
Apa itu cinta? Ia abstrak yang berbentuk. Ia wujud yang tak nampak. Begitu banyak yang menggambarkannya. Tapi lebih banyak yang tak memahaminya.
Benar juga kata-kata itu. Jangan menangis karena berpisah. Tapi tersenyumlah karena pernah bertemu. Jangan bersedih karena matahari tenggelam. Berbahagialah karena ribuan bintang menghias malam. Jangan takut untuk pergi. Bagaimana datang ada bila tak pergi?
Di tempat lain....
Desir angin menemani seorang pria di taman belakang rumah. Di atas meja depannya, beberapa lembar kertas bertumpuk. Tangannya memainkan sebuah pena.
"Arif, kamu sudah datang?" ucapnya
"Sudah, Tuan." Seseorang yang baru saja masuk taman menjawab pelan.
"Kemarilah."
Arif mendekat, lantas duduk di kursi depan orang yang dipanggilnya "Tuan". Dia mengeluarkan beberapa lembar foto.
"Jadi, benar bahwa hanya jasad Kenish yang ditemukan? Tak ada jasad bayi?"
"Benar, Tuan Syam. Semua berita itu benar. Kabar terakhir dari mata-mata kita, Kenish masuk ke rumah tiga jam sebelum kebakaran, dan tak pernah keluar. Kebakaran terjadi dengan sangat mendadak dan langsung besar. Seperti ledakan."
Syam mengangguk.
"Maaf, Tuan akan tetap mengusut kasus ini?"
Syam menggeleng, "Lebih baik kita membantu Nona Lina untuk bangkit dari keterpurukan. Saya mendapat kabar, dia sudah lama tak datang ke kantor pusat. Juga tidak menemui para karyawan seperti biasa. Informasi dari seorang pelayan rumah, dia sangat bersedih."
"Benar, Tuan. Saya sering melihat Nona Fathina datang ke rumah Nona Lina." Arif menambahkan.
Syam menghela nafas berat. Sudah lama dia selalu membantu kolega bisnisnya dengan ikhlas. Tanpa pamrih atau pun pujian dari manusia. Dia hanya berharap imbalan dari Sang Pencipta.
Sejak awal, dia memang sangat terkesan dengan pemilik perusahaan besar itu. Dari obrolan para karyawan, dia mengetahui sosok Lina Mawaddah. Perempuan yang lembut, selalu memperhatikan keadaan para karyawan. Bahkan hingga para satpam dan tukang parkir, juga para penjual kecil di sekitar restoran dan butik. Tak hanya memperhatikan, Lina juga selalu membantu sebisa kemampuannya.
Maka, Syam memutuskan untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Lina. Dalam tiga bidang sekaligus. Penginapan dan hostel yang dibangun di kawasan pariwisata yang dikelolanya. Bidang properti.
Satu restoran dibangun di dalam kawasan pariwisata. Satu restoran lagi berada di luar kawasan, agak jauh dari kawasan utama. Bidang resto/food.
Satu butik berada di kawasan pariwisata. Pengambilan foto model busana-pun banyak yang dilakukan di kawasan busana.
Saat Fathina mencari tahu soal Vasfi, direktur sebuah hotel ternama, Syam segera ikut bagian. Dia sangat mengenal sosok licik itu. Dia bergegas mencari tahu semua hal yang berkaitan dengan Vasfi. Dia pun mengetahui tentang Kenish. Maka hal yang mudah baginya saat Fathina bertanya soal Vasfi dan Kenish.
Begitu mengetahui bahwa dua orang itu sering meneror Lina dan perusahaan, dirinya tak hanya diam. Kemampuan terbaiknya dikerahkan untuk menggali informasi tentang mereka. Apa lagi saat berita hilangnya Fu'ad terdengar.
"Mengapa Tuan tetap membantunya?" pertanyaan Arif membuyarkan kenangan Syam.
"Maksudmu, meski dia telah menolakku berkali-kali?"
Arif menggeleng, "Saya sudah mengerti. Tuan tak menjadikan penolakan itu sebagai penghalang untuk tetap berbuat baik. Saya hanya ingin bertanya, apakah Tuan berharap Nona Lina membuka hatinya untuk Tuan dengan semua kebaikan ini."
Syam tersenyum tipis. "Tak sepenuhnya benar atau salah, Arif. Saya tak berbuat baik agar Lina menerima saya. Meski saya memang menginginkan agar dia membuka hatinya. Penolakannya malah membuat saya semakin mencintainya, Arif."
Arif mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa?
"Baiklah, saya akan memberitahumu alasannya menolak saya..."
__ADS_1
...\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=...
Pagi yang indah. Sinar mentari pagi menyapu lembut kelopak bunga. Embun semakin memudar. Tak ada kicau burung. Malah, sayup terdengar suara laju kendaraan. Ini taman tengah kota. Bukan di pedesaan.
Tiga wanita berjalan-jalan dengan riang. Bersama mereka, seorang bayi mungil yang mungkin masih berusia di sekitar tiga bulan.
"Assalamu'alaikum," Syam menyapa saat mereka mendekat.
"Wa'alaikumussalam," sahut ketiganya kompak.
"Tuan Syam?" Lina mengernyitkan dahi, "Tuan juga berjalan-jalan di sini?"
Syam mengangguk, "Saya ingin menghirup udara segar, Nona. Hai, Tuan Muda Fu'ad,"
Lina tersenyum tipis. Lina faham, Syam sudah mengetahui bahwa dia memiliki putra meski tak pernah menikah. Syam sendiri tak pernah bertanya banyak hal.
"Nona berkenan menemani saya? Kebetulan, saya sedang sendirian," Syam mencoba berbasa-basi.
Nyatanya, dia sengaja datang sendirian kemari. Sengaja benar menunggu kedatangan Lina. Sudah tiga hari dia melakukannya, namun Lina tak berjalan-jalan di sini selama itu. Barulah pagi ini mereka bertemu.
"Dengan senang hati, Tuan."
Syam tersenyum lebar, "Suatu kebahagiaan bagi saya, Nona."
Mereka berempat kembali melanjutkan jalan pagi. Sesekali, mereka menghibur Fu'ad kecil yang digendong oleh Sari. Pagi ini, Lina memang berjalan-jalan dengan Moza dan Sari.
"Maaf, Nona. Saya ingin mengatakan sesuatu yang penting," ucap Syam beberapa saat kemudian.
"Penting?!" Lina menoleh, heran.
Sari segera memahami keadaan. "Saya izin dahulu, Nona," ucapnya sambil menjauh.
"Mbak Moza jangan pergi!" Lina mencegah sebelum Moza hendak meminta izin. "Tuan Syam, Mbak Moza sudah saya anggap sebagai keluarga. Jadi, saya harap Tuan tidak keberatan."
Syam tersenyum canggung, "Tentu tidak, Nona."
Sunyi. Syam berulang kali menghela nafas. Lina dan Moza menanti dengan sabar.
"Tapi, saya harap Nona tidak menertawakan saya,"
Lina tersenyum hangat, "Insyaallah tidak, Tuan. Anda adalah kawan istimewa kami."
Ucapan Lina tak berbohong. Hanya kolega paling dipercaya, yang mengetahui bahwa Lina-lah pemilik asli perusahaan yang bergerak di tiga bidang. Kolega lain, seperti kolega baru, hanya mengetahui, Fathina-lah pemimpin perusahaan. Mereka tak mengenal Lina karena Fathina-lah yang selalu menemui dan berkomunikasi dengan mereka. Dan Syam salah satu dari kolega paling dipercaya, kolega khusus.
"Sebelumnya saya meminta maaf bila sikap saya dianggap tidak sopan. Maaf, apakah Nona berkenan menikah?"
Lina dan Moza terkejut, menikah?! Mereka tak menyangka Syam akan membicarakan hal ini.
"Maaf, Tuan Syam. Maksud Tuan, Anda melamar Abla?" Moza meminta kepastian. Sedangkan Lina hanya diam.
"Benar, Nona. Maaf, bila saya lancang." Syam mengangguk pasti.
"Sama sekali tidak lancang, Tuan Syam." Lina tersenyum tipis, "Saya malah bangga mendapat lamaran seseorang yang baik seperti Anda. Namun, masalahnya bukan pada Anda, Tuan."
__ADS_1
Sunyi. Lina beberapa kali menghela nafas, pandangannya mengarah ke pepohonan taman.
"Maaf, Nona. Lalu, pada siapa?" Syam akhirnya bersuara. Bagaimana pun, dia butuh jawaban yang jelas.
"Tuan Syam mengetahui antara saya dan Fu'ad? Antara ibu yang belum pernah menikah dan anak tanpa ayah?!"
Syam mengangguk pelan. Dia sudah menyiapkan jawaban sesuai kata hatinya. "Yang saya ketahui selama ini, Nona adalah wanita baik-baik. Saya sangat yakin, Fu'ad bukanlah sebuah dosa dari diri Nona. Saya menerima Nona apa adanya, juga diri Fu'ad."
Sepi. Lina dan Moza diam. Benarkah ada lelaki sebaik itu di dunia ini?! Menerima perempuan yang memiliki anak tanpa pernah menikah. Menerima seorang anak yang bukan benihnya. Dan mencintai keduanya?!
Lina menghembuskan nafas kasar, pandangannya tetap ke arah pepohonan. "Saya percaya dengan kata-kata Tuan. Namun, semuanya bukan sekedar itu." Lina memejamkan mata, mencari kekuatan. "Tapi, saya takut membeda-bedakan antara Fu'ad dan adik-adiknya kelak. Bagaimana saya akan menjawab Fu'ad tentang ayahnya yang berbeda dengan adik-adiknya? Maaf, Tuan. Semua lebih rumit dari itu."
"Ayah Fu'ad masih ada. Bagaimana pun, dia tak bisa dinasabkan pada Tuan. Saya takut putra saya yang lain akan menghina atau merendahkan kakak mereka. Dan, saya tak ingin Fu'ad minder dari adik-adiknya kelak. Saya tak ingin, Fu'ad dianggap rendah dan dibanding-bandingkan dengan adiknya oleh orang lain."
Sunyi. Itu sudah jawaban. Lina tak meminta waktu untuk berpikir, karena dia tak ingin memberikan harapan palsu pada orang sebaik Syam.
"Maaf kan saya," Lina menoleh. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Namun, mata indahnya berkaca-kaca. Tanpa menunggu jawaban, Lina beranjak menyusul Sari dan Fu'ad.
"Maaf, Tuan." Moza menunduk. Dia tak pernah menyangka, majikannya ternyata memiliki prinsip untuk putranya.
"Saya yang harusnya meminta maaf. Nona Lina benar, hanya saja saya tak berpikir sejauh itu," Syam menghela nafas.
"Saya pamit," ujarnya kemudian sambil melangkah.
"Tuan!" panggilan Moza menghentikan langkah Syam. "Selama ini, Tuan sering membantu kami. Apakah Tuan akan tetap membantu?"
"Saya tak pernah membantu agar Nona Lina menyukai saya. Melihat kebahagiaan seseorang yang ditolong adalah kebahagiaan terbesar bagi saya."
Jawaban itu akan dikenang oleh Moza. Jawaban yang mencerminkan kebaikan hati seorang Syam.
...\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=...
"Bagaimana menurutmu, Arif?"
Arif mengangguk, "Tuan benar. Jawaban Nona Lina sangat indah. Tak saya pungkiri bila Tuan semakin mencintainya."
Syam mengangguk. Dia menyimpan beberapa cerita. Karena tak hanya itu dia mencoba. Tiga bulan setelahnya, Syam mencoba lagi. Lina ternyata sangat memegang prinsipnya.
Lima bulan berikutnya, Syam kembali membicarakan hal itu. Dia sudah menyiapkan jawaban. Lina tersenyum, memuji keteguhan hatinya. Sayang, jawabannya tak memuaskan. Juga empat bulan berikutnya lagi.
Syam menyadari, itu karena dia hanya menyiapkan jawaban sesuai pikiran. Bukan hati. Hatinya masih ragu tentang masa depan Fu'ad dan adik-adiknya kelak.
Ada pula satu hal yang tak bisa dilupakan Syam. Moza selalu bertanya padanya setelah penolakan Lina, akankah dia tetap membantu?! Dan dirinya selalu menjawab dengan jawaban pertama.
"Lalu, Tuan tak mencoba melamar Nona Lina setelah ini? Bukankah Fu'ad tak lagi bersama beliau?" tanya Arif
Syam menggeleng tegas. "Kita tak akan mengambil kesempatan dalam kekeruhan ini, Arif. Saya mencintai Nona Lina dan cinta yang tulus adalah menginginkan kebahagiaan yang dicintai. Bukannya memiliki dengan melukai. Itu egois, bukan cinta, Arif."
Arif tersenyum tipis. Senyuman yang dianggap Syam sebagai tanda mengerti. Tapi sesungguhnya, arti senyuman itu hanya dimengerti oleh Arif....
\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=
Terima kasih atas semua komen dan like ya....
__ADS_1
Selalu dukung saya ya...