
...༻✡༺...
Nafas Defan dan Disha mulai menderu-deru. Gairah mereka memuncak. Keduanya lantas melepas pakaian satu per satu. Sampai tidak menyisakan satu helai benang pun.
Defan hendak membawa Disha telentang. Akan tetapi perempuan itu menolak.
Kali ini Disha memimpin. Setelah melakukan penyatuan, dia bergerak menghentak. Disha melakukannya sambil terus melenguh.
Jika biasanya Disha agak pasif, namun tidak untuk sekarang. Dia berusaha lebih aktif dibanding biasanya. Sesekali bibirnya akan menyatu dengan mulut Defan. Rambut panjangnya yang terurai, berguguran menutupi separuh wajah sang suami.
Defan merasa semakin antusias. Dia mengerang nikmat sambil menggerakkan pinggul istrinya.
Lama-kelamaan desa-han Disha semakin menjadi-jadi. Ia merasakan puncak kenikmatan. Itu terus dirasakannya berulang kali saat Defan masih enggan melepaskan penyatuan.
"Akh! Oh yes, Sayang! Akh!" erang Disha sambil mengacak-acak rambut panjangnya. Tubuh Disha dan Defan sudah berlumuran keringat. Menyebabkan kulit mereka memancarkan kilap.
Defan mengukir senyuman sembari terus melenguh. Dia menuntun Disha untuk bergerak lebih cepat. Apa yang dilakukannya juga membuat tempo erangan Disha terdengar lebih cepat.
Defan tidak bisa menahan diri. Ia segera mengambil posisi Disha. Merebahkan perempuan tersebut ke ranjang. Kegiatan intim kembali berlanjut. Defan segera melepaskan Disha ketika berhasil menggapai puncak kenikmatan.
Kini hanya tersisa suara nafas yang terengah-engah dari Disha dan Defan. Keduanya telentang berdampingan.
"Jadi itu yang kau sebut permainan oh yes, sayang?" tanya Defan seraya memiringkan badan menghadap Disha. Dia mengusap peluh yang ada di sekitar wajah perempuan tersebut.
"Bagaimana? Kau suka bukan?..." tanggap Disha yang masih berusaha mengontrol nafas.
"Sangat," jawab Defan.
"Berjanjilah kepadaku kalau kau tidak akan melihat perempuan lain selain aku," ucap Disha. Jujur saja, apa yang dilakukan Karin benar-benar membuatnya gelisah.
"Ayolah, Sayang. Itu tidak akan terjadi." Defan membawa Disha masuk ke dalam pelukan.
__ADS_1
"Maafkan aku karena akhir-akhir ini terlalu fokus dengan pekerjaan. Tapi aku akan pastikan mulai sekarang aku akan mengutamakanmu dan anak-anak kita," ungkap Disha.
"Dih! Tumben banget kalimatnya romantis," sahut Defan sambil mempererat pelukannya. Disha lantas tertawa geli.
Satu malam berlalu. Defan terbangun ketika pagi menyapa. Dia melihat sang istri sudah tidak ada di sebelahnya.
Defan bergegas membersihkan diri. Berpakaian, lalu pergi ke meja makan. Di sana dia melihat Disha sibuk menyiapkan sarapan. Keadaan di dapur tampak berantakan. Hal itu membuktikan kalau Disha tidak bisa memasak.
Niat jahil Defan muncul. Dia diam-diam berjalan dari belakang. Saat sudah dekat, Defan mengagetkan Disha dengan sentuhan dan teriakan.
Disha tersentak kaget. Dia langsung melotot sambil berkacak pinggang.
"Defaaan!!!" geram Disha. Dia menjewer salah satu kuping Defan. "Jantungku hampir copot tahu nggak!" omelnya.
Defan hanya bisa mengerang kesakitan saat Disha menjewer kupingnya. Ia mengerutkan dahi ketika baru melihat Disha tidak berpakaian kantor.
"Kau libur hari ini?" tanya Defan. Setelah Disha melepas kupingnya.
"Enggak," jawab Disha. Dia menyibukkan diri dengan memotong sayuran.
Disha menghela nafas. Kemudian menatap Defan.
"Aku akan berhenti dari pekerjaanku. Aku ingin fokus mengurusmu dan anak-anak kita," cetus Disha. Memotong perkataan Defan.
"Apa?!" Defan sontak kaget.
"Aku serius. Hari ini aku akan mengurus surat pengunduran diri," kata Disha.
Mata Defan memicing. Dia tentu heran mendengar Disha tiba-tiba ingin berhenti bekerja. "Apa kau melakukan ini karena perkataan Karin tadi malam?" tanyanya.
"Aku hanya merasa harus fokus dengan orang-orang tersayangku. Tapi aku tidak menampik perkataan Karin yang kasar itu, bisa membuatku sadar diri," tutur Disha.
__ADS_1
"Apapun pilihanmu aku pasti mendukung. Asal jangan dipaksakan. Karena sesuatu yang dipaksakan tidak akan membuatmu bahagia." Defan membelai rambut panjang Disha.
"Iya... Tenang saja. Aku tidak terpaksa melakukannya." Disha menyentuh pipi Defan. "Ngomong-ngomong, aku akan mulai mengkonsumsi pil kontrasepsi hari ini. Dengan begitu, kita bisa bebas melakukannya tanpa harus mencemaskan kehamilan," sambungnya. Defan tampak merespon dengan acungan jempol.
Disha ternyata benar-benar berhenti bekerja hanya demi keluarga kecilnya. Hubungan Disha dan Defan kembali intim dan penuh gairah. Keduanya juga semakin punya waktu yang banyak dengan kedua putra mereka.
Di suatu hari, Disha mengalami mual. Dia kembali dirundung perasaan cemas. Perempuan itu sedang berada di kamar mandi. Berdiri menatap pantulan dirinya di cermin.
"Nggak! Nggak mungkin. Kon-dom sudah nggak mempan, tidak mungkin pil juga nggak mempan." Disha tidak mau menyimpulkan mual yang dirasakannya adalah kehamilan.
...***...
Satu bulan berlalu. Mual yang dirasakan Disha tidak separah saat dirinya hamil. Oleh sebab itu Disha semakin yakin bahwa mual yang dirasakannya bukanlah gejala hamil. Disha dan Defan bahkan rutin berhubungan intim.
Sampai akhirnya dua bulan terlewat, Disha mulai merasa aneh. Karena selama itu, dia tidak kunjung menstruasi.
Disha terus menggeleng. Dia terus membantah pemikiran yang tidak diharapkannya terjadi.
Karena tidak mau pikirannya terus terganggu, Disha akhirnya mencari tahu dengan alat testpack. Matanya membulat saat melihat dua garis merah di testpack.
Disha membeku. Dia keluar dari kamar mandi sembari memasang tatapan kosong.
"Sayang! Ayo kita main oh yes, sayang lagi!" seru Defan antusias. Dia sudah menunggu di ranjang. Akan tetapi Disha tidak menanggapi seruannya sama sekali.
"Sayang?" panggil Defan. Dia akhirnya mendekat. Atensi Defan segera tertuju ke arah benda yang dipegang Disha.
Defan mengambil testpack dari tangan Disha. Pupil matanya seketika membesar saat melihat ada dua garis yang terlihat. Ia segera mendapat tatapan tajam dari Disha.
"Aaaarkhh! Apa yang salah denganmu, Fan! Aku sudah meminum pil kontrasepsi! Tapi masih tidak mempan juga!" omel Disha sambil menarik kerah baju Defan. Mengguncang badan suaminya dengan histeris.
"Sabar, Sha! Sabar. Ini baru tiga loh. Nggak apa-apa. Aku nggak masalah," tanggap Defan.
__ADS_1
Disha sontak berhenti mengguncang badan Defan, tetapi masih belum berhenti menyalang. "Apa? Nggak apa-apa?!" ujarnya seraya menggertakkan gigi. Lalu mendorong Defan sampai terduduk ke lantai.
"Nggak apa-apa pantatmu! Coba kau hamil dan rasakan apa yang aku rasakan selama ini!" Disha mencengkeram rambut Defan. Dia melampiaskan kekesalan dengan cara begitu.