
...༻✡༺...
"Berjanjilah kepadaku." Disha memegangi lengan Defan. Lelaki itu membulatkan mata. Dia kaget dengan sentuhan tiba-tiba Disha.
Defan langsung menjauhkan tangan Disha. Ia menghempaskan diri ke ranjang. Defan dalam keadaan tengkurap. Berusaha keras menutupi senjatanya yang sedang menegang.
"Kau kenapa?" tanya Disha dengan dahi berkerut.
"Nggak apa-apa. Cepat mandi gih! Kau bau. Ketahuan belum mandi." Sungguh, Defan sangat berusaha keras bersikap santai.
Disha cemberut. Dia yang tak tahu apa-apa, segera masuk ke kamar mandi.
Kini Defan dapat mendengus lega. Dia terpaksa kembali ke kamarnya. Untuk sekarang, dirinya tidak akan menyentuh Disha walau hanya sedikit.
Selesai membersihkan diri, Disha keluar dari kamar mandi. Ia heran menyaksikan Defan sudah tidak ada.
Disha mengambil ponsel. Di sana dia menemukan pesan dari Defan. Lelaki tersebut menunggunya di lobi.
"Dasar tidak sabaran," komentar Disha. Dia segera bersiap. Disha juga tidak lupa bersolek agar tampil cantik.
Disha senyum-senyum sendiri saat bercermin. Saat itulah dia tersadar kalau dandanannya agak berlebihan.
"Tunggu! Apa aku berdandan untuk Letoy?" Disha menggeleng kuat. Dia menyapu lipstiknya yang dirasa tebal. Lalu menggantinya dengan warna yang lebih kasual.
Sementara itu, Defan sebenarnya masih ada di kamar. Dia bermandikan keringat karena harus berurusan dengan organ intimnya.
Gigi Defan menggertak kesal. Setelah selesai menghentikan ketegangan ontongnya, dia segera menghubungi Ferdi. Dokter yang telah memberi suntik impoten kepada Defan.
"Defan... Kenapa kau tidak mengundangku ke pernikahanmu?" Ferdi menjawab dari seberang telepon.
"Dok, Milikku tidak berhenti menegang! Aku pikir aku membutuhkan suntikan itu lagi," ujar Defan. Mengabaikan pertanyaan Ferdi.
"A-apa? Setelah sekian lama?! Gila! Apa yang salah denganmu, Fan? Kau terlalu subur atau apa?" tukas Ferdi sampai tergagap. Mungkin pasien seperti Defan sangat langka dirinya temui.
"Semuanya gara-gara--"
"Gara-gara kegiatan intim kedua orang tuamu? Bukankah kau sudah tidak tinggal dengan mereka?" Dokter Ferdi yang paling tahu masalah Defan, mencoba menebak.
"Bukan. Aku..." Defan menggigit bibir bawahnya. Dia gengsi jika harus berkata jujur.
"Tunggu, kau sudah menikah kan? Bukankah kalau itu berfungsi adalah sesuatu hal yang bagus? Kenapa kau--"
"Nanti setelah kembali aku akan ceritakan semuanya. Sekarang kau lebih baik beritahu aku bagaimana cara agar mengobati kondisiku ini?" Defan mendesak.
"Kau punya istri kan? Aku pikir dialah yang bisa mengobatimu."
__ADS_1
"Apa-apaan. Aku..." Defan menggaruk kepalanya dengan gelisah. Dia merasa sulit menjelaskan hubungan kontrak di antaranya dengan Disha sekarang. Butuh penjelasan panjang untuk membuat Ferdi mengerti. Dan bicara ditelepon bukanlah hal yang tepat. Terlebih Defan harus bergegas menemui Disha sekarang.
"Lupakan! Aku--" Defan nyaris mematikan panggilan telepon. Namun tidak jadi karena mendengar perkataan serius Ferdi.
"Fan, apa kau dan istrimu belum melakukannya? Jika belum..." Ferdi menjeda ucapannya sejenak. "MAKA LAKUKANLAH SECEPATNYA!" pekiknya.
"Dokter!" geram Defan yang reflek menjauhkan telepon. Suara teriakan Ferdi, begitu memekakkan telinga.
"Kau tahu bagaimana tersiksanya dirimu jika menahan kencing. Itu juga berlaku dengan apa yang kau rasakan. Lampiaskan hasratmu, Fan. Jika perlu, kau--"
Defan sudah tidak tahan. Dia cepat-cepat mematikan telepon. Kemudian pergi keluar kamar.
Setibanya di lobi, Defan dapat melihat Disha dari kejauhan. Entah kenapa sekarang dia merasa gadis itu semakin cantik.
Defan terpaku menatap Disha sambil terus berjalan. Office boy yang menegurnya untuk berhati-hati bahkan diabaikan oleh Defan.
Menyaksikan Defan baru datang, Disha berkacak pinggang. Mata gadis itu menajam.
Defan masih terpesona akan tampilan Disha. Dia tak peduli dengan ekspresi cemberut yang ditunjukkan gadis tersebut.
Ketika hampir mendekati Disha, Defan terpeleset. Dia sontak jatuh terduduk ke lantai.
Disha yang melihat, justru tertawa. Meskipun begitu, dia orang pertama yang mengulurkan tangan untuk membantu Defan. Namun lelaki itu mengabaikan uluran tangannya. Defan memilih berdiri sendiri.
"Aku sudah bilang untuk berhati-hati," ujar office boy yang tadi sempat menegur Defan. Ia segera berlalu pergi.
"Pantatmu sakit nggak?" tanya Disha.
"Enggak." Defan menjawab singkat. "Ayo kita pergi! Lebih cepat semakin baik," ucapnya. Dia melintas di hadapan Disha tanpa menoleh.
Kening Disha mengernyit dalam. Dia berusaha memaklumi. Sebab ini bukan pertama kalinya Defan bersikap dingin.
"Kita jalan kaki saja ya? Biar liburannya lebih terasa." Disha mengejar Defan. Menyamakan langkah kakinya dengan lelaki itu.
"Enggak. Naik taksi lebih cepat!" tolak Defan. Dia menghentikan taksi yang lewat. Lalu memasukinya tanpa persetujuan Disha.
"Kau nyebelin banget sih, Toy." Disha mencibir. Dia terpaksa ikut masuk ke dalam taksi.
Hening menyelimuti suasana. Defan mencoba untuk tidak menatap Disha berlama-lama. Sementara gadis itu tampak asyik bermain ponsel.
Perlahan Disha melirik Defan. Dia merasa sikap lelaki tersebut sangat berbeda. Sikap dingin Defan yang biasanya sangat berbeda dengan sekarang. Sebab Defan terus membuang muka dari Disha. Selain itu, posisi duduk Defan juga sangat berjauhan dengan Disha.
"Toy, kau lagi PMS?" celetuk Disha. Mendekatkan mulut ke telinga Defan.
"Sha!" Defan reflek memekik. Matanya melotot tak percaya.
__ADS_1
"Kau kenapa sih? Kayak orang kerasukan setan aja," tukas Disha heran.
"Nggak apa-apa. Cuman kepikiran pekerjaan." Defan berkilah. Dia mendorong Disha. Kemudian mengalihkan pandangan.
Selang sekian menit, Disha dan Defan tiba di menara Eiffel. Di sana Disha langsung mengambil selfie.
Puas berfoto sendiri, Disha mengajak Defan berfoto bersamanya. Disha meminta tolong seseorang untuk mengambil fotonya dan Defan. Keduanya segera berpose. Mereka berdiri berdampingan. Tetapi tidak saling merangkul. Sepertinya kejadian tadi malam berdampak besar terhadap hubungan mereka.
"Kenapa kalian bertingkah seperti orang yang tidak mengenal? Ayo! Setidaknya berpose sambil bergandengan," suruh orang yang bertugas mengambilkan foto untuk Disha dan Defan.
Disha tersenyum. Tangannya segera bergerak untuk menggandeng Defan. Akan tetapi lelaki itu justru menjauh.
"Nggak usah terlalu mesra. Lagian papaku sudah percaya sama hubungan kita," kata Defan.
"Cuman gandengan tangan doang kok. Lebay banget," balas Disha.
"Pokoknya jangan sentuh aku, Sha. Oke?" Defan bersikeras.
"Kau kenapa sih? Aku ini bukan kotoran loh!" timpal Disha.
"Lagian siapa yang bilang kau kotoran?" sahut Defan. Perdebatannya dan Disha dimulai.
Orang yang bertugas mengambilkan foto, tersenyum kecut. Bingung harus berbuat apa.
"Disha!" Terdengar suara seorang lelaki memanggil.
Disha dan Defan sontak menoleh. Perdebatan mereka otomatis terhenti.
"Je-jerry?" Disha kaget melihat kehadiran Jerry. Hal yang sama juga dirasakan Defan.
"Apa kau mengajaknya ke sini?" timpal Defan dengan nada berbisik.
"Tentu saja tidak! Kita tidak mengundang orang selain Kroco." Disha balas berbisik.
"Aku kebetulan mendapatkan undian berlibur ke Paris. Dan di sinilah aku," cetus Jerry menjelaskan. Defan dan Disha menanggapi dengan senyuman kecut.
Disha bergegas mengambil ponselnya dari orang yang tadi bersedia memfotokan. Wajah orang itu terlihat cemberut. Disha dan Defan hanya bisa minta maaf.
Jerry memang terkesan terus mendekati Disha. Dia seolah tidak peduli dengan posisi Defan sebagai suami gadis itu.
"Jer, aku dan Disha sepertinya harus kembali ke hotel." Defan sudah tidak tahan menyaksikan tingkah Jerry.
"Ini masih siang? Disha sepertinya belum puas jalan-jalan. Iyakan, Sha?" Jerry meminta pendapat Disha.
"Enggak. Aku emang pengen pulang kok." Disha sebenarnya terganggu dengan kehadiran Jerry. Dia segera menggandeng tangan Defan.
__ADS_1
"Ayo kita pulang," ajak Disha.
Mata Defan membulat. Dia membeku di tempat. Perlahan dia menengok ke bawah perutnya.