My Love My Heart

My Love My Heart
Vasfi


__ADS_3

Pernahkah bingung dengan perasaan sendiri? Tak mengerti akan suasana hati sendiri? Sedih, marah, bahagia, lega, dan entah apa lagi. Pernahkah?


Lina pernah mengalaminya. Dua belas tahun kemudian, putranya mengalaminya juga. Di saat, tanggal, dan bulan yang sama. Hanya terpaut dua belas tahun.


Fu'ad memejamkan mata. Air mata mengalir. Dia tak mengerti mengapa dan untuk apa air matanya jatuh? Setumpuk perasaan teraduk di dalam hatinya. Di sebelahnya, Ummah mengelus lembut pundaknya. Di dekat Ummah, Hanin menarik nafas panjang. Di belakangnya, Buya dan Ridlwan hanya diam. Di seberang, Moza juga diam.


Tangan Fu'ad kembali mengusap tanah di depannya. Lalu mengusap lembut nisan di dekatnya. Nisan bertanggal dan bulan yang sama. Hanya terpaut dua belas tahun silam. Nisan dengan nama yang mengaduk seluruh perasaan hati Fu'ad.


Putra Vasfi.


Papa. Papa Fu'ad telah meninggal. Dua belas tahun silam. Lalu, apa kabar hati? Fu'ad sendiri tak mengerti. Sedih? Ya! Salah satu orang tuanya telah pergi. Tanpa sempat dia tatap wajahnya. Bahagia? Ya! Orang yang selama ini menyakiti ibu kandungnya tak lagi bisa mengulang rasa sakit. Lega? Ya! Dia tahu ke mana harus mencari sang ayah kandungnya. Marah? Ya! Tapi, entah pada siapa dan kenapa. Kecewa? Ya! Dia tak tahu bagaimana keadaan papanya saat meninggalkan dunia ini.


"Anda semua, terutama Tuan Muda, harus ke satu tempat lagi sebelum pergi." Ucapan Fathina kembali terngiang. Diucapkan sebelum keluarga Fu'ad pergi meninggalkan kantor pusat. Dan Moza mengiyakan dengan anggukan.


Tadi, Moza datang kembali ke rumah Buya. Mengajak seluruh keluarga. Dan sangat berharap Buya dan Ummah bisa ikut.


Matahari sudah ada di barat saat mereka pergi. Moza tak mengatakan akan ke mana. Dan akan menemui siapa. Hanya mengatakan, tempat itu sangat bersejarah bagi Lina dan Fu'ad. Seluruh keluarga heran saat mobil berhenti di depan sebuah pemakaman. Makam?


Dan di sinilah mereka. Mengelilingi sebuah makam. Langit semakin menguning. Senja semakin pekat.


"Bolehkah saya mendengar kisahnya, Hala?" suara lirih Fu'ad bergetar.


"Tentu, Fu'ad. Itu semua hakmu. Tapi tidak di sini. Nanti saja di rumah Abla. Fathina akan membantu saya menjelaskan."


Dan matahari semakin mendekati cakrawala.


...\=\=\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=\=...


Delapan Belas Tahun Silam....


Semburat cahaya matahari pagi menyapa lembut. Embun di ujung dedaunan berkilau indah. Bunga-bunga merekah elok di pucuk ranting. Menjadi latar yang indah untuk foto tiga wanita yang tengah tersenyum.


"Terima kasih, Lisa!" Lina tersenyum sambil menerima kamera.


"Sama-sama, Nona. Senang bisa membantu Nona," Lisa mengangguk ramah. Dia salah satu karyawan di butik.


"Wah, Mbak Moza dan Fathina tampak cantik sekali."


"Abla lebih cantik. Pasti keponakan saya juga cantik..." Moza tertawa

__ADS_1


"Itu kalau perempuan, Mbak..." sahut Fathina.


Mereka bertiga tertawa. Seperti biasa, pagi ini Lina dan Moza berjalan-jalan di taman dekat rumah. Fathina juga sering menemani mereka. Kali ini, Lisa dan dua karyawan lain menemani, sebuah kebahagiaan tersendiri untuk mereka.


Lina memang sangat dekat dengan seluruh karyawannya. Moza selalu membantunya mencari banyak info tentang mereka. Kondisi ekonomi, kesehatan mereka dan anggota keluarga mereka, bencana yang menimpa, bahkan hingga prestasi akademik anak-anak para karyawan.


"HPL-nya tinggal dua bulan lagi, ya... Saya jadi tak sabar menimang Tuan Muda," ujar Fathina dengan mata berbinar.


"Bukan Tuan Muda, Fathina. Tapi Nona Muda," Moza menyahut.


"Menurut saya, Tuan Muda. Nona Lina saja ngidam mainan mobil dan robot."


"Tapi, Abla jadi suka mengoleksi tanaman bunga di rumah."


Lina tertawa melihat dua sahabat terdekatnya berselisih. Nanti akan berhenti sendiri. Lina memilih duduk di salah satu bangku taman. Lisa dan dua karyawan lain segera membantu.


"Mbak Moza. Fathina. Ada satu tugas untuk kalian." Lina mendesah, menatap pucuk daun, "Cari Vasfi dan Kenish. Mereka mulai berani mengancam."


Moza dan Fathina menatap serius majikan mereka. Kenish dan Vasfi. Dua manusia yang selalu mengganggu mereka.


Dua orang itu pernah datang ke kantor pusat dan meminta untuk bertemu dengan Lina. Lina menerima bersama Moza dan Fathina. Seluruh karyawan kantor pusat bersiap di depan ruangan Lina. Mereka memang tak mengetahui bahwa Vasfi-lah ayah dalam rahim Lina. Yang mereka tahu, Vasfi adalah orang yang paling dibenci Lina. Orang yang selalu mengusik dan mengganggu majikan terbaik mereka. Maka, tak ada seorang pun karyawan yang tidak membenci Vasfi. Juga Kenish, adik Vasfi yang selalu membantu kakaknya.


Dua lembar foto mengerikan. Entah bagaimana mereka mendapatkannya. Itu foto kejadian di malam kelam itu. Tepat di posisi seakan Lina tak terpaksa. Seakan mereka melakukannya dengan suka rela.


Lina hanya menatap tajam dua kakak beradik di seberang mejanya. Moza dan Fathina meremas tangan. Seulas senyum tersungging di bibir Lina.


"Kalian salah memilih lawan, Vasfi! Kenish! Kalian sudah melupakan semua? Kalian lupa akibat bermain-main denganku? Bila kalian lupa, akan kuingatkan dengan hal yang lebih sulit untuk dilupakan..."


"Brakkk!!!" Perempuan berambut pirang menggebrak meja, memutus kata-kata Lina. "Jadi, kamu menolak mengirim uang?! Kamu akan menyesal!"


"Oh? Saya takut..." Fathina menyahut dengan berpura-pura gemetar. Lantas tertawa lirih... "Kamu bodoh, Kenish!! Jika kalian menyebar foto itu, polisi lebih mudah untuk menangkap kalian."


"Kami tidak takut dengan polisi!!" sengit Kenish dan Vasfi bersamaan.


"Kami juga takkan menggunakan polisi!" Fathina membalas tak kalah sengit, "Aku hanya bilang... Polisi dapat dengan mudah menemukan kalian. Maka, bagaimana dengan pembunuh handal yang kami kirim?"


"Batas waktu kalian adalah seminggu! Jika tak mengirim uang, kami akan sebar foto ini di majalah bisnis terkenal! Tunggu saja kehancuranmu, Lina!!" Vasfi menggertak, lantas pergi dengan menarik tangan Kenish.


Begitu keluar dari ruangan Lina, Vasfi dan Kenish harus menebalkan muka. Bayangkan saja, seluruh karyawan menatap penuh permusuhan. Tak hanya memusuhi, tapi juga merendahkan. Tak hanya karyawan, bahkan sampai cleaning servis yang masih membawa ember dan pel.

__ADS_1


"Dasar orang rendahan..." Bisik-bisik terdengar jelas di telinga Vasfi dan Kenish


"Itu kan mantan direktur yang K.O saat melawan perusahaan ini" seorang cleaning servis bahkan merasa tak perlu memelankan suaranya.


Di dalam ruangan, Lina membanting beberapa benda. Moza segera memeluk majikannya. Membisikkan kata-kata lembut yang menenangkan. Fathina segera keluar dan menutup rapat pintu ruangan. Mendapati banyak karyawan dan cleaning servis yang menunggu di luar ruangan, dia segera memerintahkan beberapa irang untuk mengikuti Vasfi dan Kenish. Membuntuti dengan hati-hati tanpa dicurigai. Lalu menghubungi beberapa orang terpercaya -yang dulu ikut andil dalam menjatuhkan Vasfi.


Masalah itu cukup lama baru bisa diselesaikan. Vasfi dan Kenish selalu meneror Lina. Mengirim kembali foto-foto itu. Hingga orang-orang pilihan Lina dan Moza berhasil mengambil semua foto dari tangan keduanya.


Kini, mereka mulai meneror karyawan perusahaan. Juga para penyewa apartemen milik Lina. Lina tak bisa lagi menahan amarahnya. Dia tak bisa menerima ulah Vasfi dan Kenish yang sudah semakin berani. Karyawan adalah keluarga kedua bagi Lina.


"Baik, Nona. Saya akan berusaha..." ucapan Fathina memutus ingatan pahit tentang Vasfi.


"Ayo, kita pulang. Sepertinya anak saya sudah lelah..." Lina mengelus perut yang semakin membesar.


"Baik, Nona."


"Baik, Abla."


Moza dan Fathina membantu Lina untuk bangkit. Lisa membawa tas Lina. Sedangkan dua karyawan lain menyiapkan mobil yang berada di luar taman.


Dua bulan kemudian, Fu'ad lahir. Meski gangguan dari Vasfi masih ada. Kenish? Entah mengapa, dia sudah lama tak muncul lagi.


"Tampan sekali, Abla..." Moza menggendong bayi mungil yang belum genap berumur tujuh jam.


"Terima kasih, Mbak. Keinginan Fathina menjadi kenyataan. Anakku laki-laki." Lina menoleh ke arah Fathina yang duduk di ruangan bersalin.


"Nona bisa saja," Fathina tersenyum lembut.


"Siapa namanya, Abla?" Moza meletakkan bayi mungil ke pangkuan Lina


"Fu'ady. Itu nama yang saya siapkan. Dan Fathina menyiapkan nama Al-Afif. Jadi, namanya Fu'ady Al-'Afif. Hatiku yang mampu menjaga iffah (kehormatan diri)" Lina mencium ubun-ubun putra sulungnya.


"Foto, Abla?" Moza mengeluarkan kamera.


"Ide bagus. Saya dan Fu'ad," Lina melihat arah jam, "di usianya yang masih tujuh jam."


Dan, foto penuh kenangan itu-pun hadir. Foto Lina di atas ranjang sambil menggendong bayi merah. Foto pertama Fu'ad. Di usia yang belum mencapai satu hari.


Saat bersamaan, Vasfi sedang menyiapkan berbagai rencana untuk menghancurkan Lina. Perempuan yang membuatnya harus mundur dari kursi direktur hotel ternama.

__ADS_1


Padahal, siapa yang pertama membuat masalah??


__ADS_2