
"Mahmudah," gadis berjilbab krem memperkenalkan diri. Suaranya lembut nan ramah.
"Saya Rabi'a," gadis di sebelahnya melanjutkan. Bahasanya sangat lancar meski berwajah luar negeri.
"Saya Fauzi, kakak Mahmudah," lelaki di samping gadis pertama menyahut.
"Saya Harun, adik Rabi'a," pemuda di samping gadis kedua ikut bersuara, meski logatnya masih sangat asing. Logat bahasa Arab.
"Nama yang indah. Sebenarnya, kalian hendak ke mana?" Perempuan pemilik rumah tersenyum ramah.
"Ke desa nenek saya, Mbak..." Mahmudah terdiam
"Panggil saja Mbak Lina. Kok sekarang manggil Mbak? Tadi, saya dipanggil Ibu. Wajah saya tak terlihat tua, ya?!" Tertawa lirih.
Mahmudah dan Rabi'a hanya tersenyum canggung.
"Ya sudah, sambil menunggu mobil kalian, istirahatlah dulu di gubuk saya. Maaf kalau terlalu sempit dan jelek."
"Ah, ini lebih dari cukup, Mbak. Malah, kami sangat merepotkan Mbak."
"Sama sekali tidak repot, kok. Sebentar, saya tinggal ke belakang dulu."
Perempuan itu tiada lain adalah Lina Mawaddah. Ibunda Fu'ad Dzakiy. Sudah hampir sebulan dia berada di sini. Sebuah kampung kecil dan permai di pegunungan. Tadi pagi, dia sedang berjalan-jalan di pinggir desa saat bertemu rombongan anak muda yang tersesat. Tak hanya tersesat, salah satu mobil juga mogok. Maka, diundanglah mereka ke rumah sederhananya.
Awalnya, Mahmudah dan Rabi'a enggan dan sungkan. Namun, karena desakan Lina, mereka menerima tawaran itu. Mobil mereka diserahkan pada salah satu penduduk yang dipanggil Lina.
Begitu masuk ke kampung, keraguan mereka semakin hilang. Para penduduk sangat menghormati wanita yang mengundang mereka.
"Nona," sapaan penuh hormat menyambut saat rombongan masuk ke sebuah rumah panggung yang sederhana.
"Tolong siapkan jamuan untuk tamu saya," pinta Lina
"Baik, Nona..."
Panggilan Nona membuat rombongan Mahmudah salah tingkah, mereka sedari tadi memanggil Lina dengan "Ibu".
"Silahkan, Mbak, Mas..." seorang perempuan datang meletakkan senampan minuman. Memenggal ingatan kejadian beberapa saat tadi.
Di belakangnya, dua perempuan membawa beberapa piring makanan dan buah.
"Terima kasih," Mahmudah mengangguk sopan. Diikuti semua kawannya.
__ADS_1
"Maaf, hanya ini yang kami punya," Lina muncul beberapa saat kemudian.
"Maaf, Mbak Lina. Kami sangat merepotkan."
"Sudah saya bilang, sama sekali tidak repot," Lina tersenyum. "Melihat kalian, saya jadi ingat putra saya. Dia sebaya dengan kalian..."
"Putra?" Rabi'a tak bisa menahan penasaran. Mahmudah sampai menyenggolnya.
"Saya memang sudah memiliki putra. Karena itu, saya tak kaget saat kalian memanggil saya Ibu. Saya memang seorang ibu meski tetap dipanggil Nona." Lina tertawa lagi. Dia sama sekali tak keberatan dengan perkataan Rabi'a.
"Kalau boleh saya tahu, di mana putra Mbak sekarang?" Rabi'a kembali bertanya.
"Dia di kota, bersama keluarga susuannya. Dia sudah sebesar kalian, namanya Fu'ad. Fuady Al-Afif. Oh ya, dia lumayan tampan, mungkin Mahmudah atau Rabi'a mau jadi menantu saya?"
Tak ayal, tawa pecah di ruang tamu. Pipi Mahmudah dan Rabi'a sempurna merona. Harun dan Fauzi menggoda saudari mereka.
Obrolan hangat terjalin di antara mereka. Keempat remaja tampak begitu akrab dengan Lina. Lina sendiri bisa mengimbangi dunia remaja. Hingga tanpa disadari, hampir dua jam mereka mengobrol.
"Ayo, kita lihat mobil kalian. Semoga sudah bisa diperbaiki." Lina bangkit.
Saat berjalan menuju tempat mobil, empat remaja tersebut tampak sangat menikmati keadaan kampung. Kupu-kupu masih beterbangan dengan bergerombol. Suara kicau burung samar terdengar. Rerimbun pohon nyaris menaungi seluruh jalan. Buah-buahan masak bergelantung ranum di dahan dan ranting. Beberapa bunga penuh warna menghiasi pemandangan. Sesuatu yang nyaris tak mereka dapatkan di kota.
"Maaf, tapi mobil ini belum bisa digunakan. Paling cepat, besok."
Rombongan Mahmudah mendesah kecewa. Mereka bisa saja pergi dengan satu mobil, tapi bagaimana dengan mobil yang satunya? Belum tentu mereka bisa kembali ke sini. Lagi pula, kedatangan kemari juga karena tersesat. Bukan kesengajaan.
Dengan masygul, mereka kembali menuju rumah Lina. Itu pilihan terbaik mereka.
"Kalau kalian mau, saya bisa membawa kalian melihat air terjun. Tidak seindah Niagara atau air terjun lainnya di dunia, tapi saya yakin kalian menyukainya." Lina berusaha menghibur tamunya.
"Ada air terjun di sini?" Mahmudah dan Rabi'a berseru senang.
Lina mengangguk, "Tapi kita harus sedikit memutar. Agak jauh memang, kalian mau?"
Mereka mengangguk. Ide yang bagus.
Lina menuju salah satu rumah penduduk, meminjam sebuah parang dan keranjang rotan. Lantas kembali melanjutkan perjalanan. Tak lagi melalui jalan utama kampung. Bebelok menuju jalan setapak yang lebih sempit.
"Lihat, kalian suka?" Lina menunjuk salah satu pohon yang tumbuh di pinggir jalan setapak.
Bukan pohon itu. Tapi sepasang burung di dahannya. Burung bewarna-warni cerah. Ekor mereka bergoyang. Harun dan Faishal tersenyum penuh kekaguman. Rabi'a dan Mahmudah bahkan sampai berteriak. Membuat kedua burung langsung mengepakkan sayap dan terbang.
__ADS_1
"Kalian membuat mereka takut!" protes Faishal.
Mahmudah dan Rabi'a nyengir. Lina tertawa, ada kebahagiaan tak terkira yang dia rasakan. Fu'adnya pasti sebaya dengan kedua gadis remaja itu.
Mereka kembali berjalan. Sesekali, Lina harus memangkas daun dan ranting yang mengganggu jalan. Setelah berjalan cukup jauh, suara gemericik air mulai terdengar jelas.
Rombongan kali ini menyusuri pinggir sungai yang tak begitu dalam. Di ujung sungai itulah, air terjun setinggi sepuluh meter berada. Lengkap dengan semak yang berbunga di kanan kirinya.
"Masyaallah! Subhanallah!!" Tak henti-hentinya pujian terucap.
Meski tak berenang di sungai, mereka sangat terhibur dengan suasana yang begitu sejuk. Kicau burung semakin riuh terdengar. Juga derik serangga. Kupu-kupu bahkan ada yang hinggap tak jauh dari mereka. Lina juga menunjukkan beberapa pohon yang sedang berbuah lebat dan bisa dimakan.
"Di sana," Lina menunjuk arah kanan air terjun, "adalah hutan. Banyak binatang liar dan tumbuhan eksotis. Sedangkan bagian sana," Lina menunjuk arah kiri air terjun, "adalah hutan tempat penduduk kampung mencari nafkah dan makanan."
"Kebanyakan penduduk sini mengandalkan hasil hutan. Ada pula yang tidak. Salah satunya, Bang Mamad yang membengkel mobil kalian."
Setelah puas menikmati suasana, Lina mengajak mereka shalat Dzuhur berjama'ah di samping sungai. Waktu Dzuhur telah tiba. Kali pertama, empat tamu Lina shalat di bawah langit berdindingkan hutan. Selepas shalat, mereka baru pulang.
Jalan yang dilalui pun berbeda. Seakan, Lina mengenal betul daerah ini. Perjalanan pulang, rombongan lebih sering berhenti. Lina menunjukkan banyak hal baru pada mereka. Sarang burung yang menggantung. Anak-anak burung. Bunga-bunga yang menawan. Tak lupa beberapa pohon istimewa.
Tak hanya menunjukkan, Lina juga mengambil beberapa hasil hutan. Keranjang rotan yang dibawa terisi berbagai benda. Buah, biji, daun, akar, dan juga jamur.
Mahmudah dan Rabi'a begitu bahagia. Inilah hikmah dari kejadian tersesat tadi pagi. Di awal menyadari bahwa tersesat, mereka panik dan lumayan takut. Tak menyangka, mereka malah bertemu seorang ibu yang sangat ramah. Juga menemukan pengalaman berharga yang tak kan terlupa.
Hanya saja, mereka tak mengetahui satu hal. Bahwa Lina adalah ibu kandung Fu'ad kawan Rabi'a dan Mahmuda. Mereka mengenalnya sebagai Fu'ad Dzakiy, bukan Fu'ady Al-Afif.
Dan, betapa banyak kejadian indah berawal dari sesuatu yang kita anggap musibah. Karena hikmah tak selalu tersingkap di awal pagi....
\=\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=\=
Terima kasih untuk semua
Jangan lupa mampir di novel saya yang satunya
Legenda Pendekar Rama Parvati
Meski bergenre action dan petualangan, ada romannya lho... Malah, penuh kecemburuan sepasang kekasih muda:)
Oh ya, Jangan lupa Like dan komen. Kalau sempat, mampir di novel
Terjebak Cinta Wanita Bercadar karya seorang author yang darinya saya belajar banyak. Di jamin, perasaan bakalan diaduk baca novel tersebut.
__ADS_1