My Love My Heart

My Love My Heart
Teror


__ADS_3

"Ayo, Sayang... Sedikit lagi... Kemari..." Lina merenggangkan tangan.


"Uuu..aaaa..aaa.." Fu'ad kecil berceloteh. Mata hijaunya mengerjap pelan, lantas melangkahkan kakinya. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah, tubuhnya terhuyung...


"Aih," Lina menangkap tubuh Fu'ad, "Wah, anak Mama makin pintar."


Fu'ad tertawa dalam dekapan mamanya. Sementara Lina menciumi pipi dan ubun-ubun putranya.


"Abla," Moza masuk ke kamar bernuansa biru.


"Eh, lihat, Sayang. Hala sudah datang." Lina membalikkan tubuh Fu'ad.


Moza tertawa, "Hai, Fu'ad sayang. Sudah siap, Tampan?"


"Ciap, Hala..." Lina menirukan suara anak kecil.


"Hihi..hee.." Fu'ad tertawa. Menunjukkan empat giginya. Membuat Lina dan Moza tertawa bersama.


"Mobil sudah siap, Abla."


Lina bangkit, "Desy yang akan mengantar, Mbak?"


Moza mengangguk. Mereka akan pergi ke toko perhiasan, mencari perhiasan yang akan dihadiahkan di pernikahan salah satu karyawan. Di toko itulah, sepasang liontin berbentuk bintang dibeli. Masing-masing liontin berbentuk setengah bintang. Itulah liontin yang ditemukan bersama Fu'ad saat diletakkan di depan rumah Buya.


"Desy, setelah ini kita pergi ke butik. Fathina melaporkan ada sedikit masalah di sana," perintah Lina saat masuk mobil.


"Baik, Nona," sahut Desy sopan.


Butik yang dimaksud berada tak jauh dari toko perhiasan. Saat sampai, para karyawan berkerumun di halaman yang menjadi tempat parkir. Butik tutup.


"Assalamu'alaikum. Di mana Fathina?" Lina bergegas bertanya.


"Wa'alaikumussalam. Mbak Fathina ada di dalam bersama beberapa karyawan, Nona. Kami tidak diizinkan masuk," jelas salah satu karyawan.


"Mbak, ayo masuk."


"Baik, Abla. Biarkan saya yang menggendong Fu'ad."


Lina menyerahkan Fu'ad ke gendongan Moza. Lalu masuk ke dalam butik. Di dalam, banyak pakaian berantakan. Fathina datang tergopoh-gopoh bersama beberapa karyawan.


"Nona, maaf, saya mengganggu Nona."


"Ada apa, Fathina?"


"Tadi pagi, saya dihubungi tentang perusakan butik ini. Saat saya sampai, Siska sudah menunggu. Dia yang menghubungi saya, Nona."


"Maaf, Nona," karyawan yang berada paling dekat dengan Fathina, Siska, mulai menjelaskan.


Hari itu, Siska mendapat jatah membersihkan butik sebelum buka. Dia memiliki kebiasaan untuk datang sebelum waktunya. Demikian juga pagi itu. Saat datang, dua sepeda motor ada di halaman. Belum sempat Siska turun dati motor, tiga orang lelaki keluar dari jendela depan butik. Dan segera melajukan motor. Setelah sempat meneriaki, Siska segera masuk ke butik.


Butik sangat berantakan. Berbagai baju bertumpukan. Mukena, topi, dan berbagai aksesoris berceceran. Juga, banyak busana yang robek atau kotor.


Tapi yang paling mengagetkan Siska, beberapa tulisan ada di lantai, meja, dan cermin butik. Tulisan mengancam dan menghina pemilik butik.


"Hai Lina! Bersiaplah untuk bangkrut! Dari lelaki terhebat, Vasfi!"


"Hai pelac**! Sudah siap untuk mendapat penipuan?"

__ADS_1


"Dasar perempuan murahan! Berani sekali membuka cabang butik di kota Xxx"!


Setelah berpikir berkali-kali, Siska memutuskan untuk memberitahu Fathina; tak lupa, Siska sebutkan isi tulisan.Terlalu sungkan untuk memberitahu langsung Lina atau Moza.


Fathina segera memberi perintah tegas. Menutup dan mengunci butik dari dalam sampai dia atau orang kepercayaannya datang. Karyawan lain tak boleh ada yang masuk. Keadaan butik tak boleh diubah sedikit pun.


Tak sampai setengah jam, pengurus butik datang atas perintah Fathina. Disusul bagian keamanan. Dua karyawan pertama yang akan datang dicegah agar tidak masuk. Mereka memilih menunggu di halaman. Tak lama, Fathina datang lalu memeriksa butik dan menanyakan semuanya secara lebih detail. Tak lupa memeriksa cctv butik. Masa itu, cctv sudah ada meski belum sebanyak sekarang.


"Cctv dirusak oleh mereka, Nona." Fathina menambahkan.


Lina mengangguk. "Hari ini, kita tutup butik terlebih dahulu. Kita hanya melayani janji yang sudah dibuat untuk hari ini. Hapus saja tulisan-tulisan itu," Lina menunjuk tulisan di sebuah cermin besar. "Dan biarkan para karyawan membereskan butik. Siska, tolong bawa Fu'ad ya. Saya dan Moza akan menyelesaikan beberapa hal bersama Fathina dan Mbak Rina. Dan jangan beritahu para karyawan tentang tulisan-tulisan ini."


"Baik, Nona. Dengan senang hati," Siska mengangguk hormat. Mana ada yang menolak untuk mengajak putra tunggal Lina yang sangat imut dan tampan?!


"Fu'ad ikut Kak Siska dulu, ya," Moza mencubit pelan hidung Fu'ad, lantas memberikannya pada Siska.


"Ayo, Tuan Muda ganteng..." Siska menyambut Fu'ad.


Fu'ad kecil mengerjapkan mata hijaunya, lalu berceloteh riang.


"Mari kita bersihkan tulisannya dulu," Lina segera menuju ke cermin terdekat. "Kita bisa menghapusnya dengan kain basah. Atau tissue yang dibasahi. Tolong ambilkan,"


Fathina bergegas mengambilkan tissue. Sementara Moza mengambil sebotol air mineral dari tasnya.


Tak butuh waktu lama untuk membereskan tulisan-tulisan itu. Semua hanya menggunakan spidol merah non-permanent. Lina juga turut membantu, tak hanya melihat.


"Biar saya panggilkan karyawan, Abla."


"Baik, Mbak. Saya tunggu di ruang istirahat karyawan." Lina melangkah menuju tangga.


Setelah Moza datang, Lina segera membahas kejadian ini. Vasfi, lagi-lagi lelaki itu. Meski ragu, Lina dan Fathina tetap menggali informasi tentang para kolega dan lawan bisnis mereka. Fathina menawarkan untuk meminta bantuan pada Syam, kolega paling terpercaya. Lina dan Moza menyetujuinya.


Semua kejadian ini, tepat dua bulan sebelum hilangnya Fu'ad.


...\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=...


Entah apa yang dirasakan Lina, Moza, dan Fathina. Kejadian di butik itu memang menyebalkan dan membuat amarah tapi memuncak. Namun, ada hikmah besar di baliknya. Salah satu rekan bisnis perusahaan Lina, tepatnya di bidang usaha properti, telah berkhianat. Menggelapkan dana yang seharusnya menjadi bagian perusahaan Lina. Rekan kerja yang lain, kali ini di usaha resto, telah menipu restoran dengan alibi pesanan dalam jumlah besar. Juga membujuk agar restoran menjadi investor di sebuah perusahaan. Untunglah, penipuan itu gagal, Fathina segera mengetahui kalau perusahaan calon penerima investasi adalah perusahaan bodong.


Lepas dari kejadian itu, teror Vasfi tak berhenti. Butik di tempat lain juga diobrak-abrik. Restoran didatangi para preman dan mengacau sambil membawa lembaran kertas bertuliskan ancaman. Apartemen yabg dilempari batu berbungkus kertas pesan. Pesan penuh penghinaan dan ancaman.


Bahkan, penyewa apartemen juga diteror. Dikirimi paket berisi benda-benda aneh. Kepala ayam yang masih penuh darah. Kepala barbie dengan coretan. Pecahan cermin. Tulisan mengancam, kebanyakan bertuliskan Must Die. Kaktus berduri dengan kulit ayam berlumuran darah.


Untuk kasus itu, Lina segera menerapkan peraturan baru. Seluruh paket dengan nama atau alamat pengirim yang tak dikenali penerima, dibuka oleh petugas keamanan apartemen. Bila berisi benda-benda aneh, paket diberikan pada Lina yang datang di akhir pekan.


Tak beda jauh dengan penyewa apartemen, para karyawan Lina juga diteror. Lina juga melarang mereka membuka paket dengan nama atau alamat pengirim yang tak dikenal. Paket yang belum dibuka itu diberikan pada Lina melalui atasan mereka.


Lina tak pernah menyepelekan teror pada para penyewa dan karyawan. Dia sudah melaporkan semua kasus pada kepolisian. Namun, keberadaan Vasfi masih sangat misterius. Orang yang menyebar teror pun selalu bisa kabur.


Puncaknya, ketika Fu'ad menghilang. Dibawa kabur oleh Desy, sopir Lina.


Tiga hari setelah hilangnya Fu'ad, teror masih ada. Di hari ke empat, hari kecelakaan Desy, teror berhenti. Tak ada teror lagi dari Vasfi. Namun, hanya selama satu bulan. Bulan berikutnya, teror kembali. Meski tak seperti sebelumnya. Hanya kiriman paket berisi benda-benda aneh. Itu pun hanya sedikit.


Setengah tahun setelah hilangnya Fu'ad, rumah Kenish terbakar dengan satu kerangka yang diidentifikasi sebagai Kenish. Semenjak itu, teror selesai. Tak pernah ada lagi. Juga harapan Lina.


...\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=\=...


"Abla, makan lagi, ya..." Moza menyendok makanan

__ADS_1


Lina hanya diam. Meski tak menolak saat Moza menyuapinya. Suasana kamar sangat sepi. Ini sudah larut malam.


"Abla harus makan. Saya dan seluruh karyawan khawatir dengan Abla."


Lina hanya diam. Sudah berhari-hari dia hanya diam. Tinggal di kamar. Tak pernah keluar. Tak makan meski dirayu berkali-kali. Hanya saat malam larut dia mau membuka mulut. Itu pun hanya bila Moza menyuapinya.


"Abla, istirahatlah. Saya akan keluar sebentar," Moza mengusap jemari Lina yang kurus.


Lina hanya melirik sekilas. Wajahnya datar tanpa ekspresi apa pun. Moza tersenyum, lalu keluar dari kamar. Setelah memberikan piring pada Sari, Moza menghubungi Fathina-dengan telepon rumah.


"Fathina, Abla sudah makan. Bagaimana dengan perusahaan?"


"Alhamdulillah, Mbak. Semuanya terkendali. Meski sekarang para karyawan sangat rindu Nona Lina. Atasan mereka sering mengatakannya pada saya."


"Maaf, Fathina. Saya tak bisa membantu banyak..."


"Mbak Moza tidak perlu minta maaf. Ini sudah tugas saya. Insyaallah, saya bisa mengurus perusahaan. Tapi, saya tak bisa mengurus Nona. Hanya Mbak yang paling mampu."


"Huffttt," Moza menghembuskan nafas, "Sekarang sudah tak ada lagi teror dari Vasfi. Tapi, Abla juga semakin tak bergairah."


Fathina diam sejenak, "Bila Mbak Moza berkenan, saya ingin mengajak Nona ke sebuah kajian. Pengisinya seorang ustadz yang ramah."


"Tentu saya mau. Akan saya usahakan agar Abla berkenan pergi. Semoga bisa memperbaiki keadaan. Saya boleh ikut?"


"Tentu, Mbak. Nanti saya kabari jadwal kajiannya. Beliau bernama Ustadz Ali Hasan."


"Baik, Fathina. Terima kasih banyak." Moza mengakhiri pembicaraan.


Setelah memastikan Lina tidur, Moza pergi ke balkon. Memandang langit malam tanpa bintang. Membiarkan beban sedikit terlupa. Sungguh, menghadapi teror Vasfi lebih ringan dari pada menghadapi keadaan saat ini. Orang yang paling dihormatinya tak lagi bergairah. Kehilangan sang anak telah mematikan harapan.


Syam...


Tiba-tiba Moza teringat lelaki itu. Kolega bisnis yang sangat membantu selama ini. Mencari berbagai informasi tentang Vasfi dan Kenish. Tanpa meminta balasan.


"Kebahagiaan saat menolong seseorang adalah hadiah terindah."


Itulah jawaban lelaki yang berparas tampan dan sangat ramah.


"Saya tak pernah membantu agar Nona Lina menyukai saya. Melihat kebahagiaan seseorang yang ditolong adalah kebahagiaan terbesar bagi saya."


Itu pula jawabannya setelah berkali-kali menolong. Meski lamarannya selama ini selalu ditolak dengan halus oleh Lina.


Lamaran?!


\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=


Hayo, kira-kira, kenapa Lina menolak lamaran Syam?


Kapan Syam melamar Lina?


Dan, apa yang akan dilakukan Vasfi dan Kenish?


Terus dukung dg like dan komen ya...


Ramaikan juga novel saya yang bergenre action, petualangan, dan fantasi. Tapi ada romannya kok...


Maaf, kesibukan saya sangat padat, jadi mungkin belum bisa up tiap hari...

__ADS_1


__ADS_2