
Air mata mengalir deras. Membasahi pipi dan wajahnya. Tidak! Ini bukan air mata kesedihan. Air mata tak harus karena sedih. Saat begitu marah atau pun bahagia, air mata terlalu sering hadir. Maka inilah air mata kebahagiaan itu. Air mata yang mengalir bersama senyuman indah yang terulas.
Bukan hanya sepasang mata yang menangis. Ada sepasang mata lain yang menangis. Air mata yang turut mengalir karena kasih sayang yang tulus. Air mata haru dan bahagia.
Akhirnya, penantian lima belas tahun itu sudah berakhir. Perjuangan lebih dari seratus delapan puluh bulan telah berbuah. Kerinduan yang tak bisa tergambar itu semakin membara. Kerinduan penuh kasih dan sayang. Kerinduan berbalut do'a dan harapan.
Kerinduan seorang ibu pada anaknya.
"Semua ini benar-benar nyata?! Ya Rabby... Segala puji hanya pada Mu dan milik Mu. Al-hamdu laka wahdaka...."
Berulang kali kata itu terucap dari bibirnya.
"Dia benar-benar putraku! Hatiku! Ya Allah, dia sudah besar. Dia begitu tampan dan.... Dan... Ya Rabb, dia menjadi anak yang berilmu. Betapa besar nikmatMu ini..." ditatapnya wajah pemuda di sehelai foto. Tatapan penuh kasih sayang.
"Dan, Ya Rabb... Dia tetap memiliki nama itu. Nama yang diberikan olehku. Dia tetap bernama Fu'ad... Fu'ad... Hatiku! Putraku! Mama merindukanmu sayang..."
Air mata tak berhenti mengalir. Entah bagaimana lagi kata-kata akan melukiskan sejuta perasaan itu. Entah....
"Tapi, aku tak yakin dia bisa menerimaku..." desahnya lirih, "mungkinkah dia menerimaku? Sedangkan dia tahu, aku yang membuangnya?! Mungkinkah dia percaya ucapanku? Atau lebih percaya rekaman cctv itu?! Oh, Fu'ad putraku... Akankah kau menerima ibumu ini?!"
...\=\=\=\=\=\=\=~~~~\=\=\=\=\=\=\=...
"Kak Fu'ad!!" Teriakan menggema di sudut-sudut rumah.
"Hanifah! Jangan berteriak, sayang! Kak Fu'ad ada di kamar..." Ummah mengingatkan putri keempatnya.
Hanifah nyengir, lantas berlari ke tangga. Meninggalkan Ummah yang geleng-geleng.
Hanifah Sadiidah nama lengkapnya. Meski sudah menginjak umur enam belas, Hanifah tak pernah kehilangan sifatnya yang penuh semangat dan energik. Dia adik tertua Fu'ad, berjarak hanya setahun. Umurnya masih lima bulan saat Fu'ad masuk ke keluarga ini.
"Kak Fu'ad!!" Hanifah masih juga berteriak riang.
"Iya, Dek Hanifah..." Fu'ad muncul dari kamar, "jangan berteriak, kakak udah denger kok"
"Ye... Saya tak berteriak. Hanya semangat..." elak Hanifah.
Fu'ad hanya menggelengkan kepala. Hanifah baru saja pulang dari pesantren. Ini hari pertama liburannya. Hanifah sudah berada di tingkat akhir jenjang pendidikan -sementara Fu'ad sudah lulus saat berusia lima belas tahun, peraturan pesantren mereka memang berbeda.
"Kak Fu'ad. Dek Hilmi sudah pulang?" Hanifah menengok ke kamar
"Belum, Hanifah. Mungkin, masih ada urusan di pesantren. Di mana Buya?"
"Di bawah," jawab Hanifah, "Kak Ridlwan!!" Hanifah sudah menyapa kakak nya yang lain.
Ridlwan menoleh, lalu melambai. Menyuruh Hanifah masuk ke kamar -itu kamar bersama. Kamar Ridlwan dan Fu'ad.
"Bunayya..." Suara Buya terdengar, membuat Hanifah, Ridlwan, dan Fu'ad segera keluar dari kamar.
"Oh, Hanifah di sini juga. Ayo, turun ke bawah. Hilmi sudah datang. Juga kakak kalian, Kak Hanin."
"Zahra ikut tidak, Buya?" tanya Hanifah sambil mengikuti Buya ke bawah.
"Ikut, Bunayyati. Zahra dan Ibrahim kemari. Mereka ingin bertemu kalian semua. Terutama Hanifah dan Hilmi yang sedang liburan," jelas Buya.
Zahra adalah putri sulung Hanin, bernama lengkap Zahra El-Firdausy Al-Hanif. Hanin memang sudah menikah, dengan putra sahabat Ummah. Bernama Ibrahim Hanif.
__ADS_1
"Keluarga sedang berkumpul semua, Buya," Fu'ad berkomentar melihat keramaian di lantai bawah.
"Iya, Bunayya. Semua sedang berada di sini..."
Sayangnya, tanpa disadari oleh Buya dan Fu'ad, kelurga Fu'ad juga sedang kemari. Keluarga kandung Fu'ad....
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~~~\=\=\=\=\=\=\=...
Ustadz Hadi menyambut tamunya dengan ramah. Mempersilahkan mereka masuk ke ruang tamu. Aisy (Ummah) duduk bersebelahan dengan suaminya. Sedangkan seluruh putra-putra mereka berada di dalam.
Tamu Ustadzah Hadi kali ini seorang perempuan. Berasal dari luar kota dan sudah menginjak usia 38 tahun. Dia membuat janji untuk bertemu dengan Ustadz Hadi di rumah beliau. Untuk menghindari larangan Allah, Ustadz Hadi meminta Aisy menemani pertemuan mereka.
"Maaf, Ustadz, bolehkah saya bertanya sesuatu yang sangat penting? Sesuatu yang utama atas kedatangan ini?!" wanita tersebut akhirnya mulai membicarakan maksudnya setelah berbasa-basi sejenak..
"Ya, silahkan Nona."
"Apakah Ustadz masih mengenali benda ini?"
Wanita tersebut meletakkan sesuatu di atas meja.
Ustadz Hadi dan Aisy terkesiap. Itu sebuah liontin indah. Bewarna hijau elok, liontin zamrud. Berbentuk setengah bintang! Aisy bahkan mengambil benda itu dari atas meja. Memperhatikannya dengan seksama. Berarti, wanita yang bertamu ini memiliki hubungan dengan Fu'ad! Liontin itu adalah pasangan liontin yang ada bersama Fu'ad saat ditemukan.
"Anda mengenal Fu'ad?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Aisy.
"Benar, Nyonya Rumaisya. Fu'ad adalah putra saya. Saya ibu kandungnya." Suara wanita itu bergetar. Seperti menahan segumpal perasaan di dada.
"Ibu?!" Ustadz Hadi dan Aisy mengulang kata itu.
Wanita itu mengangguk, lantas mengeluarkan beberapa lembar foto. Meletakkan di atas meja.
"Saya ingin bertemu dengan putra saya. Saya sudah sangat merindukannya," wanita tersebut mengucapkan keinginannya.
Ah, sebenarnya, dia ingin menyampaikan hal lain. Sesuatu yang berkaitan erat dengan peristiwa pembuangan Fu'ad, penjelasan rekaman cctv di malam tersebut. Namun, perasaan rindu yang begitu hebat sudah mengalahkan segala. Dia hanya ingin bertemu putranya. Dia ingin memeluk Fu'ad.
"Akan saya panggilkan," Ustadz Hadi bangkit dan masuk ke dalam.
Aisy hanya bisa menarik nafas berat. Sungguh, dia selalu berdo'a agar Fu'ad bisa kembali bertemu dengan ibunya. Dengan keluarga kandungnya. Tapi, saat semua terjadi, hatinya merasa berat?! Dia tak ingin berpisah dari Fu'ad Dzakiy.
"Terima kasih, Nyonya Rumaisya," suara lembut sang wanita memecah hening, "Nyonya sudah berkenan merawat Fu'ad."
"Sudah kewajiban saya," Aisy mencoba tersenyum.
Ingin rasanya dia menanyakan tentang pembuangan Fu'ad. Mengapa perempuan di hadapannya ini tega membuang Fu'ad saat bayi dulu?! Sampai hati meninggalkan bayi tak berdosa yang masih membutuhkan kasih sayang darinya?!
Aisy menahan semua pertanyaan itu. Dia tak berhak menanyakan hal itu. Pasti, perempuan tersebut memiliki alasan kuat. Dan mungkin, Fu'ad-lah yang berhak menanyakan semua itu.
Ustadz Hadi datang. Kali ini bersama tiga putranya. Hanin, Ridlwan, dan tentu saja Fu'ad. Mereka menyapa ramah perempuan yang bertamu. Buya mereka memang belum memberitahukan semuanya. Mereka hanya diminta untuk ke depan.
"Ibu mengenali Fu'ad?" Ustadz Hadi kembali duduk.
Wanita tersebut mengangguk, matanya memandang lekat Fu'ad. Pandangan penuh keeinduan yang mendalam. "Fu'ad...." ucapnya lembut.
Fu'ad menoleh. Pandangan mereka bertemu. Hati Fu'ad berdebar tanpa disadari. Pandangan mata itu menggetarkan jiwanya.
"Fu'ad, beliau ibumu...." Perkataan Aisy mengagetkan ketiga putra-putrinya.
__ADS_1
"Ibu?!" ulang Fu'ad, kekagetan luar biasa menyergap hatinya
"Iya, Nak. Ini Mama, Fu'ad," sang tamu berkata pelan, "kemarilah, Nak. Mama merindukanmu..."
Mama?! Fu'ad begitu menelan ludah, menatap perempuan yang memanggilnya. Mata perempuan itu berkilat, menahan air mata yang siap tumpah.
Mama?! Fu'ad ingin sekali memeluk ibu kandungnya. Dia begitu rindu. Perempuan tersebut, mamanya, berdiri. Lantas mendekat pada Fu'ad.
"Kemarilah, putraku... Mama merindukanmu..." desisnya lemah, menahan gejolak rindu di hati.
Entah mengapa, bayangan surat lusuh itu berkelebat di benak Fu'ad. Rekaman cctv malam itu terngiang kembali. Dia anak yang dibuang. Dia anak yang tak diinginkan.
"Kenapa Mama membuangku?!" pelan, ucapan itu yang keluar dari bibir Fu'ad. Matanya menunduk, membiarkan air mata menetes.
Ustadz Hadi dan Aisy salin menatap. Mengapa Fu'ad malah menanyakan hal itu?! Seharusnya, Fu'ad memeluk ibunya.
"Mama tak pernah membuangmu, sayang... Mama..."
"Bohong!!" tukas Fu'ad cepat, "Mama membuangku. Kenapa Mama? Apa karena aku anak haram?!"
Wanita itu tergugu. Putranya tak juga menyambut pelukan, malah menanyakan hal yang sangat menyakitkan. Putranya memutus penjelasannya.
"Fu'ad, dengarkan ibumu dahulu!" Hanin menepuk pundak adiknya.
"Untuk apa, Kak?! Dia membuangku!" Emosi Fu'ad tak lagi terkontrol. Seakan lupa bahwa yang menjadi lawan bicaranya barusan adalah kakaknya.
"Aku benci dia!!" Entah bagaimana, Fu'ad malah mengatakan hal terlarang itu.
"Fu'ad!!" Ustadz Hadi dan Aisy refleks berdiri mendengar ucapan putra mereka.
Wanita itu terkesiap. Hanin dan Ridlwan serempak menoleh ke arah Fu'ad.
"Dia tak pantas menjadi ibuku! Dia membuangku! Aku benci!" Amarah telah mengungkung hati Fu'ad. Tak peduli lagi kata-kata tak sopan. Tak hirau lagi ada Buya dan Ummah di sana.
"Fu'ad!" Ustadz Hadi meraih pundak Fu'ad.
Fu'ad menepis tangan Buya, "Aku benci!" Fu'ad menaikkan suaranya, lantas berlari masuk ke dalam. Meninggalkan kekagetan luar biasa di ruang tamu.
Buya dan Rudlwan bergegas mengikuti
"Fu'ad..." bisik wanita itu lemah. Kali ini, air matanya mengalir di pipi. Sebesar itukah kebencian putra kandungnya pada dirinya?!
"Maaf, Bu. Saya akan membujuk Fu'ad..." Aisy mencoba menenangkan.
"Tak perlu, Nyonya. Mungkin, perkataannya benar. Saya tak pantas menjadi ibunya," wanita itu semakin tergugu, "Nyonya, cukup sampaikan saja salam saya padanya. Sampaikan pula, bahwa saya tak pernah membuangnya sampai kapanpun, saya tetap menyayanginya. Jika saya membenci dirinya, tentu sudah saya gugurkan kandungan saya," diusapnya air mata yang membasahi pipinya. Mencoba menahan isak tangisnya.
"Maaf, saya telah mengganggu kenyamanan Nyonya. Saya permisi," tanpa menunggu jawaban, wanita itu sudah keluar rumah.
"Bu!" Aisy dan Hanin mengejarnya. Wanita itu sudah masuk ke mobil. Sekejap, mobil itu sudah melaju. Meninggalkan Aisy dan Hanin yang masih kebingungan. Mengapa wanita itu pergi? Kecewakah dia pada penolakan Fu'ad?! Marahkah dia pada kata-kata kasar Fu'ad?! Hingga pergi tanpa mencoba menunggu Fu'ad lagi?!
Sedangkan itu, wanita tadi masih terisak di dalam mobil. Wajahnya sudah basah oleh air mata.
"Mbak, langsung pulang saja!" perintahnya di sela isakan.
Pengemudi mobil mengangguk, bukan waktunya untuk bertanya. Sekarang, dia hanya harus menuruti ucapan majikannya, "Baik, Abla,"
__ADS_1
Dan mobil melaju semakin kencang.