My Love My Heart

My Love My Heart
Dua Perempuan


__ADS_3

"Rabi'a!" panggilan penuh kasih sayang terucap dari bibir seorang laki-laki paruh baya


"Labbaikum, Ammy" seorang gadis menyahut, lantas mendekat.


Labbaikum berarti 'saya penuhi panggilan Anda'. Ini adalah ungkapan saat menjawab panggilan, sebagai bentuk penghormatan pada pemanggil. Sedangkan Ammy bermakna pamanku dalam bahasa Arab.


"Apakah besok kau bisa menghadiri kajian kami di masjid Azhar?"


Rabi'a mengangguk, "Insyaallah saya bisa, Ammy. Kemarin, teman saya juga mengajak ke sana, Ammy."


"Siapa, Rabi'a?"


"Mahmudah, teman Rabi'a saat di pesantren, Ammy. Putri Paman Eqbal. Apakah boleh saya pergi dengannya?"


Pria paruh baya yang dipanggil Ammy mengangguk-angguk. Meski tak mengetahui dengan pasti, tapi setidaknya keponakannya tak mungkin bergaul dengan sembarang orang.


"Baiklah, kau bisa pergi dengannya. Tapi, jangan lupa untuk selalu berhati-hati. Juga, kabari orang tuamu terlebih dahulu."


Rabi'a mengangguk, "Mereka sudah saya kabari, Ammy. Abi dan Ummi memperbolehkan selagi Ammy mengizinkan."


"Ya sudah, ayo ke ruang makan. Ammahmu pasti sudah menyiapkan makan siang yang lezat. Jangan membuatnya menunggu."


Rabi'a mengangguk, lantas bangkit dan berjalan mengikuti pamannya. Rabi'a sejak kecil tinggal bersama Ammy dan Ammah, paman dan bibinya, karena mereka tak memiliki seorang anak sama sekali.


Ammy adalah kakak tertua Abi Rabi'a. Bernama Syakir Musa Shaleh Al Mishry atau lebih dikenal sebagai Syaikh Musa Al Mishry. Seorang 'alim berdarah Mesir dan lulusan dua universitas Islam terkemuka. Beliau lahir di Sumatra, lalu pindah ke Mesir setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah (sederajat dengan SD). Setelah menikah, beliau memilih tinggal si negeri kelahiran.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Langit cerah, tanpa mendung, saat Rabi'a pergi ke Masjid Azhar. Di sampingnya, Mahmudah fokus memandang jalanan. Mereka akan menghadiri kajian di Masjid Azhar. Bersama Fu'ad Dzakiy dan Lina Mawaddah.


"Rabi'a! Siapa saja yang akan mengisi kajian selain pamanmu?"


"Lho?! Kamu tidak tahu?"


"Yang kutahu, cuma Syaikh Musa Al-Mishry pamanmu."


"Lalu, mengapa kamu ikut? Tertarik dengan tema nya?"


"Awalnya, aku tak ingin ikut. Tapi, saat tahu kalau pamanmu menjadi salah satu pengisi kajian, aku memutuskan ikut."


Rabi'a tertawa, "Jadi, cuma karena Ammy mengisi kajian itu?!"

__ADS_1


Mahmuda menyeringai, "Hehehe... Maaf. Aku juga tak mengerti, tiba-tiba aja ingin menghadirinya. Sudahlah, siapa lagi yang akan mengisi kajian besar itu?"


"Setahuku, ada Ustadz Ali Hasan, Ustadz Bagus Karim, dan Ustadz Luthfi Hadi. Sedang ulama' lain yang akan menghadiri, aku tak ingat."


"Ustadz Luthfi Hadi yang dimaksud, apakah sahabat pengasuh pesantren kita dulu?"


Rabi'a mengangguk, "Iya. Ustadz Hadi sahabat pengasuh pesantren kita. Ada apa? Kamu ingat putra beliau 'kan?!" Rabi'a memainkan alisnya. Menggoda sahabatnya.


Mahmudah memukul pundak Rabi'a. Meski pipinya merona indah.


"Tuh... Pipimu sampai memerah. Kamu benar-benar ingat putra Ustadz Hadi 'kan?! Siapa ya, namanya... Ah, iya! Fu'ad... Fu'ad siapa, Mahmudah?" Rabi'a terus menggoda Mahmudah.


Mahmudah hanya tersenyum masam. Meski pipinya bersemu merah. Ah, dia pun belum pernah mencintai seseorang. Fu'ad?! Hanya sebatas kagum. Kagum dengan kepandaiannya. Mereka -Mahmudah, Rabi'a, dan Fu'ad- memang belajar di satu pesantren. Meski peraturan pesantren tak memungkinkan mereka berkenalan, tapi perjumpaan tanpa sengaja bisa terjadi. Saat pulang atau pergi ke masjid, ke berbagai acara di luar pesantren, atau saat hari kepulangan dan kedatangan.


"Rabi'a!! Sudah berkali-kali aku bilang, aku tak menyukainya. Cuma kagum!" elak Mahmudah.


Rabi'a tertawa, "Kagum atau kagum?! Hati-hati, kagum sering menjadi awal suka, lho...."


Mahmudah memukul pelan pundak Rabi'a. Gerakan itu membuatnya kehilangan konsentrasi. Mobil sedikit oleng, meluncur memasuki jalur seberang. Kontan saja, Rabi'a berteriak jerih. Mahmudah segera menatap ke depan dan memutar kemudi dengan cepat.


Sunyi. Rabi'a dan Mahmudah masih mengatur nafas dan degup jantung. Hampir saja mereka celaka. Untungnya, jalur seberang saat itu sedang lengang.


Rabi'a mengangguk samar. Nafasnya belum teratur. Dia masih sangat kaget.


Mobil sudah melaju dengan lancar di jalur yang benar.


"Rabi'a, kapan hendak mengunjungi Abi dan Ummimu?" Mahmudah mengambil topik lain.


"Mereka yang akan kemari. Sudah lama mereka tidak mengunjungi Ammy Musa. Apalagi saudara-saudaraku."


Rabi'a dan Mahmudah melanjutkan obrolan mereka. Kali ini, Rabi'a tak berani menggoda Mahmudah. Hingga mereka sampai di masjid Azhar


Masjid Azhar berdiri kokoh dengan dominasi warna krem yang lembut. Halaman yang cukup luas menjadi lahan parkir. Ditambah sepetak tanah kosong dekat masjid. Mobil Mahmudah masuk ke halaman masjid. Masih ada tempat di sana. Saat keluar mobil, mereka disambut dengan keramaian muslimin. Keramaian yang menutup bunga dan hijaunya tanaman masjid.


Sebuah sedan hitam memasuki halaman masjid. Berhenti dan parkir di samping mobil Mahmudah. Mahmudah dan Rabi'a hanya menatap sekilas, dan memilih segera memasuki masjid melalui pintu khusus wanita. Saat mereka memasuki masjid, tiga wanita keluar dari sedan tadi. Merekalah Lina Mawaddah, Moza Almira, dan Aisyah Fathina.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kajian berlangsung dengan tertib. Selain untuk menyampaikan berbagai ilmu, kajian ini juga menjadi forum silaturahmi muslimin dan beberapa ulama'.


Beberapa ulama' sudah menyampaikan banyak ilmu. Juga nasehat. Hingga tiba giliran Ustadz Hadi. Beliau menyapa jama'ah dan ulama' lain sebelum memulai. Gaya bicara yang lembut tapi tegas membuat nyaman. Apalagi, beliau sering menyisipkan humor di antara nasehat. Humor yang penuh makna tanpa kebohongan.

__ADS_1


Saat Ustadz Hadi menyampaikan kajian, Rabi'a sempat menyenggol Mahmudah di sampingnya. Tak lupa berbisik menggoda sahabatnya. Mahmudah hanya menghela nafas, sahabatnya memang suka bercanda.


"Ustadz Hadi," seorang 'alim yang bangkit setelah Ustadz Hadi menoleh ke deretan ulama' di pinggir panggung. "Sepertinya, Ustadz tidak sendirian kemari. Bersama siapa, Ustadz?"


Ustadz Hadi tertawa ringan, "Dengan dua putra saya, Ustadz Ali."


"Mereka sepertinya sudah dewasa, Ustadz. Bolehkah salah satu dari mereka kemari? Menyampaikan sedikit nasehat pada jama'ah?" Ustadz Ali tertawa, "Bagaimana, para ustadz? Syaikh?"


Seluruh ulama' tertawa. Kompak, mereka menoleh ke arah dua putra Ustadz Hadi. Mereka mengangguk dan menyetujui usul Ustadz Ali.


"Nah, siapa yang akan maju, Ustadz?"


"Putra ketiga ana (saya) saja, Ustadz. Dia belum pernah mengisi kajian bersama ana." Ustadz Hadi menepuk pundak putranya yang duduk di sampingnya.


Seluruh ulama' tertawa sambil mengiyakan. Ustadz Ali mengulurkan tangannya dan disambut putra ketiga Ustadz Hadi, Fu'ad Dzakiy. Dia mengikuti langkah Ustadz Ali dan menghadap jama'ah.


"Mahmudah! Lihat, siapa yang tampil!" Rabi'a menyenggol lengan sahabatnya.


"Sebentar, Rabi'a! Aku harus menjawab pesan Ibuku dulu. Nanti aku lihat kok!" Mahmudah tetap asyik dengan ponsel. Tak menghiraukan apapun di panggung. Tampaknya, pesan dari Ibunya sangat penting.


Rabi'a mendengus kesal. Apalagi, Fu'ad belum mendapatkan mikrofon. Suaranya tak terdengar dari barisan Mahmudah dan Rabi'a.


Di sudut lain masjid, seorang perempuan menatap lekat Fu'ad. Hatinya bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya menderu lebih cepat. Mata hijau itu! Wajah tampan itu! Mungkinkah? Tapi, bagaimana mungkin?! Bagaimana bisa?! Ataukah ini hanya kebetulan?


Ribuan pertanyaan dan keraguan menyusup. Tapi hati kecilnya membisikkan keyakinan.


Fu'ad menerima mikrofon. Memandang jama'ah, lantas tersenyum ramah.


Rabi'a menyenggol lagi Mahmudah. Mahmudah mendesah pelan, mematikan ponsel. Menatap Rabi'a.


Perempuan yang lain tadi menajamkan mata. Senyum itu!


"Assalamu'alaikum..." Fu'ad mengucap salam.


Mahmudah sempurna menatap panggung. Memastikan pendengarannya.


Perempuan tadi sempurna membeku.


Dan dua perempuan itu mendesis bersama. Membisikkan satu nama, serentak. "Fu'ad......"


Dan senarai perjuangan siap disambut....

__ADS_1


__ADS_2