Mbak Moza dan Tuan Muda memiliki waktu luang."
"Baiklah. Sudah beritahu Abla?"
"Sudah, Mbak. Beliau meminta saya menjelaskan semua pada Mbak. Saya rasa, Tuan Muda juga perlu mengetahuinya."
Moza mengangguk. Kenish?! Ada apa lagi dia? Mungkinkah dia belum meninggal? Lantas, siapa kerangka dalam rumah yang terbakar belasan tahun silam?!
"Fathina, kamu sudah memberitahu Abla kalau Fu'ad ada bersama saya?"
"Belum, Mbak. Saya rasa, Mbak lebih tahu tentang hal itu."
"Saya belum mengerti pasti perasaan Abla sekarang." desah Moza pelan...
__ADS_1