
...༻✡༺...
Defan sudah membawa Disha ke rumah sakit. Perempuan itu baru saja mendapat pemeriksaan dari dokter. Kini Disha sedang telentang di hospital bed.
"Bagaimana, Dok?" tanya Defan cemas.
"Janin dalam kandungan Mbak Disha baik-baik saja. Untung hentakan Mbak Disha saat jatuh tidak terlalu parah. Disarankan mulai sekarang agar lebih berhati-hati ya." Dokter memberitahu dengan lembut. Kabar baik yang diberikannya membuat Defan dan Disha lega. Setelah berucap begitu, dokter beranjak dari ruangan.
Defan memicingkan mata. Memancarkan tatapan mengancam. "Mulai sekarang jangan lari-lari lagi!" tegasnya dengan mimik wajah cemberut.
Disha tersenyum simpul. "Iya deh, aku janji. Ini demi anak kita juga," ucapnya sembari menggenggam tangan Defan.
Sejak saat itu, Disha berusaha menjaga bayi dalam perutnya dengan baik. Ia juga mengkonsumsi makanan sehat yang bagus untuk perkembangan bayinya.
Enam bulan berlalu. Tibalah Disha di momen paling menegangkan. Dia melakukan proses persalinan. Defan tampak menemani dengan cara menggenggam erat tangannya.
Setelah melalui perjuangan panjang, anak pertama Disha dan Defan akhirnya lahir. Suara tangisan sontak terdengar. Seorang bayi berjenis kelamin laki-laki telah lahir. Perawat yang sudah selesai membersihkan bayi tersebut, segera menyerahkannya kepada Defan.
"Dia tampan sepertiku," komentar Defan.
"Dih! Sempat-sempatnya puji diri sendiri..." tanggap Disha yang tampak kelelahan.
"Aku sudah menyiapkan nama untuknya," imbuh Defan.
"Apapun namanya aku setuju, asal jangan letoy atau gagak," ucap Disha. Dia tergelak sejenak bersama Defan.
"Angga Pratama Dirgantara. Itulah nama yang aku siapkan," kata Defan sembari meletakkan sang anak ke sebelah Disha.
"Tuh, nak. Nama kamu Angga katanya." Disha menatap anak pertamanya. Dia mengajak bayi yang baru lahir itu bicara.
Tak lama kemudian, kedua orang tua Defan dan Disha datang. Mereka semua sangat mengkhawatirkan Disha. Jujur saja, mereka semua sudah lama menanti kelahiran cucu pertama.
Zerin dan Zidan bahkan saling berebut untuk menggendong Angga. Mereka juga terlihat sesekali berdebat kecil bersama Sasya dan Anas.
__ADS_1
...***...
Hari demi hari terlewat. Sekarang usia Angga sudah memasuki satu bulan lebih. Ini juga merupakan waktu yang sudah lama ditunggu-tunggu Defan. Yaitu berhentinya masa nifas yang di alami Disha.
Waktu menunjukkan jam sepuluh malam, Disha terlihat berusaha menidurkan Angga. Bayi itu tampak menyusu dalam gendongan Disha.
"Habis ini papanya ya," imbuh Defan dengan senyuman nakal.
"Enggak! Aku capek. Mending besok saja. Aku mau langsung tidur," tolak Disha.
Defan mendengus kecewa. Dia menghempaskan diri ke ranjang sambil membuang muka dari Disha.
"Nggak usah sok-sokan ngambek deh," tegur Disha dengan dahi yang berkerut samar.
"Kau nggak tahu aku sudah lama menantinya. Bagaikan mencari air di gurun sahara..." ungkap Defan melebih-lebihkan. Membuat mata Disha memutar jengah.
Bertepatan dengan itu, Angga tertidur. Disha perlahan meletakkannya ke ranjang bayi. Lalu menghampiri Defan yang telentang membelakangi dirinya.
"Ya sudah. Tapi kau sudah beli pengamannya kan?" tanya Disha.
"Aku sudah beli tiga hari yang lalu," ujar Defan sembari memamerkan benda yang tadi di ambilnya. Benda itu tidak lain adalah kon-dom.
Disha mengangguk. Dia menoleh sebentar ke arah Angga. Memastikan bayinya masih tertidur. Setelah itu, barulah dia meladeni sang suami.
Disha dan Defan saling melepaskan pakaian satu sama lain. Mata Defan membulat ketika melihat buah dada sang istri.
"Itu membesar dua kali lipat," komentar Defan.
"Tentu saja. Isinya juga ada loh. Jangan terlalu disedot. Nanti Angga tidak kebagian," tanggap Disha sambil sibuk melempar pakaian ke samping.
Defan mengangguk patuh bak hewan peliharaan. Dia sudah menelan salivanya berulang kali. Tidak sabar melampiaskan hasrat yang sudah berpuasa selama beberapa bulan.
Ketika Disha telentang, Defan mulai bermain. Mencumbu setiap jengkal tubuh mulus dan putih istrinya.
__ADS_1
Selepas melakukan pemanasan, penyatuan pun terjadi. Defan dan Disha sama-sama menikmati kegiatan intim yang terjadi. Defan juga tak lupa menggunakan pengaman yang telah disiapkan.
Karena sudah lama tidak bercinta, malam itu Defan dan Disha melakukannya lebih dari satu ronde.
Hubungan Disha dan Defan terus berjalan harmonis. Apalagi dengan keberadaan Angga bersama mereka. Ketika siang, Angga biasanya dijaga oleh baby sitter. Namun saat malam, barulah tugas itu diambil alih oleh Disha dan Defan.
Kemesraan Defan dan Disha bertambah saat keduanya melakukan hubungan intim hampir setiap hari. Meskipun begitu, mereka selalu pakai pengaman. Disha dan Defan tentu belum siap untuk memiliki anak kedua. Mengingat Angga masih berumur dua bulan.
Di suatu pagi, Disha mengalami mual-mual. Dia otomatis merasa aneh. Sebab Disha merasa mual yang dirasakannya bukanlah mual biasa.
"Kau baik-baik saja?" tanya Defan dari ambang pintu. Dia segera mendatangi Disha yang berdiri di depan wastafel.
"Mual-mual yang aku rasakan sekarang, persis seperti mual yang aku dulu rasakan saat hamil," ungkap Disha.
"Apa? Itu tidak mungkin. Aku selalu melakukannya dengan pengaman!" Defan tak mau percaya.
"Ya, aku juga berpikir begitu. Aku tidak mungkin hamil lagi kan?" Disha mencoba berpikir positif. Begitu pula Defan.
Disha memutuskan tidak memeriksakan diri ke dokter. Tetapi semakin hari, tanda-tanda kehamilan justru tambah kentara. Bahkan sampai mengganggu kegiatan pekerjaan.
Alhasil Disha memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dia melakukannya tanpa sepengetahuan Defan.
Benar saja, Disha divonis hamil! Kabar itu benar-benar membuatnya kaget.
"Dokter pasti bercanda kan? Aku baru saja melahirkan, Dok?! Aku nggak mungkin bisa langsung hamil lagi!" protes Disha histeris. Membuat dokter yang bertugas sedikit terganggu akan sikapnya.
"I-itu bisa terjadi. Apalagi kalau kau dan suamimu rutin melakukannya," jawab sang dokter tergagap.
"Tapi kami selalu memakai pengaman!" ujar Disha.
"Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, kau sedang hamil sekarang. Kau mau aku membuktikannya dengan USG?" tanggap dokter.
Mulut Disha menganga lebar. Matanya membuncah hebat.
__ADS_1
"Defaaaaaaaaaan!!!" Disha berteriak kesal. Dia menyalahkan semuanya pada sang suami.