
...༻✡༺...
"Iya! Aku jatuh cinta sama Disha. Aku baru menyadarinya sekarang. Dan aku tidak akan mengalah darimu," ungkap Defan.
"Kalau begitu berjuanglah! Disha sudah kembali ke rumah orang tuanya. Dia tidak akan menerima lelaki bejat sepertimu!" Dimas bangkit dari tempat duduk. "Karena kau sudah sadar, aku akan pergi. Ngomong-ngomong, aku sudah mengatasi pembayaran rumah sakit. Aku juga sengaja membawamu ke rumah sakit yang bukan milik keluargamu. Aku yakin kau pasti ingin merahasiakan keadaanmu sekarang," sambungnya sembari mendekatkan diri ke hadapan wajah Defan. Raut wajah Dimas sangat serius.
"Dan satu hal lagi, Fan. Aku tidak menyesal sudah memukulimu sampai babak belur!" ujar Dimas. Dia langsung beranjak meninggalkan Defan.
"Aargghh!!!" Defan menggeram kesal. Dua tangannya mengepalkan tinju dengan erat. Ia tentu panas mendengar Dimas bicara begitu.
Defan merebahkan diri. Dia sangat ingin menemui Disha secepat mungkin. Namun Defan harus menunggu sampai keadaannya lebih baik. Ia juga tidak mau muncul di hadapan mertuanya dalam keadaan berantakan seperti sekarang.
Walaupun begitu, Defan mencoba menghubungi Disha lewat ponsel. Tetapi puluhan kali dia menelepon, Disha tidak menjawab panggilannya sedikit pun.
"Hah... Aku memang kurang ajar. Tapi aku bukan tipe lelaki yang mudah menyerah," gumam Defan. Dia beristirahat sejenak. Semakin cepat dia sembuh, maka akan semakin cepat juga dirinya bisa bertemu Disha.
Keesokan harinya, Dimas dalam perjalanan ke rumah Disha. Ia tidak lupa membelikan kue kesukaan Disha.
Dimas tiba di tempat tujuan dalam selang sekian menit. Ia ingin memastikan keadaan Disha.
"Ya ampun, Co. Kau nggak kerja pagi-pagi gini?" tanya Disha sembari duduk ke hadapan Dimas. Mereka duduk di sofa ruang tamu.
Disha mengambil kue macaron bawaan Dimas. Lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Harusnya aku yang tanya. Kau kan lebih mendewakan pekerjaan dibanding aku," balas Dimas.
Disha memutar bola mata jengah. Keadaannya tampak lebih baik dari pada kemarin. "Ya ampun, kayak nggak tahu keadaanku saja. Aku cuti beberapa hari, Co. Aku butuh menenangkan pikiran," ucapnya.
"Mau jalan-jalan?" ajak Dimas.
Disha langsung menggeleng. "Aku sedang nggak mau kemana-mana. Rasanya malu banget dengar semua orang bicarain aku," jawabnya seraya mendengus kasar.
"Jangan terlalu dipikirin, Sha. Pikirkan saja sesuatu hal yang bisa membuatmu bahagia. Seperti memikirkanku misalnya." Dimas memegang wajah dengan dua tangan.
"Dih! Geli aku lihatnya." Disha terkekeh. Dia menghentikan pose menggelikan yang dilakukan Dimas.
"Tuh ketawa kan," tukas Dimas. Dia tergelak kecil sejenak bersama Disha.
__ADS_1
"Lebam di wajahmu sudah hilang, Co." Disha berucap sambil mengamati wajah Dimas.
"Iya, aku oleskan salep yang kubeli di apotek kemarin," sahut Dimas. Saat itulah Disha teringat perihal Defan.
"Oh iya, kau nggak jaga Defan? Dia--"
"Dia sudah siuman. Hari ini paling dia sudah boleh pulang dari rumah sakit. Ngomong-ngomong, Sha. Lebih baik kita berhenti membicarakan tentang Defan. Aku selalu kesal saat ingat sama dia," cetus Dimas. Memotong perkataan Disha.
"Yang penting dia sudah pulih. Kalau sekarat, kau bisa dimasukkan ke penjara," tanggap Disha.
"Iya, iya. Aku memang keterlaluan." Dimas mengangkat dua tangannya ke udara. Meski sudah memukuli Defan hingga babak belur, dia sama sekali merasa tidak bersalah. Bagi Dimas, Defan pantas mendapatkan pelajaran.
"Ini enak banget." Disha mengomentari kue macaron yang dia makan.
Sementara itu, Dimas memancarkan tatapan serius. "Sha..."
"Hmmm?" Disha membalas tatapan Dimas.
"Apa kau akan mengurus perceraianmu dengan Defan?" tanya Dimas.
Disha tertunduk. "Sekarang aku hanya ingin menenangkan pikiranku. Mengenai kelanjutannya, kita lihat saja nanti," imbuhnya yang direspon Dimas dengan anggukan kepala.
"Kamu sebaiknya jaga sikap, Sha. Jangan terlalu akrab sama lelaki selain Defan. Kalau Defan marah bagaimana?" tukas Mona yang muncul dari belakang. Sejak tadi dia memperhatikan interaksi Disha dan Dimas. Meskipun begitu, Mona tak mendengar pembicaraan di antara keduanya.
"Ya ampun... Mamah kan tahu sendiri kalau Dimas itu sahabatku dan Defan. Nggak apa-apa, Mah..." sahut Disha.
"Aku cuman cemas sama pernikahanmu. Sampai sekarang, Defan bahkan belum datang menemuimu ke sini," kata Mona.
"Dia mungkin ada pekerjaan yang nggak bisa--"
"Jadi dia lebih mementingkan pekerjaan dibanding kamu?" potong Mona. Menyebabkan Disha seketika terdiam.
"Bukan gitu, Mah!" Disha bingung harus memberi alasan apa. Dia lantas memilih pergi dari hadapan Mona. Lalu masuk ke kamar.
"Loh, diajak ngomong malah kabur," komentar Mona. Dia kembali melanjutkan aktifitas.
...***...
__ADS_1
Defan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung pergi menemui Disha ke rumah.
"Kenapa baru bisa datang sekarang, Fan? Istrimu hamil. Jangan terlalu sibuk sama pekerjaan. Disha butuh kamu agar selalu ada di sampingnya." Mona menyambut kedatangan Defan dengan nasihat.
"Mamah tenang saja. Mulai sekarang aku akan selalu ada di samping Disha," sahut Defan.
"Wajahmu kenapa, Fan?" tanya Mona. Saat melihat ada sedikit luka dan lebam di wajah Defan.
"Aku jatuh, Mah. Sempat dirawat ke rumah sakit. Makanya aku nggak bisa langsung ketemu Disha," ucap Defan yang setengah berbohong.
"Ya ampun. Kenapa nggak kasih tahu Disha?"
"Aku nggak mau dia khawatir. Dishanya mana, Mah?" Defan sudah tak sabar untuk bertemu Disha.
Mona segera mengantarkan Defan ke kamar Disha. Membiarkan lelaki itu langsung masuk saja. Mengingat Defan adalah suami sah Disha.
Defan membuka pintu kamar. Disha tampak sibuk bermain ponsel di ranjang. Mata perempuan itu terbelalak saat melihat Defan.
"Mau apa kau ke sini?!" timpal Disha.
"Menurutmu?!" jawab Defan sembari menutup pintu. Jantung Disha langsung berdebar. Apalagi ketika Defan berjalan kian mendekat.
"Ciuman yang kau lakukan malam itu sangat berdampak besar bagiku, Sha. Karena itulah impotenku sembuh," ungkap Defan. Dia memutuskan membuang rasa malunya dan bicara blak-blakkan saja.
"Jadi kau menyalahkanku?" Disha menyimpulkan.
"Ya, menurutku kau juga salah. Karena kau yang memancing lebih dulu. Malam saat kau tidak sengaja minum obat perangsang, aku masih bisa menahannya. Tapi tidak untuk malam selanjutnya." Defan semakin mendekat. Sedangkan Disha terus mundur sampai terpojok ke dinding.
"Dasar tidak tahu malu! Jelas-jelas kau yang salah! Aku--"
"Kau menikmatinya juga, Sha! Aku tahu itu!" Defan menyambar perkataan Disha. Hingga perempuan tersebut terdiam.
"Omong kosong! Aku bahkan tidak bisa mengingat kejadian yang terjadi saat mabuk!"
"Benarkah? Kalau begitu, aku minta maaf." Defan kian mendekatkan wajahnya ke wajah Disha. Jarak wajah di antara keduanya hanya helat beberapa senti.
Jantung Disha berdegup kencang. "Ka-kau pikir kata maaf bisa menyelesaikan masalah?!" timpalnya tergagap. Jelas sekali kalau Disha sedang gugup.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan melakukan apapun agar bisa dimaafkan. Apapun, Sha..." Defan bersungguh-sungguh. Atensinya terfokus menatap bibir Disha.