
...༻✡༺...
Ponsel Defan berdering. Disha berulang kali menelepon. Namun pemiliknya tidak mengangkat karena sedang sibuk melakukan rapat penting. Ponsel Defan sendiri berada di ruang kerjanya. Entah sengaja atau tidak, yang jelas Defan tidak membawa ponselnya saat rapat.
Ketika rapat selesai, Defan melangkah keluar dari ruangan. Rekan bisnisnya yang bernama Deni tiba-tiba menyapa. Dia merupakan kepala direksi yang mengurus salah satu rumah sakit keluarga Dirgantara.
"Selamat atas kabar baiknya ya," sapa Deni. Sebagai orang yang bertugas mengurus rumah sakit dimana tempat Disha memeriksakan diri, dia tentu sudah mendengar kabar mengenai kehamilan istri dari Defan tersebut.
"Apa maksudmu?" Defan tak mengerti.
"Sudah, tidak usah merahasiakannya. Semua orang sudah tahu. Keponakanku yang kebetulan magang di perusahaan istrimu juga memberitahuku," tanggap Deni. Namun Defan justru semakin bingung.
"Sungguh, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan." Dahi Defan berkerut dalam.
"Astaga. Apa istrimu belum memberitahu?" Deni memegangi mulutnya. Dia merasa bersalah sudah membeberkan fakta kehamilan Disha. Deni takut Disha sengaja merahasiakannya dari Defan untuk kejutan.
"Tidak apa-apa. Lupakanlah!" Deni bergegas pergi.
Defan yang melihat menggelengkan kepala. Dia segera melupakan perkataan Deni tadi. Lagi pula dirinya memiliki banyak pekerjaan yang harus di urus.
Defan masuk ke ruang kerjanya. Dia tidak langsung mengambil ponsel. Lelaki tersebut memang bukan tipe yang memprioritaskan telepon genggam. Ia malah fokus dengan laptop.
Bertepatan dengan itu, ponsel Defan berdering. Dia akhirnya mengangkat panggilan dari Dimas tersebut.
"Ken--"
"Ayo kita bertemu sekarang! Aku dan Disha ada di rumah," ujar Dimas. Memotong perkataan Defan begitu saja.
"Tumben banget kalian ngumpul pas jam kerja gini. Maaf, aku kayaknya nggak--"
"Kau harus datang. Ini penting! Jangan membantah!" tegas Dimas. Dia langsung mematikan panggilan telepon lebih dulu. Dimas benar-benar memaksa Defan untuk datang.
"Dia kenapa? Serius banget," komentar Defan seraya mendengus kasar. Meskipun begitu, dia tetap mengutamakan pekerjaan. Ia akan langsung pulang saat semuanya sudah selesai.
Ponsel kembali berdering. Lagi-lagi Dimas yang menelepon. Defan memilih mengabaikan. Akan tetapi, dering telepon terus berbunyi. Dimas sangat gigih menghubungi Defan.
"Ah! Ganggu banget nih anak!" keluh Defan. Dia akhirnya mengangkat panggilan dari Dimas yang kelima kalinya.
"Cepat ke sini! Disha nangis terus! Ini masalah hidup dan matinya tahu nggak!" ucap Dimas. Dia terdengar sangat marah.
"Disha?" Defan sontak khawatir. Dari suara Dimas yang terkesan seperti marah, dia merasa Disha sedang mengalami masalah serius. "Dia kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Kalau mau tahu, datanglah ke sini! Kalau kau tidak datang, maka aku dan Disha tidak menganggapmu teman lagi!" Dimas menegaskan.
"Ya sudah. Aku akan ke--" kalimat Defan terputus karena Dimas mengakhiri panggil begitu saja.
Defan bergegas pergi dari kantor. Kala di perjalanan, dia berpikir sejenak. Pikirannya mulai mengingat apa yang terjadi pada Disha pagi tadi. Dia sangat ingat perempuan itu mengalami mual-mual.
"Jangan bilang Disha beneran hamil?" Defan menduga. Ia berakhir menggigit bibir bawahnya. Defan mencoba memikirkan bagaimana menghadapi Disha jika perempuan itu benar-benar hamil.
"Aku harus gimana?" Defan mulai gelisah. Dia menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
Defan menyangkut pautkan keadaan Disha dengan pembicaraan Deni tadi. Untuk memastikan, dia akhirnya menghubungi Deni. Memaksa lelaki itu mengatakan apa yang diketahuinya tentang Disha.
"Disha hamil, Fan. Itulah yang aku dengar dari Dokter Faris. Dari keponakanku yang bekerja di perusahaan Disha juga. Katanya kabar mengenai kehamilan istrimu sedang jadi topik hangat di perusahaan," ujar Deni dari seberang telepon.
Mata Defan terbelalak. Dia mematikan telepon sambil menenggak salivanya sendiri.
"Sial..." Defan merutuk lirih.
"Aaarghhh!!!" Kini Defan mengacak-acak rambutnya. Kesal kepada dirinya sendiri.
Ponsel Defan kembali berdering. Nama Dimas terlihat tercantum di layar ponsel. Lelaki itu sepertinya sudah tidak sabar menanti kedatangan Defan.
"Tenanglah, Fan. Tenanglah. Kau punya alibi cukup kuat. Aku harus bertahan dan bersikap biasa saja." Defan meyakinkan dirinya sendiri. Setelah itu, dia pergi menemui Dimas dan Disha.
Di rumah, Disha terus menangis. Fakta mengenai kehamilannya, merusak segala aktifitas perempuan tersebut. Disha bahkan sampai tidak mau makan.
"Makan sedikit saja, Sha..." Dimas menyodorkan sesendok nasi dan lauk ke mulut Disha. Namun Disha menyembunyikan wajah dan terus menangis.
Dimas merasa sangat kasihan. Dia tahu Disha pasti sangat syok.
Saat menoleh ke arah jendela, Dimas dapat melihat mobil Defan yang berhenti. Ia buru-buru menemui sahabatnya tersebut.
Sementara itu, Defan sengaja memasang raut wajah normal. Seolah dia belum mengetahui apapun.
"Fan!" Dimas hanya akan memanggil Defan dengan sebutan nama ketika membicarakan masalah serius.
"Disha kenapa, Co?" tanggap Defan.
Dimas memegangi kerah baju Defan. Dia berucap, "Disha hamil!"
"Apa?!" Defan berlagak kaget. Dia membulatkan mata. Aktingnya cukup mumpuni. "Bagaimana bisa? Dia hamil sama siapa?!" lanjutnya.
__ADS_1
"Itulah yang ingin aku tanyakan." Dimas terus menatap Defan dengan penuh curiga.
"Kau menuduhku?" Defan bisa menyimpulkan makna dibalik tatapan Dimas.
"Kau satu-satunya lelaki yang terus bersama Disha akhir-akhir ini," tukas Dimas.
Defan menggeleng tak percaya. Dia bertekad akan menutupi kedoknya untuk sementara. Sungguh, Defan belum siap menyaksikan kemurkaan dua sahabatnya. Terutama Disha.
"Kau tahu aku impoten! Kau dan Disha bahkan memanggilku letoy. Apa kau meragukanku?!" balas Defan.
"Entahlah. Orang yang menderita impoten bisa saja kan tiba-tiba sembuh," cetus Dimas.
"Percayalah kepadaku! Aku bahkan tidak pernah menyentuh Disha lebih dari ciuman saat acara pernikahan kemarin!"
"Jadi kau tidak pernah berciuman bibir dengan Disha?" Dimas yang telah tahu kalau Disha dan Defan pernah berciuman bibir, mencoba menguji kejujuran sahabatnya.
"Bibir? Apa Disha menceritakan kejadian malam itu?" Bukannya menjawab, Defan justru berbalik tanya.
Dimas memutar bola mata kesal. "Lupakan! Ayo kita temui Disha," ajaknya. Melihat gelagat Defan yang tampak kaget dan tidak panik, Dimas memutuskan percaya. Dia menyingkirkan Defan dari daftar tersangka yang sudah menghamili Disha.
Defan merasa sedih tatkala menyaksikan Disha sangat terpukul. Dia bergegas menghampiri perempuan tersebut.
"Sha, kau baik-baik saja kan?" tanya Defan. Dia duduk di lantai dekat sofa panjang yang jadi tempat Disha telentang.
"Toy... Aku tiba-tiba hamil..." Disha berhenti menutupi wajah. Sekarang dia memperlihatkan wajah sembabnya.
"Aku sama Kroco ada di sini. Kami akan selalu di sampingmu," tutur Defan seraya membawa Disha masuk ke dalam pelukan.
"Aku lapar, Toy..." lirih Disha.
"Ini ada makanan. Kenapa nggak dimakan?" Defan menunjuk nasi bungkus pembelian Dimas. Nasi dan lauknya masih utuh karena sejak tadi Disha menolak untuk makan.
"Entah kenapa aku maunya disuapin kamu," pinta Disha.
Defan kaget. Dia melirik ke arah Dimas. Mengingat lelaki itu sudah mengungkapkan kalau dirinya jatuh cinta kepada Disha. Defan merasa serba salah.
"Cepat, Toy. Suapin aku..." Disha mendesak. Dia juga tidak mengalihkan atensinya dari Defan.
"Nih, Toy. Disha sudah kelaparan." Dimas menyodorkan nasi bungkus kepada Defan. Sebagai tanda persetujuannya.
Defan mengangguk. Dia segera menyuapi Disha makan. Jantung Defan berdebar ketika menyaksikan tatapan mata perempuan itu. Terasa berbeda dari biasanya. Mereka bertukar pandang cukup lama.
__ADS_1
Dimas yang menyaksikan, mulai dibuat gundah. Dia berdiri dan merampas nasi bungkus dari tangan Defan. Kemudian memaksa Defan menjauh.
"Sekarang aku yang akan suapin kamu. Aku juga sahabatmu kan, Sha." Dimas menggantikan posisi Defan. Dia yang cemburu, mencoba menyuapi Disha.