My Love My Heart

My Love My Heart
Harika dan Syam


__ADS_3

Harika menatap foto berpigura di tangannya. Foto dua orang yang sangat dia cintai. Izzet dan Esana, Baba dan Anne-nya.


"Baba, Anne. Hari ini Harika sangat bahagia. Syam mengajak ke Indonesia, rumahnya. Semoga, hati Syam bisa terbuka untuk Harika."


Baba\=ayah. Anne\=ibu.


Harika memeluk foto, lantas berbaring di kamarnya. Kamar yang didominasi warna hijau segar. Warna favoritnya, warna yang selalu bisa menenangkan hatinya selama ini.


Satu wajah tergambar di langit-langit kamar. Wajah yang tak kan pernah bisa dia lupa. Seseorang yang membawa pergi kebahagiaan besarnya.


Kenangan Harika melayang. Mengingat hari kebahagiaan itu. Sekaligus pertemuan pertama dengan Syam, suaminya kini.


...\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=...


Sepuluh tahun silam...


Ratusan, bahkan ribuan kuntum bunga tulip yang sedang merekah, membentang indah. Berbaris rapi memanjakan mata. Bergoyang lembut saat angin sepoi menerpa. Inilah tempat yang indah dan paling disukai oleh Harika.


Tak jauh dari hamparan tulip, debur ombak terdengar. Taman ini memang tak jauh dari pantai. Perpaduan yang sangat menarik, bebunga warna-warni dengan ombak membiru.


Namun, sebuah prosesi menarik perhatian pengunjung taman. Prosesi sakral di sebuah paviliun bewarna merah muda. Prosesi pernikahan, penyatuan dua manusia dalam ikatan yang suci.


Harika mengusap sudut matanya, lantas kembali menatap ke balik tirai. Meski beberapa tetes air mata mengalir, itu bukan air mata kesedihan. Busana putih membalut tubuhnya. Hiasan sederhana dari bebunga menghias jilbab putih panjangnya. Kecantikan wajahnya tersembunyi di balik cadar putihnya.


"Selamat, Harika sayang," Esana memeluk putri kesayangannya.


Harika memeluk tubuh perempuan yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang.


"Harika, suamimu datang."


Haruka melepas pelukan. Dari balik tirai, dilihatnya seorang pria dewasa mendekat. Pria bermata indah dengan senyuman yang tak kan pernah dia lupakan.


"Baiklah, Anne tinggal, ya..." Esana mencium ubun-ubun Harika. Lantas pindah ke balik tirai lain.


"Assalamu'alaikum," tirai pengantin perempuan tersibak sedikit. Satu orang masuk, tirai kembali menutup rapat.


"Wa'alaikumussalam," Harika masih menunduk.


"Hei, aku sudah di sini, Harika. Pandanglah aku,"


Harika mengangkat pandangan, "Bey Murad,"


"Sssttttt" Murad meletakkan jari di depan bibir. "Bukan Bey. Koca (suami), ingat?!"


Harika tersenyum di balik cadarnya, "Koca."


Murad tersenyum lebar. Tangannya membelai lembut kepala Harika yang sempurna tertutup jilbab. Membuat jantung Harika berdetak semakin keras. Murad mendekatkan kepalanya, lantas berbisik lembut di telinga kanan Harika


"I love you. Now and forever,"


Harika sempurna membeku. Kata-kata romantis yang selalu dia tunggu. Selalu dia impikan agar terucap dari bibir pendamping hidupnya. Dan kini, benar-benat terjadi. Kalimat itu terlontar dari Murad. Suaminya. Pendamping hidupnya. Sekaligus orang yang selalu melindunginya selama ini. Orang yang berkali-kali menyelamatkan hidupnya.


"Harika," Murad mengusap wajah Harika.

__ADS_1


"And I love you too. Now, tomorrow, and forever."


Kecupan lembut dihadiahkan Murad ke kepala Harika. Sebelum dirinya keluar dari tirai pengantin perempuan. Kembali ke area para tamu laki-laki.


Itu hari terindah yang pernah dilalui Harika. Setidaknya, di awal hari. Karena sore hari, semua berubah. Dan semua, karena lelaki yang bernama Syam.


"Hati-hati, Murad. Jaga Harika baik-baik ya," pesan ibunda Murad.


"Benar! Jangan sampai dia menangis. Apalagi sampai terluka!" imbuh kakak perempuan Murad.


"It's oke. I always do it." Murad mengangguk pasti.


"Jika Murad berbuat yang tidak baik, segera kabari ya, Haruka. Kami pasti akan menghukumnya!" ibunda Murad memeluk Harika.


Harika tertawa penuh kebahagiaan. Keluarga barunya benar-benar menyanyanginya. Setelah selesai berpamitan, Murad dan Harika keluar dari paviliun. Mereka akan pergi ke hotel, tanpa keluarga sama sekali. Mobil sedan sudah menunggu di depan taman. Kali ini, Murad sendiri yang mengemudi. Harika akan berada di sampingnya.


"Tesyekkur ederim, Murad." Harika berucap lembut saat mobil mulai berjalan. Meninggalkan area taman yang menjadi saksi kebahagiaan mereka.


"Tak perlu berterima kasih, Harika. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Melintasi jalan yang tak terlalu ramai. Kawasan rumah penduduk, ada banyak toko di samping jalan. Tiba-tiba, sebuah mobil dari arah berlawanan kehilangan keseimbangan. Meluncur cepat ke arah mobil Murad dan Harika.


"Murad! Awas!!" Harika histeris.


Murad segera membanting setir. Menghindari tabrakan. Berhasil memang. Namun, dia kehilangan kendali atas mobilnya. Mobil melaju tanpa bisa dikendalikan Murad. Murad sempat mengerem, tapi semua sudah terlambat.


Brakkkkk


Saat mobil menabrak pohon, Murad segera merengkuh kepala Harika. Kepala dan punggungnya menjadi tameng kepala sang istri. Dia tetap sama seperti sebelumnya, pelindung nyawa Harika.


"Harika..." desis Murad pelan sesaat setelah mobil berhenti, dengan posisi terbalik.


"Murad, aku takut," lirih Haruka sambil menahan semua nyeri di bagian tubuh bagian bawah.


Riuh terdengar dari luar mobil. Para warga mulai mendekat. Sebagian berlari. Ada pula yang segera menghubungi polisi. Ambulance. Siapa pun yang bisa membantu. Beberapa orang menghampiri mobil yang hampir menabrak tadi.


"Jangan takut, Harika. Selama aku di sisimu..." Murad mengambil nafas. Seluruh tubuhnya terasa sakit.


"Mereka masih hidup!" seru seseorang yang mengintip ke dalam mobil.


Murad tak menghiraukan panggilan orang-orang di luar mobil. "Aku akan selalu melindungimu. Aku akan selalu menjaga senyummu..."


Sunyi di dalam mobil. Harika telah kehilangan kesadaran. Murad memaksa tubuhnya, mencium kepala istrinya. Lantas terkulai lemah. Sementara di luar mobil, semua sedang berusaha membuka paksa pintu. Asap tipis mulai muncul dari mobil.


Lima hari Harika harus terbaring tak sadarkan diri. Di hari ke enam, dirinya sadar. Keadaannya membaik dengan cepat. Sedangkan Murad, tak juga sadar meski Harika sudah bisa meninggalkan kamarnya. Meski Harika selalu menjenguknya. Membisikkan berbagai kalimat indah untuknya. Di hari ke empat belas semenjak Harika rutin mengunjungi, Murad sadar.


Namun, itulah hari terakhir Murad. Setelah mengucap beberapa kata terakhir, Murad pergi. Meninggalkan semua orang yang dicintainya. Juga orang-orang yang mencintainya. Membawa kebahagiaan besar Harika.


Sayangnya, bukan hanya itu. Ada kabar lain yang tak kalah menyedihkan. Harika kehilangan benda yang sangat berharga miliknya. Rahim. Kecelakaan itu membuat rahim Harika terluka parah dan harus diangkat. Tak ada pilihan lain.


Adalah Syam. Pria itu-lah yang berada di balik kemudi mobil yang hampir menabrak mobil Murad. Dia memang bertanggung jawab. Membawa Harika dan Murad ke rumah sakit. Menanggung semua biaya pengobatan dan pemakaman. Hanya saja, dia takkan bisa memperbaiki satu hal.


Rahim Harika dan kebahagiaannya.

__ADS_1


"Apapun yang kamu lakukan, kamu takkan bisa mengembalikan rahimku. Harta paling berharga seorang wanita!"


Kata-kata tajam Harika selalu membayang di benak Syam. Harika benar, apa yang bisa dia lakukan untuk hal itu? Dia telah merusak harapan seorang perempuan. Berbulan-bulan setelah meninggalnya Murad, Syam hanya bisa mengirimi berbagai bantuan. Namun, Harika selalu mengucapkan kata-kata pedas itu.


"Satu-satunya cara paling baik untuk menebus kesalahan itu, kembalikan harapan yang bisa kau kembalikan." Ucapan ipar Murad kembali terbayang.


"Kembalikan kedudukannya sebagai istri yang dicintai. Harika selalu khawatir, tak ada yang mau menerima seorang wanita tanpa rahim seperti dirinya."


Maka, setahun lebih setelah kecelakaan, Syam melamar Harika. Dia kuburkan keinginannya untuk bersanding dengan Lina. Apa lagi, Lina tak pernah menunjukkan tanda bahwa dia berkenan membangun rumah tangga.


Meski Arif berulang kali menanyakan kesungguhan Syam. Berkali-kali mengingatkan, istri adalah bagian dari diri sendiri. Selalu meminta agar Syam mengetahui benar maksud dan alasan pilihannya kini.


Keluarga Harika menyambut dengan baik. Keluarga Murad ikut mendukung Syam. Mereka menyakinkan Harika, Syam adalah pemuda yang sangat pantas menjadi pengganti Murad. Karena melihat persetujuan dua keluarga, Harika menerima. Pernikahan berlangsung sederhana. Sesuai keinginan Harika.


Namun, itulah awal semua kepedihan baru bagi Harika. Di awal pernikahan, semua berjalan baik-baik saja. Namun, semua berbeda seiring berjalannya waktu. Harika menyadari, Syam hanya menikahi karena kasihan dan rasa bersalah. Tanpa cinta. Tanpa kasih dan sayang.


Harika tak pernah ingin Izzet dan Esana mengetahui masalahnya. Cukuplah mereka mengetahui, putri mereka bahagia. Apalagi, Esana sering sakit-sakitan karena usia yang tak lagi muda. Hingga kedua orang tuanya meninggal dua tahun setelah pernikahan, Harika tak pernah bercerita.


Syam memang memperlakukannya dengan baik. Dengan lembut. Tapi, hanya sebatas itu. Harika tahu, Syam tak memperhatikannya. Seakan ada yang mengisi perhatian Syam.


Apa itu?


Harika pun tak mengerti. Yang dia tahu, Syam semakin menjauh. Semakin memberi jarak. Meski tetap lembut. Meski tetap baik. Meski tak pernah kasar. Tak pernah membentak.


Ada saingan untuk Harika. Saingan untuk memperebutkan perhatian Syam. Memperebutkan hati dan cinta sang suami. Meski tak jelas, dengan apa atau siapa Harika bersaing. Bagai bersaing dengan bayangan. Ya. Bayangan.


Walau hanya bayangan, nyatanya Harika belum juga menang. Syam masih tak sempurna memperhatikannya. Padahal, Harika sudah berusaha. Membuang semua kenangan tentang Murad. Mempelajari semua kesukaan Syam. Belajar memasak makanan khas Indonesia. Berdandan sebaik mungkin. Dan, menyerahkan cinta dan hati untuk Syam....


Apa atau siapa sebenarnya bayangan itu?! Kenapa dirinya selalu kalah?!


...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...


"Kau senang, Mahmudah?" bisik Rabi'a.


Mahmudah memukul pelan lengan sahabatnya. Mereka sedang mengikuti langkah keluarga Fu'ad. Berjalan-jalan di sekitar desa. Menikmati pemandangan alam yang masih asri.


"Ummah! Lihat!" Alfi berteriak sambil menunjuk ke satu arah.


Aisy tersenyum melihat kebahagiaan di mata putri bungsunya. Dia baru saja menunjuk segerombolan kupu-kupu yang terbang rendah. Cukup dekat dari tempat mereka sekarang.


"Abla, Tuan Syam baru saja menghubungi. Beliau akan ke Indonesia," ucap Moza lirih.


"Syam?! Akhirnya dia kembali ke sini. Sudah bertahun-tahun hanya tinggal di Turki," Lina tersenyum. "Apakah istrinya akan ikut?"


Moza menggeleng, "Saya belum mengetahui, Abla."


Lina hanya menganguk. Meski dalam hati, berharap bisa bertemu istri kawannya. Dulu, Syam tak sempat mengundangnya. Lalu selama ini, Lina tak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dengan istri Syam.


"Pasti istrinya begitu bahagia, mempunyai suami seperti Syam," benak Lina.


\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=


Terima kasih untuk semua yang telah menyimak dan membaca :)

__ADS_1


__ADS_2