Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten
Bab 27 - Menyerah Karena Desa*han


__ADS_3

...༻✡༺...


"Ka-kau kenapa sih, Toy?" tanya Disha tergagap.


"Aku kenapa emangnya?" balas Defan dengan dahi yang mengerut samar.


"Tanganku..." Disha menjawab sambil menatap tangannya yang ada di dalam saku mantel Defan. Dia berusaha menutupi wajahnya yang memerah padam.


"Ini biar kau nggak kedinginan. Setidaknya sampai kita menemukan toko pakaian," ujar Defan. Ia menuntun Disha berjalan. Sampai akhirnya mereka tiba di toko pakaian.


"Aku akan bayar sendiri." Disha buru-buru melepaskan tangannya dari Defan. Dia sudah tak sanggup lagi menahan rasa malu.


Defan mengangkat bahunya satu kali. Dia mencoba berkeliling untuk melihat-lihat. Tanpa sepengetahuannya, Disha menatap dari kejauhan.


"Dia kenapa mendadak perhatian begitu. Pasti ada maunya," gumam Disha heran. Dia mendengus kasar. Lalu mencoba mencari perlengkapan pakaian musim dingin.


Ponsel mendadak berdering. Disha mendapatkan telepon dari Dimas. Sahabatnya itu ternyata baru saja tiba di bandara Amsterdam. Dia akan segera menemui Disha dan Defan.


"Toy, Kroco datang! Aku sudah mengirimkan alamat hotel tempat kita menginap!" seru Disha antusias.


"Benarkah?" Defan mengambil ponselnya. "Kok dia nggak kasih tahu aku," keluhnya merasa kecewa.


Bersamaan dengan itu, barulah Defan mendapatkan telepon dari Dimas. Dia langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Jadi aku yang kedua bagimu, Co?" tukas Defan.


Disha yang mendengar geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Dia segera melakukan transaksi pembayaran ke kasir.


Selepas membeli perlengkapan pakaian musim dingin, Disha dan Defan memutuskan tetap mencari tempat makan. Keduanya sekarang sudah kembali menyusuri jalanan trotoar. Kemudian singgah di sebuah restoran.


Disha dan Defan tentu tidak lupa mengajak Dimas bergabung. Lelaki itu langsung pergi setelah memesan kamar di hotel. Dimas sudah tidak sabar menemui dua sahabatnya. Terutama Disha.


Defan menatap Disha dengan ekspresi serius. Dia ingin memastikan apakah Disha masih kesakitan atau tidak akibat kegiatan intim tadi malam.


"Gimana, Sha? Masih sakit nggak?" celetuk Defan.


"Apanya?" Disha berbalik tanya.


"Itu, anumu. Masih sakit nggak?" Defan memperjelas.


"Sudah nggak kok. Kenapa tiba-tiba tanya?" balas Disha.


"Cuman cemas doang." Defan membuang muka dari Disha. Setidaknya dia merasa lega saat mendengar Disha sudah tidak kesakitan lagi.

__ADS_1


Dimas tampak muncul dari kejauhan. Dia berlari menghampiri meja dimana kedua sahabatnya berada.


"Kroco!" Defan dan Disha berseru bersama. Keduanya membuka lebar tangan mereka karena ingin menyambut Dimas dengan pelukan.


Orang yang pertama dipeluk Dimas tentu adalah Disha. Raut wajah Defan seketika berubah datar. Entah kenapa dia merasa kalau Dimas selalu mengutamakan Disha. Atau mungkin dia baru menyadari hal itu setelah memiliki sepercik perasaan untuk Disha.


"Halo, Toy." Puas memeluk Disha, barulah Dimas memeluk Defan. Keduanya saling menepuk punggung satu sama lain.


Dimas terlihat memilih duduk di samping Disha. Perasaan Defan jadi semakin dangkal.


"Gimana liburan kalian tanpa aku? Boring kan?" ujar Dimas percaya diri.


"Banget. Letoy nyebelin seperti biasa," sahut Disha.


"Eh, justru kau yang nyebelin. Ditambah ngerepotin juga. Dia mabuk terus, Co!" bantah Defan tak terima.


"Yang benar, Toy? Berarti kau mengurus Disha sendirian dong," tanggap Dimas.


"Iya, Co. Repot banget sumpah." Defan menggelengkan kepala.


"Iyalah capek. Dibantu sama aku saja capek, apalagi sendiri." Dimas sependapat dengan Defan.


"Mulai lagi deh." Disha yang merasa tersudut segera mengeluh.


Disha memesan steak. Dia mulai memotong daging steaknya. Akan tetapi Disha cukup kesulitan memotong daging tersebut. Meskipun begitu, dia tidak meminta bantuan kedua sahabatnya.


Defan dan Dimas baru saja melihat Disha kesulitan dengan daging steak. Keduanya segera turun tangan untuk membantu.


"Sini, Sha!" ujar Defan.


Bersamaan dengan itu, Dimas juga berucap, "Biar aku bantu, Sha."


Hening seketika menyelimuti suasana. Baik, Disha, Defan, dan Dimas, ketiganya bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Terutama Dimas, dia tidak pernah melihat Defan memberi perhatian begitu kepada Disha.


"Kalian kompak banget ya. Ngejek aku kompak, mau tolongin aku kompak juga," komentar Disha. Mentertawakan Defan dan Dimas. "Kalian tenang saja. Kayaknya nih pisau yang bermasalah. Aku akan minta sama pelayan untuk digantikan," lanjutnya yang langsung memanggil salah satu pelayan restoran.


"Aura kita berdua hari ini sepertinya sehati banget, Co!" tanggap Defan. Mengikuti candaan Disha.


Berbeda dengan Dimas. Dia merasa tingkah Defan agak aneh. Biasanya Defan tak pernah peduli terhadap segala kesulitan kecil yang terjadi pada Disha. Termasuk seperti masalah memotong steak tadi.


"Kalian nikah aja gih," ucap Disha.


"Dih! Nggak sudi aku sama Letoy." Dimas membuang perasaan janggalnya terhadap Defan. Dia menanggapi gurauan Disha.

__ADS_1


"Ayo, Co. Mau jalan-jalan berdua nggak? Biarkan saja Disha sendiri." Defan ikut bermain. Dia berusaha meraih tangan Dimas.


"Toy! Aku masih normal ya!" balas Dimas. Dia, Defan, dan Disha tergelak.


Usai makan bersama, Defan, Disha, dan Dimas kembali ke hotel. Ketiganya menyusuri jalanan trotoar. Disha menjadi orang yang berada di tengah. Dalam himpitan Defan dan Dimas.


"Oh iya, tadi pas aku ingin pesan kamar. Aku ketemu temanmu, Sha. Dia katanya mau kembali ke Indonesia," cetus Dimas. Dia membicarakan tentang Jerry. Dimas tahu kalau lelaki itu adalah temannya Disha. Namun dia tidak tahu namanya.


"Temanku? Siapa?" Disha mengerutkan dahi. Langkahnya dan Defan terhenti.


"Entahlah. Aku tidak tahu namanya. Dia tinggi, agak kurusan, terus--"


"Seperti ini?" Disha menunjukkan foto Jerry yang didapatnya dari media sosial.


"Ya, ini orangnya!" Dimas mengiyakan.


"Ternyata dia benar-benar mengikutimu, Sha." Defan menyimpulkan. Dia benar-benar dibuat kaget. Hal serupa juga dirasakan Disha.


"Mengikuti? Maksud kalian?" Dimas yang tidak tahu, menuntut jawaban. Defan lantas memberitahu kalau Jerry sudah mengikutinya dan Disha sejak di Paris kemarin. Mereka saling bercerita sembari lanjut berjalan menuju hotel.


..._____...


Epilog ~ Bab 27


Kemarin malam...


Akh!


Akh!


Akh!


Suara lenguhan itu membuat Jerry mematung di tempat. Dia mengepalkan tinju di kedua tangan.


Sekarang Jerry sedang berdiri di depan pintu kamar Disha dan Defan. Dia tadinya ingin bertamu dan membawakan kue kesukaan Disha. Namun sayang, niatnya harus terhenti.


Jerry benar-benar terbakar cemburu. Bagaimana tidak? Gadis yang disukainya tengah asyik bercinta dengan lelaki lain.


"Ternyata kau benar-benar serius dengan pernikahan..." gumam Jerry sambil menundukkan kepala. Memang dia awalnya menganggap pernikahan Disha dan Defan hanyalah palsu. Mengingat Jerry sangat tahu kalau keduanya sangat mengutamakan pekerjaan. Belum lagi sifat kaku Disha dan Defan yang terkesan tidak seperti pasangan pada umumnya.


Lama-kelamaan suara erangan Disha dan Defan semakin menjadi-jadi. Jerry reflek menutupi kedua telinganya.


"Cukup!" Jerry menangis sambil berlari masuk ke kamarnya. Dia meratap sedih di sana.

__ADS_1


"Baiklah, aku menyerah... Aku menyerah..." isak Jerry dengan hati tersayat. Dia meringkuk di ranjang. Ingusnya meleleh mengikuti gravitasi bumi.


__ADS_2