
Arif menahan nafas sebentar, "Baiklah, saya akan menemui mereka di ruangan khusus tamu. Tolong antarkan mereka."
"Baik, Tuan."
Arif beberapa kali menarik nafas. Begitu berat kakinya untuk melangkah. Dia takut sekaligus khawatir dengan berbagai kemungkinan. Dia pengecut. Ya! Dirinya pun mengakui. Tak ada keberanian untuk membuka jati dirinya di depan Lina.
Keringat mengalir meski AC ruangan menyala. Hati yang gelisah dan kekhawatiran yang memuncak membuat Arif tak nyaman. Nafasnya memburu, mencoba mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
"Rabby, mungkin sekarang lah saatnya semua kisah itu tersampaikan. Mungkin, inilah waktunya dia mengetahui semuanya. Rabby, bisakah aku menjelaskan semua masa lalu padanya?!"
Setelah berusaha menguatkan hati, Arif akhirnya beranjak. Ruangan khusus tamu berada di bawah ruangan Syam tempatnya berada. Dia harus menggunakan lift khusus untuk Syam dan orang-orang penting.
Sringgg. Pintu lift terbuka sebelum Arif sampai.
"Tuan Syam?" Arif mengerutkan dahinya. Ada kelegaan di hatinya melihat tuannya ada di kantor.
Syam melambaikan tangan dan mendekat, "Mau ke mana, Arif? Bukankah Lina kemari?"
"Benar, Tuan. Namun saya meminta resepsionis mengantar Nona ke ruangan khusus tamu. Saya tak berani mengizinkan seseorang masuk ke lantai ini tanpa izin Tuan."
"Oh, baiklah. Saya akan ke sana. Tadi, Moza mengirim pesan bahwa dia dan Lina akan kemari. Saat itu, saya dan Harika sudah menyelesaikan urusan kami. Dia meminta saya segera menemui mereka." Tanpa diminta, Syam menjelaskan kedatangannya di kantor saat ini. "Kamu akan ikut, Arif?"
"Mungkin, lebih baik Tuan sendiri yang menemui mereka. Saya akan menyelesaikan beberapa pekerjaan."
"Oke," dahi Syam mengerut. Tangannya menyentuh lengan Arif, "Arif, are you oke? Kamu berkeringat, padahal suhu udara tak panas."
Arif menggeleng pelan, "Tidak apa-apa, Tuan. Jangan khawatir."
"Ya sudah, jangan sampai kelelahan, Arif. Kalau merasa tak enak badan, segera istirahat. Jangan memaksa diri sendiri."
"Baik, Tuan."
Setelah mengambil berkas, Syam pergi menuju lift. Meninggalkan Arif yang langsung menarik nafas lega. Dia kembali bisa menghindari pertemuan dengan Lina.
Di ruangan Syam, Arif kembali menatap foto Lina. Perasaan bersalah kembali hinggap. Tak hanya pengecut, dia bahkan pembual dan pembohong. Entah sudah berapa tahun dirinya bersembunyi dalam topeng ini. Berbohong dengan memakai identitas palsu.
Ya. Inilah rahasia besar seorang Arif. Nama dan identitas seorang Arif hanyalah topeng setelah kecelakaan di masa lalu. Sengaja? Entahlah, yang pasti adalah semua identitas itu karena keterpaksaan. Semua kondisi setelah kecelakaan yang dialaminya membuat dirinya harus berada di balik topeng seorang Arif.
Siapa dia sebenarnya? Akan ada saat untuk mengetahuinya. Waktu akan membuka tabirnya. Kalau pun tak terbuka, bukankah itulah kehidupan?! Kata-kata bijak itu benar; dalam kehidupan ini selalu ada hal-hal yang tak kita ketahui. Selalu ada rahasia di hidup dan dunia ini.
Kling
Suara notifikasi terdengar dari handphone Arif di atas meja. Pesan dari putra sulungnya. Berisi foto-foto semua anak-anak Arif. Mereka kini dalam perjalanan menuju makam sang ibu yang berada di pinggiran kota. Senyuman bahagia terlukis di bibir Arif saat melihat wajah mereka.
Mereka memiliki nama panggilan sayang dalam lingkup keluarga. Putra sulungnya dengan panggilan "Prince" alias sang pangeran. Anak keduanya dipanggil "Princess" alias sang putri. Putra ketiganya memiliki panggilan "Hero" atau sang pahlawan. Sedangkan si bungsu dipanggil "Angel" atau sang malaikat. Sementara dirinya dan istrinya dipanggil "King" dan "Queen".
Putra sulung dan putri kedua adalah kembar identik dengan wajah mirip almarhumah sang ibu. Hanya rambut yang mirip dengan Arif. Putra ketiga memiliki wajah yang sangat mirip dengan Arif, seperti foto kopi-an ayahnya. Tentu saja dengan perbandingan wajah sebelum kecelakaan. Sedangkan si bungsu memiliki perpaduan kedua orang tua yang membuatnya sangat cantik dan imut. Hanya saja, dia kidal meski sudah cukup mahir untuk melakukan beberapa pekerjaan dengan tangan kanan.
"Nak, apakah kalian bisa menerima ayah kalian yang sangat pengecut ini? Bisakah kalian memaafkan kebohongan besar yang sudah ayah lakukan selama ini?" Arif menarik nafas.
Kakinya melangkah menuju jendela kaca di arah samping meja kerja. Dinding bagian ini memang terbuat dari kaca, layaknya gedung bertingkat lainnya. Tiga kotak kaca bisa dibuka, menjadi jendela besar. Pemandangan kota yang sibuk langsung terhampar. Sepetak tanah asri di antara bangunan kota terlihat jelas dari jendela kantor Syam. Menjadi penyegar mata dan tubuh saat penat oleh pekerjaan.
Hanya sejenak Arif memandang keluar kantor. Dirinya memilih melanjutkan pekerjaan. Tanah asri itu selalu mampu membangkitkan ingatan tentang Lina. Ibu kandung Fu'ad memang menyukai sesuatu yang asri.
__ADS_1
"Rabby, bantu hamba-Mu ini. Kuatkan hamba-Mu yang lemah ini," desis Arif sebelum melanjutkan pekerjaan.
Di lantai bawahnya, Syam juga sedang menata hati. Tak beda seperti perjumpaan pertama dengan Lina sepulang dari Turki, kali ini pun hatinya dipenuhi berbagai emosi dan perasaan. Wajah dan suara perempuan itu selalu tak bisa dia lupakan. Ada desir aneh yang dirasakannya.
Benarkah ini perasaan hatinya? Atau hanya ilusi belaka? Yang pasti, ada kenyamanan yang dirasakan bila mendengar suaranya. Ada kebahagiaan yang menyusup lembut saat senyumnya tertangkap netra. Apakah perasaan di masa lalu belum bisa hilang? Dia belum move on dari cinta pertama. Atau ini hanya dampak dari perjuangannya untuk menerima Harika sebagai istri? Sebagai cinta dan pengisi hatinya? Syam tak bisa memahaminya...
Setelah urusan selesai, Lina dan Moza berpamitan. Tak lupa menyampaikan pesan bahwa mereka akan berkunjung ke rumah Syam esok hari. Bertemu dan berkenalan dengan Nyonya Syam, Harika Gül.
Syam mengantarkan kedua tamunya hingga halaman gedung. Begitu mobil Lina melewati gerbang, dirinya kembali ke dalam. Selagi di kantor, lebih baik menyelesaikan beberapa pekerjaan.
"Assalamu'alaikum," Syam mengucap salam sambil membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam." Arif tersenyum, tangannya masih menggenggam handphone.
"Ada pekerjaan yang harus diselesaikan sekarang, Arif?"
"Tidak ada, Tuan. Tak ada pekerjaan yang mendesak." Arif menggerakkan ponsel, lalu menatap tuannya.
"Ada apa, Arif? Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Syam sambil duduk di sofa.
"Iya, Tuan. Saya meminta izin untuk menemui anak-anak saya. Mereka sudah kembali ke Indonesia."
"Oh ya? Kapan mereka sampai?"
"Pagi ini, Tuan. Mereka sekarang berada di makam almarhumah Aliyye. Saya ingin bertemu mereka."
"Silahkan, Arif. Tentu dirimu sudah kangen dengan mereka. Sampaikan salamku untuk mereka. Maaf, tak bisa menemui mereka sekarang karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Perusahaan Lina baru saja memberikan beberapa berkas yang harus diperiksa."
"Baik, Tuan. Saya permisi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Lina, kau masih menyukai bunga itu. Favoritmu tak pernah berubah," batin Arif sambil tersenyum. Matanya kembali menatap jalanan. Tiba-tiba Arif memikirkan sesuatu yang lain.
"Eh, apakah mungkin favorit Harika juga tetap sama seperti sebelum dia kehilangan memori? Bukankah perasaan dan sifat tetap tak berubah? Juga kebiasaan yang ada sejak kecil? Jika benar, seharusnya Harika tetap suka bunga tulip dan sedap malam."
Setelah hampir lima belas menit berkendara, taksi berhenti di depan kawasan makam. Saat matahari sudah mulai mendekati peraduan. Waktu yang sama dengan saat kepergian Aliyye, istri Arif.
"Ayah!"
Panggilan dari arah samping membuat Arif menoleh. Seulas senyum terukir di wajahnya, disusul kaki yang melangkah. Di bawah pohon kamboja yang kokoh, empat buah hatinya sudah menunggu.
"Assalamu'alaikum," salam Arif saat sampai di depan mereka.
"Wa'alaikumussalam," serentak empat bersaudara menjawab.
"Ayah. I so miss you," sang putri bungsu memeluk tubuh ayahnya.
"I am too, My Angel." Arif melonggarkan pelukan, "Ya sudah, sekarang pulang ya. Sudah hampir malam."
Mereka mengangguk, dan bersama-sama masuk ke satu mobil. Si sulung yang mengendarai. Di sampingnya, duduk kembarannya si Princess. Sedangkan si Hero dan Angel mengapit Arif di belakang.
Mobil langsung melaju ke arah perkampungan, tempat tinggal Arif yang sebenarnya. Tentu saja Arif memiliki rumah sendiri meski lebih sering menghabiskan waktu di rumah Syam. Hanya beberapa kali dirinya pulang untuk mengontrol rumah. Sisanya? Urusan rumah sudah diserahkan pada kepala pelayan yang terpercaya.
__ADS_1
"Ayah, maukah Ayah bercerita tentang Bunda lagi?" Si bungsu memeluk lengan ayahnya.
"Oke, My Angel. Listen to me..." Arif menghembuskan nafas. Mengingat lembaran hidupnya bersama Aliyye.
...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...
Arif dulu tinggal di kota seperti sekarang. Namun, kecelakaan yang merusak wajahnya juga mengubah kehidupannya. Dengan wajah yang sangat buruk, dia memutuskan untuk tinggal di sebuah desa terpencil dan terpelosok. Wajah yang rusak hanya bisa ditutupi dengan topeng.
Kehidupannya tenang dan nyaman meski jauh dari kota. Juga dari kehidupannya sebelumnya. Terutama, jauh dari Lina. Ada keuntungan bagi Arif dengan kondisi desa yang sangat terpelosok dan terpencil. Identitas aslinya tak terbongkar karena penduduk desa itu pun belum memiliki identitas. Kesadaran para penduduk terhadap pentingnya identitas memang sangat rendah. Di samping penyuluhan dan sosialisasi yang sangat minim.
Bagaimanapun, keadaan mulai berubah. Perlahan, mereka mau membuat identitas diri. Apalagi, pemerintah akhirnya memperhatikan dengan seksama hal tersebut. Maka, Arif pun membuat identitas ~lagi. Dan memakai nama Arif Hassan.
Dalam proses pembuatan identitas itulah, terjadi pertemuan pertama antara Arif dan Aliyye. Aliyye adalah salah satu relawan yang membantu para petugas pemerintahan. Dia seorang mahasiswi sebuah peguruan tinggi yang pandai dan rendah hati. Seringnya bertemu dan komunikasi membuat benih cinta tumbuh di antara mereka.
"Aliyye, kudengar, kau akan kembali ke kota?" tanya Arif sore itu, di bawah langit senja yang indah.
"Iya, masa liburanku sudah selesai. Aku harus segera kembali ke kota. Padahal, aku masih ingin di sini."
Arif dan Aliyye diam. Menatap mentari yang semakin turun. Senja semakin remang. Sebentar lagi akan petang.
"Kau tak ingin ke kota, Arif? Kau bisa bekerja dan hidup di sana."
"Apa aku bisa tinggal di kota? Sementara aku sendiri orang desa dengan wajah yang sangat buruk."
"Tentu bisa. Kau pernah berkata, tak ada yang mustahil di dunia ini. Lagi pula, aku akan membantumu."
"Bagaimana dengan orang tuamu?"
"Aku sangat mengenal mereka. Aku yakin, mereka akan membantu dengan senang hati."
Lima hari kemudian, Aliyye pulang ke kota. Kali ini dia tak sendirian. Ada Arif bersamanya, lelaki buruk rupa dengan hati yang tampan.
...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...
"Ayah tinggal dan bekerja di rumah Kakek Nenek kalian. Mereka sangat baik, menganggap Ayah sebagai anak dan tak pernah mencela wajah buruk. Dua tahun kemudian, kami menikah."
"Dan kemudian, kami lahir!" sambung Si Princess dari depan. Membuat semuanya tertawa.
"Ayah, bagaimana sih wajah Ayah sebenarnya?" Si Angel bertanya lagi.
"Hahaha. Kenapa, My Angel? Kamu sepertinya sangat penasaran?!"
"Ayolah, Ayah..." Si Angel menggoncang pundak ayahnya.
"Apakah menurutmu, Kakakmu Our Hero ini tampan?"
"Tentu saja! Mana mungkin jelek..." Si Hero yang pertama kali menyahut.
Arif dan ketiga saudaranya tertawa. "Sudahlah," Arif mengusap kepala Si Angel, "wajah asli Ayah seperti kakakmu itu."
"Benarkah? Wah, Ayah berarti sangat tampan dong... Seperti wajah ini."
Semua tertawa lagi. Memang, selama ini Arif tak pernah bercerita tentang wajah aslinya. Selalu mengatakan "Semua wajah itu cantik dan tampan."
__ADS_1
"Ayah, kita mampir di masjid ya. Sebentar lagi Maghrib," usul Si Prince yang langsung disetujui.
Mobil mereka menuju ke sebuah masjid yang lumayan besar. Saat masuk, dari arah berlawanan masuk juga sebuah mobil. Mobil Arif memilih mundur, membiarkan mobil itu masuk terlebih dahulu. Saat keduanya sudah parkir, mata Arif terbelalak. Sosok yang turun itu....