My Love My Heart

My Love My Heart
Rumah Lina


__ADS_3

Banyak hal tak terduga dalam kehidupan seseorang. Namun, entah mengapa banyak manusia suka menduga rahasia orang lain. Dan mungkin, kitalah manusia itu.


Sebuah mobil sedan hitam melaju, diiringi sebuah mobil lain bewarna silver. Berhenti di sebuah rumah sederhana di sebuah perumahan. Satpam perumahan menyapa hormat pengemudi sedan. Tersenyum ramah dan meletakkan tangan di dahi, penghormatan ala tentara.


Kedua mobil berhenti di depan dua rumah berbeda. Pengemudi mobil sedan turun, disambut sapaan ramah dan bersahabat dari beberapa tetangga yang berkumpul di teras rumah -yang depannya menjadi parkiran mobil silver.


"Sendirian lagi, Mbak Moza?"


Pengemudi sedan mengangguk, "Iya, Abla belum pulang."


"Semoga urusan Nona Lina cepat selesai," salah satu orang yang berkumpul memanjatkan do'a


"Aamiin." seluruh kawannya menyahut. Juga Moza


"Mari, Fu'ad. Ustadz..." Moza menoleh ke beberapa orang yang turun dari mobil silver.


"Tamu, Mbak?"


"Iya. Tamu istimewa. Kapan-kapan saya jelaskan." Moza tersenyum.


Setelah sedikit berbasa-basi, Moza mengajak memasuki rumah. Rumah yang terlalu sederhana untuk seorang pengusaha sekelas Lina. Nyatanya inilah rumah Lina. Meski sederhana, inilah rumah terluas di seluruh kompleks.


Halaman yang tak begitu luas tampak sangat asri dengan beberapa pot tanaman berbunga. Juga sebatang pohon mangga di sudut halaman. Teras yang nyaman tanpa kursi. Ruang tamu pun tak dilengkapi sofa maupun kursi. Hanya beralaskan karpet, dua lapis. Dan beberapa bantal empuk di sudutnya. Itu bantal untuk duduk.


Moza mengajak mereka masuk ke ruang tengah, sekaligus ruang keluarga. Karpet tipis terhampar. Beberapa bantal duduk tertata di salah satu sudutnya. Beberapa rak buku berjajar di dinding. Juga sebuah almari dengan beberapa foto berpigura terpampang.


"Abla tidak suka memajang foto. Hingga kurang lebih lima tahun silam. Sepuluh tahun setelah kepergianmu, Fu'ad. Sejak saat itu, Abla terkadang meletakkan beberapa foto di sini. Bukan untuk dipajang, karena Abla sering menyimpannya lagi," Moza mengambil dua foto berpigura dan menyerahkannya pada Fu'ad.


"Jika rindu sekali, Abla akan memandang dua foto itu. Foto favorit. Sering, saya temukan Abla tertidur di sini sambil memeluk salah satu foto," jelas Moza.


Foto pertama, Lina yang memeluk bayi merah di atas ranjang. Sama seperti salah satu foto yang ditunjukkan Moza saat pertama kali bertamu di rumah Buya. Foto pertama Fu'ad, saat usianya masih tujuh jam.


Foto kedua, Lina, Moza, dan seorang wanita berkaca mata dengan Fu'ad kecil di tengah. Di pangkuan Lina. Berlatar tanaman bebunga yang sedang mekar.


"Itu foto kami bersamamu dan Fathina. Sekitar dua hari sebelum kepergianmu. Kenangan terakhir tentangmu yang kami miliki. Di halaman belakang rumah Abla dulu," jelas Moza.


"Abla sangat merindukanmu, Fu'ad." Moza kembali duduk.


Dua orang perempuan datang, meletakkan minuman dan makanan. Lantas kembali pergi. Menyisakan sepi di ruangan berhiaskan rak buku.


"Sepertinya, Ibu Lina suka membaca," Hanin akhirnya bersuara. Dia ikut lagi, kali ini bersama anak dan suaminya.


"Abla memang kutu buku. Abla selalu mengatakan, buku adalah teman, sahabat, dan guru terbaik. Yang paling setia dan memberi banyak manfaat."

__ADS_1


"Mirip dengan ucapan Dek Hilmi. Dia juga sangat suka membaca," Fu'ad meletakkan foto. "Berarti, Mama tak merawat saya di rumah ini?"


Moza mengangguk. "Abla pindah kesini setelah dua tahun kepergianmu. Setelah tak bisa melupakan kenangan tentangmu sama sekali."


"Kompleks perumahan ini salah satu bisnis Abla. Sebagian besar penghuni kompleks ini karyawan dan pekerja di perusahaan. Sebagian yang lain adalah orang yang ditolongnya. Anda semua ingat satpam kompleks?"


Semua mengangguk. Lelaki berwajah preman dan kekar, tapi menyapa Moza dengan sangat ramah dan hormat.


"Dia orang yang pernah mencuri di restoran. Saat tahu dia melakukannya karena himpitan ekonomi, Abla memberinya pekerjaan. Menjadi tukang bangunan yang membangun kompleks ini. Lantas menjadi satpam setelah proyek selesai. Dia sangat membantu saat pencarianmu, Fu'ad." Moza menghela nafas, "juga yang sangat melindungi kami saat Vasfi meneror."


"Vasfi? Papa saya?" Lidah Fu'ad terasa kelu menyebut nama itu. Entah mengapa, dia pun tak memahaminya.


Moza mengangguk samar. Matanya berkaca-kaca. "Kalau bukan karena Abla sangat menyanyangimu, enggan bagi saya untuk mengucap nama lelaki jahat itu." Suaranya bergetar. Menahan kemarahan dan kebencian.


"Maaf," lirih Fu'ad. Menyadari ucapannya salah.


Moza melambaikan tangan, kembali tersenyum. Lebih baik mengingat kenangan indah dari pada mengingat masa lalu yang buruk.


"Kemarin Abla menghubungi Fathina. Bertanya soal cabang butik yang baru saja dibangun di luar pulau. Menurut saya, kemungkinan besar Abla berada di sana."


"Benarkah?" Mereka semua -kecuali Buya, berseru kaget.


"Itu menurut saya. Masalahnya, dua cabang butik di sana. Saya akan mencari tahu lebih lanjut."


Moza tersenyum. Kebahagiaan Lina adalah kebahagiaan dirinya. Moza tahu, Lina pasti memaafkan Fu'ad meski sekarang sedang pergi. Menjauh.


Mana ada, ibu membenci putranya hanya karena sebuah kesalahan, yang tak sepenuhnya salah sang putranya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=...


"Sampaikan salam saya untuk orang tua kalian," Lina melepas kepergian empat tamu istimewanya.


"Tentu, Mbak. Jazakumullahu khairann atas semua kebaikan Mbak selama kami di sini." Rabi'a menyalami Lina.


Lina tersenyum, "Aamiin. Bahkan, saya yang sangat berterima kasih. Kalian menemani saya dengan sangat baik selama dua hari ini."


Mereka berpisah di ujung kampung. Salah satu penduduk akan mengantar mereka ke jalan utama. Jalan lintas pulau. Lina menghembuskan nafas saat dua mobil hilang dari pandangannya. Kehadiran mereka membuatnya semakin merindukan Fu'ad. Tapi, bagaimana lah? Fu'ad membencinya. Tak mau mendengarkan penjelasannya.


Ingatan Lina kembali pada Moza. Gadis Turki yang telah menjadi sahabat. Juga keluarganya. Sudah begitu lama Lina tak menghubunginya. Sejak pergi hingga akhirnya memilih kembali ke kampung ini. Tinggal di rumah yang sudah dibelinya sebelum kepergian Fu'ad. Dulu, dia ingin menjadikan rumah ini sebagai villa saat liburan. Namun, dia tak sedang berlibur kini.


Apa kabarnya? Adakah kesulitan yang dihadapinya?! Lina tersenyum getir. Moza pasti melalui kesulitan saat ini. Urusan perusahaan, karyawan, dan entah apa lagi. Risaukah Moza? Khawatir? Lina menghela nafas. Itu tak perlu dipertanyakan. Moza pasti sangat risau. Khawatir. Dia sahabat yang sangat perhatian.


Mungkin, ada baiknya dia menghubungi Moza. Kepergiannya kali ini tak hanya membuatnya semakin rindu pada Fu'ad. Tapi juga pada Moza. Pada Fathina. Pada tetangga di kompleks perumahan tempatnya tinggal. Pada karyawan-karyawannya.

__ADS_1


Baiklah, saatnya menghubungi Moza.


...\=\=\=\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=\=...


Kringggg


Moza menghentikan gerakan sendoknya. Dia tengah menjamu para tamu istimewanya. Mata Moza terbelalak saat melihat nama di layar ponselnya. Tanpa berfikir apa pun lagi, diangkatnya panggilan tersebut.


"Assalamu'alaikum. Abla?!"


Sontak, semua orang menghentikan aktifitasnya. Moza memanggil Abla? Lina kah yang menelfon?!


"Alhamdulillah, saya baik saja. Abla bagaimana? Abla di mana? Abla baik-baik saja? Ada yang harus segera saya laksanakan?" Moza tak menghentikan pertanyaannya.


Lina tertawa dari seberang. Memutus pertanyaan Moza.


"Ya Allah?! Abla ada di sana?! Baiklah, saya akan segera ke sana. Abla jangan pergi lagi, ya. Saya sangat bingung mencari Abla."


Moza mengusap ujung matanya. Dia tak bisa menahan air mata yang mengalir.


"Ya, Abla. Jaga diri baik-baik. Saya segera ke sana. Oh?! Baik. Assalamu'alaikum."


Moza menatap Fu'ad.


"Mamamu ada di Sumatra. Kita akan segera ke sana."


"Mama?! Alhamdulillah..."


Fu'ad langsung tersungkur ke lantai. Bersujud penuh syukur pada Allah. Nikmat yang begitu besar telah Dia karuniakan. Kabar keberadaan Mama.


"Bersiaplah, Fu'ad. Kita ke sana." Moza menoleh pada Ummah dan Buya, "Bila berkenan, Ustadz bisa menemani kami."


Buya dan Ummah mengangguk serentak. Mereka ingin bertemu Lina Mawaddah. Ibunda Fu'ad.


\=\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=\=


Terima kasih, semua....


Terus dukung saya ya...


Like dan komen ;)


Kalau mampu, vote ya; saya selalu menghargai

__ADS_1


Terima kasih banyak untuk #Terjebak Cinta Wanita Bercadar...


__ADS_2