
Jika ada makhluq yang hebat, mungkin itulah waktu. Dialah yang akan membuka banyak tabir. Tapi juga menutup banyak rahasia. Dia menjelaskan berbagai peristiwa. Namun juga menyembunyikan berbagai kejadian.
Seiring waktu, kerinduan pada sosok ibu kandung begitu menyesakkan hati Fu'ad. Setelah kisah beberapa minggu silam, Moza belum berkenan menceritakan apa pun lagi. Membuat Fu'ad semakin penasaran akan masa lalu mama, ibu kandungnya.
"Kau akan bersedih mendengar kisah mamamu, Fu'ad. Atau bahkan, kau tak kuat menyimak masa lalu mamamu yang penuh air mata. Saya belum siap menengok kembali luka-luka itu. Meski saya sendiri tahu, kebahagiaan terbesar mamamu juga ada di antara luka-luka itu."
Itu email dari Moza empat hari silam. Setelah sebelumnya hanya mengatakan; maaf, saya belum bisa. Maaf, saya sedang ingin fokus mencari Abla. Maaf, mungkin lain waktu. Email itu semakin membuat Fu'ad penasaran sekaligus takut. Penasaran tentang kisah mama. Juga takut mendengar kesedihan masa lalu mama.
"Fu'ad, pulang kapan, Nak?" suara lembut Ummah bertanya dari seberang telepon.
"Insyaallah empat hari lagi, Ummah. Fu'ad ingin berkeliling dahulu, mengunjungi beberapa kawan Fu'ad di sini."
Fu'ad memang sedang berada di luar kota sejak seminggu yang lalu. Meski kesedihan menggenggam hati, Fu'ad tetap melanjutkan dakwah dan belajar. Mengisi berbagai kajian dan menghadiri berbagai ta'lim.
"Oh, bila sudah selesai, cepatlah pulang. Jangan menunda lagi, Nak."
"Insyaallah, Ummah. Ada apa, Ummah? Sepertinya, Ummah ingin Fu'ad segera pulang?"
Terdengar desah nafas pelan, "Ternyata Fu'ad merasakannya. Iya, Nak. Ummah ingin Fu'ad segera pulang. Mbak Moza ingin bertemu."
"Mbak Moza?" Fu'ad terlonjak, bahkan hampir menjatuhkan minuman yang dibawanya.
"Apakah tentang Mama?"
"Sepertinya seperti itu, Nak. Mbak Moza hanya bilang, ingin bertemu lagi bila ada waktu luang," jelas Ummah.
Kabar itu mengubah semua rencana Fu'ad. Hanya janji yang tetap dilaksanakan. Sehari setelahnya, Fu'ad langsung kembali. Baginya, Mama adalah prioritas utama setelah Allah dan Rasul-Nya. Dan memang begitulah seharusnya sikap seorang muslim pada ibunya.
Siang hari setelah kepulangan Fu'ad, Moza datang. Kali ini, tak hanya Buya dan Ummah yang menemani Fu'ad. Hanin dan Ridlwan juga ikut menemani, tentu dengan seizin Moza.
Wajah Moza kali ini dihiasi senyuman cerah. Tak seperti kunjungan pertamanya.
"Maaf mengganggu, Fu'ad." Bahkan, Moza berkenan menyapa Fu'ad.
"Sama sekali tidak mengganggu..." Fu'ad bingung bagaimana memanggil.
"Panggil saja Hala. Saat kau bayi, Abla selalu mengajarkanmu memanggil saya dengan sebutan itu. Itu berarti tante, Fu'ad."
"Baik, Hala."
"Maaf, Fu'ad. Jujur, selama ini saya memang benar-benar fokus mencari mamamu. Hingga beberapa hari yang lalu, ada kabar,"
Fu'ad dan keluarga lebih memperhatikan Moza.
"Abla Lina, mamamu, telah menghubungi Fathina. Hanya bertanya dan membahas perusahaan. Bahkan tetap berpesan agar tak dicari. Tapi, itu menunjukkan Abla Lina tak benar-benar pergi. Mungkin, hanya sedang ingin sendirian."
__ADS_1
"Apakah Mama juga menghubungi Hala?"
Senyum Moza memudar, "Sayangnya tidak, Fu'ad. Abla Lina tidak menghubungi saya. Abla hanya mengirimkan salam lewat Fathina dan menitipkan pesan agar saya tak risau."
"Hala tidak menghubungi Mama?"
Moza kembali tersenyum, "Saya sangat kenal mamamu, Fu'ad. Dia akan selalu menghubungi saya dalam semua urusan. Saya faham, mamamu sedang ingin sendiri, sedang membutuhkan waktu dengan dirinya. Karena itulah, saya memutuskan untuk menemuimu."
"Berarti, mama Fu'ad baik-baik saja?" Hanin akhirnya bertanya.
"Iya. Saya yakin, Abla Lina pasti baik-baik saja"
"Maaf, Hala. Bolehkah saya kembali bertanya tentang Mama?"
Moza menarik nafas, "Semoga saya bisa menjawabnya, Fu'ad."
Fu'ad menarik nafas panjang. Menguatkan hati, "Bolehkah saya mengetahui keluarga Mama? Kakek, Nenek, atau Paman?! Siapapun itu."
Moza tersenyum getir, "Itu hal yang menggoreskan luka bagi Abla, Fu'ad. Saya memang enggan mengingat kisah tragis itu, meski saya tak pernah lupa."
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Lina Mawaddah adalah putri bungsu dari pasangan pemilik restoran terkenal, Budi Angga dan Rahma Jannah. Lina memiliki dua kakak. Azzam Sholeh dan Zahra Mufida. Mereka hidup dengan akur dan bahagia.
Restoran yang dikelola Budi Angga sudah memiliki cabang di dua tempat. Sayangnya, hanya Azzam yang berminat dengan usaha restoran. Zahra lebih berminat untuk menjadi seorang guru. Sedangkan Lina lebih berminat dengan usaha tata busana. Membuat rancangan, menjahit, hingga memasarkannya.
Semua bermula saat Budi dan Rahma pergi ke luar negri untuk menemui salah satu kawan lama Rahma. Zahra ikut keduanya untuk mencari berbagai pengetahuan. Malang, pesawat terjebak badai dan meledak sebelum jatuh ke laut. Ratusan jasad tak lagi utuh. Bahkan, tak terhitung lemak dan organ dalam mengapung di lautan.
Tak ada korban yang dinyatakan selamat. Bahkan, lebih banyak yang tak bisa diidentifikasi karena sudah hancur. Rahma Jannah bisa diidentifikasi. Itu pun dengan proses pencocokan DNA dari jari manis. Zahra dan Budi, entah ke mana jasad mereka.
Dan kesedihan masih belum usai. Setengah tahun kemudian, kecelakaan menimpa Azzam. Bukan pesawat. Tapi mobilnya ditabrak bis, dan meluncur deras ke jurang curam nan terjal. Bangkai mobil dan bis ditemukan. Tapi tak ada yang bisa dikenali lagi. Jasad-jasad tak utuh dan sudah membusuk. Ditambah area yang terlalu berbahaya tak memungkinkan pencarian lebih lama.
Tinggallah Lina sendirian.
"Abla tidak sendirian, ada saya bersama Abla," hibur Moza selepas berita kecelakaan Azzam.
"Terima kasih, Mbak..." Lina menghapus air matanya.
"Bukan hanya saya, Abla. Masih ada Fathina dan karyawan lain yang selalu menemani Abla."
"Mbak, sekarang Mbak bukan hanya sababat saya, tapi juga keluarga..." Lina memeluk Moza.
"Abla berlebihan. Saya hanya pelayan biasa, Abla."
"Jangan begitu dong, Mbak. Nanti saya tak memiliki keluarga lagi..." Lina cemberut.
__ADS_1
Moza tersenyum, akhirnya majikannya bisa bercanda lagi, "Baik, Abla."
Lina tersenyum meski matanya masih menyimpan luka.
"Mbak, ayo kita ke makam Ibu. Saya ingin menyapa Ibu. Menyampaikan kabar tentang Kak Azzam." Lina teringat Rahma.
"Baik, Abla. Saya siapkan mobil terlebih dahulu."
Lina mengangguk, "Saya juga akan siap-siap. Tolong siapkan jilbab hitam saya, agar Ibu tak kecewa."
Saat itu, Lina dan Moza memang belum berhijab. Moza pernah beberapa kali menggunakan jilbab pendek. Sedangkan Lina hanya memakai untuk menghadiri acara resmi bernuansa hitam atau saat berziarah ke makam Ibunya. Meski hanya selembar kain yang tak sempurna menutup rambut dan lehernya.
Makam Rahma, Lina sering mengunjunginya. Meski dia tahu, hanya sepotong jari manis yang terkubur di sana. Tapi itu lebih baik dari pada ayah dan kedua kakaknya yang tak tahu di mana jasad mereka.
Ah, ya! Lina selalu menggunakan jilbab saat ke sana karena Rahma memang berhijab. Meski bukan sosok yang sangat religius. Sudah berkali-kali Rahma meminta Zahra dan Lina berhijab, tapi kedua putrinya masih enggan.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Ruang tamu Buya sunyi. Moza menghela nafas berkali-kali. Fu'ad sudah terisak pelan. Ummah dan Hanin menahan air mata. Buya dan Ridlwan?! Mereka juga berusaha keras menahan luapan rasa sedih.
"Sejak remaja, Abla sudah sendirian. Sudah terlalu sering kehilangan orang yang dicintai. Benar-benar hilang. Tak ada jejaknya," Moza menatap Fu'ad, "Tentu bisa kau bayangkan kesedihannya saat kau hilang juga?"
Fu'ad mengangguk. Isakannya tak berhenti. Betapa menyedihkan kehidupan mamanya saat remaja.
"Semua kesedihan itu tak seberat saat Vasfi datang. Saat lelaki itu merenggut harapan indah Abla..."
"Vasfi?" Fu'ad menahan isakannya, "Siapa lagi dia, Hala?"
Moza menunduk, "Dia papamu...."
"Papa?!" Fu'ad tergugu...
Sayang, Moza tak berkenan bercerita lebih banyak. Hanya mengatakan, Vasfi tak hanya merenggut kehormatan Lina. Tapi juga menghancurkan harapan indah Lina. Benar-benar menghancurkan. Hanya itu yang dikatakan Moza. Dia belum siap membuka lagi kenangan pahit dan penuh luka itu
"Yang pasti, Fu'ad, mamamu selalu menyanyangimu. Meski wajahmu sangat mirip dengan lelaki itu..."
Dan Fu'ad semakin terisak. Mamanya tetap bisa mencintainya. Tak membencinya. Padahal, wajah orang yang paling dibenci melekat di wajah putranya.
Ah, pernahkah kau menemukan orang hebat seperti Lina?
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Terima kasih, selalu dukung saya ya^_^
Agar saya lebih bersemangat...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Dan Vote (sekecil apa pun, saya sangat berterima kasih)