Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten
Bab 28 - Pengakuan Dimas


__ADS_3

...༻✡༺...


Dimas ikut masuk ke kamar dimana Disha dan Defan tidur. Mereka segera duduk ke sofa.


"Apa kalian tidur dalam satu ranjang?" tanya Dimas penasaran.


Disha dan Defan terdiam. Keduanya reflek bertukar pandang. Mereka mengingat apa yang pernah terjadi terakhir kali di ranjang. Disha sendiri mengingat bagaimana dirinya kehilangan kendali karena obat perangsang. Wajahnya memerah karena hanya mengingat kejadian tersebut.


Sementara Defan, dia tentu mengingat momen dirinya menggauli Disha. Sama seperti Disha, wajahnya juga tampak memerah.


Dimas memperhatikan baik-baik ekspresi dua sahabatnya. Karena mereka diam, dia jadi mencurigai sesuatu. Mimik wajah Dimas nampak serius.


"Apa sesuatu terjadi di antara kalian?" tanya Dimas.


Mata Disha dan Defan membulat bersamaan. Keduanya langsung membantah.


"Tidak! Apa maksudmu? Kau bicara apa, Co." Defan menggeleng sambil memegangi tengkuk.


"Memangnya kau memikirkan aku dan Letoy melakukan apa?! Tidak ada yang terjadi. Pokoknya tidak akan pernah terjadi!" Disha menampik keras.


Dimas mengangguk. Dia memilih mempercayai dua sahabatnya. "Syukurlah kalau begitu," ujarnya.


"Otak mesum begitulah pikirannya, Sha," ucap Defan.


"Iya, benar banget." Disha mengangguk. Dia dan Defan bekerjasama menyudutkan Dimas.


"Aku cuman khawatir sama kalian. Malah dibilang mesum," balas Dimas sembari melemparkan bantal sofa ke arah Defan.


Karena Dimas datang, Defan memutuskan tidur satu kamar bersamanya. Membiarkan Disha tidur sendirian.


Bulan madu berubah menjadi liburan bagi, Disha, Defan, dan Dimas. Ketiganya menikmati waktu bersama. Defan juga merasa lega terhadap kehadiran Dimas. Karena sahabatnya itu, dia merasa tidak terganggu lagi dengan godaan Disha.


Setelah mengunjungi Amsterdam, Disha, Defan, dan Dimas pergi ke Swiss. Lalu menetap sebentar di Roma. Usai satu hari di sana, barulah mereka menjadikan London sebagai tempat terakhir yang dikunjungi di Eropa.


Satu hal yang pasti. Selama berlibur bersama, Defan seringkali menunjukkan perhatiannya untuk Disha. Sebagai orang yang sudah lama menyukai Disha, Dimas tentu merasa tidak nyaman dengan perlakuan Defan.


Sekarang Defan, Disha, dan Dimas sudah ada di bandara. Mereka hendak pulang ke Indonesia.


Kebetulan Disha sedang bicara dengan karyawannya melalui ponsel. Dia duduk di kursi tunggu. Sedangkan Defan dan Dimas membeli minuman hangat.


"Toy, aku lihat akhir-akhir ini kau sangat perhatian sama Disha. Apa kau jatuh cinta kepadanya?" tukas Dimas.


Mata Defan membulat sempurna. Jantungnya juga langsung berdegup kencang. Perkataan Dimas bak sebuah anak panah yang tepat sasaran.


"A-apa? Jatuh cinta? Kau jangan mengada-ngada, Co!" Defan membantah sambil membuang muka. Meski dia belum sadar sudah tertarik kepada Disha, tetapi entah kenapa pertanyaan Dimas sukses membuatnya gugup.


"Baguslah kalau begitu," tanggap Dimas.


Dahi Defan berkerut. Dia yang tadinya kikuk, berubah menjadi serius. "Maksudmu?" tanyanya.

__ADS_1


Dimas menghembuskan nafas dari mulut. Kemudian merangkul pundak Defan. "Toy, aku nggak bisa bohong lagi sekarang," katanya. Menyebabkan Defan tambah penasaran.


"Aku jatuh cinta sama Disha," bisik Dimas.


Deg!


Jantung Defan merasakan kejut. Dia tidak menyangka akan mendengar pernyataan tersebut dari Dimas.


Saking kagetnya, Defan sampai tak mampu berkata-kata. Dia bingung harus memberi reaksi seperti apa.


"Makanya aku khawatir akan terjadi sesuatu di antara kau dan Disha. Aku mengatakan ini agar kau bisa menjaga Disha dengan baik di sisimu. Terutama menjaganya dari lelaki seperti Jerry," sambung Dimas.


"Co... Kau serius?" Defan memastikan.


"Apa wajahku sekarang terlihat seperti bercanda? Aku serius, Toy! Aku sudah suka sama Disha sejak SMA. Aku menyembunyikan perasaanku karena kau tahu kan bagaimana Disha? Dia sangat mengutamakan karirnya lebih dari apapun," jelas Dimas panjang lebar.


Defan termangu. Anehnya dia merasakan sesuatu yang janggal di hati. Mendengar Dimas mengakui perasaan cintanya kepada Disha, membuat Defan risih.


"Toy! Janji jaga rahasia ini dari Disha ya. Ini rahasia kita berdua. Aku percaya sama kamu." Dimas menepuk pundak Defan dan tersenyum.


Defan mengangguk seraya memaksakan dirinya tersenyum. Ia lagi-lagi hanya diam.


"Ngomong-ngomong, kapan pernikahan kontrakmu dan Disha berakhir? Apa kalian sudah menentukannya?" tanya Dimas.


"Belum. Nanti aku akan membahasnya dengan Disha. Kebetulan kami masih belum sempat," sahut Defan. Setelah menerima minuman yang dipesan, dia dan Dimas bergabung bersama Disha di kursi tunggu.


Tiga hari berlalu. Disha dan Defan kembali bekerja seperti biasanya. Segalanya tetap normal bagi Disha. Namun tidak untuk Defan. Lelaki itu terus gelisah memikirkan pengakuan Dimas. Entah kenapa dirinya sangat terganggu akan hal itu.


Defan lantas mendatangi Ferdi. Dia menceritakan bagaimana hubungannya dengan Disha. Defan juga tidak lupa memberitahu apa yang telah terjadi, serta perasaan yang sangat mengganggunya sekarang.


"Itu ironis," komentar Ferdi. Dia tentu kaget saat mengetahui kalau hubungan Defan dan Disha hanyalah kontrak. Terlebih Defan sudah terlanjur mengajak Disha bercinta ketika gadis itu dalam keadaan mabuk.


"Jadi menurutmu bagaimana keadaanku? Apa yang aku lakukan terhadap Disha itu berdampak kepada kondisi mentalku?" Defan menuntut jawaban.


"Kau sama sekali tidak terkena gangguan mental," tanggap Ferdi dengan semburat wajah penuh keyakinan.


"Lalu?"


"Kau sepertinya jatuh cinta pada Disha."


"Apa?!" Defan berdiri dari kursi. "Jangan asal menyimpulkan. Aku tidak--"


"Lantas kenapa kau merasa tidak nyaman dengan pengakuan cinta Kroco? Tunggu dulu, kau yakin nama temanmu ini Kroco?" Ferdi memiringkan kepala heran. Sebab Defan menceritakan perihal Dimas dengan hanya menyebutkan nama ejekan.


Defan seketika terdiam. Dia tidak menampik bahwa dirinya terganggu dengan pengakuan cinta Dimas.


"Jika kau benar-benar jatuh cinta kepada istri kontrakmu, maka kau--"


"Aku tidak jatuh cinta kepadanya!" sergah Defan tak terima.

__ADS_1


"Sebaiknya kau--"


"Sia-sia aku datang ke sini!" Defan pergi begitu saja. Dia benar-benar tidak bisa menerima kesimpulan yang diberikan Ferdi terhadap perasaannya.


"Aku tidak mungkin jatuh cinta. Sama Disha lagi. Aku akan buktikan sendiri," gerutu Defan. Dia segera pulang ke rumah. Di sana Disha terlihat pulang duluan. Perempuan itu terlihat mengenakan tanktop dan celana pendek sepangkal paha.


Pupil mata Defan membesar. Dia menenggak salivanya sendiri. Di matanya, Disha terlalu seksi. Terlebih dirinya pernah menyaksikan perempuan tersebut telanjang. Hal itu jadi terbayang kembali di kepala Defan.


"Hari ini banyak kerjaan ya?" sapa Disha. Di tangannya terdapat es krim contong rasa vanilla.


"Kau! Kenapa bajumu?!" timpal Defan.


"Kenapa? Aku kepanasan!" jawab Disha dengan kening yang mengernyit.


Defan terkesiap. Terutama saat melihat Disha menjilati es krim vanila dengan lidahnya.


Lagi-lagi Defan telan ludah sendiri. Ia buru-buru masuk ke kamar.


Bukannya bernafas lega saat jauh dari Disha, Defan justru dibuat semakin gelisah. Sebab organ intimnya aktif kembali.


"Sial!" Defan memaki dirinya sendiri.


Defan melepas dasinya. Dia semakin gelisah ketika dirinya kembali mengingat bagaimana nikmatnya bercinta bersama Disha tempo hari.


Defan berusaha menahan, namun seberapa keras dia mencoba mengalihkan perhatian, bayangan tubuh Disha yang putih bersih dan bohay, terus membayangi.


"Persetan! Aku sudah tidak tahan!" Defan mengambil ponsel. Dia memesan minuman alkohol secara online.


Selang sekian menit, pesanan Defan tiba. Dia keluar dari kamar dalam keadaan jaket yang terikat di pinggul.


Disha mengerutkan dahi. "Sumpah, otakmu udah sengklek ya, Toy?" tegurnya.


Defan tak peduli. Dia justru fokus membayar pesanannya dan segera meletakkan lima botol bir ke meja.


"Astaga! Tumben kau beli beginian?" Disha langsung meletakkan es krim ke wadah. Dia tak peduli lagi dengan makanan itu.


"Mau minum pakai es?" tawar Defan. Mengingat Disha sedang kepanasan.


"Emang boleh aku minum? Kemarin kan kau sama Kroco marah karena--"


"Aku akan ambilkan esnya," potong Defan. Berlalu menuju kulkas.


Disha mengangkat bahunya tak acuh. Dia mengambil salah satu botol bir. Lalu membukanya.


Defan merampas botol yang ada di tangan Disha. Kemudian menuang minuman tersebut ke gelas yang sudah berisi es batu.


"Nih!" Defan menyodorkan bir kepada Disha. Perempuan itu langsung meminumnya sampai tandas.


Sambil menunggu, Defan ikut minum satu gelas. Tingkat kesabarannya sudah mencapai ubun-ubun. Dia benar-benar kehilangan kendali jika gairahnya telah memuncak. Bahkan tega membuat Disha minum sampai mabuk.

__ADS_1


__ADS_2