
Rembulan bersinar. Malam yang indah. Fu'ad menatap langit di teras depan. Sudah dua minggu dirinya berada di rumah ini lagi, rumah mamanya. Selama itu pula, Moza tinggal di apartemen Lina. Dia sering menemani Lina dan Fu'ad untuk menjenguk beberapa karyawan atau keluarga mereka yang sakit. Selain itu, Dia dan Fathina selalu menemani Lina dan Fu'ad saat mengunjungi semua tempat usaha Lina. Fu'ad memang harus belajar banyak hal tentang perusahaan.
Semua perusahaan memang milik Lina. Namun, pengelolaan perusahaan tak bermuara pada Lina saja. Ada empat orang yang menjadi penggerak perusahaan. Lina sendiri, Moza, Fathina, dan Alam (suami Fathina).
Lina sang pemilik, tentunya semua mengerti posisinya. Moza adalah orang yang selalu memperhatikan para karyawan tanpa kecuali. Termasuk satpam di kantor atau juru parkir di restoran.
Fathina dan Alam menjadi orang sangat penting di perusahaan. Banyak rencana dan keputusan mereka yang memajukan perusahaan. Mereka yang dikenal oleh dunia luar sebagai pimpinan perusahaan. Bahkan oleh lawan dan sebagian besar klien.
Sifat Lina sangat mirip dengan Moza. Lembut, perhatian, dan teliti. Karena itulah, mereka sangat dihormati dan disayangi karyawan. Sementara Fathina dan Alam adalah sosok yang sangat tegas, teliti, dan lumayan dingin saat berhadapan dengan urusan perusahaan.
Sifat mereka semua mampu saling melengkapi dan membantu. Sikap tegas dan dingin sangat dibutuhkan oleh seorang leader. Sedangkan lembut dan perhatian juga sangat berguna untuk seseorang yang memiliki tanggungan orang lain.
"Kamu harus menjadi sosok seperti Paman Alam dan Tante Fathina saat mengelola perusahaan. Karena kedekatan dengan para karyawan sering menjadi titik kelemahan yang akan dimanfaatkan oleh lawan. Mereka bisa menyerang kita dengan menargetkan para karyawan. Juga bisa mengurangi rasa hormat karyawan pada kita. Itu akan membuat mereka meremehkan pekerjaan dan perintah kita.
Namun, jangan terlalu dingin hingga tak mengetahui setiap detail para karyawan. Karena hal itu membuat peluang besar bagi pengkhianat. Pengkhianatan bukan sekedar menyelewengkan dana perusahaan atau korupsi. Yang tak bisa dianggap remeh adalah, seorang karyawan bisa membocorkan informasi pada lawan. Jangan sangka mereka adalah karyawan yang memiliki kedudukan. Seorang office boy, atau satpam pun memiliki potensi yang sama." Kata-kata Mama kembali terngiang.
Sulit memang, menjadi seorang bos. Apalagi, tugasnya sebagai seorang da'i tak bisa dikesampingkan. Dia harus menjadi seorang da'i dan bos dalam satu waktu.
"Bunayya, sesungguhnya sifat terbaik untuk seorang bos sudah diajarkan dalam Islam. Karena seorang bos memiliki persamaan dengan da'i. Mereka sama-sama memimpin banyak orang, namun dalam konsep yang berbeda." Nasehat Buya kembali diingat.
"Wah, adek Kakak bakal jadi bos besar nih. Asyik dong..." canda Hanin dan Ridlwan juga tak bisa dilupakan.
Fu'ad menghela nafas berat. Tangannya mengusap wajah. Teringat semua kejadian yang dia alami. Potongan masa kecil yang penuh dengan siraman ilmu. Masa-masa penuh kenangan di pesantren. Saat-saat mengisi berbagai kajian. Pertemuan dengan Mama dan orang-orang hebat di sekitar Mama. Kisah-kisah dari Hala Moza. Dan, bertemu gadis ayu itu lagi di desa tempat Mama berada.
"Fu'ady," suara lembut terdengar dari belakang tubuhnya.
"Mama," Fu'ad tersenyum setelah menoleh.
"Kenapa masih di luar? Ini sudah malam. Jangan lupa, besok ada janjian yang harus kamu tepati."
"Ah, iya. Fu'ad lupa, Mama!" Fu'ad menepuk dahinya.
Besok dia harus pergi ke pesantren tempatnya belajar dulu. Menghadiri undangan resepsi pernikahan salah satu putra pimpinan pesantren.
"Fu'ady, bagaimana sih kehidupan di pesantrenmu? Kamu punya kenangan apa saja?"
Fu'ad menggaruk kepala. Bingung. "Eh, gimana ya Ma. Yang pasti, sangat berkesan dan membuat Fu'ad sering kangen. Kalau kenangan, ada banyak sih yang bisa Fu'ad kenang."
Lina duduk di samping Fu'ad. "Coba, Fu'ad cerita ke Mama. Mama pengen dengar tentang pesantrenmu."
"Eh, baik, Ma."
Maka, bergulirlah kisah-kisah kehidupan Fu'ad saat di pesantren. Kadang tentang kegiatan para santri, kawan-kawan Fu'ad, hukuman, pelajaran, kekonyolan, hingga lauk pauk di pesantren.
"Di pesantrenmu, santri dan santriwati dipisah, bukan?! Lalu, pernahkah saling bertemu di pesantren?"
Fu'ad mengangguk, "Di beberapa keadaan saja, Mama. Tapi itu sangat jarang dan terbatas."
"Ehm, kau punya kenangan tentang salah satu santriwati? Atau, adakah santriwati yang mengambil perhatianmu?"
__ADS_1
"Mama! Apaan sih!" Fu'ad membuang muka. Eh, tepatnya menyembunyikan wajahnya dari tatapan Mama di sampingnya.
"Hehe, kamu tidak bisa mengelak, Fu'ady. Mama tahu, ada yang berbeda di antara mereka. Untuk tidak mengatakan ada yang menarik perhatian dan hatimu. Benar, bukan?"
Fu'ad tersenyum canggung. Dia tak pernah ditanyai soal ini di rumah Buya. Sedangkan di pesantren, ada beberapa sahabat dan teman yang menggodanya. Hanya sekedar candaan di antara teman.
"Siapa namanya?" desak Mama.
Fu'ad hanya nyengir, bingung hendak bertanya. Mama hanya tertawa melihat kelakuan putra tunggalnya.
"Ya sudah, lain kali saja kamu bercerita pada Mama. Sekarang, kita masuk ke dalam, sudah malam."
"Baik, Ma." Fu'ad bangkit dan masuk ke dalam.
"Fu'ady, kamu sudah dewasa ya. Semoga perempuan itu dan keluarganya bisa menerimamu apa adanya," Lina membenak sambil menatap punggung Fu'ad yang masuk ke rumah.
"Allah, jadikan dia seperti namanya. Rabbi, hamba serahkan semua urusan padaMu. Jaga putra hamba selalu, Rabb..."
Malam itu, do'a seorang ibu kembali terpanjatkan. Mengangkasa bersama do'a para ibu yang lain. Begitulah seorang ibu. Selalu memanjatkan do'a untuk buah hatinya. Do'a setulus hati. Hanya saja, jarang sekali anak-anak mendo'akan orang tua mereka.
Kring... Kring...
Lina melihat nama penelpon di saat semalam ini. Moza Almira. Pasti hal yang mendesak.
"Assalamu'alaikum, Mbak. Ada masalah penting?"
"Wa'alaikumussalam, iya Abla. Baru saja Fathina mengirimi foto yang diambil dua hari yang lalu. Di sana, ada seorang perempuan yang sangat mirip dengan Kenish. Kami ingin menyelidikinya, apakah Abla mengizinkan?"
"Sudah, Abla. Selama ini dia tinggal di sebuah kost khusus perempuan."
"Baiklah, awasi saja dia agar kita tidak kehilangan jejaknya. Tapi jangan menyelidiki langsung. Tunggu pertimbangan saya."
"Baik, Abla. Saya akan kirimkan fotonya."
Beberapa saat kemudian, beberapa foto diterima oleh Lina. Sebenarnya, itu foto seorang karyawan yang diambil dari depan salah satu resto Lina. Seorang perempuan berambut pirang yang akan masuk mobil di seberang jalan, tertangkap kamera.
Wajahnya terlihat samar memang. Namun, ada foto lain yang dikirimkan Moza. Foto perempuan tersebut di depan sebuah kost putri. Rambut pirang berombak dengan kulit putih. Wajah cantik dengan mata yang sangat khas. Itu wajah Kenish!
Lina menghembuskan nafas panjang. Bingung dan kaget. Mungkinkah itu hanya perempuan yang kebetulan mirip Kenish? Atau dia benar-benar Kenish?! Bagaimana bisa dia masih.... hidup?! Bukankah dia sudah meninggal enam belas tahun silam?!
Lina memilih segera kembali ke dalam rumah. Lebih baik memikirkannya di kamar, lagipula ada banyak pekerjaan yang menunggunya.
Urusan ini cukup rumit. Sekarang, hampir semua perhatian tertuju pada proyek pengembangan usaha ke luar negeri. Jika perempuan itu bukan Kenish, tak banyak masalah yang dihadapi. Mungkin hanya kehilangan banyak waktu dan tenaga karena pengawasan padanya.
Namun bila dia benar-benar Kenish, masalah besar menghadang. Waktu, tenaga, dan perhatian akan terbagi antara proyek dan Kenish. Berbagai kejadian di masa lalu membuat Lina khawatir banyak hal.
Setelah cukup lama berpikir dengan pertimbangan proyek perusahaan, Lina mengambil keputusan. Moza, Fathina, dan Alam pun segera dihubungi. Alam harus fokus ke proyek. Moza akan fokus menyelidiki Kenish. Sementara dirinya dan Fathina akan membantu keduanya.
...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Cahaya matahari menyinari bangunan pesantren yang sedang ramai. Hari ini, acara resepsi pernikahan yang semarak sedang diadakan. Sebuah mobil sedan bewarna hitam memasuki gerbang pesantren. Setelah parkir di tempat yang ditentukan, semua penumpang turun dan berjalan ke tempat para tamu.
"Assalamu'alaikum. Mas Fu'ad," seseorang menyapa ramah.
"Wa'alaikumussalam. Masyaallah, Luqman!" Fu'ad segera menyalami dan memeluk pemuda yang menyapanya.
"Mama, ini Luqman. Dia adik kelas Fu'ad sekaligus adik pengantin. Dan Luqman, ini Mamaku." Fu'ad lalu menoleh ke Moza, "Dan ini Hala Moza, bibiku.”
"Senang bertemu denganmu, Luqman." Lina mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"Jazakumullahu khairann, Ammah (Tante)." Luqman menjawab juga dengan menangkupkan dua tangan di depan dada.
"Ah, ya sebentar, Ammah." Luqman menoleh ke satu arah, lalu melambaikan tangan. Seorang gadis cantik berjilbab biru mendekat.
"Rufaida, antarkan Mama dan Bibi Fu'ad ke tempat tamu perempuan. Juga antarkan ke Abi dan Ummi."
Rufaida menganguk sambil tersenyum. Lalu menoleh pada Lina, "Mari saya antar,"
Lina dan Moza mengangguk, lalu berjalan bersama, mengikuti Rufaida. Tempat untuk tamu putri berada di kompleks santriwati. Dipisahkan dari kompleks santri oleh dinding tinggi dan tebal serta pagar. Sedangkan Fu'ad berjalan bersama Luqman.
"Kaifa haalu (gimana kabar) Ustadz Hadi wa ahluh (dan keluarga)?" Luqman bertanya sambil berjalan menuju tempat tamu pria.
"Alhamdulillah, fi khoir wa 'afiyah (baik baik saja dan sehat)"
"Ma afrahaka bi liqo'i walidatika (pasti kamu sangat bahagia bisa bertemu ibu kandungmu)"
"Alhamdulillah. Ma dzonantu an yaqo`a hadzal liqo' (aku tidak pernah menyangka pertemuan ini akan terjadi)"
"Hayya (ayo)! Intadzaraka abi wa akhi (kamu sudah ditunggu ayah dan kakakku)."
Luqman memang sudah tahu, Fu'ad bukanlah putra kandung Ustadz Hadi. Hanya putra susuan. Begitu juga teman-teman yang cukup dekat dengan Fu'ad. Hanya saja, baru Luqman yang mengetahui bahwa Fu'ad sudah bertemu ibu kandungnya ~selain Mahmuda dan Rabi'a.
Setelah bertemu pengantin dan keluarganya, Fu'ad meminta izin pada Mama untuk berkeliling kompleks pesantren. Hampir dua tahun dia lulus dan meninggalkan pesantren ini. Luqman, dengan senang hati, menemani kakak kelasnya.
"A yazdadu kutub fil maktabah (apakah kitab di perpustakaan semakin bertambah)?" Fu'ad menghentikan langkah di depan ruangan perpustakaan. Ruangan yang cukup besar dan terletak di antara kompleks putra dan putri. Berada di belakang tenda tamu putra.
"Ajal (ya). Zada katsiran (sudah bertambah banyak). Turidu ad-dukhul (kamu mau masuk)?"
Fu'ad mengangguk, dia penasaran dengan kondisi perpustakaan. Luqman menyuruh Fu'ad untuk menunggu sebentar, dia akan mengambil kunci. Perpustakaan adalah salah satu ruangan yang dikunci saat acara resepsi ini diadakan.
Sambil menunggu Luqman, Fu'ad melihat sekeliling. Pandangannya tertuju ke arah gerbang pembatas kompleks putra dan putri. Kesibukan tampak di gerbang yang menjadi pintu masuk dan keluar para tamu putri tersebut. Ups, tatapan Fu'ad berhenti sebentar.
Di sana, ada dua tamu yang menarik perhatian Fu'ad, tepatnya dua gadis. Mereka sama-sama terbalut jilbab bewarna krem. Wajah yang tak asing bagi Fu'ad karena mereka teman sekelas di pesantren. Wajah keduanya tampak jelas dari tempat Fu'ad. Dan, mereka sedang tersenyum saat Fu'ad menatap, senyuman mereka seperti menyihir Fu'ad.
"Astagfirullah..." Fu'ad segera mengalihkan pandangan sambil terus beristigfar. Namun, senyum kedua gadis itu sudah terekam oleh memorinya meski hanya terlihat sekejap. Sekejap saja, dan mampu membuat hati Fu'ad berdegup kencang.
"Mas," suara Luqman memecah suasana. "Afwan (maaf), intadzorta thawilan (sudah menunggu lama)."
Fu'ad mengangguk sambil tersenyum, "La ba'tsa (tidak apa-apa kok). Yuk!"
__ADS_1
Fu'ad berbalik dan menunggu Luqman membuka kunci perpustakaan. Saat itulah, salah satu gadis tadi menoleh. Matanya menatap arah perpustakaan. Dan wajah Fu'ad tertangkap oleh indra netranya. Membuat dunia seakan membeku. Seakan terhenti. Begitu tersadar, segera pandangannya beralih. Istigfar pun terucap lembut dari bibirnya.