My Love My Heart

My Love My Heart
Kisah Dari Moza


__ADS_3

Terlalu banyak rahasia di dunia ini. Terlalu banyak tabir di kehidupan ini. Tak terkecuali dalam kehidupan Fu'ad Dzakiy.


Kedatangan Moza beberapa jam yang lalu mengikis rasa benci di hati Fu'ad. Meleburkan amarah yang masih tersisa. Membuat air mata Fu'ad semakin deras mengalir. Dan membuat Rumaisya-Ummah terisak pelan.


"Mamamu tak pernah membencimu. Mamamu, Abla Lina, sangat mencintaimu," ucapan Moza kembali terngiang di benak Fu'ad.


Saat itu, Moza sedang memulai penjelasan. Sambil mengatakan hal itu, Moza memperlihatkan beberapa foto.


Foto wanita cantik bermata lebar, Lina saat masih muda. Foto Lina tersenyum dan mengelus perut yang tampak besar, itu saat dia mengandung Fu'ad. Senyumnya tampak menawan. Foto Lina saat hamil tak hanya satu, dan semuanya dengan senyuman. Lantas, Foto Lina yang duduk di ranjang sambil memeluk bayi mungil. Itu Fu'ad yang masih berumur tujuh jam. Dan yang paling banyak, foto-foto Lina dengan Fu'ad kecil. Wajah Lina begitu bahagia. Senyuman selalu terulas di semua foto. Diantara foto-foto itu, Moza ikut berfoto.


"Mamamu tak pernah membuangmu, Fu'ad. Tak pernah," Moza menghela nafas pelan. "Saya sendiri bingung harus memulai dari mana. Haruskah dari awal kehadiranmu, Fu'ad. Atau, sejak kau pergi meninggalkan kami."


Fu'ad hanya diam. Masih menata hati. Masih berusaha untuk tetap mencintai mamanya. Buya dan Ummah yang menemani juga memilih diam.


"Saat kajian di masjid Azhar, Abla langsung mengenalimu, Fu'ad. Selepas pengajian, saya langsung diminta mencari tahu tentang semua putra Ustadz Hadi. Abla sangat yakin, Fu'ad putra Ustadz Hadi adalah Fu'ad putranya." Moza menutup matanya.


"Dengan berbagai usaha dan cara, kami mengetahui kronologi kejadian lima belas tahun lalu. Lalu, kami mendapatkan rekaman cctv," Moza tersenyum getir.


"Fu'ad, itu bukan Abla Lina. Perempuan itu bukan Mamamu."


"Lalu siapa?" refleks Fu'ad bertanya


"Dia orang yang mengambilmu dari kami. Dari Abla Lina. Saya masih sangat ingat kejadiannya..."


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~~~~\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Lima Belas Tahun Silam....


"Abla, mobilnya sudah siap," Moza masuk ke kamar bernuansa biru.


"Ah, iya, Mbak. Yuk, Fu'ad sayang, kita berangkat ke kantor," Lina menggendong bayi mungilnya.


"Uu..a...." celoteh bayi mungil sambil mengerjapkan mata hijaunya.


"Aih, pintar banget anak Mama. Iya, Fu'ad udah ndak sabar ya." Lina mencium ubun-ubun bayinya, "Mbak Sari! Tas udah siap?" seru Lina sambil menuruni tangga.


"Sudah, Nona. Sudah saya letakkan di dalam mobil," seorang wanita dewasa menjawab dari bawah.


"Makasih, Mbak. Jazakumullahu khairann," Lina melambaikan tangannya.


"Silahkan, Abla," Moza membuka pintu mobil.


"Jazakillahu khairann, Mbak."


"Aamiin," Moza menutup pintu.


"Fu'ad sayang, sejak kamu ada, Mama jadi berubah. Makasih sayang," Lina membelai lembut kepala Fu'ad, "Semoga kelak kamu jadi orang yang bermanfaat untuk manusia banyak."


"Aamiin," sahut Moza yang duduk di samping Lina. Mobil dikemudikan pekerja lain.


"Mbak, saya lebih sering teriak dan minta tolong sejak Fu'ad ada, ya?!" Lina menatap Moza


Moza tertawa, "Iya. Abla berubah banyak. Lebih ceria, lebih sering tersenyum.."

__ADS_1


"Lebih cerewet..." tukas Lina


Keduanya tergelak bersama.


Mobil masih melaju di jalanan kota. Fu'ad, yang masih berumur setahun lebih beberapa bulan, asyik dengan mainannya. Lina yang merasa haus mengambil sebotol minuman dari tas. Moza mengikuti Lina, meminum minuman dari dalam tas. Minuman yang akan mereka sesali bertahun-tahun kemudian.


Tak seberapa lama, Lina dan Moza merasakan kantuk yang sangat. Tak bisa menahan lagi, mereka tertidur. Seulas senyum sinis terukir di wajah pengemudi mobil.


"Astagfirullah..." Lina menggeliat, melihat ke samping. Moza juga menggeliat, tampaknya baru bangun tidur. Lina merasakan sesuatu yang aneh. Mobil berhenti di pinggir jalan.


Berhenti?!


Lina terlonjak kaget. Menoleh ke kursi pengemudi, kosong! Pikirannya langsung pada satu hal. Fu'ad?!


"Ya Rabb...." Lina berseru kaget. Di mana Fu'ad?! Buah hatinya?! Di mana bayi mungil kesayangannya?!


"Mbak...." Lina berseru histeris, "Mbak Moza! Di mana Fu'ad?!"


Moza segera tersadar. Dia ikut melihat sekeliling. Benar. Putra majikan sekaligus sahabatnya tidak ada. Lina menangis, memanggil-manggil Fu'ad.


"Mbak, di mana Fu'ad?! Di mana anakku?!"


Di tengah suasana panik, Moza segera teringat pengemudi mobil, Desy! Ke mana perempuan itu?! Moza menengok majikannya, Lina semakin gusar. Air mata membanjiri pipinya.


"Mbak Moza, kita harus ke kantor polisi! Fu'ad menghilang. Putraku tak ada!"


"Tenang, Abla," Moza mengelus lembut pundak Lina, "Kita akan mencari Fu'ad. Abla tenang dulu."


Bukan ke kantor polisi. Itu terlalu jauh, ditambah kondisi Lina yang belum tenang. Moza melajukan mobil ke kantor pusat. Di sana pasti ada Fathina dan karyawan-karyawan kepercayaan. Mereka akan menghadiri rapat rutin bulanan bersama pimpinan perusahaan, Lina.


"Fathina, batalkan rapat bulanan. Segera siapkan ruangan khusus untuk Abla beristirahat. Kumpulkan orang-orang paling terpercaya dan beritahu mereka, rapat super penting!! Segera!!" dalam perjalanan, Moza sempat menghubungi Fathina dengan nomor Lina.


Fathina tanpa menunggu apa pun lagi, menjalankan semua perintah. Tanpa bertanya apa pun. Perintah dari Moza sama saja perintah dari Lina.


Hilangnya Fu'ad menjadi prioritas Moza dan Lina. Seluruh urusan perusahaan dihandle oleh Fathina. Hanya sesekali Fathina meminta pertimbangan pada Moza.


Semua usaha dilakukan. Melapor pada polisi. Melacak orang-orang yang munhkin terlibat. Menyelidiki perusahaan yang menjadi saingan perusahaan Lina. Bahkan hingga meminta bantuan detektif. Hasilnya nihil!!!


Hanya satu perkembangannya, minuman yang diminum Lina dan Moza sudah ditukar. Dengan minuman yang dicampuri obat tidur. Minuman yang asli, yang disiapkan Ifah, ditemukan di dashboard mobil. Di bawah kemudi.


Empat hari setelah kejadian, Desy, ditemukan. Sayangnya, dalam keadaan meninggal karena kecelakaan tunggal.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


"Setelah kejadian itu, Abla Lina sangat bersedih. Kami terus berusaha mencarimu, Fu'ad. Kami terus berusaha," Moza berhenti sebentar, mengambil mafas,


"Setengah tahun kemudian, sebuah paket kami terima. Kau tahu isi paket itu, Fu'ad? Itu berisi foto dirimu berada dalam gendongan sopir kami. Sebuah tulisan menyertainya," Moza menaruh selembar kertas di atas meja


..."Hai, Lina! Bayimu ada padaku. Kenish. Dia sudah tenang di sini. Tak perlu merisaukannya."...


Bukan tulisan tangan. Tapi berupa susunan dari potongan surat kabar yang ditempel.


"Saya selalu ingat reaksi Abla saat itu. Saat membaca surat ini..."

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~~~\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


"Ya Rabby..." Lina tersungkur, menjerit histeris. "Fu'ad... Putraku!"


"Abla..." Moza langsung memeluk Lina, air matanya tak bisa ditahan.


"Mbak Moza! Kenish! Kenish yang mengambil anakku! Mau apa lagi dia, Mbak?!"


"Abla, kita segera melaporkan ini pada polisi. Tenang saja, Abla. Saya sudah mengenal salah satu polisi yang dulu menangani kasus ini. Abla harus tenang dulu..." Moza mencoba menghibur.


"Tapi, Kenish! Anakku... anakku..dengan... per....perem...puan itu, Mbak!" Lina masih tersedu.


"Iya, Abla. Tapi kita harus tenang, mari Abla," Moza membantu Lina berdiri dan masuk ke kamar.


"Mbak Ifah!" panggil Moza, "jaga Abla baik-baik! Saya akan pergi dahulu."


Namun, apalah mau dikata. Terkadang, taqdir begitu kejam. Mempermainkan hati manusia. Meleburkan harapan. Pun, harapan Lina dan Moza.


Empat hari setelahnya, polisi berhasil menemukan rumah Kenish. Sayang, saat itu juga, semua harapan musnah. Rumah itu terbakar hebat, dan kerangka manusia ditemukan. Tulang belulang yang gosong dan serpihan daging berceceran. Tulang manusia berkelamin perempuan, dengan tinggi dan ciri-ciri yang mirip dengan Kenish.


Lina tak lagi memiliki gairah hidup. Entah ke mana anaknya sekarang. Entah ke mana buah hatinya saat ini. Lina menjadi begitu pemurung. Tak lagi bernafsu makan. Beruntung, ada Moza bersamanya.


Gadis berdarah Turki yang begitu menyanyangi Lina. Menguatkan hati. Menemani tiap malam. Hingga menyuapi hampir tiga kali sehari.


Beruntung Lina memiliki Fathina. Karyawan paling terpercaya. Memegang kendali seluruh perusahaan, mengambil tugas seorang Lina. Namun tidak memakan hak Lina. Karyawan paling berjasa atas bertahannya perusahaan meski sang pemilik sedang terpuruk. Karyawan terbaik.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


"Mamamu, Fu'ad, melewati masa tersulit. Hampir tak ada gairah hidup. Alhamdulillah, Allah masih menyayangi kami. Allah perkenalkan kami dengan kajian Ustadz Ali Hasan. Sejak itu, perlahan, mamamu mendapat semangat hidup kembali. Kami lebih mendekat pada Rabb kami. Dan berusaha menerima kepergianmu, Fu'ad."


Ruangan sunyi saat Moza berhenti. Fu'ad tak bisa menahan air mata. Ternyata, dia tak dibuang. Tidak! Malah, mamanya sangat mencintai dirinya. Betapa bodoh dirinya!


"Kau tahu, Fu'ad. Orang yang membuangmu adalah Kenish. Orang yang mengambilmu dari kami. Bukan mamamu. Bukan Abla."


"Di mana Mama sekarang?" lirih, Fu'ad melontarkan pertanyaan


"Saya tak tahu, Fu'ad. Selepas dari sini, Abla pergi. Tanpa mengabari saya atau pun Fathina. Tanpa petunjuk dan jejak. Saya tak tahu ke mana Abla Lina pergi. Dia menghilang..." Moza tersendat. Matanya berkaca-kaca.


"Abla... meninggalkan pesan agar kami tak perlu mencarinya. Agar kami tak perlu mencemaskan Fu'ad putranya lagi. Karena Fu'ad sudah sangat bahagia dengan keluarganya..."


Kali ini, tak hanya Fu'ad yang meneteskan air mata. Ummah terisak pelan. Dia seorang ibu, sama seperti Lina. Dia bisa merasakan luka itu. Luka ditolak sang buah hati. Diabaikan putra kandungnya. Apalagi, anak itu sudah begitu lama dia cari.


Sebuah janji terpatri. Janji untuk mencari Lina. Di empat hati sekaligus. Di hati Fu'ad, sang buah hati. Di hati Moza, sang sahabat. Di hati Buya dan Ummah, dua orang berhati mulia...


"Lalu, siapa Kenish?”


“Dia orang yang sering mengganggu mamamu. Dia orang yang sering melukai mamamu. Dia adik orang yang membuatmu hadir di dunia ini..." tangan Moza terkepal, mengingat wanita bernama Kenish...


“Dia bibiku?” meski tak yakin, Fu'ad bertanya


"Kamu benar, dia bibimu. Adik lelaki yang menghancurkan harapan Abla Lina"


"Menghancurkan harapan?! Jadi, Mama......" Fu:ad tercekat....

__ADS_1


__ADS_2