My Love My Heart

My Love My Heart
Arif...


__ADS_3

Dunia ini dipenuhi misteri dan keajaiban yang terserak. Saling berkelindang hingga sulit diartikan oleh akal manusia yang terbatas.


Mobil sedan hitam melaju kencang di jalan yang mulus. Di samping pengemudi, Fu'ad duduk sambil mengulangi hafalan Al-Qur'an. Di bagian belakang, Moza dan Lina duduk sambil berbincang serius. Acara resepsi di pesantren sudah berlalu beberapa hari sebelumnya.


"Fu'ady, besok ada acara selain pergi ke kantor pusat?"


Fu'ad menggeleng, "Tidak ada, Mama. Fu'ad hanya memiliki jadwal ke kantor pusat."


"Ya sudah, besok kita akan bertandang ke tempat Tuan Syam. Dia salah satu kolega kepercayaan perusahaan. Kamu belum pernah bertemu dengannya, bukan?! Padahal, dia dulu sangat sering membantu Mama dan perusahaan. Bagaimana?"


"Oh, Tuan Syam?! Tentu saja Fu'ad setuju. Fu'ad sangat ingin bertemu dengan beliau sejak Hala Moza bercerita."


"Dan Hala bercerita tentang lamarannya?!" Lina menoleh ke Moza yang berada di sampingnya.


Moza tersenyum lebar sambil mengangkat bahu, "Saya pikir, Fu'ad berhak mengetahuinya."


"Tentu saja, jazakillahu khairann, Mbak. Saya jadi tidak perlu bercerita pada Fu'ady."


"Memang, Mama ingin menceritakannya?" Fu'ad menoleh ke belakang.


Lina tertawa sambil menggeleng, mencoba menutupi pipi yang sedikit merona. "Tidak akan, Fu'ady. Mama tak mau bercerita tentang itu. Kalau masih penasaran, tanya saja Hala-mu atau Fathina."


Fu'ad dan Moza tertawa. Sedangkan sopir ikut mengulum senyum, dia bahagia melihat kebahagiaan majikannya.


"Kring..."


Nada dering dari ponsel Moza menghentikan tawa. Saat dirinya menjawab panggilan, Lina dan Fu'ad memilih diam. Lina sudah mengetahui siapa yang menghubungi, sehingga mengerti apa yang dibahas. Pasti tentang Kenish!!!


"Abla, kita harus bertemu Fathina. Ada kabar terbaru tentang Kenish."


Setelah mengantarkan Lina dan Moza ke rumah Fathina, mobil sedan segera meluncur ke rumah Ustadz Hadi. Fu'ad memang akan menghadiri sebuah kajian bersama Ridlwan dan Ustadz Hadi. Bagaimana pun, kewajiban sebagai da'i tetap harus dilakukan oleh Fu'ad.


Rumah Fathina terletak di kawasan perumahan elite, sangat cocok untuk orang seperti Fathina. Bagaimanapun, dia-lah yang dikenal luas oleh dunia sebagai pimpinan perusahaan, bahkan sebagai pemiliknya.


Seorang pelayan menyambut di halaman rumah, setelah gerbang. Fathina sendiri langsung turun dan menyambut di ruang tamu. Setelah berbincang, mereka naik ke balkon di lantai tiga. Memandang ke arah halaman belakang yang asri dan rapi.


"Nona dan Mbak Moza sangat disiplin. Orang lain belum ada yang datang," Fathina tertawa sambil duduk di kursi.


"Kami sepertinya terlalu cepat." Lina ikut tertawa.


"Bagaimana dengan cabang perusahaan di luar negeri?"


"Alhamdulillah, semua lancar, Nona. Hanya ada masalah di negara Turki. Kami belum menemukan restoran yang sesuai untuk bekerja sama dengan hostel."


"Bukankah lebih baik bekerja sama dengan lokanta lokal? Kita mencari konsumen dari kalangan backpacker. Lokanta lokal akan lebih pas untuk mereka."


"Baiklah, Nona. Kami akan mencari tahu lebih teliti. Sepertinya, ada beberapa lokanta lokal yang lumayan dekat dengan lokasi hostel."


"Kalau butik di Skotlandia?"

__ADS_1


"Perkembangannya lumayan lambat, Nona. Tidak secepat proyek di Inggris dan Jerman. Tapi perkembangan resto cukup memuaskan. Malah, restoran di Jerman akan segera dibuka."


"Alhamdulillah," ucap Moza dan Lina bersamaan.


"Kapan kita akan mengunjungi semua proyek?" Lina memandang Moza dan Fathina secara bergantian.


"Saya akan segera menyusun jadwal Abla. Mungkin, Fathina bisa memberi tahu saya jadwal pentingnya." Moza cekatan menyahut.


"Sepertinya setelah beberapa minggu, saya dan Mas Alam mempunyai waktu luang. Juga anak-anak."


"Lebih baik kita menyesuaikan dengan jadwal putra-putri Fathina, Mbak," Lina menoleh pada Moza dan dijawab dengan anggukan. "Dan luangkan banyak waktu selama di Turki. Saya sangat ingin melihat banyak hal di negara itu."


Moza mengangguk meski dia faham maksud majikannya. Lina ingin memberi waktu dirinya mengunjungi tempat asalnya. Turki, tepatnya kawasan Edirne.


Tak lama, pelayan Fathina datang dan memberitahu, semua orang sudah datang. Termasuk Alam, suami Fathina. Lina dan kedua sahabatnya bergegas turun. Pertemuan akan diadakan di lantai dua rumah Fathina.


Hasil pengawasan dan penyelidikan selama ini, membuat Lina mengambil nafas panjang. Kemungkinan besar, perempuan itu benar-benar Kenish; adik perempuan Vasfi. Orang yang menculik Fu'ad lebih dari tujuh belas tahun silam.


Perempuan itu pernah mendatangi rumah Kenish yang masih menampakkan bentuk rumah. Meski halaman dan bagian dalamnya sudah dipenuhi semak dan menjadi tempat tinggal kucing liar. Tak hanya sekali datang, beberapa kali dia datang sebelumnya. Awalnya, hanya lewat dam berhenti sejenak. Lalu mulai masuk beberapa saat. Semua terekam oleh cctv sebuah perumahan yang tak jauh dari lokasi.


Lalu, tadi siang dia mengunjungi makam Vasfi. Ya, makam Vasfi! Duduk di samping makam dan menaburkan bebunga. Juga berdo'a dan mengucapkan beberapa kata yang tak bisa diketahui oleh orang-orang Moza.


Benarkah dia Kenish?! Tapi, kenapa bisa dia masih hidup?! Lalu, siapa jasad yang terbakar enam belas tahun silam?!


"Baiklah, selidiki lagi kasus kebakaran enam belas tahun silam." Lina memberikan instruksi selanjutnya. "Tetap awasi dia! Cari tahu ke mana saja dia pergi. Siapa saja yang dia temui. Juga dari mana dia selama ini!"


"Baik, Nona."


"Saya akan mengunjungi Tuan Syam di rumahnya besok. Apakah ada urusan bisnis yang harus saya selesaikan dengannya?"


"Tidak, Nona. Sekarang, usahanya sudah kembali normal dan mulai menunjukkan peningkatan. Tak ada masalah bisnis penting, Nona. Tapi, ada beberapa berkas yang akan saya berikan pada Tuan Syam."


"Baiklah, biar saya yang menyerahkannya nanti" Lina mengangguk. "Sekarang, mari mengecek beberapa karyawan. Mbak Moza, laporan."


Moza mengeluarkan sebuah note book kecil. Lalu, mulai menyebut keadaan para karyawan dan pekerja. Siapa saja yang sakit, mendapat bayi baru, menikah, atau berkabung. Bahkan, siapa saja yang sudah didatangi debt collector atau menanggung hutang besar.


...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...


Beberapa kilo meter dari keberadaan Lina, seseorang sedang memikirkan dirinya. Dia adalah Arif, pelayan terdekat sekaligus sahabat Syam. Dirinya sedang di dalam ruangan kantor, sendirian. Tuannya sedang pergi dengan Nyonya, berdua.


Jemarinya mengusap selembar foto yang dibawanya. Foto wanita cantik bersama bayi mungil di bawah naungan pohon. Lina dan Fu'ad saat bayi.


"Lina..." desisnya pelan. "Aku rindu dirimu, selalu. Kita sangat dekat, tapi terasa begitu jauh. Begitu dekat, tapi aku tak bisa menyentuhmu."


Arif menghela nafas pelan. Mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak hebat oleh rindu. "Apakah kau masih ingat diriku? Masih bisakah kau menerima semua ini?"


Pandangan Arif berpindah. Memandang pantulan dirinya di map putih bersih. Wajah yang tertutup topeng di bagian kiri. Dari dahi kiri hingga setengah pipi, sejajar dengan hidung.


Pandangan Arif berpindah lagi. Melihat topi coklat tua di dekat sikunya. Topi yang selalu menutup kepala dan wajahnya. Nafas Aruf terhembus kasar. Tangannya membuka laci meja. Dia tahu, Syam selalu menyimpan cermin di sana.

__ADS_1


Cermin itu sudah di tangan Arif. Perlahan, Arif membuka topengnya. Matanya menatap lekat pantulan wajahnya. Begitu mengerikan. Tak sampai satu menit, Arif sudah memalingkan wajahnya. Dia sendiri tak kuat melihat wajahnya terlalu lama. Apalagi orang lain.


Bekas luka memenuhi dahi dan pipi. Bahkan, kelopak matanya. Wajahnya di bagian itu sangat rusak. Bukan hanya rusak, bahkan wajah itu sangat buruk dan mengerikan. Syam sudah beberapa kali mengusulkan operasi. Setidaknya, membuat wajahnya lebih baik. Tapi Arif selalu enggan. Dia lebih suka menggunakan topeng dan topi.


"Lina, bagaimana bila kau melihat wajah ini? Begitu mengerikân bukan?! Tak hanya dirimu, aku pun tak mengenali wajah ini lagi."


Arif menarik nafas panjang. "Harika, bagaimana pula denganmu? Akankah kau mengenaliku lagi? Sedangkan seluruh memorimu telah terhapuskan?!"


Nada panggilan di telfon menyadarkannya. Sebuah nama tertera di layar, membuat Arif tersenyum tipis. My Princess. Itu anak keduanya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Ayah! Kami sudah tiba di Indonesia. Ayah sedang di mana?"


"Ayah di kantor Tuan Syam, My Princess. Kau dan kakakmu sudah datang?"


"Bukan hanya kami, Ayah. Tapi semua putra-putri Ayah!" suara ceria itu membuat senyum Arif semakin melebar.


"Semua?"


"Ayah! Ini sulung Ayah. Your Prince, Daddy!" suara putra sulungnya menyahut.


"Kalau ini your angel, Ayah!" suara putri bungsunya terdengar.


"Ayah! Jangan lupa, ada your hero!" timpal putra ketiganya.


"Oh, my family..." Arif hanya bisa mengucapkan hal itu. Begitu lega hatinya, keempat anaknya sudah tiba di Indonesia, setelah lama tinggal di negeri orang.


"Kami akan ke tempat Ayah sekarang, ya..."


"Jangan, My Princess. Kalian kunjungi Bunda kalian, Our Queen."


"Baik, My King! Kami akan ke sana dulu."


Setelah melepas rindu melalui suara, Arif menyudahi telfon. Dia kembali menghela nafas. Menatap foto Lina dan Fu'ad.


"Lina, putra-putriku sudah tiba di Indonesia. Kau belum pernah bertemu mereka, bukan?! Bagaimana bila kau bertemu putra ketigaku? Apakah kau akan ingat diriku? Dia sangat mirip denganku sebelum kecelakaan itu."


Arif memang sudah menikah. Usianya sudah melebihi angka empat puluh, lebih tua dari Syam. Dia memiliki empat anak; dua putra dan dua putri. Sedangkan istrinya sudah meninggal sebelum Syam menjalin hubungan kerja dengan Lina.


Sejak perusahaan Syam bekerja sama dengan perusahaan Lina, ada semangat di hati Arif. Semangat karena akhirnya bisa dekat dengan Lina~kembali. Namun, sekaligus rasa takut dan khawatir, bila Lina mengenalinya.


Apa yang akan dilakukan atau dirasakan Lina saat tahu dan mengenali Arif? Bahagia karena akhirnya bisa bertemu lagi. Senang. Atau... Benci? karena ingat masa lalu. Benci karena dia meninggalkan Lina dengan segala kesedihan, dan tak juga menunjukkan diri?! Entahlah...


Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Arif. Setelah diizinkan, seorang karyawan masuk. Membawa beberapa berkas yang harus dia periksa. Baiklah, saatnya dia kembali bekerja.


Kringg...Kringg..


Telepon kantor berdering, Arif segera mengangkat.

__ADS_1


"Tuan, ada tamu yang ingin bertemu Tuan sekarang," suara resepsionis kantor terdengar, "mereka bernama Nona Moza Almira dan Nona Lina Mawaddah..."


Lina Mawaddah?! Darah Arif seakan membeku. Bagaimana ini?! Syam dan Harika sedang tak berada di kantor. Hanya ada dirinya. Haruskah dia menemui keduanya??


__ADS_2