
...༻✡༺...
Suara sepatu pantofel menghentak. Atensi semua orang segera tertuju kepada pemilik sepatu tersebut. Dia tidak lain adalah Disha. Perempuan itu sedang melangkah dengan raut wajah cemberut. Ia sekarang berada di perusahaan Defan.
Ketika Disha hendak membuka pintu ruangan dimana Defan berada, seorang karyawan bernama Yudi menghentikan. Dia mengingatkan kalau semua orang di dalam ruangan sedang melakukan rapat penting.
Yudi berdiri di depan pintu. Sengaja menghalangi jalan Disha.
"Rapat yang ingin aku lakukan dengan suamiku lebih penting!" Disha mendelik.
"Ta-tapi Mbak Disha. Ada rekan bisnis yang berasal dari--"
"Menyingkirlah!" Disha mendorong Yudi menjauh. Lelaki itu sampai terhuyung.
"Mbak Disha!" beberapa karyawan berusaha menghentikan. Namun Disha sudah terlanjur masuk ke ruang rapat.
Hening seketika menyelimuti suasana. Sosok Disha langsung menjadi pusat perhatian. Orang yang sedang melakukan presentasi bahkan harus menghentikan penjelasannya.
Disha tak peduli dengan tatapan semua orang. Matanya hanya sibuk memindai wajah-wajah semua orang. Dia tentu berusaha menemukan sang suami.
"Disha?" Defan mengerutkan dahi. Sebagai suaminya perempuan yang menerobos masuk itu, dia langsung berdiri dari tempat duduk. Saat itulah Disha berhasil menemukannya.
"Kau kenapa--"
"Ini semua gara-gara kau! Harusnya kau bisa mengendalikan gagakmu itu!" geram Disha. Dia mengambil lembaran kertas yang ada di meja. Lalu melemparkannya ke arah Defan.
"Disha! Kenapa kau membicarakan itu di sini?" tegur Defan sembari menghindari lembaran kertas yang dilemparkan Disha. Ia bergegas mendekati sang istri. Tetapi Disha justru memukuli dadanya.
"Kau sebaiknya lakukan sesuatu sama gagakmu itu..." Disha berucap sambil memasang mimik wajah ingin menangis.
Sementara itu, beberapa orang di ruangan ada yang penasaran dengan pembicaraan Disha.
"Gagak? Bos Defan melihara burung gagak di rumah?"
"Mungkin."
"Baru kali ini aku dengar ada orang yang mau melihara burung gagak."
Beberapa karyawan saling berbisik. Perhatian mereka terus terarah kepada Defan dan Disha.
__ADS_1
"Disha! Bisa tenang nggak?" Defan memegangi kedua tangan Disha. Kemudian tersenyum kepada semua orang yang memperhatikannya dan Disha.
"Kau bicara apa? Kenapa kau tiba-tiba datang ke sini dan bersikap--"
"Aku hamil, Fan!" ungkap Disha. Memotong perkataan Defan begitu saja.
Defan terkejut. Begitu pun semua orang di ruangan. Mereka juga tentu tahu bahwa Defan dan Disha baru saja memiliki anak berusia dua bulan.
"Apa?" Defan gelagapan. Dia pamit sebentar kepada semua orang. Meminta waktu sejenak untuk bicara dengan Disha berduaan. Defan dan Disha perlahan menghilang ditelan pintu. Saat itulah para karyawan kembali berbisik.
"Ah, sekarang aku paham burung gagak yang dibicarakan Mbak Disha."
"Burung gagaknya ternyata ada bersama Bos Defan setiap hari. Pffft..."
Begitulah pembicaraan para karyawan Defan. Mereka mengikik dalam diam.
...***...
Defan membawa Disha ke ruangannya. Di sana dia menuntut penjelasan lebih lanjut. Jujur saja, Defan masih tak percaya dengan kabar yang diberikan Disha.
"Apa kau becanda, Sha? Ini sama sekali nggak lucu," ucap Defan.
Defan terdiam seribu bahasa. Menatap nanar ke arah perut Disha.
"Ba-bagaimana bisa? Aku selalu pakai kon-dom! Kau tahu itu!" ungkap Defan.
"Entahlah. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat kita melakukannya. Tapi aku hamil sekarang. Huek!" Disha mendadak ingin muntah. Dia sebenarnya berusaha menahan mual sejak tadi.
Defan mendengus kasar. Dia segera memeluk Disha. "Maafkan aku," ujarnya.
"Mungkin setelah ini kau tidak usah pakai kon-dom lagi. Aku akan meminum obat kontrasepsi saja. Aku rasa itu lebih manjur," kata Disha. Dia dan Defan terpaksa menerima semuanya.
"Kau benar." Defan mengangguk. Dekapannya sukses menenangkan Disha.
Segala gejala kehamilan dilalui Disha untuk kali kedua. Dia melewati semuanya dengan bantuan Defan dan keluarganya. Hingga sembilan bulan akhirnya berlalu. Tibalah waktunya Disha melahirkan anak kedua.
Proses persalinan berjalan sangat lancar. Bahkan terasa lebih mudah dibanding pertama kali Disha melahirkan.
Anak kedua Defan dan Disha lagi-lagi berjenis kelamin lelaki. Mereka menamainya dengan panggilan Tirta Dirgantara.
__ADS_1
Karena tambah anak, bertambah pula baby sitter yang harus dibayar Defan dan Disha. Keduanya juga sangat kesulitan saat malam.
"Sepertinya kita harus menyewa baby sitter yang mau bekerja sampai malam. Aku capek banget, Fan." Disha mengeluh sembari telentang ke samping Defan. Dia baru selesai menidurkan Angga dan Tirta.
"Kau tahu sendiri, tidak baik terlalu sering membiarkan anak dijaga oleh orang lain. Menurutku kau sebaiknya berhenti kerja saja. Biar aku yang--"
"Enggak! Jangan coba-coba menyuruhku berhenti bekerja!" Disha langsung menolak. Baginya bekerja adalah rutinitas rutin yang tak bisa ditinggalkan.
Defan terdiam dan menghela nafas. "Ya sudah. Kita cari baby sitter yang bersedia menjaga Angga dan Tirta 24 jam," katanya seraya membelai puncak kepala Disha.
Dua minggu terlewat. Disha akhirnya menemukan baby sitter yang bersedia menjaga bayinya 24 jam. Baby siter itu bernama Karin.
Sekarang Disha dan Karin baru saja bertemu. Keduanya duduk saling berhadapan.
Disha tersenyum kecut. 'Sial! Dia baby sitter apa model? Cantik banget,' batinnya sambil mengamati Karin dari ujung kaki sampai kepala. Entah kenapa Disha merasa takut kalau Karin akan menarik perhatian Defan.
Karin mengenakan make up yang membuatnya semakin cantik. Berbeda dengan Disha, yang setiap harinya hanya mengenakan bedak dan lipstik.
Tak lama kemudian Defan datang. Atensi Disha dan Karin langsung tertuju ke arahnya.
"Ini baby sitter yang kau bicarakan?" tanya Defan.
"Iya." Disha menjawab sambil mengangguk.
Defan lantas menyapa Karin dengan ramah. "Aku harap kau bisa menjaga anak kami dengan baik," ujarnya sembari menyalami Karin.
"Aku usahakan, Tuan..." Karin tersenyum lembut. Dia diam-diam terpesona dengan sosok Defan.
Sedangkan Disha, dia terus memperhatikan Defan. Kemudian menggeleng kuat.
'Kenapa aku merasa cemas? Aku yakin Defan bukan lelaki yang begitu! Aku sangat mengenalnya.' Disha meyakinkan dirinya dalam hati.
..._____...
Catatan Author :
Kalian jangan risau, di sini nggak bakalan ada drama kumenangis kok. Kemunculan Karin ini cuman sebagai awal cerita-cerita romantis komedi selanjutnya. Jadi nggak usah cemasin yang namanya pelakor ya...
Harusnya novel ini sudah tamat guys, itu karena konflik utamanya sudah lewat. Tapi karena aku punya ide cerita tentang kelanjutan Disha dan Defan, jadi tetap diteruskan. Kecuali kalau kalian mau novel ini tamat cepat. Mau tamat cepat atau nggak? Jawab di komentar ya... Kalau tamat cepat, nanti lanjut ke novel Giana, adiknya Defan. 🤣
__ADS_1