My Love My Heart

My Love My Heart
Nama yang Sama


__ADS_3

Pagi yang indah. Semburat fajar masih tersisa di langit. Shalat Subuh di masjid telah selesai sedari tadi. Aktifitas manusia semakin menggeliat. Saatnya melanjutkan rutinitas



Tidak dengan Fu'ad. Pemuda bermata hijau indah itu tak melaksanakan rutinitas paginya. Seharusnya, dia berada di ruang tengah. Mengulang hafalan pada Buya. Atau menyimak hafalan adik-adiknya. Fu'ad memilih berada di balkon. Menatap langit yang semakin terang.



Hatinya masih berkecamuk. Kejadian kemarin masih membayanginya. Saat Buya menceritakan pertemuan pertama mereka. Pertemuan di larut malam.



"Assalamu'alaikum," sebuah salam terdengar. Disusul ketukan lembut di pintu balkon.



"Wa'alaikumussalam," Fu'ad menoleh, "Kak Hanin? Ada apa?"



Perempuan yang dipanggil Hanin, tersenyum. Lantas melangkah mendekati adiknya, "Kakak kangen suara emas mu saat mengaji."



Fu'ad tersenyum tipis. Hanin adalah kakak sulungnya. Muthi'ah Hanin nama lengkapnya.



"Liat apa?" Hanin ikut berdiri di samping Fu'ad. Lantas ikut mendongak.



" Kakak ingat tidak, kapan Buya dan Ummah memberi nama pada saya?"



Hanin menganguk, "Tentu Kakak ingat, Dik Fu'ad. Saat kau pertama kali tiba, usia Kakak sudah enam tahun. Memang, tak semua bisa Kakak ingat. Tapi, saat Buya dan Ummah memberimu nama, Kakak selalu ingat...."



Seekor capung hinggap di depan Fu'ad. Seperti ingin ikut mendengarkan....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"U.....a....a..." Celoteh bocah imut di ruang tengah yang luas.



Seluruh orang di ruang tengah tertawa mendengarnya. Baru beberapa hari si bocah tinggal dengan keluarga barunya.



"Buya, siapa nama adik Hanin?" Suara si sulung menghentikan tawa Buya.



Buya dan Ummah saling memandang. Meski sudah mendapat izin untuk merawat, mereka belum menyelesaikan dokumen-dokumen penting. Belum ada nama untuk putra "baru" mereka.



"Uu...u..aaa.." si bocah makin asyik mengoceh.



"Fu'ad..." Bisik Ummah pelan.



"Fu'ad..." Hanin membeo, lalu tersenyum. Adik "baru"nya bernama Fu'ad. Tapi, Fu'ad siapa?



"Fu'ad siapa, Ummah?" Hanin kembali bertanya, "kan, nama Hanin, Muthi'ah Hanin. Terus... Dek Ridlwan, Tholib Ridlwanah. Ama Dek Hanifah, Hanifah Sadiidah."



"Fu'ad Dzakiy, *Bunayyati* (putriku sayang)." Buya yang menjawab.



"Fu'ad Dzakiy.. " Hanin mengangguk. Nama yang indah.



"Fu'ad Daki?" Ridlwan ikut berucap.

__ADS_1



Buya dan Ummah tertawa. Hanin sudah berusia enam tahun, sudah lancar mengucap huruf Arab. Sedangkan Ridlwan masih berusia tiga tahun. Masih sering keliru saat mengeja huruf Arab. Dengarkan saja, dzal berubah menjadi dal.



"Ummah, mata Dek Fu'ad bagus, ya" komentar Hanin sambil tetap bermain dengan Fu'ad kecil.



"Hanin, kalau lihat yang indah jangan lupa memuji Allah, sayang..." Ummah mengingatkan putri sulungnya, sementara tangannya memperbaiki posisi si bungsu, Hanifah.



"Eh, iya. Lupa, Ummah," Hanin nyengir, "*Subhanallah, masyaallah*, bagus banget mata Dek Fu'ad."



Mata Fu'ad memang bewarna kehijauan, indah dan menawan. Mata yang seakan memberitahu bahwa dia memiliki darah bule. Mungkin, dia memang berdarah liar negri. Dugaan itu pernah hinggap di benak Buya dan Ummah. Apalagi, wanita yang membuangnya juga berambut pirang.



"Ummah... Nanti kalau besar, Dek Fu'ad sekolah di tempat Hanin, ndak?"



"Belum tahu, *Bunayyati*," Buya yang menjawab, "kan, Dek Fu'ad belum bisa milih,"



Nama itu memang sederhana. Tapi, ada rahasia indah di baliknya. Tak ada yang tahu, bahwa Fu'ad memang nama bocah itu. Nama yang diberikan *Mama*, ibu kandungnya. *Mungkin, inilah kebetulan itu*. Seorang Rumaisya Shaliha tak pernah menyangka, dia "*benar*" saat memberi nama. Nama yang sama, juga panggilan yang sama; Fu'ad. Meski, nama belakang si bocah bukan Dzakiy. Bukan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Sejak itu, kau dipanggil Fu'ad, Dek," Hanin menyelesaikan ceritanya.



"Dan, saya tak bersekolah di tempat yang sama dengan Kak Hanin atau Kak Ridlwan. Bahkan, juga tak sama dengan sekolah adek-adek." Fu'ad tersenyum getir.



"Kalau ingin tahu alasan Buya dan Ummah menyekolahkanmu di sana, tanyakan pada Buya. Atau, pada Dek Ridlwan, dia mungkin tahu."




"Kak!!!" Teriakan di pintu balkon mengagetkan Hanin dan Fu'ad.



Bocah kecil mendekat, dia masih memakai sarung dan peci-*yang miring*. Diikuti gadis kecil berambut hitam gelombang.



"Kak Ulin! Jangan teriak-teriak donk. Telingaku sakit nihhh," sungut si gadis kecil sambil mengusap telinganya.



"Biarin!" Bocah lelaki itu malah menjawil telinga adeknya.



"Kak Ulin nakal!!"



Ulin segera berlari dan sembunyi di balik tubuh Fu'ad. Gadis kecil mengerjarnya, tapi ditangkap oleh Hanin.



"Sudah-sudah. Dek Alfi sama kak Hanin aja.



"Nanti, dilaporin ke Ummah, ya Kak..." Gadis kecil, Alfi mengerjapkan matanya.



"Huuuu" Ulin menjulurkan lidahnya, "Dek Alfi main lapor ke Ummah terus! Curang!"



"Biarin! Kak Ulin juga jail, sih!"

__ADS_1



Hanin dan Fu'ad melerai dua adik terkecil mereka. Memang, Buya dan Ummah sudah memiliki enam buah hati-*tanpa menghitung Fu'ad*. Alfi, Alfiyah Maysarah, adalah si bungsu yang berumur tujuh tahun. Bungsu yang sangat menempel dengan Ummah. Sedangkan Ulin, Ulin Nuha, anak ke lima yang kini berumur hampir sembilan tahun. Ulin yang terlalu jail. Mereka terpisah dua tahun kurang empat bulan.



"Kenapa Dek Ulin ke sini?" Fu'ad mengacak rambut Ulin.



"Ih! Kak Fu'ad jangan acak-acak rambutku!" Ulin menggerakkan kepalanya. "Kata Kak Ridlwan, suruh cepetan siap-siap. Nanti telat"



Fu'ad menepuk dahinya. Gara-gara memikirkan surat itu, dia hampir melupakan sesuatu yang penting. Siang nanti, dia akan menemani Buya ke tempat kajian. Sambil berlatih mengisi kajian yang lebih besar. Sejak setahun terakhir, Fu'ad memang sudah beberapa kali mengisi kajian. Tapi masih di masjid dekat rumahnya. Kajian rutin sebulan sekali. Kali ini, Buya menyuruhnya ikut kajian di luar kota.



Dan, tentu saja Fu'ad tak menolak. Apalagi, Ridlwan ikut menemani. Sejak kecil, Ridlwan memang sering ikut Buya. Meski hanya menonton atau duduk di dekat Buya.



Tiga setengah jam kemudian, Fu'ad sudah duduk di mobil. Di samping sopir, murid Buya yang mengantarkan. Sedangkan Buya dan Ridlwan duduk di kursi kedua. Mereka menuju tempat kajian di adakan.



"Bunayya Fu'ad," Buya memanggil pelan, "nanti, majulah sebentar ya, Bunayya,"



Fu'ad menelan ludah, "Nanti, Buya? Tapi, Fu'ad harus mengatakan apa?"



"Terserah Bunayya. Hanya sebentar, kok. Belajar sedikit demi sedikit, Bunayya," Buya tersenyum.



"Iya, Dek. Biar banyak pengalaman." Ridlwan buka suara.



Buya tertawa lirih mendengar kata-kata Ridlwan. "Bunayya, kakakmu ini hanya bercanda. Kak Ridlwan punya banyak pengalaman nonton, bukan maju"



Ridlwan *nyengir* lebar. Tentu saja, Fu'ad lebih berpengalaman dari dirinya. Meski sering ikut Buya, dirinya sangat jarang maju. Meski berkali-kali didesak Buya. Bukan karena tidak percaya diri, tapi memang dirinya tak suka tampil di depan Buya. Bahkan, tak suka Buya menonton videonya saat mengajar. Tidak suka, bukannya malu.



Kajian yang akan mereka hadiri memang cukup besar. Dilaksanakan di masjid besar nan luas, dengan jumlah peserta diperkirakan melebihi angka lima ribu. Bukan hanya Buya-Ustadz Luhfi Hadi- yang mengisi kajian itu. Ada beberapa ulama' lain. Itulah yang membuat Fu'ad merasa canggung bila harus ikut mengisi.



"Jangan khawatir, Bunayya. Ini bukan ide Buya. Ini permintaan sahabat-sahabat Buya. Mereka meminta agar salah satu putra Buya ikut tampil," jelas Buya



"Kenapa Fu'ad, Buya? Bukankah ada Kak Ridlwan?"



"Kakakmu tak mungkin mau, Fu'ad. Ada Buya di sana."



Dan Ridlwan semakin *nyengir*. Senang, dia terbebas dari "*tampil*" karena ada adiknya yang ikut. Padahal, dia juga yang mendesak Fu'ad agar ikut Buya.



"Kalau masih malu hingga di depan jama'ah, tarik saja Kak Ridlwan,"



"Buya!" Kontan saja, Ridlwan berseru kaget. Dia tak mau tampil di depan Buya.



Buya hanya tertawa. Buya yakin, Fu'ad tidak akan menarik kakaknya. Buya hanya ingin Fu'ad melupakan sejenak surat yang dibaca tadi malam.


Murid Buya yang menjadi sopir pun tersenyum menyaksikan interaksi keluarga ustadznya.



Mobil berhenti di parkiran khusus para asatidz. Buya dan dua putranya keluar. Di saat yang bersamaan, dua perempuan juga keluar dari mobil. Mereka berjalan ke pintu masuk khusus wanita. Saat dua wanita dan Buya keluar dari mobil, sebuah mobil memasuki kawasan parkir umum. Tiga wanita berada di dalamnya. Mereka juga segera menuju pintu masuk khusus wanita.

__ADS_1



Kajian ini awal segala konflik. Awal pergulatan di tiap hati. Di tiap jiwa. Dan awal berbagai perasaan berkecambah di berbagai hati. Mereka tak menyangka. Karena memang begitulah *kehidupan, selalu banyak hal yang tak disangka. Lalu, kenapa banyak yang menyangka*?!


__ADS_2