
Mentari bersinar terik. Sebuah sedan hitam masuk ke area gedung berlantai puluhan. Setelah berhenti di parkiran, seorang wanita keluar dari pintu samping pengemudi. Diikuti si pengemudi.
"Abla Lina beneran mau langsung memeriksa laporan sekarang? Tidak makan dulu, Abla?" Si pengemudi mendekat.
Abla berarti kakak perempuan.
Wanita yang dipanggil Lina itu menggeleng, "Nanti saja, Mbak Moza. Atau, Mbak sudah lapar?"
Si pengemudi, Moza, menggeleng, "Tapi, sejak pagi, Abla hanya makan kentang rebus."
"Tak apa, saya belum lapar. Mbak mau ikut saya ke dalam?"
Moza menggeleng, "Saya mau lihat-lihat sekitar sini, sambil cari kabar terbaru."
Lina mengangguk, lantas bergegas ke dalam gedung. Harus segera menemui beberapa orang sebelum siang. Tapi dia akan menunaikan sebuah kewajiban terlebih dahulu.
Lina Mawaddah namanya. Perempuan bermata lebar yang juga memiliki jiwa besar. Dia pengusaha muda yang diperhitungkan dalam bidangnya. Properti, butik, dan restoran. Usaha restoran dia warisi dari orang tua. Sedangkan butik dan properti sudah dirintisnya sejak remaja.
Sedangkan Moza bernama lengkap Moza Almira. Gadis yang masih memiliki darah Turki itu bekerja pada Lina. Selalu menganggap Lina sebagai majikan, tapi dianggap sahabat oleh Lina.
"Saya terlambat, ya?" Lina tersenyum melihat empat orang sudah menunggu.
"Tidak, Nona. Kami sengaja datang lebih cepat karena mendengar Nona sudah tiba," jawab seorang wanita muda berkacamata. Tiga orang di belakangnya mengiyakan dengan anggukan.
Lina melihat jam dinding, masih satu menit sebelum waktu yang dijanjikan.
"Saya sengaja datang lebih cepat, mau shalat Dluha terlebih dahulu. Kalian sudah shalat?"
Empat orang lawan bicara Lina mengangguk, mereka karyawan Lina. Mereka sudah shalat di awal waktu Dluha tadi.
"Baiklah, mari kita mulai. Bismillah," Lina duduk di sofa. Lalu meletakkan laptop di atas meja depan sofa. Wanita muda berkacamata duduk di samping Lina, dia yang menjawab Lina tadi. Mereka duduk di satu sofa. Sementara tiga orang lainnya memilih berdiri di seberang meja.
"Eh, kalian tidak duduk? Sofa di samping saya kosong, bukan?!" Lina menatap mereka.
Setelah saling memandang, mereka akhirnya duduk di sofa samping Lina.
"Baiklah, saya hanya ingin memeriksa laporan keuangan sebulan terakhir. Ada penambahan atau pengurangan, Fathina?"
"Untuk restoran, pemasukan lebih besar dari bulan kemarin. Penambahannya mencapai 23%dari hasil bulan lalu. Pengeluaran untuk operasional menurun, tapi beberapa kendala di luar operasional menambah pengeluaran. Keuntungan bersihnya meningkat 14% dari bulan lalu. Perinciannya ada di laporan Lisa, Nona." Wanita muda berkacamata menjelaskan singkat laporannya.
Wanita berjilbab plasmina menyerahkan sebuah map. Lina memeriksanya seksama. Dahinya mengernyit saat memeriksa kertas terakhir. Lantas, memeriksa ulang beberapa halaman lagi.
Fathina memahami keadaan. Ada yang tidak beres, "Nona membutuhkan laporan terperinci?"
__ADS_1
"Laporan pengeluaran di pekan terakhir, Fathina."
Seorang lelaki berjas hitam menyerahkan map pada Fathina. Fathina meletakkannya di samping laptop Lina. Lina memeriksanya, langsung menoleh ke tiga karyawan di sampingnya.
"Ada karyawan yang meminjam uang dari restoran?"
"Iya, Nona, salah satu pelayan resto meminjam uang untuk biaya pengobatan istrinya." Laki-laki berjas biru menjelaskan.
"Siapa namanya? Tinggal di mana?"
"Adi, Nona. Adi Satya. Katanya, di samping minimarket terdekat."
Lina diam sejenak, mengingat-ingat nama itu. Sebentar kemudian, menatap tajam tiga karyawannya sekilas. Kembali menatap laptop.
Fathina mulai gelisah, menangkap gelagat tak baik dari pemilik tunggal beberapa restoran. Meski, dirinya adalah tangan kanan Lina sendiri.
Tok...Tok...
"Assalamu'alaikum," pintu ruangan terbuka seiring masuknya wanita berkulit putih. Moza. Kedatangannya membuat Lina tersenyum.
"Maaf, Abla. Saya terlambat."
"Tak ada terlambat, Mbak. Kemarilah." Lina menyambut kedatangan sahabatnya.
Moza mengangguk, "Istrinya meninggal empat bulan yang lalu. Dan sekarang, ada kabar dia sedang dalam proses lamaran dengan teman SD nya dulu."
Karyawan yang memberikan informasi tentang Adi Satya, terdiam. Itu artinya, Adi berbohong. Atau, pengelola resto yang berbohong.
Lina menghela nafas, "Kita ada pekerjaan tambahan, Mbak Moza. Saya harap, Mbak Moza berkenan membantu saya."
"Kalau tentang Adi, saya baru saja mendapat kabar, Abla. Tapi masih belum bisa dipastikan."
Lina menatap lekat Moza. Kabar apakah itu?! Semoga berkaitan dengan masalah keuangan ini.
"Dia baru saja membeli mobil baru dengan cara kredit dua minggu yang lalu, Abla. Juga sudah membayar uang muka pembelian sebuah rumah di kawasan elite kota. Atas nama calon istrinya, Abla," lapor Moza.
Lina menarik nafas dalam. Benar dugaannya. Adi berbohong. Karyawan yang baru bekerja setahun itu, harus bisa memberinya alasan nanti.
"Kita kunjungi dia, Mbak. Setelah ini."
Moza mengangguk. Dia tak banyak tanya, abla-nya selalu memiliki alasan
"Baik, sebelum saya lanjutkan, saya akan menyampaikan sesuatu terlebih dahulu."
__ADS_1
Seluruh karyawan menunduk. Nada bicara majikan mereka sedikit berbeda. Penuh penegasan.
"Besok pagi, tepat pukul sepuluh, saya adakan rapat untuk para pengelola. Dan tepat pukul setengah dua siang, saya adakan rapat untuk seluruh karyawan. Penjelasan lebih detail akan disampaikan oleh Fathina. Faham?!"
Seluruh orang yang berada di ruangan tersebut mengangguk. Kecuali Moza. Dia hanya menghela nafas.
Lina menutup map, "Baik, mari lanjutkan."
Hanya Moza dan Fathina yang mengerti kemarahan Lina. Bukan, bukan kemarahan. Tapi, kekecewaan. Lina berulang kali menegaskan, tidak ada yang boleh meminjam dana perusahaan tanpa izinnya. Siapa pun yang membutuhkan dana untuk hal-hal mendesak, boleh meminjam kepada Lina secara langsung. Atau melalui atasan mereka.
Bukan karena Lina pelit. Hanya saja, Lina selalu memisahkan antara dana perusahaan dan dana pribadi. Lina tak ingin, operasional perusahaan menjadi terganggu karena kendala biaya.
Bahkan, Lina sangat dermawan. Dia tak pernah tidak meminjami uang. Sering pula, dia memberikan uang secara cuma-cuma. Karena itulah, Lina sangat dihormati para karyawannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Abla hendak makan di mana? Sebelum ke restoran atau di sana saja?" Moza menoleh sebentar ke Lina di sampingnya.
"Di restoran saja, Mbak. Agar mudah menemui Adi."
Mereka sedang dalam perjalanan menuju salah satu restoran milik Lina. Sepanjang perjalanan, Lina lebih banyak diam. Memandang ke luar sedan.
"Abla, Abla tak ingin menghadiri kajian Ustadz Ali Hasan?" Moza teringat kabar yang dia baca tadi pagi.
"Ustadz Ali Hasan? Di mana?"
"Di kompleks masjid Azhar, Bandung. Besok siang, Abla."
"Sebenarnya, saya ingin beristirahat," Lina mendesah pelan, "tapi, tak apa. Kita ke sana. Semoga kita bisa menemukan banyak ilmu di sana."
"Abla yakin? Saya tak ingin Abla kecapekan."
"Nggak apa-apa, Mbak. Menghadiri kajian bisa menjadi istirahat, bukan? Terutama untuk hati." Lina tersenyum.
"Apakah hanya Ustadz Ali Hasan yang mengisi kajian, Mbak? Atau, ada ulama' lain?"
"Insyaallah, ada beberapa ustadz lain. Termasuk Ustadz Luthfi Hadi dan Syaikh Musa Al-Mishry."
"Kita ajak Fathina juga, ya. Sudah lama saya tak pergi dengannya."
"Saya ikut Abla saja. Abla, kita sudah sampai."
Lina menarik nafas panjang. Baiklah, saatnya kembali fokus bekerja. Semoga Adi bisa memberinya alasan yang memuaskan. Terutama, untuk apa dia membeli rumah baru di kawasan elite?!
__ADS_1
Dan, Lina tak pernah menyadari, keputusannya untuk pergi ke kajian Ustadz Ali Hasan akan membuka perjalanan baru. Ujian penuh air mata harus dia lalui. Karena di sanalah, matanya menatap pemuda bermata hijau. Pemuda yang mampu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak... Pemuda bernama Fu'ad Dzakiy....