
Kala cinta menyapa, dunia berubah dalam sekejap. Bersyukur atas langkah penuh keindahan cahaya bagai sejuta warna. Berpendar indah dan terang. Namun juga harus bersabar atas jalan yang kian menanjak dan penuh oak duri.
Pagi yang indah menyapa bumi. Semburat cahaya matahari bersinar hangat. Menemani seorang gadis yang membuka tirai jendela kamar.
"Allahumma bika ashbahnaa wa bika amsainaa wa bika nahya wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur," bibirnya lembut membisikkan dzikir pagi hari.
Matanya memandang langit pagi. Beberapa gumpalan awan menutup langit. Mengingatkannya pada seorang pemuda bermata hijau yang indah. Pemuda yang telah berhasil mengambil perhatian dan hatinya. Namanya terlukis di hati.
"Ya Rabb," desahnya pelan. Teringat pertemuan pertama mereka yang tak sengaja.
...\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=...
Lima Tahun Sebelumnya.....
"Mahmudah!" panggilan khas menghentikan gerakan bolpoinnya.
"Labbaiki," dia menoleh.
"Zaaraki ahluki (kamu dijenguk keluargamu)!"
"Haqqan (benarkah)?!" matanya berbinar.
"Bisur`ah (cepetan)!"
Mahmudah bergegas membereskan peralatan tulisnya. Lantas memakai gamis panjang dan jilbab senada. Kunjungan keluarga memang selalu dinantikan oleh para santri. Melepas kerinduan setelah berminggu-minggu; bahkan berbulan-bulan, tak bertemu keluarga.
Di pesantren ini, hanya keluarga yang boleh mengunjungi para santri. Ada tiga ruangan untuk kunjungan keluarga kepada para santri. Ketiganya berada di kompleks utama, kompleks khusus yang bisa dikunjungi santri dan santriwati di kondisi tertentu. Ruangan pertama khusus untuk keluarga santri putra, ruangan kedua untuk keluarga santriwati, dan ruangan ketiga untuk keluarga yang memiliki anggota santri dan santriwati.
Ruangan ketiga-lah tujuan Mahmudah. Dia memiliki kakak di ponpes yang sama, Faishal. Saat berjalan ke ruangan itu, dilihatnya beberapa rombongan keluarga santri yang akan memasuki tiga ruangan.
Degggg
Pandangannya tertahan ke satu rombongan keluarga. Ayah, ibu, dua anak laki-laki, dan seorang gadis kecil yang masih batita. Wajah sang ayah sudah sering Mahmudah lihat dan kenali. Beliau adalah Ustadz Luthfi Hadi, seorang ustadz yang cukup dikenal masyarakat luas.
"Apakah Ustadz Hadi memiliki anak di sini? Bukankah beliau sendiri mengajar di pesantren lain?" batin Mahmudah.
Pertanyaan tak terucap itu mendapat jawaban beberapa saat kemudian. Seorang santri keluar dari kompleks putra dan menyalami Ustadz Hadi dan istrinya. Mata hijau si santri menyita perhatian Mahmudah.
"Astagfirullah," segera, Mahmudah memalingkan wajah dan mempercepat langkah. Betapa mudah dia tergelincir, menatap lama seorang laki-laki yang bukan mahram.
Itu pertemuan pertama mereka. Pertemuan tak disengaja dan tanpa saling mengenal. Rasa penasaran tentang si santri sering kali hinggap di benak. Beberapa hari kemudian, Mahmudah. akhirnya mengetahui bahwa santri tersebut ternyata teman satu kelas dirinya.
Memang, seluruh kelas sudah dipisah antara ikhwan (laki-laki) dam akhwat (perempuan) sejak kelas satu Tsanawiyyah (sederajat dengan SMP). Interaksi dengan lawan jenis sangat dibatasi di sana. Meski satu angkatan dan satu kelas, antara santri dan santriwati terpisah oleh jurang besar. Hanya ada beberapa kondisi yang mengharuskan mereka duduk di satu ruangan. Di saat seperti itulah, Mahmudah akhirnya mengetahui tentang putra Ustadz Hadi yang bernama Fu'ad Dzakiy.
Sudahkah ada rasa itu di hati Mahmudah? Belum! Mahmudah masih kecil untuk memahami semua perasaan. Masih terlalu dini untuk merasakan cinta. Yang ada, hanyalah rasa penasaran. Satu demi satu informasi sampai padannya. Semua menumbuhkan kekaguman. Terutama dengan prestasi Fu'ad di berbagai pelajaran.
Semua informasi memang cukup mudah didapat Mahmudah. Sahabat terdekatnya, Rabi'a, adalah salah satu santriwati kepercayaan asatidz dan ustadzat (para guru). Berbagai tugas sering dikerjakan bahkan hingga dibawa ke asrama. Saat itulah, Mahmudah mendapat informasi tentang Fu'ad. Dengan catatan, hanya informasi tidak rahasia yang diketahuinya.
Selain itu, rupanya Fu'ad adalah salah satu bintang di antara para santri. Tak ada yang tak mengenal putra Ustadz Hadi tersebut. Termasuk Faishal, kakak Mahmudah. Namanya juga dikenal di antara santriwati, membuat kekaguman menyebar dan menjadi hal yang tak terlalu aneh. Mungkin, hanya Faishal dan Rabi'a yang menggoda Mahmudah.
Bahkan hingga lulus dari pesantren, belum ada perasaan indah itu di hati Mahmudah. Hanya sebatas kekaguman pada pria cerdas. Kagum, tak lebih. Hati Mahmudah memang cukup sulit takluk pada lawan jenis. Atau, karena Mahmudah memang cukup kekanak-kanakan?!
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=...
Mahmudah menghela nafas. Dia baru menyadari, bahwa kekaguman itu sudah menyemai rasa yang baru. Sejak kapan? Mahmudah sendiri belum menemukan jawabannya. Mungkin, sejak kajian di masjid Azhar dulu. Atau, mungkin saat dia bertemu Lina Mawaddah sang ibunda Fu'ad.
"Astagfirullah," Mahmudah memejamkan mata. Mencoba mengusir bayangan pemuda bermata hijau itu. Namun, semakin diusir, bayangan itu semakin kuat menghujam benak. Teringat saat dia pertama kali mengetahui status Fu'ad di keluarga Ustadz Hadi.
"Dia memang putra Ustadz Hadi, tapi bukan anak kandung. Walinya memang atas nama beliau, tapi nama ayahnya tertulis Abdullah," ucap Rabi'a di suatu sore.
"Bukan anak kandung?" Mahmudah membelalakkan matanya.
"Iya, nama ayahnya tertulis Abdullah. Bukan Luthfi Hadi. Mungkin, dia anak angkat Ustadz Hadi," jawab Rabi'a sambil tetap memeriksa kertas di depannya.
"Anak angkat? Tapi, dulu aku melihatnya menyalami istri Ustadz Hadi."
"Eh, kamu perhatian banget," Rabi'a menoleh sambil memainkan alisnya. Tak lama, dia kembali berkutat dengan kertasnya.
"Hussst," Mahmudah menimpuk Rabi'a dengan bantal kecil di tangannya.
"Berarti, dia anak susuan. Setahuku, Ustadz Hadi memiliki anak di usia tak jauh dengan Fu'ad. Namanya, Hanifah Sadiidah yang nyantri di tempat beliau mengajar."
"Dari mana kau tahu?"
"Ammy pernah beberapa kali mengajar di sana dan bertemu Ustadz Hadi."
Itu percakapan yang sulit dilupakan oleh Mahmudah. Saat dia tahu, Fu'ad Dzakiy bukanlah anak kandung Ustadz Hadi. Sekarang, dia bahkan sudah tahu nama asli Fu'ad. Fu'ady Al-Afif, putra Lina Mawaddah. Ayah? Mahmudah juga belum mengetahuinya.
Tok...Tok...
"Iya, Mas. Ada apa?" Mahmudah menampakkan wajahnya.
"Ditungguin temanmu di depan!"
"Teman?!"
"Rabi'a. Kamu lupa dengan janjian?"
"Aduh!" Mahmudah memukul dahinya. Dia lupa, dia sudah berjanji akan pergi bersama Rabi'a hari ini.
"Sudah, cepat siap-siap!" Faishal beranjak kembali ke ruang tamu.
"Maaf, tolong tunggu sebentar, ya." Setelah melihat Rabi'a mengangguk sopan di tempat, Faishal kembali masuk. Dia tak mungkin menemani Rabi'a di sana, itu akan membuat mereka berduaan di satu tempat.
Rabi'a memilih mengambil ponsel dan membaca beberapa pesan di dalamnya. Ada pesan dari Abinya, bahwa beliau akan pergi ke tempat salah satu kawan Ammy.
"Ustadz Luthfi Hadi?" batin Rabi'a saat membaca ke mana Abinya akan pergi.
Sesaat, ada desiran dalam hatinya. Nama itu akan selalu mengingatkannya pada wajah seorang pemuda. Wajah khas daerah semenanjung Balkan, mirip wajah Eropa tapi berpadu indah dengan wajah khas Timur Tengah. Pemuda yang menjadi bintang di pesantrennya dulu.
Hubungan cinta di antara manusia sering kali rumit. Ketika perasaan hati dan kehidupan tak sesederhana teori. Saat pilihan tak lagi sekedar iya dan tidak. Itu pula yang dirasakan Rabi'a, gadis berdarah asli Mesir dan masih berstatus WNA di Indonesia.
Dia menyadari, sebuah nama sudah tertulis di bagian hatinya jauh-jauh hari. Sudah berkali-kali dia berusaha menghapus nama itu. Semakin dia berusaha menghapus, semakin kuat nama itu mencengkeram hatinya. Dia memang masih muda, tapi kedewasaan sering kali tak sesuai dengan umur. Umurnya masih terbilang sangat muda saat dirinya sudah bisa merasakan desiran indah itu. Dan kini, perasaan itu tetap ada.
__ADS_1
Dulu, dia tak begitu resah. Dulu, dia memang sempat melukis harapan tentang pemilik nama. Dulu, dia selalu berdo'a dalam kesendirian, agar Allah menjaga hatinya, agar tetap melangkah dalam syariatnya. Dulu, dia selalu menyebut sebuah nama dalam do'a tulusnya. Dan dia bisa dengan bersungguh-sungguh menjaga agar desiran itu tak semakin menguat. Agar perasaan itu tetap manjadi rahasia antara dia dan Allah.
Kini? Hatinya sering merasakan kebimbangan. Harapan itu tak lagi dia lukiskan. Namanya tak lagi tersebut dalam do'a, kecuali agar terhapus. Ya, dia kini selalu berdo'a agar perasaan itu hilang dan pergi dari hatinya. Bagaimana pun, hati manusia memang ada dalam genggaman-Nya. Maka, air mata selalu mengalir saat dia memohon lenyapnya desiran indah itu.
Semua berawal saat dia menyadari, bukan hanya hatinya yang berdesir indah. Ada hati lain yang juga tertulis namanya. Ada jiwa lain yang mengharapkan satu nama, sama seperti harapannya. Dan yang membuatnya resah, hati itu adalah hati yang selalu ingin dia jaga. Sahabatnya sendiri.
Rabi'a memang masih muda, tapi kedewasaannya telah ada. Dia bisa mengerti perasaan hati sahabatnya, Mahmudah. Dan inilah awal kerumitan itu, mereka berdua menyimpan rasa pada satu pemuda yang sama. Fu'ad Dzakiy alias Fu'ad Al-Afif.
"Afwan, intadzorti thawilan (kamu sudah menunggu lama), ya?" sosok Mahmudah masuk ke ruang tamu.
"La ba'tsa (tidak apa-apa). A nadzhabu al-aan (apa kita pergi sekarang)?" Rabi'a mematikan ponselnya.
"Na`am (iya)"
Keduanya berpamitan pada Faishal, anggota keluarga lain sedang pergi setelah Subuh tadi. Kemudian, dua sahabat berbeda asal itu pun masuk ke mobil Rabi'a. Mereka akan pergi ke tempat janjian.
...\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=...
Matahari sudah tergelincir ke barat. Shalat Dzuhur berjama'ah sudah berakhir sejak tadi. Sebuah sedan hitam berhenti di restoran samping masjid, yang kembali buka setelah berakhirnya shalat jama'ah. Restoran yang unik, selalu tutup di empat waktu shalat (Subuh masih belum buka) karena para pegawai akan pergi shalat berjama'ah ke masjid di sampingnya.
"Fu'ady, jangan lupa bingkisan di bagasi!" Lina mengingatkan anaknya sebelum turun dari mobil.
"Baik, Mama." Fu'ad menoleh dan menganggukkan kepalanya.
"Assalamu'alaikum," salam Lina saat bertemu pegawai tempat pemesanan makanan
"Wa'alaikumussalam, Nona. Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?"
"Apakah ada ruangan kosong di lantai dua?"
"Ada, Nona. Ruangan 3C dan 6A. Nona ingin ruangan yang mana?"
"Baiklah, saya pilih ruangan enam saja. Tolong catat pesanan saya, ya," Lina kemudian memilih beberapa menu untuk makan siangnya.
"Oh ya, Pak Fajar ada di restoran sekarang?"
"Beliau masih belum datang dari masjid, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong sampaikan pada Pak Fajar untuk menemui kami saat sudah kembali dari masjid."
"Baik, Nona."
Lina berterima kasih lalu melanjutkan langkah, diikuti Moza dan Fu'ad. Ini salah satu restoran awal miliknya, tepatnya restoran yang dibangun oleh ayahnya, Budi Angga. Lokasinya tak begitu jauh dari tujuannya siang ini, rumah Syam. Sedangkan Pak Fajar adalah pengawas lapangan beberapa restorannya, termasuk restoran ini.
Lantai dua restoran adalah kawasan khusus yang bisa digunakan dengan biaya tambahan. Terdiri dari ruangan-ruangan kecil yang tertutup oleh tirai. Tiap ruangan tersedia satu paket meja dan kursi dengan kapasitas berbeda-beda. A untuk empat orang, B untuk enam orang, C untuk dua orang, dan D untuk lesehan.
Meski ada biaya tambahan, banyak yang menyukai model ruangan ini. Sering pula, beberapa pembeli tak mendapatkan ruangan karena penuh. Kebanyakan pengguna adalah wanita bercadar dan pasangan yang ingin suasana private. Tak jarang, sekelompok anak muda juga menggunakannya. Suasana private memang menjadi daya tarik tersendiri.
"Assalamu'alaikum," sapa seorang gadis saat Lina berjalan menuju ruang 6A.
"Wa'alaikumussalam," Lina menatap wajah gadis yang menyapa. Wajah yang tak begitu asing. "Masyaallah!" seru Lina beberapa saat kemudian, "Rabi'a, Mahmudah?!"
__ADS_1