
"Lihat baik baik kawan, perhatikan dengan seksama" Jasper tersenyum mengejek. Jason terus memperhatikan ketiga orang itu, cukup susah untuk mengenali ketiganya. Terutama 2 pria itu, pasalnya muka keduanya di lapisi dengan jenggot yang cukup lebat sehingga sulit baginya untuk mengetahui siapa mereka. Kemudian ia menatap seorang perempuan dengan intens.
"Mom" gumamnya pelan, tapi masih bisa di dengar orang.
"HAH" Jasper membuang nafas secara kasar, "Akhirnya kau mengenali salah satunya"
"KENAPA IBU KU ADA DI SINI?! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA?!" Emosi Jason mulai terpancing melihat ibunya yang diikat di kursi dengan rambut yang memanjang serta tubuhnya yang sedikit kurus,seperti orang yang tidak terawat.
"HEI! JANGAN TERIAK TERIAK, KAU ITU TAHANAN DI SINI! MASIH BAGUS TIDAK LANGSUNG KU BUNUH KAU" Jason menatap Jasper dengan tajam.
"Jason" Jasper sedikit terkekeh saat memanggil Jason. " Apakah kau tau siapa dua orang lagi yang di sini?"
"Mereka adalah ayah dan juga adikmu" Jason tercengang ketika mengetahui salah satunya adalah adiknya,lalu siapa yang menjadi adiknya selama ini.
"Katakan saja apa mau mu brengsek! Tidak usah libatkan orang yang tidak bersalah!"
"Siapa yang bilang mereka tidak bersalah" Jasper terkekeh lagi. "Justru yang menyebabkan mu di sini adalah ayahmu, jika saja orang yang kau panggil ayah itu tidak membunuh ayah ku semua ini tidak akan terjadi!" kini Jason mengerti kenapa ini semua bisa terjadi.
__ADS_1
Jadi dia mau balas dendam?
"Ayahmu itu koruptor, dia mengorupsi uang kantor. Dia memang pantas untuk mati!" Jasper langsung memandang Jason dengan sinis.
"Jaga-" tiba tiba saja Jason memotong ucapan Jasper.
"Sekarang aku tanyakan pada mu, jika saja ayah mu tidak korupsi, apakah dia akan mati? Tidak bukan?" Jasper langsung terdiam.
"Tapi ayah ku sudah memohon, untuk meminta maaf,dia juga sudah bilang jika ia masih punya istri dan anak untuk di hidupi, dia juga berjanji untuk membayar uang yang telah ia korupsi. Tapi apa yang di dapatkannya? Tidak ada, malah ia mati!" Jason yang mendengarnya pun tersenyum.
"Aku tanya pada mu sekali lagi, jika ada orang yang berbuat serupa pada mu, apakah kau akan mengampuninya? Menurut ku kau tidak akan memaafkannya, melainkan menyiksanya perlahan-lahan kemudian orang itu akan mati" setelah mendengar yang di katakan Jason, Jasper pun meninggalkan ruangan itu.
***
New York, America
"Bagaimana, apakah sudah menemukan di mana Jason?" tanya kakek Jullius kepada anak buahnya.
__ADS_1
"Be-belum Tuan" kemudian orang itu menunduk,menghindar tatapan tajam tuannya.
"Kalian ini bagaimana sudah satu minggu tapi masih tidak bisa menemukan Jason. Dasar tidak berguna!"
"Tuan, bagaimana kalau kita menemui teman tuan Jason saja, dia adalah orang yang ahli dalam bidang IT" kakek Jullius tersenyum seketika dan menyetujui ususlan anak buah yang ia panggil tidak berguna tadi.
"Cepat telfonlah Felix, aku sudah tidak sabar untuk menemuinya" kemudian kakek Jullius melangkah pergi.
"Bagaimana Felix, apakah kau sudah menemukan petunjuk?" tanya kakek Jullius yang mulai tidak sabar.
"Sabarlah kakek, sebentar lagi"
Hanya butuh beberapa detik bagi seorang Felix yang ahli dalam bidang IT untuk mengetahui keberadaan Jason. " Ini dia kakek,sudah ketemu" Felix menyerahkan laptopnya pada kakek Jullius.
"Baiklah malam ini juga kita akan kesana. Siapakan jetnya" tutur kakek Jullius pada anak buahnya.
"Kakek, aku juga ikut dengan mu. Aku akan membantu menemukan Jason, dia sahabat terbaikku yang pernah ada. Kita juga harus menyusun rencana" kemudian kakek Jullius mengangguk.
__ADS_1
TBC