My Love My Heart

My Love My Heart
Ke Indonesia


__ADS_3

"Bagaimana, Harika? Indah bukan?!" Syam tersenyum


Harika tertawa. Dipandanginya hamparan air di depan mata. Debur ombak membelah suasana. Beberapa perahu nelayan tertambat tak jauh dari tempat mereka.


"Ini sangat indah, Syam!" Harika menoleh. Seketika, dia tercenung.


Syam diam di tempatnya, memandang jauh ke laut. Pandangan itu! Harika sangat mengenalinya. Syam sedang menerawang, memikirkan hal lain.


"Syam," panggil Harika lembut.


Syam masih tak bergeming. Diam. Pandangannya tetap menerawang ke lautan lepas.


Harika menarik nafas panjang. Mengapa dia selalu kalah?! Apa bayangan itu? Syam tampak begitu memperhatikannya. Hingga lupa sedang bersama siapa dan di mana.


Harika memilih pergi. Berjalan menyusuri pantai sendiri. Kepedihan itu kian menyayat. Harika menangis tanpa air mata. Menjerit tanpa suara. Dan itu sangat menyakitkan.


"Allah, apa yang dipikirkan suamiku?! Hingga dia lupa ada aku di sini. Salahkah keputusanku untuk meminta pergi ke negara ini?!"


Mentari condong ke barat. Langit kian memerah dan indah. Angin senja membelai lembut jilbab Harika. Dia memandang jauh ke matahari. Tapi pikirannya lebih jauh, melewati batas ruang dan waktu.


Dulu, di hari-hari awal pernikahan, Harika tak pernah mempermasalahkan Syam yang sering menyendiri. Memikirkan sesuatu dalam diam. Harika tak begitu terganggu dengan Syam yang sering abai.


Tapi seiring waktu, Harika menyadari sesuatu. Syam tak pernah mencintainya. Apakah cinta namanya, bila tak cemburu saat istri masih menyimpan foto mendiang suami?! Bahkan, sering menatapnya di depan mata Syam.


Pantaskah disebut cinta? Sementara Syam tak pernah marah saat Harika sering pergi ke taman. Ke tempat pernikahan pertama. Tak pernah marah meski nama Murad sering disebut.


Adakah cinta untuknya?! Sedangkan Syam tak pernah menyatakan kata mesra di telinganya. Syam memang mencumbuinya. Tapi hanya sekedar menyentuh. Seakan ada yang mengusik hati Syam. Ada yang menghalanginya.


"Baiklah. Sepertinya semua ini karena aku belum bisa meninggalkan Murad. Mulai sekarang, kuserahkan hatiku untuknya," tekad Harika di awal tahun kedua pernikahan.


Sejak saat itu, tak ada lagi foto Murad. Tak lagi pergi ke taman, kecuali diajak Syam. Beberapa kali Syam -memang- mengajak istrinya berlibur ke taman.


Sejak saat itu juga, Harika sering memasak masakan Indonesia. Lebih terbiasa berbicara dalam bahasa Indonesia.


Hati dan perhatiannya hanya untuk Syam.Bahkan, Harika memutuskan untuk berhenti mengajar (Harika memang seorang guru). Memilih untuk selalu menemani Syam dan mengurus rumah.


Di awal tahun ke tiga pernikahan, semua duka bertambah. Esana meninggal dunia. Dua bulan setelahnya, Izzet menyusul. Mereka seakan tak pernah ingin saling berjauhan. Harika menangis tersedu saat melihat jenazah baba dan anne-nya untuk terakhir kali. Syam? Dia mendekap erat Harika. Membisikkan hiburan di telinganya, tanpa ada kata cinta dalam bisikan.


Harika tak mengerti semua. Syam memang selalu lembut padanya. Tak pernah membentak, apalagi berucap kasar. Selalu memberi apapun yang diinginkan Harika. Tak pernah menolak. Tapi perhatian?! Tak pernah ada untuknya.


Harika pernah sakit. Syam membawanya ke rumah sakit. Sering menemani dan membelikan sesuatu. Tapi tetap tak pernah meninggalkan kantor. Tak pernah membelai rambut atau menciumnya. Hanya membelai lembut tangan dan berucap,


"Semoga cepat sembuh, Harika."


Ingatan Harika melayang. Jauh ke belakang. Saat kepergian Murad. Pernikahan. Persahabatan mereka. Awal pertemuan. Semua hal.


"Nyonya," panggilan itu mengembalikan Harika dari nostalgia.


"Ya, Arif. Ada apa?" tanyanya tanpa menoleh.


"Tuan Syam menunggu Nyonya di penginapan."


"Baiklah. Saya akan ke sana. Terima kasih."


"Sama-sama."

__ADS_1


Arif segera berbalik. Harika masih di tempatnya. Memandang kembali ke air laut yang bewarna keemasan. Begitu indah.


"Arif. Hanya beberapa kali aku menatap matanya tanpa sengaja. Tapi, sorot matanya seperti kukenal. Dia seperti seseorang yang pernah dekat denganku. Tapi, siapa?! Kenapa aku harus lupa?!"


Harika menghela nafas panjang. "Andai saja topeng itu dibuka, mungkin aku akan mengenalinya. Ah, kasihan Arif. Kata Syam, dia mengalami kecelakaan hingga wajah dan suaranya rusak."


Seekor burung terbang rendah. Menyadarkan lamunan Harika. Segera, Harika melangkahkan kakinya. Meninggalkan bibir pantai yang menawan. Menuju penginapan yang dimaksud Arif.


Agak jauh darinya, Arif menghela nafas. Dia tak langsung kembali ke penginapan. Tapi memilih memperhatikan Harika. Hatinya selalu berdesir saat mendengar suara istri Syam tersebut. Jantung semakin berdetak keras melihatnya melangkah.


Semua itu. Semua tentang Harika, amat mirip dengan seseorang di masa lalunya. Mungkinkah mereka dua orang yang mirip? Atau satu orang yang sama? Ah, andai saja wajah itu tak ditutupi cadar. Semua akan lebih jelas.


"Syam," panggil Harika lembut.


"Oh, Harika. Kemarilah!" Syam menoleh.


Harika mendekat ke arah Syam. Berdiri bersisian di balkon yang menghadap langsung ke laut. Memandang mentari terbenam, panorama yang indah.


"Beberapa hari lagi kita akan pergi ke tempat lain. Menghabiskan waktu di tempat tinggalku yang dulu. Kau mau?"


Harika menoleh. Memandang Syam untuk mencari jawaban. Apakah Syam benar-benar mengajaknya? Untuk apa? Apakah dia mulai membuka hati? Ataukah malah ingin mengingat hal yang selama ini membayangiku?!


"Harika," Syam ikut menoleh.


Keduanya bertatapan. Mata lembut Harika, mata yang menyimpan sejuta pertanyaan. Memendam beribu duka. Juga menggambarkan hati yang telah mencintai sang suami. Dan mata indah milik Syam. Mata yang menyimpan cerita yang lain. Yang memiliki sejuta jawaban untuk pertanyaan Harika. Juga memendam ribuan rasa yang tak pernah dia fahami.


"Eh," Harika mengalihkan pandangan. Hatinya begitu perih mendapati mata yang memandangnya, tapi memikirkan hal lain. "Saya ikut saja, Syam."


Syam menoleh lagi ke arah laut. "Baiklah," jawabnya pendek. Ada nyeri di hatinya, melihat mata bening Harika yang penuh tanda tanya. Syam menyadari, istrinya menahan banyak hal. Tapi dia juga belun siap mendengar semua hal terpendam.


"Saya akan ke masjid terdekat bersama Arif. Kau shalatlah di kamar!"


"Baik, Syam. Hati-hati."


...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...


Maghrib di tempat lain. Maghrib yang damai. Lina melepas Fu'ad, untuk kembali bersama keluarga Ustadz Hadi. Lina faham, ada banyak hal yang harus dilakukan oleh putranya. Mengisi berbagai kajian, mendalami berbagai ilmu, berkumpul dengan para aktivis lain, dan banyak hal lain. Nanti, akan ada waktu tersendiri bagi Fu'ad untuk mempelajari bisnis yang dijalankan oleh Lina. Bagaimana pun, Fu'ad satu-satunya penerus Lina.


"Abla, mari masuk." Moza memanggil lembut.


"Ya, Mbak." Lina berbalik. Masuk ke dalam rumahnya. Mereka sudah kembali ke rumah di perumahan. Sudah pulang ke Jawa.


"Mbak, di mana Fathina?"


"Saya di sini, Nona."


"Apakah ada kabar tentang Syam?"


"Tuan Syam sudah berada di Indonesia. Beliau datang bersama istri dan Arif. Tapi belum ada kabar kapan beliau akan kembali mengunjungi tempat usaha beliau."


Lina menghela nafas berat. "Salah satu tempat pariwisata yang dikelola Syam, mengalami kemunduran. Resto dan penginapan kita ikut terdampak. Siapa yang mengurusi tempat itu? Apakah Syam sendiri, sedangkan dia berada di Turki bertahun-tahun lamanya?"


"Salah satu tangan kanan Tuan Syam yang mengurus dan terjun langsung ke lapangan. Namun semua kebijakan tetap dari Tuan Syam, Nona."


"Kita harus secepatnya bertemu Syam dan membicarakan semuanya. Saya lihat, hampir semua usahanya mengalami kemunduran."

__ADS_1


"Baik, Nona. Saya akan segera membuat janji pertemuan."


Lina memilih kembali ke kamar. Saat pergi selama ini, dia tetap mengawasi dan mengurus perusahaannya. Mungkin, hanya satu waktu dirinya tak mengurus perusahaan dan karyawan. Saat kehilangan Fu'ad.


Hufttt


Lina memilih kembali memeriksa beberapa laporan dan operasional usaha. Terutama yang berkaitan dengan rencana besarnya. Rencana untuk mendaftarkan saham perusahaan di bursa saham. Salah satu bagian rencana adalah dengan melebarkan sayap perusahaan ke luar negeri.


Ada beberapa negara yang menjadi pilihan. Tapi Lina memutuskan untuk fokus ke beberapa negara. Turki, Malaysia, dan Mesir menjadi tujuan bidang properti. Sedangkan Jerman, Skotlandia, dan Inggris menjadi tujuan bidang butik dan resto.


...\=\=\=\=\=~~\=\=\=\=\=...


"Lihat, Harika. Ini tempat tinggalku," Syam membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Masyaallah. Bagus sekali, Syam."


Syam tersenyum mendengar kekaguman Harika. Dengan lembut, tangannya menggandeng tangan Harika. Berdampingan, mereka berjalan menuju pintu utama. Beberapa pelayan sudah menanti di sana.


"Merhaba, Nyonya Harika," sambut mereka bersamaan.


Harika lagi-lagi terpesona, lantas menatap Syam. Bertanya melalui mata indahnya.


"Jangan kaget, Harika. Ini kejutan pertama untukmu. Akan ada kejutan lain yang menanti."


"Benarkah?!"


Syam mengangguk, lantas kembali berjalan. Dengan tangan yang masih bergandengan dengan Harika. Melewati beberapa ruangan yang mewah. Lantas berhenti di halaman belakang.


Harika terpekik kagum, namun segera ditahannya. Halaman belakang telah disulap menjadi taman mini bernuansa Turki. Berbagai jenis tulip yang merekah menghiasi taman. Dua kursi, dua meja, gelas, piring, dan beberapa pernik khas Turki. Di atas meja, ada miniatur Haghia Sophia dan Blue Mosque yang berdampingan.


"Ayo, Harika," Syam mengajak ke arah meja.


"Kita menuju kejutan berikutnya."


Di ujung kalimat Syam, beberapa pelayan keluar. Mereka berpakaian khas Turki Utsmani (Ottoman). Membawa nampan-nampan makanan dan minuman. Dari makanan berat hingga camilan, yang semuanya makanan khas Turki! Setelah meletakkannya di atas meja panjang, mereka kembali masuk ke rumah.


Harika melihat semua sajian. Pide, Baklava, simit, sarma, kebab, kofte, souvlaki, sujuk, dondurma, berbagai jenis lokum, ayran, cay, salgam, sherbet, raki, dan limonata.


"Syam?!" Hiraka menatap heran ke arah Syam.


"Karena saat di Turki kita sering makan makanan Indonesia, sekarang kebalikannya. Di Indonesia, kita makan makanan khas Turki."


Syam berdiri dan mengambil segelas sherbet. Lantas berpindah ke depan Harika. Tanpa diduga, Syam duduk bertumpukan lutut, dan menyerahkan sherbet di tangannya.


"Syam?!" Harika menggelengkan kepala. Dia heran sekaligus kaget.


"Harika, maafkan saya. Saya sadar, selama ini tak pernah bisa memperhatikanmu. Selama ini, saya terlalu sering menyakitimu. Kali ini, bolehkah saya mendapat maafmu?"


Syam menundukkan wajahnya, "Mungkin saya sudah sangat terlambat untuk memperbaiki semua. Maukah kau menerimaku kembali? Saya berjanji akan berubah. Saya akan memperhatikanmu. Saya akan...." tersendat.


Harika mengusap matanya. Dia faham semua kata-kata Syam. Hari-hari penuh luka akan berakhir. Dia menang. Ya! Menang dari bayangan yang sampai sekarang tak pernah diketahuinya.


"Bangun, Syam." Harika ikut turun dari kursi, "tak ada kata terlambat untuk memperbaiki semua."


Di balkon lantai dua, seseorang juga mengusap mata. Dia ikut bahagia dengan perubahan Syam. Bahkan, sangat bahagia. Perlahan, kakinya melangkah ke dalam rumah.

__ADS_1


Sayangnya, Harika salah. Semua tak berakhir hari ini. Bahkan, kisahnya dengan Syam baru dimulai.


__ADS_2