
Saat malam kian kelam, sejatinya cahaya kian mendekat. Hanya saja, sering kali manusia tak mengetahui, mana puncak kelam itu. Lebih sering mereka menganggap, permulaan kelam adalah paling kelamnya malam. Maka saat kian kelam, mereka putus asa. Menyalahkan cahaya yang tak kunjung tiba. Padahal, mereka lah yang salah menilai.
Masjid besar yang didominasi warna hijau, begitu ramai. Pengajian sudah usai beberapa waktu lalu. Tapi banyak jama'ah yang masih berada di kompleks masjid. Berjumpa kawan atau kerabat. Berkenalan dengan orang lain. Membeli dagangan dari para penjual di halaman dan depan kompleks masjid. Atau sekedar melepas lelah.
"Jazakumullahu khairann, Mbak Moza. Fathina. Kalian telah menemani saya selama saya terpuruk." Lina tersenyum pada dua sahabat dekatnya.
"Ini usul Fathina, Abla."
Fathina tertawa, "Memang usul saya. Namun yang berhasil mengajak Nona kemari, ya Mbak Moza."
"Ah, Fathina bisa saja."
Lina tertawa mendengar perdebatan dua sahabatnya. Tawa pertama setelah sekian lama terpuruk, beberapa bulan tepatnya. Kini, hampir setahun sejak hilangnya Fu'ad. Beberapa bulan selepas kabar kebakaran rumah Kenish.
"Sebenarnya, saya mengetahui kajian ini dari teman Nona sendiri."
"Eh? Siapa?" Lina refleks berhenti tertawa.
Fathina tersenyum, "Tuan Syam."
"Syam?!" Lina mengulang nama.
Fathina mengangguk mantap. Syam yang mengabari beberapa kajian dan pengisinya. Fathina memilih kajian ini karena tak hanya Ustadz Ali Hassan yang mengisi. Ada pula dua motivator terkenal dan seorang penulis novel tersohor.
"Panjang umur," Moza menunjuk seseorang yang mendekat.
"Assalamu'alaikum," Syam mengucap salam.
"Wa'alaikumussalam. Senang berjumpa Anda, Tuan Syam."
Syam tersenyum lebar. Ada kebahagiaan begitu besar saat melihat Lina kembali ceria.
"Anda sendirian, Tuan?"
"Tidak, Nona. Saya bersama Arif, kawan saya."
Arif adalah sosok kawan sekaligus pekerja. Posisinya di mata Syam sangat mirip seperti Moza di mata Lina.
Lina mengangguk. "Di mana dia?"
"Sedang di mobil. Arif merasa sangat canggung untuk berjumpa Nona Lina."
Lina tertawa lirih. Selalu saja, Arif tak pernah mau bertemu apalagi berbincang dengannya atau Moza. Mungkin, hanya mau bertemu Fathina.
Namun, sebenarnya Arif memiliki banyak rahasia. Dia sangat mengenali Lina dengan baik. Dia adalah orang yang dikenali oleh Lina di masa lampau.
"Bagaimana keadaan Nona?"
"Sangat baik, Tuan. Terima kasih telah mengusulkan tempat ini pada Fathina. Anda sangat baik."
"Sudah kewajiban saya, Nona." Syam mengangguk hormat, "Maaf, Nona. Saya ingin mengatakan sesuatu."
Ketiga perempuan di depannya saling menoleh. Penasaran. Apalagi Moza dan Lina, mungkinkah dia akan mencoba lagi?
"Bolehkah saya berteman dengan Nona? Bukan hanya sebagai kolega bisnis?"
Lina tersenyum, mungkin ada baiknya dia mengizinkan. Syam sudah sangat baik selama ini. Lina mengangguk.
"Terima kasih, Nona."
"Bila kawan, jangan panggil Nona. Lagi pula, saya lebih muda dari Anda."
__ADS_1
Syam menggaruk kepalanya, "Baiklah. Tapi, jangan panggil saya dengan Tuan juga. Panggil saja dengan nama."
"Nama? Baiklah. Panggil saya dengan nama juga."
Pertemanan itu pun terjalin. Mereka menjadi teman. Meski sebenarnya, Syam sangat menginginkan agar lebih. Ada perasaan khusus darinya untuk Lina.
"Sampai jumpa lagi, Lina. Jangan lupa untuk mampir di rumah saya."
"Insyaallah, Syam,"
Lina melepas kepergian Syam. Saat mobil Syam lewat, terlihat sekilas si pengemudi. Arif. Pria terdekat Syam itu hanya mengucap salam tanpa ekspresi yang tampak. Suara seraknya terdengar kaku.
Satu hal yang khas dari Arif. Dia memakai topeng yang menutup bagian area mata kiri. Juga selalu bertopi lebar yang menutup dahi. Entah apa maksudnya.
Semenjak saat itu, mereka kian dekat. Tak hanya sekedar menjadi kolega bisnis.
"Fathina, besok saya akan pergi ke kantor pusat. Sudah lama saya tak mengurusi bisnis."
"Baik, Nona. Saya yakin, para karyawan sangat bahagia bisa bertemu Nona lagi."
"Mbak Moza, bagaimana dengan para karyawan selama ini?"
"Kami dan Sari bergantian untuk menengok karyawan yang sakit. Kami juga tetap membantu karyawan yang membutuhkan," lapor Moza.
Lina, lagi-lagi, tersenyum. Dua sahabatnya benar-benar sangat terpercaya.
...\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=...
Mobil sedan hitam melaju tenang di jalanan. Berhenti di sebuah perumahan sederhana yang indah. Tepatnya, di depan sebuah rumah yang paling luas. Dua perempuan berjilbab keluar.
"Ini rumah yang saya maksud, Abla."
"Bagus sekali, Mbak." Lina mengacungkan jempolnya. "Padahal, sebenarnya ini akan digunakan untuk taman kecil, ya Mbak."
Moza tertawa. Memang, itu rencana awal. Namun, semenjak Lina menginginkan untuk pindah, Moza mengusulkan tempat ini. Rencana taman diubah menjadi rumah untuk Lina. Moza sendiri yang mengawasi pembangunan rumah ini.
"Selamat pagi, Nona!" Seseorang menyapa.
"Assalamu'alaikum, Bang Togar."
Lelaki kekar dalam balutan baju seorang satpam, tersenyum malu, "Eh, wa'alaikumussalam, Nona."
Lina mengangguk dan tersenyum.
"Jadi, benar Nona akan tinggal di sini?"
"Insyaallah, Bang. Saya ingin dekat dengan teman-teman saya."
"Teman?!"
"Karyawan dan orang yang bekerja pada Abla adalah teman. Termasuk Bang Togar sendiri," jelas Moza.
"Wah, Nona baik sekali." Togar menatap kagum majikan sekaligus orang yang menolongnya
.
"Kalian yang baik pada saya, Bang. Abang kenapa kemari? Bagaimana dengan pos depan?"
"Nona jangan khawatir. Ada dua satpam yang sedang bertugas, Nona. Saya sudah berjaga tadi malam, Nona."
"Nona Lina?!" seru seseorang dari depan sebuah rumah tak jauh dari Lina. Diikuti seruan beberapa suara lain.
__ADS_1
Lina tersenyum dan melambai. Mereka adalah penghuni perumahan yang dibangunnya ini. Semuanya orang yang dikenal, mereka para karyawan dan orang-orang yang pernah ditolong Lina.
Tentu saja, mereka merasa sangat bahagia saat tahu Lina akan tinggal di perumahan ini. Pemilik perusahaan, juga penolong mereka, tinggal di samping rumah mereka.
Dua hari kemudian, Lina mulai tinggal di rumah barunya. Sari dan Ifah, pelayan rumah paling setia, ikut pindah. Juga Sasya, sopir yang sering membantu merawat tanaman.
Suasana baru menemani Lina dalam kehidupan berikutnya. Karyawan sekaligus tetangga sangat hormat dan ramah. Mewarnai hari-hari yang tiba. Banyak kajian yang diikuti oleh Lina. Termasuk kajian Ustadz Luthfi Hadi di beberapa kesempatan, hanya saja tak pernah berjumpa dengan Fu'ad. Allah belum mengizinkan mereka bertemu ssat itu.
Beberapa hari setelah pindah, sebuah kabar sampai.
"Abla, boleh saya masuk?" Moza berdiri di ambang pintu kamar utama.
"Masuklah, Mbak." Lina menutup buku yang dibacanya. "Yang lain sudah pulang?"
"Sudah, Abla. Baru saja, mereka keluar," Moza duduk di kursi samping ranjang. Hanya dia yang menginap di rumah Lina. Sari, Ifah, dan Sasya akan pulang di malam hari. Hanya saja, mereka tinggal di samping rumah Lina.
"Ada apa, Mbak?"
Moza meletakkan beberapa kertas di atas meja, seulas senyum mengembang di bibirnya. "Fathina baru saja memberikan kabar terbaru, Abla."
Moza menarik nafas panjang, "Vasfi mengalami kecelakaan, Abla."
"Kecelakaan?"
Moza mengangguk. Sejak kebakaran rumah Kenish, tak ada lagi teror dari Vasfi. Keberadaannya pun tiba-tiba menghilang. Terakhir, dia pergi ke Turki. Lalu tak pernah ada kabar lagi. Tadi, Fathina memberinya kabar yang sangat mengejutkan.
"Dan dia meminta Abla datang menemuinya," lanjut Moza lirih.
Dahi Lina berkerut, "Bertemu? Untuk apa? Bagaimana?"
Moza menggeleng pelan. "Saya juga tak faham, Abla."
Kemarin, seseorang dari sebuah rumah sakit mendatangi kantor pusat. Menemui Fathina dan membawa kabar. Bahwa seorang pasien yang mengalami kecelakaan, meminta agar Nona Lina Mawaddah berkenan menemuinya. Fathina mencari informasi terkait si pasien. Betapa kaget hatinya saat mengetahui, Vasfi-lah pasien itu. Setelah menimbang cukup lama, Fathina akhirnya mengabari Moza.
"Bagaimana menurut Mbak?"
"Menurut saya, abaikan saja, Abla. Saya khawatir dia akan mengulangi semua perbuatannya selama ini. Namun, semua pilihan ada pada pada Abla."
Lina terdiam, merenungkan dua pilihan. Memenuhi keinginan Vasfi atau mengabaikannya. Menilik semua perbuatannya selama ini, kekhawatiran Moza adalah hal yang sangat mungkin.
"Apakah Vasfi benar-benar terluka?"
Moza mengangguk yakin. Fathina sudah mengeceknya.
"Kita ke sana besok pagi. Beritahu Fathina juga. Kalau Mbak khawatir, kita bisa meminta Togar untuk menemani."
Meski berat, Moza memilih untuk menurut pada majikannya. Pasti ada alasan penting.
Sayangnya, semua tak sesuai rencana. Pernah mendengar kata-kata; manusia hanya berencana, tapi Tuhan yang memutuskan. Itu pula yang dialami Lina. Esok hari, dirinya memang benar-benar datang ke rumah sakit. Bersama Fathina dan Moza. Lina benar-benar akan menemui Vasfi. Namun, semua berubah.
Lina datang. Tiba di depqn kamar. Dua perawat keluar dari kamar Vasfi. Diikuti seorang dokter. Membawa kabar yang begitu mengagetkan. Vasfi telah tiada. Pergi untuk selamanya. Tak kan pernah kembali
Apa yang dirasakan Lina? Dia sendiri sangat bingung dengan hatinya. Bahagiakah dia? Orang yang terlalu sering meneror dan mengganggu, telah tiada. Legakah dia? Teror seperti dulu takkan lagi terulang. Sedihkah dia? Ayah kandung putranya telah pergi. Kecewa kah dia? Kabar lelaki itu yang datang, bukan kabar putranya. Dan entah perasaan apa lagi di dalam hatinya.
\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa jempolnya ya....
Dukung saya selalu dengan like dan follow. Mampir juga di novel pertama saya,
Legenda Pendekar Rama Parvati...
__ADS_1