Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten
Bab 21 - Ontong Bangkit!


__ADS_3

...༻✡༺...


Defan tidak kuasa menolak ciuman Disha. Dia merasa sekujur tubuhnya berdesir bagaikan tersengat listrik ribuan volt. Tidak sakit, namun justru begitu candu.


Secara alami, tangan Defan melingkar ke punggung Disha. Ciuman bibir di antara keduanya semakin intim. Suara kecup-mengecup memecah kesunyian di dalam kamar.


Disha dan Defan sama-sama memejamkan mata. Terbuai dengan ciuman yang tentu saja mereka lakukan untuk pertama kalinya.


Sebagai pemula, Disha dan Defan terbilang melakukannya dengan hebat. Mulut mereka menyatu erat seakan sulit dilepaskan. Lidah keduanya saling beradu liar di sana.


Puas berciuman, Disha melepas tautan bibirnya dari mulut Defan. Dia menatap lelaki yang sekarang berada di bawah badannya itu.


Disha dan Defan saling terpaku. Jujur saja, otak dan hati mereka berulangkali mengingatkan agar berhenti. Tetapi naf-su mereka sudah dibuat hilang kendali. Terutama Disha yang terlanjur meminum kandungan obat perangsang dari wine-nya.


"Aku merasa ada yang aneh sama diriku, Toy... Aku ingin kau melakukannya kepadaku..." ungkap Disha. Dia dalam posisi mematung di atas badan Defan. Keringat panas dingin sudah menyelimuti beberapa titik kulit putihnya.


"Melakukannya? Maksudmu..." Defan tidak menyelesaikan kalimat akhirnya. Sebab dia tahu apa yang dimaksud Disha.


"Kau kenapa bisa jadi begini?" Defan perlahan mendorong Disha. Hingga gadis itu duduk ke sebelahnya. Mata Defan juga mengedar ke sekeliling. Sampai piring dan gelas kotor di meja menarik perhatiannya.


Defan beringsut ke tepi kasur. Dia mencoba beranjak. Namun Disha dengan cepat mencegat.


"Sebentar saja... Keinginanku sangat menuntut sekarang!" ujar Disha. Dia menarik Defan. Lelaki itu lantas kembali berbalik menghadapnya.


Kini atensi Defan tertuju ke arah belahan dada Disha yang terpampang nyata. Dia termangu dalam sepersekian detik.


Ketika Defan sibuk memperhatikan belahan dada Disha, maka perhatian gadis tersebut justru tertuju pada tubuh Defan yang atletis. Otot perut bak roti sobek benar-benar menggodanya.


Perlahan tangan lentik Disha mengusap perut Defan. Perbuatannya membuat wajah lelaki tersebut seketika memerah padam.


Disha sudah tak tahan. Dia berdiri dan memeluk perut Defan. Ulahnya sukses membuat Defan hampir jantungan. Sungguh, dia berusaha keras menahan diri.


"Kau pasti makan atau minum sesuatu yang salah," duga Defan seraya melepas pelukan Disha.

__ADS_1


"Kalau begitu lakukan sesuatu! Ini sangat menyiksaku!" ucap Disha. Dia berdiri dan mengguncang tubuh Defan.


"Makanya biarkan aku memeriksa makanan dan minuman yang kau konsumsi tadi," kata Defan. Ia kembali melangkah menuju meja.


Sekali lagi Disha menghentikan pergerakan Defan. "Kumohon lakukan sesuatu..." rengeknya sembari menenggak ludah sendiri.


"Tunggu sebentar, Sha." Defan bergegas mendekati meja. Dia langsung mengambil botol wine yang sudah diminum Disha. Sebagai CEO pemimpin perusahaan bidang farmasi, Defan bisa mengetahui kandungan yang terlanjur di konsumsi Disha. Betapa kagetnya dia saat membaca ada kandungan black cohosh dan chasteberry di dalam wine.


"Sial!" umpat Defan. Dia menoleh ke arah Disha. Gadis itu terduduk di lantai sambil memeluk lutut. Matanya juga dipejamkan rapat-rapat. Dengan tujuan agar dirinya mampu menahan diri.


Defan menggendong Disha dengan ala bridal. Hal itu membuat mata Disha langsung terbuka lebar.


"Defan..." setelah sekian lama, Disha memanggil Defan dengan sebutan nama. Dia berpegang erat ke leher Defan. Lalu menciumi pipi lelaki itu.


Defan menenggak salivanya sendiri. Beruntung organ intimnya tidak bereaksi terhadap apa yang telah terjadi.


Defan dapat merasakan hembusan nafas Disha yang menderu di dekat kupingnya. Perasaan tidak karuan lagi-lagi menyerang Defan.


"Aku merasakan organ intimku begitu begejolak, Fan..." keluh Disha sambil tak berhenti menggilas wajahnya ke leher Defan.


"Apa yang kau lakukan?..." tanya Disha sembari mencoba meraih tangan Defan. Namun lelaki tersebut sigap menghindar.


"Diamlah di sana!" titah Defan. Dia tampak mengisi air ke dalam sebuah ember.


"Defan! Cepat ke sini! Aku ingin memelukmu," pinta Disha.


Defan tidak hirau. Ia fokus menunggu ember penuh dengan air. Selanjutnya, barulah dia menyiramkan air tersebut kepada Disha.


"Aaaah!" Disha kaget. Rasa dingin seketika mengikat. Terlebih air dalam bathub sudah berhasil merendam seluruh tubuhnya. Hingga hanya menyisakan area kepala sampai dada.


"Diamlah sebentar. Sampai gejolak yang kau rasakan hilang," saran Defan. Dia sebenarnya sangat mencemaskan Disha.


Disha mengangguk. Dia tidak bisa membantah. Sebab cara Defan memang perlahan meredamkan gairahnya yang sempat membara.

__ADS_1


"Tinggalkan saja aku di sini..." lirih Disha.


Defan segera berjalan menuju pintu. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar Disha tiba-tiba memanggil. Defan lantas kembali menatap gadis itu.


"Ada apa?" tanya Defan.


"Terima kasih," ungkap Disha sambil memancarkan tatapan dalam.


Deg!


Debaran itu kembali dirasakan Defan. Dia mengangguk dan buru-buru keluar kamar mandi.


Defan memegangi dadanya. Ia mencoba tenang. Akan tetapi dirinya justru mengulang segala kejadian intim tadi. Dari mulai ciuman, pelukan, sampai sentuhan Disha.


"Aku perlu musikku!" Defan berlari menghampiri alat pemutar musik. Namun dia harus urung menyalakan musik, karena terkejut akan sesuatu.


Mata Defan terbelalak tak percaya saat melihat ke bawah. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama, organ intimnya kembali mengeras.


"Sial! Sial! Sial!" rutuk Defan. Dia panik bukan kepalang. Disha benar-benar membuat kebanggaan yang disusunnya dengan rapi, runtuh dalam sekejap.


Defan sangat bingung sekarang. Mengingat Disha ada di kamar mandi. Dia berusaha keras agar membuat tonjolan di area bawah perutnya tidak terlihat. Tetapi itu sulit dilakukan karena ukuran alat vital Defan cukup besar.


"Ini kenapa si ontong bisa bangun lagi coba! Aku sudah suntik sampai tiga kali tahu!" keluh Defan. Dia segera bersembunyi ke balik dinding yang jauh dari posisi kamar mandi. Defan terpaksa mengatasi sendiri juniornya yang mendadak aktif.


Perlahan Defan membuka resleting celana. Bersamaan dengan itu, Disha tiba-tiba memanggil.


"Toy! Bisa ambilkan handuk kimono aku nggak? Aku tadi menaruhnya di balkon!" seru Disha.


Mulut Defan menganga lebar. Sekali lagi dia menoleh ke arah alat vitalnya. Bagian tubuhnya tersebut masih berdiri tegak dengan gagahnya.


"Toy? Cepetan! Aku kedinginan!" desak Disha.


"Bentar!" sahut Defan. Dia mencoba berpikir jernih. Kemudian mengambil handuk kimono Disha. Setelah itu, Defan segera menyerahkan handuk kimono kepada Disha. Dia hanya menyusupkan tangan ke dalam kamar mandi. Untung saja wastafel berada di dekat pintu. Jadi Defan menaruhnya di sana.

__ADS_1


Usai menyerahkan handuk kimono Disha, Defan bergegas mengenakan jaket. Dia mengikat jaketnya ke pinggul. Hingga ontongnya yang yang masih asyik berdiri, dapat disembunyikan.


Defan beranjak pergi selepas mengambil barang-barang kebutuhan. Dia memutuskan untuk memesan kamar lain. Saking tergesak-gesaknya, Defan lupa memberitahu Disha mengenai kepergiannya.


__ADS_2